Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 54 Naik Gunung bersama Bimo


__ADS_3

Rara membereskan barang-barang di ruang kantor tempatnya magang. Hari ini hari terakhir Rara melaksanakan magang di kantor tersebut. Setelah seluruh tugasnya selesai, Rara membereskan meja kerjanya dan kemudian berpamitan kepada seluruh staff kantor dan memberikan beberapa makanan untuk kepala kantor dan sataff kantor sebagai tanda terima kasih karena Rara sudah di izinkan melakukan magang di kantor tersebut.


Rara berjalan ke parkiran kantor, Bimo sudah menunggu di dalam mobil. Hari ini Bimo membantu Rara untuk membawa beberapa makanan yang sudah Rara kasih kepada staff kantor. Setelah dari kantor, Rara dan Bimo pergi untuk makan siang bersama di salah satu tempat makan langganan mereka.


"Ga ada barang yang ketinggalan kan?" Bimo.


"Ga ada" jawab Rara seperti lemas.


Sebenarnya Rara selalu kepikiran di mana keberadaan Obie, sudah satu minggu Obie tidak ada kabar bahkan sama sekali tidak bisa di hubungi.


"Kenapa?" Bimo memperhatikan Rara yang berada di depannya, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Gapapa.." Rara memaksakan tersenyum.


"Ko lemes?"


"Karena perutnya belum terisi penuh hehe" Rara menjawab dengan pura-pura bercanda.


"Yaudah makan, habisin" Bimo.


Rara dan Bimo diam dan menghabiskan makanan masing-masing.


"Jadinya naik gunung besok ya"


"Serius?"


"Iya kan udah di kasih tau dari kemaren-kemaren"


"Aku lupa, kirain lusa. Emang alat dan perlengkapan udah ada semua?"


"Udah, semuanya udah beres di siapin sama temen-temenku. Kamu tinggal siapin pakaian dan keperluan kamu. Jam 7 pagi aku jemput. Biar jam 9 sudah sampai basecamp".


"Ok"


--


Malamnya, Rara mempersiapkan pakaian dan beberapa peralatan yang akan dia bawa untuk naik gunung nanti. Lagi-lagi Rara kepikiran soal Obie. Rara mengambil hp nya yang tergeletak di atas kasur.


'Masih ceklis aja, coba telfon deh' Rara.


*Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi..


'Masih belum aktif juga, lo kemana sih Bie' Rara.


--


09.30 WIB, Rara, Bimo, beserta ke-4 temannya Bimo (Laki-laki 3 dan 1 perempuan) sudah tiba di basecamp. Rara tidak merasa asing karena sebelumnya Rara sudah mengetahui mereka dari cerita Bimo dan pernah melihat mereka melalui foto kebersamaan mereka dengan Bimo, begitu juga sebaliknya. Teman-teman Bimo tidak asing dengan Rara, walaupun sebenarnya sedikit canggung karena baru pertama bertemu.


10.00 WIB mereka ber-6 memulai perjalanan mendaki, tak lupa sebelum berangkat mereka berdoa bersama untuk keselamatan dan kenyamanan sampai tujuan. Semua terlihat gembira dan bersemangat, walau semakin lama mulai terlihat lelah satu-persatu, itu sudah menjadi hal yang wajar saat mendaki. Namun mereka pantang menyerah.


Tapak demi tapak kaki melangkah, sudah 4 jam mereka berjalan. Hijaunya pepohonan, heningnya suara alam, membuat perjalanan terasa tak melelahkan, walau jalan sedikit licin karena bekas hujan semalam dan sempat membuat beberapa orang terjatuh termasuk Rara. Namun mereka terus melangkah, tak sabar mencapai puncak. Keempat teman Bimo berjalan berbaris di depan Rara, sementara Bimo berjalan di belakang Rara. Saat hampir mencapai puncak, Bimo tergelincir dan terguling ke bawah, kaki dan tangannya lecet karena ranting-ranting pepohonan dan sedikit memar di pipi karena terbentur batu. Namun Bimo dan yang lainnya tetap kuat hingga sampai di puncak sekitar pukul 15.00 WIB.


