
3 hari setelah kematian Obie, memang terasa berat bagi Rara. 3hr Rara termenung dalam kepiluan. Bahkan Rara sempat izin dari tempat kerjanya karena tiba-tiba jatuh sakit akibat pola makan yang kurang. Namun Rara sadar bahwa berenang dalam duka tidak akan mampu mengembalikan Obie. Larut dalam sedih tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Akhirnya Rara mulai menerima keadaan, dia berusaha bangkit dan menjadi pribadi yang periang kembali.
'Kalau kamu masih mencintainya, perjuangkanlah Ra'
Sebuah kalimat yang terus Rara fikirkan. Kalimat yang di sampaikan Obie lewat mimpi saat di depan ruang operasi malam itu. Rara yakin itu bukanlah mimpi, Obie benar-benar hadir walaupun hanya melalui bunga tidur.
'Aku akan terus berjuang semampu aku Bie. Aku yakin aku bisa bahagia. Bersama Bimo. Aku sayang kamu Bie. Aku akan tunjukkan perjuanganku, sesuai apa katamu' Rara.
Kini Rara mulai kembali beraktifitas seperti sedia kala, menjalani hari dengan bekerja, menyelesaikan skripsi, berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Rara sudah tidak sabar menunggu momen wisuda Bimo, ingin bertemu Bella lagi dan bertemu dengan kedua orang tua Bimo.
--
Malam hari, Rara dan Bimo sedang makan malam bersama di salah satu tempat makan.
"Bella kapan datang kesini?" Rara.
"Besok malam" Bimo.
"Kakak kamu ikut?"
"Engga, kakak masih di kalimantan. Besok yang datang cuma Bapak, Ibu dan Bella"
"Ohhh...."
"Besok malam ku jemput ya, ikut makan sama mereka" ajak Bimo.
"Yaaahhh... ga bisa, aku besok masuk shift sore, pulangnya malem Bim"
"Hmmm yaudah..."
"Ketemu besoknya lagi ya di gedung wisuda" Rara tersenyum.
"Iya. Oh iya Ra... ada yang mau aku ceritain"
"Apa?"
"Setelah wisuda, besoknya aku langsung berangkat ke Surabaya"
"Ngapain?"
"Aku udah ada panggilan kerja"
"Oh ya?" Rara senang mendengarnya.
"Kamu gapapa kan?" tanya Bimo.
"Yagapapa, masa ga boleh?. Kan bagus udah langsung dapet pekerjaan. Itu resiko Bim. Semakin dewasa semakin banyak resiko yang akan kita alami. Sadar ga sih kita udah hampir lepas dari profesi mahasiswa, hahaha. Ga mungkin dong kita bakal di sini-sini aja. Kita pasti lulus, kerja, nikah, punya keluarga. Nah karna kamu udah dapet pekerjaan, kamu harus manfaatin semuanya dengan baik, bekerjalah untuk bekalmu nanti. Tabung hasilnya".
"Setelah acara wisuda, kamu ikut jalan-jalan keliling jogja ya, bareng Ibu, bapak, dan Bella, bareng aku juga, sebelum aku ninggalin Jogja dan pergi ke Surabaya"
"Siaaapp Boosss!!!" jawab Rara gembira.
"Kamu rencana habis wisuda nanti mau langsung balik Bandung?" tanya Bimo.
"Mmm... belum tau, aku pengen buka toko kue" jawab Rara.
"Emang kamu bisa bikin kue? kamu kan cuma bisa makan" ledek Bimo.
"ih kamu awas aja kalo nanti ketagihan kue bikinanku" Rara cemberu.
Bimo tertawa.
--
Rara mengeluarkan seisi lemarinya, mencari pakaian yang bisa membuatnya terlihat cantik dan anggun.
"Lo mau pake baju apa sih Ra, segini banyaknya lo masih aja belum nemu mana yang mau lo pake" Mela kesal melihat Rara masih memilih pakaian.
"Aduh.. pake yang mana ya Mel, bingung nih, yang keliatannya pantes di liat aja Mel, biar ibu dan bapaknya Bimo seneng liat gue" jawab Rara masih memilih baju.
