Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 49 Lapas


__ADS_3

Obie sedang fokus menyetir motor yang sedang ia bawa bersama Rara. Di bagian belakang Rara terlihat bingung karena dia tidak tahu akan di bawa kemana oleh Obie. Tiap Rara bertanya, Obie hanya tersenyum. Ya begitulah Obie yang suka membuat Rara terkejut nantinya.


"Bie, ini kan?..." benar saja, Rara terkejut setelah Obie membawanya berhenti di sebuah gedung yang tentunya membuat Rara heran.


"Iya.. ini lapas" Obie tersenyum.


"Ngapain kita kesini?"


"Nemuin seseorang"


"Siapa?" Rara benar-benar bingung.


"Gausah heran, tuh liat mukamu gemesih kalo lagi bingung" ledek Obie sambil mencubit hidung Rara. Dan kemudian menggandeng tangan Rara memasuki lapas.


Obie menyapa petugas dan mengobrol seperti sudah sangat akrab. Lalu salah satu petugas membawa Obie dan Rara menuju salah satu tempat tunggu/ruang jenguk tahanan. Tak lama kemudian petugas lain datang dengan membawa seseorang di sampingnya yaitu orang yang memakai baju orange/tahanan dan mempersilahkan orang tersebut untuk memasuki ruangan. Obie langsung berdiri dan bergegas merangkul orang tersebut. Terlihat senyum bahagia di wajah mereka berdua.


Rara duduk di dekat pintu ruangan, sedangkan Obie duduk diujung ruangan, berhadapan dengan orang berbaju orange tersebut, dan diantara mereka terselip meja yang diatasnya sudah di hidangkan 2 gelas kopi. Mereka berdua asik mengobrol dan tertawa, bahkan sesekali orang berbaju orange tersebut memandang ke arah Rara dan tersenyum.


'Siapa dia, kenapa senyum ke arahku?' Rara.


Orang yang memakai baju orange dan duduk di depan Obie adalah seolang laki-laki, badannya cukup tinggi dan gemuk, rambutnya cepak, hidungnya mancung, kulitnya tidak terlalu terang, kalau dari fisik, sepertinya umurnya cukup beda jauh dengan Obie. Entah siapa laki-laki itu, yang jelas Obie sangat akrab dan wajahnya terlihat bahagia bertemu dengan laki-laki tersebut.


Setalah mereka cukup lama mengobrol, mereka berdiri lalu berjalan menuju pintu ruangan, Rara yang sedang duduk seketika berdiri. Obie dan laki-laki itu berjalan ke arah Rara, begitu juga petugas kemudian datang ke ruangan untuk menjemput laki-laki tersebut.


"Terimakasih sudah membuatnya berusaha berubah" ucap laki-laki itu ketika berhenti di depan Rara dan tersenyum kepada Rara.


Rara hanya tersenyum dan membungkukkan sedikit badannya untuk membalas apa yang sudah di ucapkan laki-laki itu, dan kemudian laki-laki itu keluar ruangan bersama petugas yang tadi sudah datang menjemputnya.


'Apa maksud dari membuatnya berusaha berubah?' Rara.


"Udah yuk, pulang" suarah Obie mengagetkan renungan Rara.


Rara dan Obje bejalan keluar dari lapas menuju parkiran motor.


"Tadi siapa?" tanya Rara memandang Obie yang berjalan disampingnya.


"Mau di ceritain?" balas Obie.


"Iya" Rara tersenyum semangat.


"Cari makan dulu ya, nanti kita cerita di kos" ujar Obie.


--


Setelah Obie dan Rara selesai makan. Akhirnya Obie mengantar Rara pulang. Sesuai janjinya, Obie mampir terlebih dahulu di kos Rara untuk menceritakan siapa laki-laki yang tadi ia temui di lapas.


"Jadi laki-laki itu siapa?" tanya Rara sambil mengambil pelet ikan dan memberi makan ikan di aquariumnya.

__ADS_1


"Sini duduk" jawab Obie mengajak Rara duduk di sampingnya. Rarapun menurut dan kemudian duduk di samping Obie.


"Dia sahabat gue"


"Sahabat? tapi ko dia keliatan lebih dewasa dari lo?"


"Iya. Umurnya 5th lebih tua dari gue. Dari gue SD udah temenan sama dia. Dia selalu ada saat gue susah atau seneng. Setiap ada masalah apapun dia pasti tau dan bantu. Bahkan gue pernah hampir mati karena sak*u, dia juga yang bantu. Gue cukup terpukul saat dia di tangkep polisi" terlihat sedih wajah Obie.


"Kenapa dia di tangkep?"


"Bunuh orang"


" APAAAA??!!!!!" Rara benar-benar terkejut.


"Hahaahahhaha mukamu selalu gemesin" Obie tertawa lalu mencubit hidung Rara lagi.


"Obieee... gue seriusss" Rara memegang hidungnya yang habis di cubit Obie.


