
"Duuuhhh... di mana sih kuncinya"
Di depan apartemennya, Mentari sibuk mencari kunci di dalam tas, namun tidak ketemu. Akhirnya Mentari berjongkok di lantai dan membongkar isi tasnya, menumpahkan seisi tasnya di lantai.
"Jangan bilang ketinggalan di mobil apa lagi di rumah papah" gumam Mentari masih mengobrak-abrik isi tasnya yang sudah berceceran di lantai.
'Apaan sih itu berisik banget' Bimo berada di dalam apartemennya mendengar kerusuhan dari arah luar.
Ceklek! suara pintu terkunci yang kemudian terbuka.
Bimo keluar dari apartemennya untuk mengecek sesuatu yang berada di luar. Terlihat seorang gadis yang sedang jongkok mencari sesuatu.
"Permisi...." seru Bimo.
"Iya???" Mentari memandang ke arah sumber suara.
"Bimo?!"
"Mentari?!"
Seketika mereka terdiam dan terkejut.
"Hahahah...." kemudian Mentari tertawa dan membereskan barang-barangnya lalu memasukkannya lagi ke dalam tas.
'Bener kan dugaan ku, ternyata apartemen dia di sebelahku' Bimo.
Mentari berdiri lalu menghampiri Bimo.
"Hy tetangga... apakah kita berjodoh?" gurau Mentari sambil tersenyum meledek.
'Isshhh pede banget dia' Bimo.
"Heyyy jangan membuang muka seperti itu, kamu kan tetangga baru harus sopan dengan penghuni lama dong" lanjut Mentari.
"Maaf QaQa...." Bimo tersenyum kesal.
"Hahaha... boleh aku bertamu????" Mentari.
"Hah?"
Mentari melihat ke arah dalam apartemen Bimo.
"Huft.... silahkan" Bimo membuka pintu dengan lebar.
Kemudian mereka masuk ke dalam apartemen Bimo.
Bimo mempersilahkan Mentari duduk di depan tv, lalu dia menyiapkan minum untuk Mentari.
"Lengkap juga apartemen mu" ucap Mentari sambil memperhatikan sekeliling.
"Memangnya apartemen mu tidak ada kursinya? tidak ada kasurnya? tidak ada mejanya?" gurau Bimo.
"Isshhhh... ya ada maksudnya ga sekomplit ini" Mentari.
"Nih minum" Bimo menyerahkan secangkir kopi susu kepada Mentari.
"Ih kok tahu aku suka kopi" Mentari tersenyum senang mendapat secangkir kopi.
"ih pede banget sih! kamu kan punya cafe kopi" balas Bimo dengan judes.
__ADS_1
"Yaudah biasa aja ga usah ngegas!" Mentari tidak mau kalah lalu menyeruput kopi tersebut.
"Aku udah 3hr lebih tinggal di sini, kok ga pernah liat kamu ya" Bimo.
'Wkwk.. peduli juga dia' Mentari.
"Aku emang jarang pulang ke apartemen, paling dalam seminggu hanya 2-3hr di apartemen, sisanya aku pulang ke rumah" jelas Mentari.
"Terus ngapain tinggal di apartemen segala kalo masih sering pulang ke rumah?"
"Ngapain? mungkin agar bisa bertemu denganmu" jawab Mentari dengan menahan tawa.
Bimo hanya diam sinis.
'Apaan sih nih cewe'
"Hahaha... aku tinggal di apartemen ini sejak kuliah. Cafe ku kan deket sini, biar berangkat kerjanya deket. Cuma belakangan ini papah sering kumat sakitnya, jadi aku sering pulang" lanjut Mentari.
"Pak Jefri sakit? sakit apa?" Bimo sedikit terkejut.
"Biasalah.. namanya juga sudah tua" Mentari meringis.
Bimo hanya diam.
'Nih cewe kebanyakan senyum apa over ceria' Bimo.
"Tapi kayaknya sih mulai sekarang bakal sering pulang apartemen lagi" sambung Mentari.
