
Sore menjelang malam, Bimo dan Galih datang ke apartemennya Rara membawa banyak makanan dan cemilan. Di teras apartemen, Rara duduk bersama Bimo dan Galih. Mereka tertawa dan bercanda bersama, bahkan mereka juga melakukan videocall bersama Mela, Sasa dan Aldi. Mereka melepas rindu dan bernostalgia ke masa-masa mereka saat kuliah.
'Lama sekali aku ga ngumpul sama mereka, aku senang hari ini bisa tertawa lagi bareng mereka walau sebagian hanya melalui videocall' Rara.
"Eh aku duluan ya" Galih berdiri dan menyiapkan tasnya.
"Lohh mau kemana? ko buru-buru?" Rara.
"Aku ada janji sama Mora" Galih meringis.
"Hmm yang sekarang udah punya cewe, cie-in aja deh" Rara meledek.
Galih tersenyum lebar.
"Lah terus balik naik apa?" Bimo bingung karena tadi Galih berangkat bersamanya.
"Mora kesini ko, jemput" Galih.
Akhirnya Galih pun berpamitan dan kemudian keluar dari apartemen karena ada janji menemani Mora ke suatu tempat. Sementara Bimo dan Rara masih duduk di teras apartemen.
"Mora tuh siapa?" Bimo bertanya kepada Rara.
"Pacarnya Galih"
"Galih punya pacar???"
"He emmm"
"Kamu kenal?"
"Hahahah ya kenal dong Bim. Mora kan sahabat aku di tempat kerja. Mora itu mirip Galih persis. Mangkannya aku mempertemukan mereka, eh ternyata mereka beneran cocok terus jadian" jelas Rara.
Bimo mengangguk-angguk seolah mengerti.
--
Mora dan Galih mampir makan nasi goreng di pinggir jalan.
"Kok cuma pesen minum?" Mora.
"Iya tadi aku udah makan di apartemen Rara, sama Bimo sama Rara. Jadi udah kenyang"
"Bimo ada di sini???" Mora.
Mora memang sudah mengetahui siapa Bimo dan bagaimana cerita Bimo dan Rara saat masa kuliah, siapa lagi kalau bukan Galih yang menceritakannya.
"Iyaaa.. ternyata selama ini mereka salah paham. Bimo belum menikah, dan selama ini sibuk kerja"
'Kenapa Rara tidak pernah cerita kalau Bimo ada di sini ya?' Mora.
"Menurut kamu.. Rara masih mencintai Bimo ga sih? dan apakah Bimo juga masih mencintai Rara?"
"Hahaha aku juga ga ngerti, hubungan mereka memang rumit. Tapi yang aku lihat sebagai sahabat mereka, mereka itu masih saling sayang, tapi ya... sifat Bimo begitu, sifat Rara begitu. Karena itu mereka sering salah paham"
"Kamu tau ga sih.. Reyhan udah ngelamar Rara"
"Seriussss???!!!!!" Galih terkejut.
'Rara belum cerita sih. Duh padahal hari ini, Bimo juga mau ngelamar Rara' Galih.
--
Rara berdiri dari kursinya dan hendak masuk ke dalam apartemen.
"Mau kemana?" Bimo.
"Masuk, nonton film aja yuk dari pada bete" ujar Rara.
"Mmmmm Ra... "
"Ya?"
Bimo pun berdiri dan berhadapan dengan Rara.
"Aku... " Bimo menggaruk-garuk leher bagian belakang seolah bingung. "A-Aku mau ngomong sesuatu" lanjutnya.
"Ngomong apa?"
Bimo terdiam dan menatap serius wajah Rara.
"Sok serius banget mukamu" Rara tertawa kecil kemudian hendak masuk ke dalam namun segera di cegah Bimo dengan menarik lengannya.
"Aku ingin kita menikah" ujar Bimo dengan cepat.
Rara berbalik badan. Menatap sejenak wajah Bimo.
__ADS_1
"Haha.. apaan sih Bim..."
"Serius." tegas Bimo.
Rara terdiam dan entah kenapa nafasnya mulai terasa sulit di atur. Kemudian Rara membuang muka dan masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa depan tv.
Bimo melangkah menyusul.
"Ra..." Bimo mendekat ke arah Rara.
Terlihat Rara duduk dan meneteskan air mata.
"Ra.. kenapa menangis?" Bimo heran.
"Kenapa sih Bim.." ujar Rara pelan.
"Kenapa apanya Ra?" Bimo bingung.
"Kamu ga bisa kaya gini Bim!" ujar Rara dengan nada cukup tinggi seolah marah.
"Gini gimana sih Ra...." Bimo masih bingung.
"Ya gini.. kamu tuh seenaknya sendiri, kamu tuh ga jelas, kamu tuh aneh, kamu tuh abstrak"
Rara diam sejenak.
"Ka-kamu.. kamu tuh jahat sama aku Bim" Rara mulai menangis.