"Pake mana aja pantes kali Ra, yang ga pentes itu kalo lo ga pake baju! udahlah pake yang ini aja, lo cantik ko pake apa aja. Buruan ntar telat nih" Mela memberikan baju pilihannya.
Rara bergegas memakai baju yang dipilih Mela.
"Mel, gue ga ngerti ini makenya gimana?" Rara memegang alat makeup yang di bawa Mela.
"Ah elah Ra, mangkannya jadi cewe tuh dandan. Gini aja ga ngerti, sini biar gue dandanin lo. Kelamaan" akhirnya Mela mendandani Rara.
"Yang wisuda Bimo, yang ribet elo" gumam Mela kesal sambil mendandani Rara.
"Hahah ya maap.. gue kan mau ketemu keluarganya Bimo, gue harus memberikan kesan yang baik dong Mel"
"Iya... iyaaa... terserah lo aja deh. Udah sini rambut lo, gue catokin biar cepet selesai, Sasa, Aldi, Galih udah otw ke gedung wisuda"
"Yaudah ayo buruan Mel"
--
Di depan gedung wisuda, Rara, Mela, Sasa, Galih dan Aldi sudah menunggu. Tak sadar Rara meneteskan air mata.
"Ko lo mangis Ra?" tanya Sasa.
"Gue terharu, walaupun gue ga jadi wisuda bareng Bimo tapi gue seneng hari ini dia udah di wisuda"
"Yaudah lo jangan nangis makeup lo ntar luntur, udah cape-cape ku dandanin" Mela.
Cukup lama mereka menunggu Bimo di depan gedung. Acara masih terus berjalan. Rara tiba-tiba merasa gugup. Pikirannya kemana-kemana.
__ADS_1
"Lo kenapa Ra? nahan ber*k?" tanya Galih.
"Apaan sih lo" Rara kesal.
"Mel" lanjut Rara.
"Hm?"
"Kok gue deg-degan ya?"
"Kenapa? nervous mau ketemu calon mertua?" ledek Mela.
"Bukaann.."
"Lah terus?"
"Kok gue ngerasa Mia ada di sini ya"
"Ah elah Ra, ga mungkin Mia disini, dia di kampung halamannya, lagian kan Bimo udah ga sama Mia, ngapain juga Mia ke sini" Mela berusaha menenangkan.
'Entah kenapa aku ngerasain Mia datang kesini' Rara.
--
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya acara selesai. Tak lama kemudian Bimo keluar dari kerumunan orang. Bimo berjalan gagah dengan toga di kepalanya, mendekat kearah Rara dan sahabat-sahabatnya.
"Wiihhhh selamat brooo" Galih merangkul Bimo di susul dengan Aldi
"Selamat ya Bim..." Sasa dan Mela menyalami Bimo.
Rara benar-benar merasa senang dan bangga melihat Bimo. Rara tersenyum lalu memberi selamat dan bingkisan hadiah kepada Bimo.
"Selamat ya Bim...." Rara.
"Makasih ya Ra...." Bimo tersenyum menatap wajah Rara.
"Eh, orang tua lo mana, ko keluar sendirian?" Galih.
"Iya duduknya kan terpisah, tapi tadi udah liat sih, mana ya" Bimo menengok ke kanan ke kiri memperhatikan sekeliling, mencari keberadaan keluarganya.
"Nah tuh" Bimo menunjuk ke salah satu arah.
Semua tertuju dengan arahan Bimo. Dari jarak cukup jauh terlihat Bella, Ayah dan Ibu Bimo, namun di antara mereka ada seorang perempuan yang berdiri membelakangi, yang sedang mengobrol dengan ibu Bimo.
'Apa itu kakaknya Bimo? katanya ga dateng ko sekarang ada?' Rara.
Bimo berusaha memanggil mereka dan melambaikan tangan ke mereka. Namun banyaknya orang di acara tersebut membuat keadaan sangat ramai. Akhirnya Bimo berjalan mendekati keluarganya. Setelah Bimo hampir sampai mendekat ke arah keluarganya, perempuan yang tadi membelakangi, tiba-tiba dia berbalik badan.
'Miaaa????!!!' Rara.
"Eh itu perempuan siapa yang di depan Ibunya Bimo?" tanya Sasa.
"Itu loh, yang pakai dress panjang, rambut terurai panjang" jelas Sasa.
