
2 Minggu kemudian..
Karena sebelumnya Rara menolak untuk mengadakan acara pernikahan di hotel bintang lima, maka Reyhan dan Rara sepakat untuk mengadakan acara di gedung biasa yang dekat dengan rumah Rara. Karena bagaimana pun, Reyhan hanya ingin melihat Rara bahagia.
Tamu undangan tidak terlalu banyak, karena Rara memang sengaja menginginkan acara pernikahannya hanya di hadiri oleh para sahabat dan keluarga saja dari pihak Rara dan Reyhan. Namun cukup banyak juga tamu undangan pak Santoso yang kebanyakan adalah para pengusaha dan pebisnis yang hadir untuk memberikan selamat kepada pak Santoso karena sudah memiliki menantu.
Di parkiran, Bimo berada di dalam mobilnya. Bimo sudah tiba sedari tadi di gedung pernikahan, namun hampir setengah jam Bimo masih berada di dalam mobilnya, dan masih enggan masuk ke dalam gedung.
'Huft.... rasanya tidak terlalu sakit sih, tapi entah kenapa aku merasa sedih, tapi bahagia juga, ah entahlah.. perasaan macam apa ini. Di luar saja rasanya begini, apalagi aku masuk ke dalam?' Bimo.
Ceklek.. cleklek... pintu mobil Bimo bersuara.
Terlihat seorang gadis berdiri dan berusaha membuka mobil Bimo. Gadis anggun dengan rambut panjang dan memakai gaun elegan berwarna cream. Akhirnya Bimo pun membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil.
"Eh!" gadis itu terkejut ketika Bimo keluar dari mobilnya.
"Maaf, ada apa ya?" Bimo bingung.
"Aduh... maaf mas saya mau mengambil tas yang tertinggal di dalam mobil, saya kira ini mobil saya, soalnya miriiiipp banget, hehe" gadis itu tersenyum malu.
'Aduh... ko bisa sampe salah mobil begini sih' gumam gadis itu.
"Sekali lagi saya minta maaf ya mas" gadis itu menundukkan kepala memohon maaf.
Bimo tersenyum. "Tidak apa-apa" lanjutnya.
Seketika mereka diam. Gadis itu memperhatikan Bimo yang sudah rapih dan gagah memakai kemeja polos berwarna merah maroon dan celana panjang hitam dan juga memakai sepatu.
'Dia ini mau kondangan, atau bagian keluarga dari mempelai perempuan? dia sangat tampan dan rapih, seolah dia yang akan menikah' gumam gadis itu dalam hati.
"Kenapa ga masuk? acaranya hampir di mulai" ujar gadis itu.
"Iya ini juga mau masuk ko" jawab Bimo.
"Mentari" gadis itu menyebut namanya, dan menjulurkan tangannya kepada Bimo.
"Hah?.. Mm... B-Bimo..." balas Bimo.
"Mau masuk bareng?" ajak Mentari.
"Bimo!!!!!!!" seseorang menyapa dari kejauhan, yang ternyata adalah Galih.
"Ayo masuk ngapain di parkiran?" teriak Galih.
Bimo hanya melambaikan tangan.
"Maaf... saya duluan ya" Bimo.
"Hah? Oh.. I-iya.. saya juga harus cari mobil saya dulu, karena harus ambil tas hehe" Mentari.
"Permisi.." ujar Bimo kemudian berjalan meninggalkan Mentari dan pergi mengahampiri Galih dan kemudian masuk ke dalam gedung.
'Terlihat kaku, tapi.. oke lah wkwk' Mentari.
--
Di sebuah ruangan, setelah Rara memakai gaun dan di rias, Rara menunggu Reyhan yang sedang berhadapan dengan ayahnya serta beberapa wali dan penghulu di meja ijab kabul. Rara berdiri membelakangi menghadap jendela, ia menunduk memejamkan mata, berdoa di dalam hati.
