
Malam hari Bimo sudah berada di apartemennya, namun sedang duduk di ruang kerjanya melanjutkan pekerjaan yang harus segera di selesaikan, tiba-tiba ponsel yang berada di samping laptopnya bergetar dan ada sebuah pesan masuk, Bimo segera membuka pesan tersebut.
Rara : Hallo coy, besok bisa bertemu?
'Hah? tumben nih anak'
Bimo : Besok kan hari kerja, aku tidak bisa.
Rara : Sebentar saja, Biar aku ke kantormu, nanti ku bawakan donat kesukaanmu.
'Kenapa ya nih anak, tumben sekali begini'
--
Reyhan keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melingkari dari bagian pinggangnya, terlihat Rara sedang duduk bersandar sambil memainkan ponselnya. Reyhan berjalan ke depan lemari pakaian.
"Sayang.. celana pendek hitam ku di mana?" tanya Reyhan sambil mencari di lemari.
"Ada di situ.." jawab Rara namun mata dan tangannya masih sibuk dengan ponselnya.
Reyhan melihat sejenak ke arah Rara.
'Sedang apa sih dia dengan ponselnya? sampai-sampai menghiraukan ku'
"Tidak ada sayang..." ujar Reyhan kemudian duduk di tepi tempat tidur.
"Ih kamu adaaa...." jawab Rara kemudian meletakkan ponselnya sembarang di atas tempat tidur, lalu berjalan ke lemari dan mencari apa yang Reyhan inginkan.
Saat Rara sibuk mencari celana pendek suaminya, Reyhan mencoba meraih ponsel Rara yang tergeletak di dekatnya, dan layar ponsel tersebut masih menyala dan ada sebuah pesan wahatsapp.
Oke. Bawakan yang banyak ya wkwk. Bimo.
'Bimo? jadi sedari tadi dia sedang asik chatingan sama Bimo?' Reyhan mulai kesal.
"Nih ada kan Mas, mangkannya kalo nyari yang bener.." seru Rara kemudian berbalik badan dan menyerahkan celana yang sudah ia temukan.
Terlihat Reyhan terdiam dengan wajah yang tiba-tiba terasa aneh bagi Rara.
"Nih" Rara menyodorkan celana yang Reyhan cari.
Reyhan mengambilnya lalu menaruhnya sembarangan. Matanya masih menatap tajam Rara.
"Di pakai.. katanya tadi nyari celana ituuuu" ujar Rara.
__ADS_1
"Kamu masih sering berhubungan dengan Bimo?" ucap Reyhan tanpa basa-basi.
"Hah?" Rara bingung.
"Kamu mau bertemu dengannya besok? sampai-sampai merayunya akan membawakan donat buatan mu" Reyhan terlihat kesal.
'Haha ternyata dia memeriksa ponselku?' Rara.
"Aku ada perlu dengannya, cukup penting. Tapi bukan berarti aku sering berhubungan dengannya. Kali ini memang ada keperluan Mas..." jawab Rara.
"Ya ya ya.. memang dia selalu penting di matamu" balas Reyhan.
'Wkwk... dia memang tidak pernah berubah, cemburuan, tapi gemes'
"Cieeeee cemburu ya" ledek Rara lalu mendekati Reyhan dan duduk di pangkuan Reyhan sambil menyilangkan kedua tangannya di leher Reyhan.
"Lepaskan" balas Reyhan.
"Tidak mau"
"Kamu mau membuatku marah?"
"Kalau kamu marah, aku kabur lagi" gurau Rara.
"Berani???!" Reyhan masih kesal dan mulai panik.
"Memangnya kamu ibunya? peduli banget sama dia? jangan ikut campur dengan rumah tangga orang lain" balas Reyhan.
"Aku tidak bermaksud untuk ikut campur Mas.. hanya saja, sebagai sahabat, aku tidak ingin mereka berdua nantinya seperti kita yang dulu, yang sempat saling diam dan mengabaikan satu sama lain bahkan sampai ingin berpisah. Kamu sebagai sahabat Mentari, pasti kamu juga tidak ingin jika Mentari berpisah dengan Bimo kan?"
Reyhan terdiam.