"Ga jelas gimana sih Ra.. justru aku ingin menikahimu agar hubungan kita jelas"
Rara berdiri dan berhadapan dengan Bimo.
"Kita? sejak kapan aku dan kamu jadi kita lagi? sejak kamu pergi dari Yessi? atau sejak kamu di tinggal nikah Mia?".
"Ra... tolong jangan bahas masa lalu, aku akui aku salah"
"Jangan bahas masa lalu kamu bilang? tanpa kamu sadar Bim, luka di masa lalu itu yang buat aku sakit sampe sekarang, aku ga pernah lupa gimana dulu kamu bersenang-senang dengan Yessi hanya karena kamu jenuh dengan hubungan kita. Gimana dulu kamu dateng lagi ke aku karena Mia pulang kampung, terus kamu mencampakkan aku lagi setelah Mia datang, dan sekarang Mia menikah dengan orang lain, kamu dateng lagi ke aku. Kamu hanya mengingatku saat kamu merasa dilukai orang lain. Semua itu bikin aku trauma Bim!" Rara menangis.
"Aku emang salah soal Yessi.. tapi soal Mia kan cuma salah paham Ra.."
"Tapi kamu mencintainya Bim, bahkan saat kita pacaranpun kamu tidak pernah mencintaiku seperti kamu mencintai Mia"
"Ra.. kenapa jadi banding-bandingin begini sih..."
"Kamu lupa? dulu kamu banggain Mia di depan aku, kamu bilang dia perempuan baik dan cerdas, tanpa kamu berfikir gimana perasaan aku saat itu"
"Apa bedanya? aku tahu kamu masih mencintai Mia, sampai kapanpun kamu akan terus mencintai Mia, gadis pujaan kamu itu"
"Tapi sekarang aku sadar Ra.. yang aku butuhin hanya Rumah, dan kamu.. kamu adalah rumah ku untuk pulang, kemanapun aku pergi, pada akhirnya aku akan kembali dan pulang ke kamu Ra.."
"Rumah? apa kamu pernah menjadi rumah untuk aku?. Disaat aku lelah, di saat aku mati-matian pertahanin kamu, kamu dimana? aku selalu mencoba kembali ke kamu Bim, tapi kamu ga pernah ada di rumah itu. Kamu malah asik dengan yang lain"
Bimo terdiam.
"Andaikan saat itu Mia tidak langsung pulang ke kampung halamannya, apakah kamu akan sadar?, andaikan Mia tidak menikah dengan orang lain, apakah hari ini kamu ada di sini?"
Bimo masih terdiam.
"Jawab Bimo, jawab!!!!" Rara semakin menangis.
"Untuk apa berandai? kalau kenyataannya semua itu tidak terjadi. Sekarang aku ada disini Ra, aku kesini untuk kamu" Bimo berusaha memegang tangan Rara.
Rara langsung menolak dan melangkah mundur menjauh.
"Sekarang yang sedang kamu rasakan hanyalah penyesalan Bim, bukan cinta" ujar Rara.
"Ra.."
"Bodohnya aku dulu begitu mencintaimu, sampai aku tidak bisa melihat bagaimana cinta Obie untukku, aku menyesal, sampai di akhir nafasnya, aku belum sempat membalas cintanya" Rara terus menangis.
"Dan sekarang aku sadar, yang aku butuhkan bukan orang yang aku cintai, melainkan orang yang mencintaiku, dan itu bukan kamu Bim, tapi Obie"
"Dan sekarang kita berada di titik nasib yang sama. Kamu kehilangan Mia, gadis yang sangat kamu cintai. Tapi sekarang kamu sadar, bahwa yang kamu butuhkan hanya orang yang mencintai kamu, yaitu aku"
"Benar begitu?" Rara.
Bimo hanya terdiam menatap Rara yang terus mengeluarkan segala emosi di hatinya.
"Setelah penghianatan kamu, dan setelah kematian Obie, aku benar-benar tidak mengerti apa yang aku rasakan Bim, aku tidak tahu masih mencintaimu atau tidak, yang aku tahu hanya satu, Obie sudah tidak ada"
"Aku memang tidak akan pernah bisa mencintai kamu sebesar Obie mencintai kamu, tapi izinkan aku menggantikan Obie untuk menjagamu seumur hidupku Ra..."
"Dan apa nanti setelah setahun, dua tahun, tiga tahun kita menikah, lalu kamu merasa jenuh, kemudian meninggalkanku lagi? dan apa menurutmu semudah itu aku percaya setelah segala penghianatan dan luka yang sudah kamu berikan untukku?. Semua itu tidak mudah Bim.. bahkan saking susahnya, aku sulit percaya dengan laki-laki lain"
'Karena itu aku juga belum yakin dengan Reyhan, karena rasa traumaku di masa lalu ini yang begitu menghantuiku' Rara.