"Cantik ya" Aldi.
"Mana sih, ga jelasss" gumam Mela.
"Gu... gue... cari minum dulu ya" ujar Rara kemudian berjalan menjauh.
"Ra mau kemanaaaa??!!' teriak Galih.
Rara tak menjawab dan juga tidak menoleh. Dia terus berjalan menjauh sampai di akhirnya di telan keramaian.
--
"Bu, ayo.. ada yang mau ketemu ibu" Bimo.
--
Rara berjalan menuju parkiran motor. Dia pergi meninggalkan gedung wisuda. Sepanjang perjalanan dia menangis sangat keras, melajukan motornya dengan kencang.
'Lo bilang dia ga akan datang, tapi lo bawa dia kesini, dan mempertemukannya dengan keluarga lo. Lo ga ada nyerahnya bikin gue sakit Bim. Akan ada apalagi setelah ini?!! Apa lo akan ngasih undangan lo sama Mia ke gue??!! Dasar Bimo breng*ek!!!' teriak Rara terus melajukan motornya.
--
Ketika Bimo dan keluarganya berjalan kembali ke tempat semula dimana ada sahabat-sahabatnya, Bimo merasa heran dan bingung.
"Rara mana?!!" Bimo.
"Beli minum katanya" Sasa.
Setengah jam berlalu, Rara tidak kunjung kembali. Bimo mencoba menghubungi Rara namun tidak bisa, begitu juga dengan yang lain yang berusaha menghubungi dan mencari Rara, tapi tidak ada.
"Kayaknya dia pulang duluan deh, soalnya tadi gue ke parkiran, motornya udah ga ada, cuma ada motor gue" Mela.
'Kenapa kamu tiba-tiba menghilang sih Ra' Bimo.
--
Setelah makan malam, keluarga Bimo kembali ke kampung halaman, sementara Bimo langsung menuju kos Rara berharap bisa menemuinya.
Kamar Rara terkunci, motornyapun tidak ada di teras Kos. Pertanda Rara memang tidak ada di kos. Bimo mencoba mencarinya keliling, ke kontrakan Galih, ke kos Sasa, ke rumah Mela, ke cafe yang biasa ia kunjungi bersama Rara, namun tidak ada juga.
'Kamu kemana sih Ra, besok aku harus ke Surabaya, apa kamu tidak ingin ketemu terlebih dahulu' Bimo.
--
__ADS_1
Di kursi stadion, ditengah gelapnya malam, Rara duduk dibawah cahaya yang redup, hanya ada sedikit penerangan melalui lampu lampu kecil yang berbaris di pinggiran sirkuit. Stadion tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa kumpulan/tim yang sedang merakit motor, tidak ada yang memutar mengelilingi sirkuit untuk berlatih sehingga tidak ada suara bising.
Rara duduk terdiam, matanya memandang ke arah sirkuit yang melengkung-lengkung, sementara pandangannya kosong. Matanya meneteskan air mata.
'Lo bilang gue harus perjuangin dia, tapi lo liat kan tadi siang? dia membawa perempuan itu di acara wisudanya. Bahkan perempuan itu berdiri di samping ibunya, seolah-olah sebagai tamu undangan' gumam Rara dalam hati.
'Terus menurut lo gue harus gimana? apa gue harus terus perjuangin dia? gue ga bisa perjuangin calon suami orang, gue ga bisa Bie..' lanjut Rara.
--
Hari menunjukkan 01.35. Setelah Rara menenangkan diri lari ke stadion, Rara merasa begitu merindukan Obie. Rara memutuskan sebelum pulang untuk mampir ke kos Obie terlebih dahulu karena arah jalannyapun searah. Padahal Rara sadar berkunjung ke kosnya pun hanya akan ada kamar kosong atau bahkan sudah di sewa orang lain. Tapi entah kenapa Rara nekad untuk mengunjungi kos Obie walau hanya sekedar berdiri di depan gerbang, mungkin itu bisa sedikit meringankan rindunya.
Sesampainya di kos Obie, benar saja, keadaan cukup sepi karena sudah jam 2 malam, namun gerbang selalu terbuka walau tidak dibuka lebar, namun gerbang kos Obie memang tidak pernah di kunci. Rara berdiri di depan gerbang, memperhatikan kamar Obie dari balik cela besi gerbang. Tak terasa dia menjatuhkan air mata.