Sesampainya di puncak, mereka mencari area yang nyaman untuk mendirikan tenda, akhirnya mereka menemukan sebuah pohon lalu mendirikan 2 tenda di bawah pohon tersebut. Satu untuk laki-laki dan satunya lagi untuk perempuan. Butuh waktu agak lama mendirikan 2 tenda di tengah angin yang cukup kencang. 16.00 WIB semua sudah memasuki tenda masing-masing dan bergegas berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, mereka keluar tenda dan berlarian kesana kemari mencari spot bagus untuk berfoto sambil menunggu sunset. Pemandangan dari atas puncak begitu indah, sejuk, tentram, nyaman, sangat membuat fresh hati dan pikiran, di tambah suasana saat itu tidak begitu ramai, bahkan nyaris sepi karena hanya sedikit pendaki lainnya. Bimo dan teman-temannya memang sengaja memilih jalur pendakian yang hanya sedikit diminati namun tetap aman.


Rara berjalan sendiri mencari spot yang bagus untuk melihat sunset. Rara duduk beralasan rumput, memakai kaos panjang dan celana panjang, angin cukup kencang saat itu namun Rara tetap santai dan justru baginya itu adalah kesejukan tersendiri. Rara melihat sekeliling, memperhatikan langit yang mulai berangsur berubah menjadi warna jingga kemerahan.


'Lama aku ga liat beginian' Rara tersenyum bahagia menikmati keindahan alam.


Kesibukan kerja di tambah kegiatan magang, membuat Rara benar-benar sibuk dan tidak ada waktu untuk mendaki lagi, namun hari itu Rara sangat bersyukur bisa menikmati salah satu keindahan karya Tuhan kembali melalui alam. Ya walau tugas skripsi masih menanti, namun setidaknya tinggal 1 bab lagi.

__ADS_1


"Ra..." seseorang memanggil dengan pelan.


"Eh, hy Bim" Rara tersenyum kepada Bimo.


Bimo duduk di samping Rara. "Ganggu?" lanjut Bimo.


"Engga"


"Hufftt keren banget ya pemandangannya, pantes kamu suka mendaki"


"Oh iya ini pertama kalinya kita mendaki bareng ya"


"Iya, baru sadar?"


"Hahaha saking seringnya jalan-jalan ke banyak tempat bareng kamu dan anak-anak, jadi baru sadar" Rara tertawa.


"Ra" Bimo menatap Rara.


"Ya?" Rara memandang Bimo.


"Selesai kuliah, langsung balik ke Bandung?"


"Mmmm.. belum tau. Kenapa emang?"


"Gapapa nanya aja"


"Sebulan lagi kamu wisuda ya, wah enaknyaaaa"


"Iya, dateng ya. Nanti ada Ibu Bapak, ada Bella juga, pasti dia seneng ketemu kamu lagi"


"Aku pasti dateng. Tapi Mia dateng ga?" Rara berpura-pura meledek.


'Jelas dateng lah Ra, bodoh. Mia kan calon istrinya Bimo, mana mungkin Mia ga dateng' Rara.


"Engga dateng?" Rara terkejut.


'Kenapa Mia ga dateng, apa yang terjadi antara Bimo dan Mia?' Rara.


"Aku sama Mia udah mulai jauh, semenjak dia pulang ke kampung halamannya, dia beda, dia mulai berubah, seperti ada yang di tutupin"


"Perasaanmu aja mungkin Bim"


"Yaaahhh aku juga juga ga ngerti Ra, aku ga mau terlalu berharap lebih, kayaknya dia ada cowo lain di sana, karena itu Mia ga mungkin dateng ke Jogja cuma liat aku wisuda"


Rara diam karena cukup terkejut dengan cerita Bimo.


"Kamu gimana sama Obie?" lanjut Bimo.


"Hah? ga gimana-gimana" Rara tersenyum.


'Obie juga udah seminggu lebih ga tau dimana' Rara.


"Kamu kok ga pake jaket sih Ra"


"Hah? gapapa ga dingin kok"


Bimo berusaha membuka jaketnya. "Pake nih" Bimo menyodorkan jaket yang sudah di lepas dari tubuhnya.


