
Setelah ikut merayakan hari bahagia Galih dan Mora, sorenya Reyhan dan Rara langsung terbang kembali ke Jakarta, karena esok harinya Reyhan ada pekerjaan yang penting.
Reyhan duduk bersandar di atas tempat tidur memperhatikan Rara yang baru selesai keluar dari kamar mandi dan duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya, mereka sudah bersiap untuk segera tidur malam.
"Sayang.. bagaimana mual mu?" tanya Reyhan.
"Masih sering mual Mas.. apalagi kalo liat kamu"
"Apaaa??!!!" Reyhan terkejut.
Rara tertawa kecil. Tentu saja Rara bergurau, untuk mengerjai suaminya.
"Heyyy kamu meledekku?????!" Reyhan berteriak.
"Becanda Mas....." jawab Rara sambil berjalan mendekati tempat tidur.
Reyhan langsung merentangkan tangan kirinya, pertanda sebuah perintah dari seorang suami agar istrinya memeluk dirinya.
Tanpa mengelak, Rara langsung duduk bersandar di bahu Reyhan dan memeluk suaminya.
"Aw...." Rara merintih dan memegang perutnya. "Anak kita terhimpit Mas..." lanjut Rara.
"Hahaha.. sekarang sudah mulai susah memeluk mu dengan erat" ucap Reyhan mengelus lembut perut Rara.
"Perutku udah keliatan buncit Mas.. pasti aku seperti badut" suara Rara terdengar sedih.
"Hahahha.. justru cakepan badut" ejek Reyhan.
"Reyhaannn!!!!!!!" Rara mencubit perut suaminya.
__ADS_1
"Aduhhh... hahaha..." Reyhan tertawa lalu memeluk istrinya lagi.
"Apapun kamu, gimanapun kamu, kamu selalu terlihat menggemaskan di mata aku. Apalagi bayangin perut kamu makin buncit nantinya, justru terlihat lebih seksi" jelas Reyhan mencolek hidung Rara.
"Kalau hamil terlihat seksi, harusnya para perempuan ga usah diet dong, hamil aja terus biar keliatan seksi"
"Hahaha... ya ga gitu jugaaaa.. Oh iya sayang, minggu depan kita ke Jepang ya"
"Ke Jepang?? ngapain Mas? ko mendadak??" Rara terkejut.
"Mendadak gimana sih kan minggu depan, mangkannya aku bilang sekarang. Reina kan mau wisuda, mamah dan papah pengen kita juga ikut, mereka udah beliin tiket buat kita"
"Mas... tapi aku kan lagi mual-mualnya. Kamu aja deh, aku ga usah ikut ya.."
"Ga boleh gitu dong sayang.. lagian kan ada aku, aku bakal jagain kamu"
"Bukan gitu Mas.. Aku ga mau nyusahin kamu, mamah, dan papah. Kalo aku ikut yang ada nanti aku malah bikin acara wisudanya Reina terganggu.."
"Mas... gapapa, ga usah khawatir. Di rumah kan ada bi Ina dan pak Udin. Mereka bakal jagain aku selama kamu ke Jepang"
"Ra..."
"Reyhan..." Rara merengek memasang wajah merayu.
"Hmmmm..." Reyhan mengeram dan langsung menerkam Rara, merebahkan tubuh Rara.
Tentu saja Reyhan tidak kuat menahannya ketika melihat wajah Rara yang menggemaskan apalagi sambil mencoba merayunya.
"Ih Mas.... aku masih jet leg...." Rara berteriak dan berusaha lepas dari terkaman Reyhan.
__ADS_1
"B*doamat, salahnya sendiri mencoba merayuku, memasang wajah menggemaskan. Yasudah aku makan!!!" Reyhan mulai melucuti pakaian tidur Rara.
"Masss..... geliiiii........" terdengar teriakan Rara bercampur tawa yang semakin lama berubah menjadi desahan khas favorite Reyhan.
Berteriak sekencang apapun, beralasan macam apapun, tentu saja tidak akan berpengaruh. Reyhan terus saja melancarkan aktifitas yang nikmat itu.
--
Sementara itu, Bimo dan Mentari mendapat jadwal penerbangan malam hari untuk kembali ke Jakarta. Mentari duduk di samping Bimo, memandangi gemerlapnya sebagian bumi malam hari melalui jendela pesawat. Sesekali Bimo melirik ke arah Mentari.
'Kenapa aku selalu keinget omongan Rara ya' Bimo.
Rara : cepat lamar dia, atau nanti bakal keduluan orang lain lagi.
'Aaarrghhh... tapi aku kan belum mengenal terlalu jauh, tapi aku juga malas kalau harus berpacaran dulu. Tapi jika aku melamar dia, apa itu tidak terlalu terburu-buru? bagaimana kalau dia menolak ku? si*lan, aku harus bagaimana ini....'
Bimo berfikir keras dalam diam, ingin mengungkapkan namun ragu, takut, malu, dan rasa yang lainnya bercampur menjadi satu.
'Mentari, nikah yuk! ah masa gitu, kaya ngajak beli permen!'
'Mentari.. maukah kamu menikah denganku?. Ah terlalu seperti ftv!'
'Mentari.. aku tahu kita belum terlalu lama kenal, tapi aku yakin, kita bisa membangun rumah tangga yang bahagia. Aku percaya kamu adalah wanita yang baik, dan... Aaarrrgghhhh terlalu panjang!'
'Bagaimana cara ngomongnyaaaaaaa... s*alan, kenapa aku jadi pusing begini'
"Bim.. kenapa?" tanya Mentari sedari tadi melihat Bimo seperti kebingungan dan bahkan berkeringat.
"Hah??.."
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote sebagai dukungan kakak-kakak terhadap karya iniππ