__ADS_1
"Kamu cinta pertamaku, aku terobsesi untuk menjadikanmu cinta terakhirku. Kamu membuat luka yang begitu perih di hati ini, dan aku juga sangat yakin kamu pula yang mampu menyembuhkan luka ini. Tapi aku sadari, bukan itu yang aku cari Bim. Setelah aku mengenal Obie, aku merasakan ketenangan dan kenyamanan, dia memang tidak bisa mengobati luka ini, tapi dia mampu membuatku lupa bahwa aku memiliki luka ini"
'Hari ini dia meluapkan semuanya. Dia terlihat begitu sangat terluka atas segala perbuatan ku di masa lalu. Tapi sekarang aku benar-benar ingin menjagamu Ra, aku ingin mencintaimu lagi sampai aku tiada nanti. Bagaimana aku menjelaskannya agar kamu mengerti Ra' Bimo.
"Kemarilah..." Bimo mengulurkan tangannya.
Namun Rara terus mundur perlahan, berusaha menghindar.
"Kemarilah Ra.." Bimo berjalan mendekati Rara.
Dengan sigap Bimo langsung memeluk Rara.
"Lepaskan" Rara berusaha menolak. Namun Bimo tidak perduli.
"Maafkan aku.. maafkan aku Ra.." Bimo memeluk erat.
'Hatimu begitu rapuh dan hancur karenaku, aku hanya ingin memelukmu seperti ini, selamanya' Bimo.
--
"Mor.. Rara mana?" tanya Reyhan ketika melihat Mora sedang makan siang di kantin namun tidak bersama Rara.
"Ada di ruangannya. Tadi sudah ku ajak tapi katanya belum laper" jawab Mora.
--
Di dalam ruang kerjanya, Rara duduk di dekat jendela memandangi keadaan luar. Matanya mulai berkaca-kaca, pikirannya terbang jauh merindu, tangannya memegang gantungan kunci dari Obie.
'Apa yang harus aku lakukan Bie? aku sudah perjuangkan dia, Bimo. Tapi kepergianmu menyadarkan aku, bahwa ternyata aku sudah mencintaimu Bie. Kini, di satu sisi ada Reyhan yang baik dan menyayangiku. Andai kamu masih ada, aku tidak akan sesulit ini menentukan pilihan. Aku benar-benar ingin bertemu denganmu Bie' akhirnya Rara pun menangis sendirian di dalam ruang kerjanya.
Tok Tok Tok, tidak ada jawaban.
Jegrek. Pintu terbuka.
"Ra???" Reyhan.
"Hah?! ya?" Rara langsung mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu kenapa???!" Reyhan panik kemudian mendekati Rara.
"Hm? gapapa Reyhan.." Rara tersenyum.
"Jelas-jelas matamu basah. Masih jawab gapapa?!"
"Aku tidak apa-apa, Reyhan..." Rara mengulangi.
'Kenapa dia menangis? apakah dia memikirkanku?' Reyhan.
"Ra...." Reyhan berjongkok untuk menyeimbangi badannya dengan Rara yang sedang duduk di kursi.
"Apakah lamaran ku kemarin membuatmu terbebani?" tanya Reyhan.
"Reyhan.. apa yang kamu lakukan, berdirilah" Rara memegang kedua lengan Reyhan berusaha membuatnya berdiri lagi, namun Reyhan mematungkan kakinya.
Rara menarik dan menghembuskan nafas perlahan.
"Engga Reyhan.. aku hanya sedang ada sedikit masalah, tidak perlu khawatir" jawab Rara.
"Aku tidak suka melihatmu menangis" ujar Reyhan.
"Engga, tuh" Rara melengkungkan bibirnya agar terlihat tersenyum. "Sudah, ayok berdiri" Rara berusaha membantu Reyhan berdiri dan Rara pun ikut berdiri.
"Masalah apa? ceritalah.." lanjut Reyhan bertanya sambil memandangi wajah Rara di hadapannya.
'Aku belum siap menceritakannya Reyhan..' Rara.
"Tidak apa-apa.. hanya masalah kecil dengan sahabat lamaku" jawab Rara dengan tersenyum tipis.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk.." Rara.
Seseorang membuka pintu yang ternyata adalah satpam yang membawakan bungkusan makanan.
"Mas Reyhan.. ini tadi ada abang-abang ojol bawa pesanan mas Reyhan. Dan katanya mas Reyhan ada di ruang mba Rara, jadi saya antar kesini"
"Iya terimaksih ya pak" Reyhan.
Pak satpam kemudian keluar dan Reyhan menutup pintu kembali.
"Makanlah.. aku pesankan burger king kesukaanmu" Reyhan meletakkan makanan itu di atas meja kerja Rara kemudian duduk.
Dan akhirnya mereka makan siang bersama di ruang kerja Rara.
Sekarang Rara mempunyai 2 mantan. Dan dua-duanya ingin menikahi Rara. Kalau kalian jadi Rara.. kalian akan memilih Bimo? atau Reyhan? ๐
__ADS_1
Terimakasih jangan lupa di like, share ke siapapun, dan juga vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update๐๐