"Iya serius. Dia bunuh orang"


"Kok bisa?"


"Waktu itu dia lagi mabuk. Terus ada yang caci maki orangtuanya, dia ga terima, terus di pukulin sampe mati" Obie tertawa kecil. "Dia emang sayang banget sama orangtuanya, terutama ibunya" lanjut Obie.


"Tapi kan itu caranya salah"


"Obie sakit!!!!" Rara teriak.


Obie tertawa. "Mau yang ga sakit?" lanjut Obie. Rara diam cemberut.


Mmmuacch. Tiba-tiba Obie mencium pipi Rara. Rara diam terkejut.


"ih dasarrrrrr kesempataaaannn" teriak Rara sambil memukuli Obie dengan bantal. Obie hanya tertawa dan sesekali melawan. Obie merebut bantal yang dipegang Rara dan kemudian membuangnya sembarangan. Obie menarik lengan Rara sehingga membuat Rara terjatuh dalam pangkuan Obie. Obie melingkarkan tangannya di perut Rara, memeluk Rara dari belakang, dan menempelkan dagunya di bahu Rara. Obie memejamkan mata, menikmati hangatnya aliran darah Rara dan wanginya rambut Rara.


'Nyaman sekali' Obie.


"Bie.. Obie!" Rara berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Obie. Namun semakin Rara berontak, Obie semakin mengeratkan pelukannya. Rara pun akhirnya pasrah.


Obie dan Rara saling diam, hanya terdengar hembusan nafas mereka berdua dan rintikan air dari aquarium yang menambah ketenangan mereka.


"Deg-degan ya?" tiba-tiba Obie berbisik di telinga Rara.


"Apaan sih, lepasin ngga" muka Rara terlihat merah dan berusaha melepaskan diri.


"Ga mauuuu" Obie terus memeluk Rara. Dan lagi Rara pasrah, karena berontakpun percuma.


"Ra"

__ADS_1


"Hmm"


"Lo ga malu deket sama gue?"


"Kenapa harus malu?"


"Karena latar belakang diri gue dan kehidupan gue yang sepeti ini"


"Gue banyak belajar dari lo Bie. Lo menyadarkan gue kalau banyak hidup orang yang lebih keras, tapi lo juga yang menyadarkan gue untuk tetap lembut menghadapinya"


Obie tersenyum di bahu Rara dan seketika mencium bahu Rara. "Gue sayang sama lo Ra, gue cinta sama lo" lanjut Obie.


'Apa? dia bilang apa barusan?' Rara.


"Bie..." panggil Rara dengan pelan.


"Hmmm..." jawab Obie masih memejamkan matanya sambil memeluk Rara.


"Biee... lepas dulu, gue mau ngomong" Rara berusaha melepaskan pelukan Obie. Dan akhirnya Obie melepaskan kedua tangan yang melingkari perut Rara.


"Si gemes ini mau ngomong apa?" Obie memandangi wajah Rara dan membelai rambut Rara.


"Bie, Maaf..." Rara menunduk.


"Maaf kenapa?"


Rara diam tak menjawab dan terus menunduk.


Obie menggapai pipi Rara dengan telapak tangan kanannya, menegakkan wajah Rara tepat berhadapan dengannya, mengelus pipi Rara.


"Lo masih mencintai Bimo ya?" lanjut Obie dengan tenang.


"Bie.." mata Rara berkaca-kaca.


"Gue tau lo masih cinta sama dia, dan gue bisa ngerti. Gue ga nuntut lo buat lebih. Deket sama lo aja gue udah merasa beruntung" balas Obie.


"Gue sayang sama lo Bie, gue mau lo tetep jadi temen gue yang baik, jadi abang gue yang baik, jadi sahabat gue yang baik. Gue akan nemenin lo saat lo susah" Rara memegang tangan Obie yang masih mengelus pipinya.


"Iya Ra, gue siap jadi apapun yang lo mau. Gue bisa jadi temen lo, gue bisa jadi sahabat lo ataupun abang lo, gue akan berusaha jagain lo semampu gue. Dan gue juga minta tolong bantuan lo buat bantu gue berubah dan lepas dari barang itu" jawab Obie.


Rara terdiam dan meneteskan air mata. Obiepun menghapus air mata tersebut dengan jarinya.


"Dari pertama gue liat lo, kenal lo, entah kenapa gue yakin lo yang bisa bantu gue buat berubah jadi lebih baik, walaupun gue sadar gue ga bisa milikin lo" lanjut Obie.


Rara langsung memeluk Obie dan menangis dalam hangatnya pelukan Obie.


'Maafin gue Bie. Gue belum siap nerima orang baru. Hati gue masih milik Bimo. Tapi gue janji akan selalu di samping lo dan dukung lo, agar bisa lepas dari barang haram itu' Rara.

__ADS_1


Terimakasih dan jangan lupa di like dan klik vote di halaman depan novel samping nama author agar author semangat dan rajin untuk update🥰🙏


__ADS_2