"Mas... percayalah, aku dan Bimo sudah tidak ada perasaan. Kami hanya sekedar sahabat. Kalau besok kamu ingin ikut menemui dia juga tidak apa-apa"
"Aku ada meeting"
"Tapi aku di izinkan tidak? padahal tadi aku mau izin dan cerita sebelum kita tidur, tapi kamu keburu tahu dan kesal duluan. Ya... kalau kamu tidak mengizinkan juga tidak apa-apa, nanti aku tidak jadi bertemu Bimo"
"Bawakan dia kue biasa saja, buatan karyawan mu, tidak usah buatan mu sendiri"
"Hahahahahaha.... Mmmmmuuuacchhhhhhh" Rara mencium lembut pipi suaminya.
"Menggemaskan sekali siihhhhhh......." Rara mencubit kedua pipi Reyhan.
__ADS_1
Reyhan hanya tersenyum pasrah di uwel-uwel istri tercintanya.
--
Keesokan harinya.
"Tumben minta ketemu duluan?" seru Bimo kepada Rara yang sudah datang di ruang kerja kantornya.
"Nih" Rara meletakkan bingkisan di atas meja tepat di hadapan Bimo.
Bimo pun langsung membuka bingkisan tersebut. Menjelang jam makan siang/jam istirahat kerja, Rara berkunjung ke kantor Bimo untuk menemui Bimo.
"Ih, ko brownies? bukannya kemaren bilangnya mau bawa donat?" Bimo cukup terkejut melihat isi bingkisan tersebut tidak sesuai harapannya.
"Ah banyak protes, sudah makan saja" jawab Rara yang duduk di depan Bimo.
"Ngomong-ngomong ada apa? tumben kesini dan memaksa bertemu?" tanya Bimo.
"Ih siapa yang memaksa?. Andai saja bisa, aku kesini ingin menjewer telingamu kalau perlu sampai putus" seru Rara.
"Hah?" Bimo benar-benar bingung.
"Apa menariknya laptop sih? dari dulu tidak pernah berubah, kalau bukan ponsel ya laptop yang kamu urus. Apa kamu dan istrimu baik-baik saja?" tanya Rara.
'Nih anak kenapa sih?' Bimo.
"Ba-baik.. tentu saja kami baik-baik saja" balas Bimo.
"Aku pernah bertemu Mentari di rumah sakit, dan kita satu tempat yang sama untuk konsultasi tentang kehamilan. Tapi sepertinya Mentari selalu sendirian, kamu tidak mau menemaninya??!"
"Bukan tidak mau, aku kan sibuk, kamu tidak lihat pekerjaanku senumpuk ini?" Bimo menunjuk tumpukan kertas yang berada di sampingnya.
"Apa sih yang kamu cari dari tumpukan kertas itu? hasil yang banyak? atau apa? aku yakin kamu dan Mentari sangat cukup (keadaan ekonomi) lalu untuk apa kamu sampai mengejar semua itu sampai lupa segalanya, termasuk istri kamu. Kamu lupa rezeki suami juga bersumber dari istri? semakin kamu baik terhadap istrimu, jangan tanya Tuhan akan membalasmu seperti apa nantinya"
"Kamu kenapa sih Ra? mau ceramah?"
"Dasar ga peka!" teriak Rara.
"Bim. Suami istri itu ibarat kaki, suami kaki kanan, istri kaki kiri. Kalau kaki kanan tidak berjalan, akan pincang. Karena itu keduanya harus saling mendukung agar bisa berjalan dengan baik. Ketika kaki kiri mulai lelah, kaki kanan juga harus memahami, begitu juga sebaliknya. Kalau mulai terkilir, di obati, jangan di biarkan, atau akan berakhir patah" lanjut Rara.
Bimo terdiam, mendengar ucapan Rara, ia teringat dengan Mentari yang pernah bilang "Aku merasa sedang berjuang sendirian".
"Ah sudahlah, melihatmu lama-lama memang selalu jadi kesal, untung aku tidak jadi menikah denganmu, kalau jadi sudah ku cincang kau. Becandaaaa hahahahaha..." gurau Rara lalu berdiri dari kursinya dan berjalan keluar dari ruangan kerja Bimo.
__ADS_1
'Dasar gila, tapi omongannya memang sering ada benarnya'.
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote😊