'Bismillahirrahmannirrahim.. semoga Allah meridhoi keputusanku hari ini, semoga aku mampu menjadi istri yang patuh dan berbakti kepada suami, semoga aku bisa menjadi istri yang akan selalu mendampingi suami dalam keadaan apapun. Semoga Allah merestui langkah ku dan Reyhan.. semoga aku dan Reyhan mampu melewati lika-liku kehidupan berumah tangga, semoga aku bisa menjadi penyejuk hati Reyhan ketika ia sedang merasa gusar dan risau, semoga rumah tangga ku menjadi rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah, Aamiin.. aamiin.. yaa rabbal'alamin' tanpa sadar Rara pun meneteskan air mata kebahagiaannya.
"SAH!"
Terdengar pelan suara para wali, lalu suara doa dan tepuk tangan bergemuruh. Reyhan sangat lancar dalam mengucapkan niat dan janjinya.
Kemudian kakak perempuan Rara datang menghampiri Rara.
__ADS_1
"Selamat ya dik... " peluk kakak Rara.
"Terimakasih kak" Rara tersenyum berkaca-kaca.
"Ayo... Reyhan dan para tamu sudah menunggu kecantikan kamu"
Rara berjalan di dampingi kakak perempuannya. Berjalan pelan di tengah para tamu undangan. Terlihat Reyhan yang gagah berani nan tampan dengan pakaian rapih serba putih yang sudah berdiri menunggu Rara di ujung pelaminan.
Keluarga dan tamu undangan menyaksikan kedatangan Rara. Hari itu dan saat itu pula, Rara benar-benar merasa aneh namun bahagia, menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di dalam gedung tersebut.
'Istriku...'
Ucap Reyhan dalam hati memperhatikan Rara yang berjalan semakin mendekat ke arahnya. Tanpa sadar Reyhan pun meneteskan air mata namun segera ia hapus dengan jarinya.
'Gadis yang menyiram ku waktu itu, kini menjadi teman hidupku, semoga aku bisa menjadi imam yang baik untukmu. Terimakasih Rara, terimakasih sayang.. sudah menerimaku, dan teruslah berada di sisi ku, menemaniku dalam keadaan apapun' Reyhan.
"Iiiihhh.... bener kan kata aku, Rara tuh cantik bangettttt kalo dia di dandanin, sayang aja dia tuh males dandan orangnya, jadi keliatan biasa aja" ujar Mela bahagia melihat sahabatnya.
"Baru kali ini gue liat Rara kaya bidadari, biasanya cuma kaya emak-emak yang teriak-teriak nyuruh anaknya makan, sekarang sok-sok an jadi anggun" ujar Galih.
"Guys.. ada yang ngeliat tanpa berkedip guys..." bisik Aldi.
Galih, Mela, dan Aldi langsung melirik Bimo.
"Apaa??!!!......" balas Bimo melotot.
Semua tertawa.
'Dia memang cantik, hatinya bahkan lebih cantik' Bimo.
--
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Rara kepada Reyhan yang berdiri di hadapannya sambil memakaikan cincin di jarinya.
"Bedakmu berapa centi?" bisik Reyhan bergurau.
'haha.. Menggemaskan sekali' Reyhan.
Setelah bertukar cincin, saatnya mereka sungkem kepada kedua orang tua masing-masing.
"Selamat ya anak-anak ku, ingat selalu hari ini jika kalian sedang berantem nanti" ujar mamah Reyhan.
"Semoga kalian selalu menjadi pasangan yang bisa saling menerima satu sama lain dalam keadaan apapun" ujar pak Santoso.
"Selamat ya nak.. Ibu akan selalu mendoakan agar kalian hidup bahagia dan rukun.." ujar ibu Rara.
"Selamat ya anak gadis ayah.. sekarang kamu bukan lagi gadis kecilnya ayah.. maaf kan ayah yang belum bisa menjadi orang tua yang baik untuk Rara, semoga kalian selalu bersama sampai nyawa yang memisahkan kalian" ujar ayah Rara.
Rara menangis dan memeluk ayahnya.
"Jagalah dia lebih baik, melebihi aku menjaganya" ujar ayah Rara kepada Reyhan.
Reyhan mengangguk dan tersenyum.
--
Setelah berbagai tradisi formal di laksanakan, tiba saatnya mereka bersanding di kursi pelaminan dan menerima banyak ucapan selamat dari para keluarga, sahabat, dan tamu undangan.
"Raraaaaaa.... aku seneng bangetttttt, selamat yaaaa" Mela memeluk Rara.
