Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 97 Rara Menghilang


__ADS_3

Jegleg! Bimo menarik gagang pintu apartemennya, hendak keluar untuk mencari makan malam. Begitu pintu terbuka, di sisi pintu lain berdiri seorang gadis yang sedang berusaha membuka kunci pintunya sambil memegang satu kantong belanjaan yang penuh. Siapa lagi kalau bukan tetangganya yang cantik, anak dari bosnya, yaitu Mentari.


Bimo diam seketika melihat Mentari yang ternyata melihat ke arahnya juga ketika Bimo membuka pintunya. Kedua mata mereka saling bertemu, menatap dalam diam.


'Ingin sekali ku menyapa, namun kenapa rasanya...' Bimo.


Tiba-tiba Mentari melengkung bibirnya, menciptakan garis senyum manis di wajahnya dan kemudian menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Baru pulang?" kalimat yang keluar begitu saja dari mulut Bimo begitu melihat senyum Mentari.


"Iya... tadi pulang kerja belanja dulu" jawab Mentari tertunduk sambil memandang kantong kresek belanjaannya.


Bimo tersenyum canggung.


"Kamu mau keluar cari makan?" tanyanya mendadak.


"Hah?!" Bimo terkejut.


"Kalau tidak keberatan, mau makan malam bersama? kebetulan aku juga sudah belanja untuk masak malam ini, dan di luar juga sedang hujan" seru Mentari.


'Dia menawarkan ku makan malam bersamanya?' Bimo.


--


Sesampainya di halaman rumah, Reyhan memarkirkan mobilnya dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Saat Reyhan akan menginjakkan kakinya di anak tangga menuju lantai atas, bi Ina datang menghampiri Reyhan.


"Mas Reyhan" bi Ina.


"Iya bi?"


"Mas Reyhan pulang sendirian?" tanya bi Ina.


"Iya..."


"Ga bareng mba Rara Mas?"


"Rara kan sudah pulang, tadi ku jemput di tokonya juga sudah tidak ada. Bukannya dia di kamar?" Reyhan.


"Mba Rara belum pulang dari sore Mas" seru bi Ina.


"Belum pulang???!" Reyhan terkejut.


"Iya.. sedari siang mba Rara pamit ke toko, biasanya sore sudah pulang, tumben-tumbennya mba Rara jam 20.00 begini belum pulang mas Reyhan. Bibi kira Mba Rara bareng Mas Reyhan, bibi jadi khawatir" jelas bi Ina.


Reyhan menghembuskan nafasnya kasar. Lalu berlari kecil menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Benar saja, di dalam kamar Reyhan tidak mendapati istrinya.


"Kemana dia"


Reyhan mengambil ponselnya di dalam tas, mencoba menghubungi Rara.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi


"Ga biasanya dia pulang selarut ini, nomor juga ga aktif kemana dia"


Di dalam kamar Reyhan berjalan kesana kemari dan benar-benar bingung. Reyhan mencari kontak nama di ponselnya dan mencoba menelpon seseorang


--


Bimo duduk di meja makan, sedangkan Mentari berdiri di dapur sambil memakai celemek, mempersiapkan bahan-bahan yang akan di masak. Ya, Bimo menerima ajakan Mentari untuk makan malam bersama, sekaligus menebus kesalahannya waktu itu yang tidak jadi makan di apartemen Mentari karena harus mengantar Mia pulang.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Bimo sambil mendekat ke arah Mentari.


"Tentu saja" Mentari tersenyum kemudian berjalan ke salah satu sisi untuk mengambil celemek yang lain. Lalu berjalan kembali ke tempat Bimo, dan memasangkan celemek itu ke tubuh Bimo.


"Biar bajumu tidak kotor" lanjut Mentari tersenyum.


Bimo hanya diam karena saking terkejutnya.


"Ini bawangnya di potong tipis-tipis ya, tapi sebelum di potong di cuci dulu. Bisa kan potong bawang?" tanya Mentari.

__ADS_1


"Bisa dong" jawab Bimo.


Bimo berjalan menuju sumber air untuk mencuci terlebih dahulu bawang tersebut.


Kring.. kring.. ponsel Mentari yang ada di dalam kamar berbunyi.


"Sebentar ya" Mentari berjalan menuju kamar.


Bimo hanya mengangguk.


--


"Hallo..." Reyhan.


"Mah hari ini Rara kerumah?"


"Oh yasudah, tidak apa-apa Mah. Ya sudah ya Mah"


Rupanya Reyhan menghubungi orang rumahnya, karena siapa tahu Rara pulang ke rumahnya. Tapi ternyata tidak ada.


'Apa mungkin Rara pulang ke rumah ayahnya? tapi ga mungkin, karena Rara paling ga mau ketemu ibu tirinya'


'Atau mungkin Rara ke kontrakannya Galih? tapi aku tidak mempunyai kontaknya Galih. Apa dia menemui Bimo? tidak tidak.. aku mengenal istriku. Rara tidak mungkin menemui mantannya sebelum izin terlebih dahulu kepada ku. Kamu kemana sih Ra...'


--


Mentari kembali lagi ke dapur.


"Siapa?" tanya Bimo.


"Hah? oh.. tadi papah nelpon" jawab Mentari.


"Eh bentar.. kamu menangis?" Mentari menyadari mata Bimo basah.


Bimo langsung mengangkat lengannya untuk mengusap matanya yang basah. "E-engga..." lanjut Bimo.


