
Hari terus berlalu. Minggu berjalan mendekati pergantian bulan. Rara kembali bekerja di tempat awalnya bekerja. Semenjak malam itu, Obie tidak pernah menghubungi Rara lagi. Rara mencoba menelfon teman Obie, namun tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Rara pernah datang ke kos Obie, namun tetap tidak ada. Tapi Rudi pernah bilang Obie sempat sesekali pulang kos, tapi hanya sebentar, tidak sampai menginap, kemudian langsung pergi lagi. Sudah 2 minggu lebih Obie tidak pernah memberi kabar apapun kepada Rara. Nomornya masih sulit untuk di hubungi. Rara tidak tahu harus berbuat apa, dan harus mencarinya dimana.
'Sebenarnya lo niat ga sih lepas dari barang itu Bie'
Rara duduk melamun sambil memandangi laptop di atas meja kerjanya. Rara merasa kecewa karena Obie berbohong tentang dia make lagi. Rara merasa perjuangannya bersama Obie melawan barang itu selama ini sia-sia. Rara ingin marah, namun juga khawatir tentang keberadaan Obie. Karena barang itu, kini semua berantakan. Sudah hampir sebulan Rara tidak bertemu Obie, dan tidak tahu keberadaan Obie.
šµ~ Hp Rara berdering, menyadarkan lamunan Rara.
"Hallo Bim?" Rara.
"Kamu kerja? balik jam berapa?" Bimo.
"Jam 4an, kenapa?
"Mau makan nasi goreng kambing ntar malem?"
"Boleh"
"Habis maghrib ku jemput ya"
"Ok".
Semenjak naik gunung waktu itu, Bimo lebih perhatian dan sering mengajak Rara keluar untuk makan bersama atau sekedar minum kopi sambil mengobrol di cafe. Mungkin karena Mia jauh, Bimo jadi sering mengajak Rara. Sebenarnya ada rasa bersalah dalam hati Rara, dekat dengan Bimo lagi di saat Obie entah dimana. Namun bagaimanapun, Obie bukan siapa-siapanya Rara.
--
"Lama banget aku ga makan ini" Bimo mengaduk nasi goreng kambing didepannya yang masih panas.
"Iya, aku juga" Rara.
Nasi goreng kambing adalah salah satu menu kesukaan Bimo dan Rara. Dan tempat ini adalah salah satu tempat langganan mereka, walaupun bukan restaurant dan hanya di pinggiran jalan, namun rasanya lebih berkelas.
__ADS_1
Ketika Bimo dan Rara sedang melahap makanannya, tiba-tiba hp Rara berdering. Rara mengecek hp nya. Seseorang mengirimkan pesan dan gambar melalui whatsapp. Muka Rara langsung berubah, wajah Rara sangat syok. Rara langsung berdiri dan berjalan sedikit menjauh ke arah yang sepi. Rara terlihat menelfon seseorang dengan panik.
Selang waktu hanya beberapa menit, Rara mematikan telfon tersebut dan kemudian Rara berjalan kembali ke meja dimana Bimo duduk.
"Bim ayok" ajak Rara sambil mengambil tasnya di atas meja.
"Kemana? ini makanannya belum habis"
"Aku mau ke stasiun, kalo kamu mau anterin ayok, kalo engga biar aku naik ojeg online"
"Iya iya bentar, bayar dulu"
Bimo memberikan uang kepada penjual, dan kemudian berjalan ke parkiran dan Rara sudah siap memakai helm di dekat motor.
"Kamu mau kemana? kenapa tiba-tiba mau ke stasiun?" tanya Bimo sambil mengendarai.
"Udah jalan aja Bim. Cepet" teriak Rara.
Bimo menambah kecepatan motornya agar segera sampai di stasiun. Bimo memasuki parkiran dalam di stasiun dan kemudian memarkirkan motornya. Rara bergegas turun dari motor dan berjalan cepat bahkan sesekali lari kecil, Bimo mengejar Rara. Bimo bingung dengan Rara yang tiba-tiba panik.
"Aku harus pergi Bim"
"Kemana?"
"Purwokerto"
"Hah?! ngapain?"
"Aku harus nemuin seseorang"
"Siapa?"
__ADS_1
Rara tidak menjawab dan terus berjalan cepat. Rara langsung menuju tempat loket, dan menanyakan kereta arah purwokerto kepada petugas. Rara menanyakan kereta yang jadwal keberangkatannya bisa segera. Untungnya masih ada yang kosong dan kereta akan datang sekitar 15 menit lagi.
"Aku pesen satu ya mbak" ucap Rara kepada petugas.
"Dua mba" Bimo memberikan uang kepada petugas tersebut.
Bimo memutuskan untuk ikut bersama Rara, walaupun dia tidak tau kemana dan apa tujuan Rara. Bimo dan Rara duduk di ruang tunggu, menunggu kereta datang. Rara terlihat sangat panik, gelisah, bahkan meneteskan air mata. Bimo yang melihat Rara, benar-benar merasa bingung.
"Ra, sebenernya ada apa?" Bimo mencoba bertanya.
Rara tidak menjawab, namun Rara mengeluarkan hp dari tasnya, menunjukkan sebuah foto kepada Bimo.
"Obie?" Bimo terkejut.
"Ya" jawab Rara meneteskan air mata.
"Kenapa sampai bisa begini?" Bimo masih terkejut.
Kereta kemudian datang, Rara dan Bimo bergegas memasuki gerbong kereta dan mencari tempat duduk mereka. Mereka duduk bersebelahan. Perjalanan Jogja-Purwokerto akan di tempuh kurang lebih 2,5 jam. Selama perjalanan, Rara hanya memandangi jendela kaca kereta, seolah melihat ke arah luar, padahal jelas-jelas hari sudah malam, gelap tak terlihat apapun. Pandangan Rara kosong, pikirannya kemana-mana, matanya terus meneteskan air mata. Tangannya nampak gemetar. Bimo tidak tega untuk bertanya apapun dan memilih diam.
'Kenapa sampe bisa begini sih Bie' Rara.
Bimo melingkarkan tangan kirinya di pundak Rara, menaruh kepala Rara di bahunya. Rara bersandar dan tangan kirinya memeluk tubuh Bimo. Rara menahan isak tangis karena tidak ingin di dengar penumpang lain, tapi matanya terus mengeluarkan air mata. Seberapa besar usaha Rara menahan isak tangis, tetap saja kalah, Rara menagis terisak namun tidak terlalu terdengar kencang karena sembunyi di balik dada Bimo. Bimo hanya bisa memeluk Rara, membelai rambut Rara mencoba menenangkannya.
"Semua akan baik-baik aja Ra" Bimo mencium ujung kepala Rara.
Epilog
Sebuah pesan masuk mendarat di hp Rara. Segera Rara untuk membuka pesan tersebut. Nomor baru mengirimkan pesan sekaligus foto.
'Ra.. Obie butuh lo sekarang'
__ADS_1
Dan terlihat seorang lelaki yang berada dalam foto tersebut, yang tak lain adalah Obie.
Terimakasih dan jangan lupa di like dan klik vote di halaman depan novel samping nama author agar author semangat dan rajin untuk update yaš„°š