'Gue bener-bener kangen banget sama lo Bie'
Tak lama seseorang datang dengan motornya, hendak memasuki gerbang kos, dan ternyata dia adalah Rudi.
"Rara? ngapain jam segini kesini?" Rudi.
"Eh.. gapapa Rud, tadi kebetulan lewat" jawab Rara.
'Dia pasti merindukan Obie' Rudi.
"Lo habis dari mana jam segini baru pulang?" tanya Rara.
"Biasalah, anak cowo abis main Ra" jawab Rudi.
"Oh yaudah kalo gitu gue pulang dulu ya" Rara hendak menyalakan mesin motornya.
"Eh eh Ra. Udah jam segini, lo ga takut pulang sendirian? cewe loh, bahaya. Mending lo tidur di sini aja, di kamar Obie"
"Hah? Emang kamar Obie belum di sewa orang lain?"
"Belum Ra, Obie udah bayar kos sewa sampe bulan depan, jadi pemilik kos belum bisa nyewain ke orang lain. Barang-barang Obie juga masih utuh, belum ada yang ambilin. Keluarganya belum ada yang kesini. Cuma ada temennya aja yang pernah kesini ambil sesuatu, katanya sih sahabatnya"
'Pasti itu Efan' gumam Rara.
"Kebetulan gue juga pegang kuncinya Obie. Dari pada lo pulang ke kos udah jam segini mending lo tidur di sini aja"
Akhirnya Rudi memberikan kunci cadangan kamar Obie kepada Rara. Rara memasuki kamar Obie. Kamar masih tertata rapih, hanya ada sedikit debu. Rara mengunci pintu, dan kemudian berbaring di atas tempat tidur Obie. Memandangi setiap sudut kamar, di mata Rara terlihat tawa Obie saat duduk di depan tv sambil tangan kanannya memegang rokok dan tersenyum kepadanya.
'Gue ga salah pergi kesini, akhirnya gue bisa liat lo walau hanya sekedar bayangan'
Rara meneteskan air mata, meringkuk di atas tempat tidur sambil mencengkram selimut yang tergeletak di dekatnya. Rara benar-benar di hujani rasa rindu, sampai tak sadar ia tertidur seolah dalam kehangatan pelukan Obie.
Epilog
Mia keluar dari gedung, dan melihat seorang ibu-ibu yang tak asing baginya.
'Bukannya itu ibunya Bimo?' Mia.
Walaupun Mia belum pernah bertemu dengan ibunya Bimo, namun saat Mia masih dekat dengan Bimo dan saat Bimo ada di rumah, Mia videocall dengan Bimo sekaligus mengobrol dengan ibu dan adiknya juga melalui vc. Karena itu Mia mengenali keluarga Bimo.
Mia mendekat ke arah keluarga Bimo.
"Bu?" panggil Mia.
"Iya?"
"Ibunya Bimo ya?"
"Iya, siapa ya?"
"Aku Mia, temannya Bimo. Bimo dimana bu?"
"Ibu juga tidak tahu, dari tadi kami juga mencarinya"
Bimo mendekat ke arah keluarganya.
"Itu dia" ujar Ibu Bimo.
Mia berbalik badan.
'Mia? ngapain dia disini?' Bimo.
-
"Mia? ko ada di sini?' Bimo.
"Iya, aku menghadiri wisuda sahabatku, pas keluar gedung aku liat ibu kamu, jadi aku samperin kesini, kamu apa kabar?" Mia.
"Baik"
"Oh iya, selamat ya Bim" Mia menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan memberi selamat.
"Makasih" jawab Bimo singkat.
"Oh iya Bim, maaf ya kalau aku ada salah"
"Ga ada ko"
"Bulan depan, aku nikah. Kalau sempat datang ya"
'Benar kan, dia memang mempunya laki-laki lain' Bimo.
"Ok" jawab Bimo singkat. "Bu, ayo. Ada yang ingin bertemu" lanjut Bimo menarik lengan ibunya dan meninggalkan Mia yang masih berdiri di tempat.
__ADS_1
'Maafkan aku ya Bim' Mia.
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote🙏