"Selamat coy.... " Aldi bersalaman.
"Ra... nanti malem kirim videonya ya" gurau Galih berbisik.
"Kurang ajar!" Rara tersenyum.
"Selamat ya, akhirnya kamu mendapatkan kebahagiaan yang layak" ucap Bimo bersalaman dan tersenyum kepada Rara.
__ADS_1
"Kamu juga akan segera menemukan yang tepat" balas Rara tersenyum.
"Jagain ya bro.. langka nih kaya badak bercula satu" gurau Bimo memberi selamat kepada Reyhan.
Reyhan hanya tertawa dan merangkul Bimo.
'Senangnyaaa melihat mereka akur' Rara.
--
Hari semakin malam, para tamu undangan sudah meninggalkan gedung acara, hanya tersisa para petugas yang sedang membereskan dan membersihkan gedung.
Pak Santoso dan istrinya memutuskan beristirahat dan menginap di salah satu hotel di Bandung, dan esok harinya mereka akan langsung kembali ke Jakarta.
Begitu juga dengan Mela dan suaminya beristirahat di hotel yang sudah di sediakan Rara, dan kembali ke Jogja esok hari. Sementara Bimo, Galih, dan Aldi langsung kembali ke Jakarta dan menginap bersama di apartemen Bimo.
Sementara Rara dan Reyhan pulang ke rumah Rara bersama keluarganya Rara.
Sesampainya di rumah, Rara langsung menuju lantai atas masuk ke dalam kamarnya, di ikuti Reyhan di belakangnya.
"Aku mau mandi dulu ya, mau bersih-bersih makeup" ujar Rara kepada Reyhan.
"Oke" jawab Reyhan.
Rara langsung menuju kamar mandi sambil membawa handuk dan pakaian ganti. Sementara Reyhan memperhatikan kamar Rara, kamar yang tidak terlalu luas namun tidak terlalu kecil juga. Kamar bernuansa warna biru langit, dengan banyak foto-foto yang menempel di dinding dan berdiri di atas meja. Foto-foto masa kecil Rara dan foto-foto sahabat Rara. Namun Reyhan tidak melihat ada foto laki-laki di dalam kamar Rara. Kemudian Reyhan duduk di teras depan kamar Rara.
Reyhan menghela napas panjang.
'Cukup melelahkan juga berdiri dan bersalaman selama berjam-jam' Reyhan.
Tak lama kemudian Rara datang sudah terlihat segar dan memakai baju tidur.
'Apakah dia habis mandi? padahal ini hampir jam 1 malam' Reyhan.
"Rey.. ga mau mandi atau bersih-bersih badan dulu?" tanya Rara kemudian menyerahkan handuk dan baju kaos juga celana pendek milik adiknya.
Reyhan hanya tersenyum kemudian menerimanya.
"Tau kan kamar mandinya? persis di bawah tangga" lanjut Rara.
"Iya...."
Reyhan pun turun dan membersihkan badan di kamar mandi.
Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit, Reyhan selesai dan kembali ke kamar Rara. Dia melihat Rara berbaring di atas tempat tidur dengan posisi membelakanginya.
'Dia pura-pura tidur atau memang sudah tertidur?' Reyhan.
"Ra?" Reyhan mencoba memanggilnya.
Tidak ada jawaban.
Reyhan menaruh handuk lalu berjalan menuju tempat tidur. Reyhan naik ke atas tempat tidur, duduk dan memperhatikan Rara. Terlihat wajah Rara yang terlelap dengan nyenyaknya, wajahnya terlihat sangat kelelahan.
'Ternyata dia memang sudah tidur. Hmm... ya sudah.. dia pasti kelelahan' Reyhan.
Reyhan menarik selimut dan berbaring di samping Rara, memeluk Rara dari belakang dan menciumi rambut Rara.
'Hm.. seperti ini rasanya memeluk dia?, nyaman sekali' Reyhan.
Memang ini adalah kali pertama Reyhan memeluk dan mencium wangi tubuh Rara.
"Selamat istirahat sayang, selamat tidur istriku..." bisik Reyhan di telinga Rara.
Dan akhirnya mereka tertidur pulas.
Terimakasih jangan lupa di like, share ke siapapun, dan juga vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update😊🙏
__ADS_1