"Ngga, ga usah Bim". Rara diam sejenak memperhatikan wajah Bimo "Eh... pipi kamu memar?"

__ADS_1


"Iya, ini bekas tadi keguling terus kepentok batu"


"Aku ambilin salep ya, tunggu sini" Rara berdiri dan berjalan ke arah tenda untuk mengambil obat.


Tak lama kemudian Rara datang kembali, namun sudah mengenakan jaketnya sendiri. Lalu duduk di samping Bimo lagi.


"Sini muka kamu" Rara duduk menghadap Bimo.


Bimo menyerongkan badannya dan menyodorkan wajahnya ke arah Rara. Rara meraih wajah Bimo dengan memegang dagu Bimo menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengoleskan salep di wajah Bimo. Bimo memperhatikan wajah Rara perlahan, memandangi dari ujung rambut sampai dagu. sementara Rara fokus mengobati memar di wajah Bimo.


'Mantanku yang baik hati' Bimo.


"Kamu bawa salep?" tanya Bimo.


"Iya, bawa salep, bawa minyak angin, bawa permen, bawa vitamin, bawa krim buat pegel, bawa hansaplast, bawa koyo, bawa obat merah, bawa perban, banyak pokoknya" jawab Rara masih memegang wajah Bimo mengobati memarnya.


"Kamu mau buka apotek di atas gunung?"


"iihh!!!" Rara menekan memar Bimo dengan jari telunjuknya.


"Awwww! tambah sakit Ra" Bimo meringis kesakitan.


"Biarin" Rara kesal. "Sini!" Rara mengoleskan obat kembali di wajah memar Bimo.


"Gitu aja ngambek" Bimo tersenyum meledek.


Rara diam namun memandangnya dengan jutek.


'Maafin aku yang pernah bikin kamu terluka Ra' Bimo.


"Udah, mana lagi yang memar?"


"Ini" Bimo menunjukkan lenganya yang sakit.


Rara langsung sedikit menundukkan badannya, mengobati lengan Bimo.


"Ra"


"Hmmm" Rara masih menunduk mengobati lengan Bimo.


"Raaa"


"Iya?" Rara mengangkat wajahnya memandang Bimo.


Tanpa jeda, Bimo langsung menempelkan bibirnya kepada Rara. Rara seketika diam dan sangat terkejut.


'Di.. dia, nyium aku?' gumam Rara sambil membuka matanya lebar, benar-benar terkejut.


Bimo kemudian memandang Rara yang masih terkejut dan kebingungan. Bimo tersenyum melihat wajah Rara. Bimo memegang pipi Rara dengan telapak tangan kanannya. Mengelus pipi Rara dengan ibu jarinya. Bimo terus memandangi wajah Rara.


"Bim..." ucap Rara pelan, jantungnya mulai berdebar tak menentu menatap Bimo.


Tanpa berbicara apapun, Bimo memiringkan kepalanya, mendekati wajah Rara, mengulanginya lagi, bahkan lebih lama. Nafas keduanya mulai tak beraturan. Detak jantung Rara semakin kencang, bahkan seperti terdengar di telinganya sendiri. Rara memejamkan matanya, begitu juga dengan Bimo. Dinginnya senja menjelang petang, terasa hangat bagi mereka berdua. Hijaunya rerumputan tertiup angin, bagai menari bahagia menyoraki mereka. Sunset kala itu menyaksikan kemesraan Bimo dan Rara. Jingganya langit menambah keindahan dengan kehadiran Bimo di sisi Rara.


'Aku tak tahu masih mencintaimu atau tidak. Yang jelas, kamu selalu ada dan menerimaku walau aku sudah menyakitimu, kebaikanmu membuatku selalu merasa nyaman berada di sisimu, Ra' Bimo.


'Aku sungguh mencintaimu Bim' Rara.


Kayaknya Bimo mulai sadar ya guys😁

__ADS_1


Ditunggu kelanjutannya ya...


Terimakasih dan jangan lupa di like dan klik vote di halaman depan novel samping nama author agar author semangat dan rajin untuk update ya🥰🙏


__ADS_2