"Hahahah... kamu motong bawang saja menangis? dasar..." Mentari tertawa lalu mengambil tissue untuk mengusap mata dan wajah Bimo.


Mentari menatap wajah Bimo, mereka saling memandang.


"M-Maaf..." Mentari menurunkan tangannya, mundur selangkah, dan tertunduk malu.


--


'Apa mungkin Rara ke rumah Mora?'


Dan Reyhan pun memutuskan menghubungi Mora.


Reyhan : Mor, Rara main ke rumah mu ga?


Mora : Hah? engga tuh. Kenapa emang?


Reyhan : Tolong tanyain Galih dong Mor, Rara main ke kontrakannya engga


Mora : Ini Galih lagi di rumah ku, mau pulang tapi hujan. Emangnya kenapa sih, Rara ga ada di rumah?


Reyhan : Iya dia belum pulang


Mora : Tadi siang kan dia ke kantormu, aku mau nyamperin dia tapi aku liat dia lari ke parkiran kaya sambil nangis gitu


'Nangis? Lari? dia kan lagi hamil kenapa lari? dia kenapa sih? apa jangan-jangan...' Reyhan.


--


Setelah selesai memasak, Mentari dan Bimo duduk berhadapan di meja makan, menyantap hasil masakan mereka berdua yang sebenarnya Bimo hanya membantu memotong bawang dan itu pun sampai menangis.


"Kemana pacarmu?" tanya Bimo tiba-tiba.


"Hah? Pacar? aku ga punya pacar" jawab Mentari.

__ADS_1


"Masa? yang kamu peluk di cafe itu siapa?"


"Jadi kamu liat?"


'Duh keceplosan' Bimo.


"Haha ternyata bener itu kamu... Itu namanya Eri, dia sahabatku juga sama seperti Reyhan. Dulu aku bangun cafe Meriju bareng Reyhan dan Eri, karena itu cafenya di beri nama Meriju" jelas Mentari.


"Oh.." Bimo menunduk malu.


"Kenapa kamu ga jadi masuk waktu itu?" tanya Mentari.


"Hah? eh gimana kerjaan kamu?" Bimo mengalihkan pembicaraan.


'Wkwk kenapa dia jadi salah tingkah dan bahkan berkeringat begitu' Mentari.


"Ga gimana gimana... Minggu besok kamu ada acara?"


"Mmm.. aku mau ke Palembang" jawab Bimo.


"Palembang? ngapain?" Mentari agak terkejut.


"Sahabatku nikahan" balas Bimo.


'Reyhan juga pernah cerita mau ke Palembang minggu ini bersama Rara, apakah mereka juga akan ke nikahan ke orang yang sama?' Mentari.


"Sahabat?" Mentari berpura-pura tidak mengerti padahal kepo.


"Iya sahabatku dulu pas kuliah, Aku, Rara, dia dan yang lainnya dulu kami bersahabat saat kuliah" Bimo.


'Benar berarti Rara dan Reyhan juga akan kesana' Mentari.


"Mmmm.. aku boleh ikut?" Mentari tak tanggung-tanggung.


"Apa??!" Bimo terkejut dan terdiam.


"Oh iya.. kamu pasti berangkat bersama wanita itu ya? yang kemarin-kemarin datang kesini. Aku bisa ngerti ko" Mentari tersenyum lalu menunduk.


"Hah??!! E-Engga... ya kalo kamu mau ikut, ikut aja" seru Bimo.


"Serius???" Mentari tersenyum senang.


Sebenarnya kalau Bimo tidak ada acara, niatnya Mentari akan mengajak Bimo untuk jalan-jalan di hari Minggu nanti.


"Oke biar nanti aku cari tiket pesawat dan hotelnya" seru Mentari lalu berusaha berdiri mencari ponselnya.


"Tidak usah!" cegah Bimo.


Mentari langsung terdiam.


"Biar aku saja yang mencarikan tiket dan hotelnya" jelas Bimo kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya.


Mentari tersenyum.


--


Reyhan mengambil kunci mobilnya dan langsung menuruni tangga, masuk ke dalam mobilnya dan bergegas menuju ke suatu tempat yang ia percayai Rara berada di sana.


--


Sementara itu, di ujung ruangan, Rara berdiri di dekat jendela yang mulai berembun karena hujan yang mulai deras, Rara memegangi perutnya sambil sesekali mengusap pipinya yang terus teraliri air mata.


'Disaat aku hamil begini, kenapa kamu tega seperti ini Reyhan.. aku kira kamu berbeda dengan Bimo, aku kira kamu tidak seperti ayahku, nyatanya sama saja. Kenapa laki-laki di hidupku gemar sekali menghianatiku? Bukankah kamu pernah bilang bahwa kau mencintaiku, Reyhan?...'


--


'Apakah Rara mendengar dan melihat semuanya yang ku lakukan di ruang kerjaku?'


'Ck... kamu di mana sih Ra... kenapa menghilang seperti ini?! kamu kan sedang hamil...'

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul 22.35. Di dalam mobil, di tengah turunnya hujan yang semakin deras, Reyhan melajukan mobilnya dengan cukup kencang karena perasaan yang khawatir dan ingin segera sampai di tempat tujuannya.


Terimakasih dan jangan lupa di LIKE dan VOTEnya kakak-kakak yang baik, agar author rajin update🙏


__ADS_2