"Hah? kenapa?"
"Karena sekarang aku punya tetangga kamu" ledek Mentari dengan tersenyum.
'Bisa ketawa juga kan dia' Mentari.
Mereka pun melanjutkan pembicaraan dengan gurauan dan berbagai topik obrolan, sampai kopi mereka habis.
--
Rara melihat Reyhan sedang duduk di meja kerja sambil menatap laptop di depannya dengan fokus.
'Menyebalkan sekali dia ini, di kantor kerja, di rumah juga kerja' Rara.
Rara berjalan dan menghampiri Reyhan.
Brak.. Rara meletakkan sesuatu di atas laptop Reyhan.
Reyhan terkejut dan langsung melihat ke arah Rara yang berdiri di sampingnya.
"Apaan sih?" Reyhan bingung.
"Nikahin aja tuh laptop!" seru Rara kemudian berjalan hendak masuk ke dalam kamar kembali.
'Kenapa sih dia ini' Reyhan.
Reyhan lalu memperhatikan sesuatu yang di taruh oleh Rara di atas laptopnya.
"Sayang ini apaaa???" teriak Reyhan karena Rara sudah berjalan cukup jauh.
"Itu hasil karyamuuuu..." balas Rara dengan berteriak kembali.
__ADS_1
'Hasil karyaku?' Reyhan bingung.
"Maksudnya apa sih sayang???" Reyhan berteriak lagi karena masih bingung.
"Itu hasil ulahmuuuu..." balas Rara berteriak dan sudah masuk ke dalam kamar lagi.
'hasil ulahku? apaan sih maksudnya?' Reyhan semakin bingung.
Rara masuk ke dalam kamar lagi dan langsung berbaring di atas tempat tidur.
Rara memegangi perutnya dan membelai dengan pelan dan lembut.
'Masa sih aku hamil? di dalam sini ada buah hati aku?'
Tak sadar Rara pun meneteskan air mata harunya lalu langsung mengusapnya kembali.
'Semoga kamu berkembang dengan sehat ya nak'
Setelah mencoba cek di dalam kamar mandi, hasil testpack menunjukkan dua garis, yang di dalam arahan menjelaskan bahwa itu termasuk positif hamil.
'Bukannya ini alat tes kehamilan ya?' Reyhan masih bingung memperhatikan benda itu yang tak lain adalah testpack.
"Apaaa??!!! apa Rara hamil????" Reyhan tersadar.
Reyhan langsung beranjak dari kursi dan berjalan ke kamar.
Tiba-tiba Reyhan masuk dan langsung menghampiri Rara yang sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Kamu hamil???" tanya Reyhan dengan tersenyum gembira.
"Kayaknya sih gitu" jawab Rara.
Reyhan langsung memeluk Rara, tanpa berbicara apapun.
"Mas... aku susah napas" seru Rara.
Reyhan lun melepaskan pelukannya. Mereka saling bertatapan.
"Kamu bahagia?" tanya Rara.
"Tentu saja" Reyhan tersenyum.
'Sangat terlihat jelas kebahagian di wajahmu, Reyhan..' Rara.
"Kapan-kapan ke dokter yuk Mas.. kita cek, hasil testpeck kan belum tentu bener.."
"Besok aku antar" balas Reyhan.
Rara tersenyum. Reyhan masih menatap wajah Rara.
"Aku mencintaimu" ucap Reyhan. Kemudian mencium mesra pipi Istrinya dan memeluknya lagi dengan hangat.
'Apa? dia bilang apa? dia bilang cinta?' Rara.
Walau pun mereka sudah mengenal lama dan menikah beberapa bulan, mereka memang belum pernah mengucapkan cinta satu sama lain. Dan ini kali pertama Reyhan mengucapkan kalimat itu di hadapan Rara.
Terimakasih jangan lupa di like, share ke siapapun, dan juga vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update😊🙏
Baca juga tulisan kedua ku berjudul 'KOS PAK DARSO' yaa...🥰
__ADS_1