
Mentari mengambilkan nasi dan lauk di piring Bimo.
"Haha.. kalian ini seperti sudah suami-istri saja" ledek pak Jefri.
"Papah.. apaan sih..." Mentari tersenyum malu.
Bimo hanya tersenyum.
"Sudah.. makanlah yang banyak" seru Mentari kepada Bimo.
Ya, Bimo memutuskan menyusul Mentari dirumahnya dan makan malam bersama.
Setelah makan malam selesai, pak Jefri masuk ke dalam kamarnya, sementara Mentari mengantar Bimo keluar menuju mobilnya.
"Hati-hati di jalan ya" ucap Mentari ketika sudah tiba di samping mobil Bimo.
"Mmm.. Mentari.." Bimo gugup.
"Ya?"
Huft!! Bimo menghembuskan napas dengan terang-terangan.
"Menikahlah denganku!" dengan singkat, cepat, dan jelas, Bimo mengucapkan kalimat itu sambil menatap Mentari.
Terlihat Mentari diam dengan mata yang tentu saja terkejut. Bahkan Mentari tak menyangka Bimo bisa mengucapkan itu dengan cepat. Selama ini Mentari yakin bisa mendapatkan Bimo, namun Mentari tak menduga akan secepat ini.
'Kenapa dia menatapku dan hanya diam? ayo cepat katakan sesuatu, jangan membuat gila karena menahan malu!' Bimo.
Perlahan garis-garis lengkung terlukis di wajah Mentari, namun mulutnya masih bungkam.
"Hey. Bicaralah!" teriak Bimo.
"Kenapa kamu meneriakiku?! bukankah harusnya kamu berlutut dan memberiku cincin?! isshh.. sepertinya hanya kamu laki-laki yang tidak tahu bagaimana caranya melamar. Si*lnya aku tidak bisa menolak" Mentari.
Kini giliran Bimo yang mematung menatap Mentari.
"Hey! Iya iya.. aku bersedia menikah" teriak Mentari.
Bimo tersenyum.
--
Terlihat putih langit-langit kamar rumah sakit, sebuah jarum dan selang tipis tertancap di punggung lengan tangan, sang surya memaksakan menyelinap melalui cela-cel jendela, tubuh tergeletak di atas tempat tidur rumah sakit, perlahan Rara membuka matanya. Terdengar suara tangis di dekatnya.
"Mba Rara???" tanya bi Ina ketika menyadari Rara sudah siuman.
"Hmmmm..." Rara hanya mengeram.
"Mba Rara perlu apa? biar pak Udin panggilkan dokter dulu ya untuk mengecek mba Rara lagi" pak Udin keluar dari kamar.
"Bi Ina... sudah jangan menangis terus" ujar Rara sambil berusaha memulihkan kesadarannya.
"Bi Ina takut mba Rara..." seru bi Ina dengan suara sedikit bergetar karena menangis.
"Jangan telfon Mas Reyhan ya Bi.. jangan kasih tau dia dulu, nanti dia marah" pinta Rara.
"Ta-tapi mba..."
__ADS_1
"Tidak apa-apa bi.. nanti sore kan aku sudah boleh pulang. Syukurnya bibi dan pak Udin dengan cepat membawaku ke rumah sakit, jadi si kecil ini tidak kenapa-kenapa" ujar Rara mengelus perutnya.
Bibi menangis.
"Sudah bi.. aku tidak apa-apa, kalau bibi cerita ke Reyhan, nanti bibi yang kena marah. Jadi anggap saja kejadian ini tidak ada ya, lagian semuanya baik-baik saja" Rara memegang tangan bi Ina, meyakinkannya.
Jegrek! pintu terbuka dan pak Udin datang bersama dokter.
"Selamat pagi bu Rara.." Dokter.
"Pagi dok.." Rara tersenyum.
"Alhamdulillah sudah siuman.. bagaimana? apakah bu Rara masih mengeluh sakit atau sudah membaik?"
"Sudah lebih baik dok.. hanya sedikit masih lemas" Rara meringis.
Dokter berjalan dan mendekati Rara "Permisi ya, saya cek dulu" Dokter memeriksa tekanan darah dan lainnya.
"Tekanan darah sudah normal, hanya saja masih kurang nutrisi dan asupan lain, bu Rara masih harus banyak istirahat ya di rumah, jangan terlalu kelelahan. Ini nunggu habis dulu infusnya nanti bu Rara sudah diperbolehkan pulang. Obat dan vitaminnya nanti jangan sampai lupa di minum ya bu, dan banyak-banyak istirahat agar cepat pulih"
"Baik dok.."
"Semoga ibu dan bayi selalu sehat..."
Tuhan maha baik, kejadian malam itu, sempat membuat Rara sampai tidak sadarkan diri, namun syukurnya semua tetap baik-baik saja. Rara dan bayinya selamat walau harus extra berhati-hati lagi.
Sesuai perkataan dokter, sore hari Rara di perbolehkan untuk pulang ke rumah kembali.
--
Esok malamnya, Mentari dan Bimo sedang makan bersama di meja makan apartemen Mentari.
"Maksudnya?" Mentari bingung.
"Ya... a-aku tidak mengerti mengurus begituan. Terserah kamu mau tema apa dan gedung mana. Soal dana pasti aku tanggung jawab, tapi soal tema acara, aku serahkan ke kamu" Bimo.
"Ok!" jawab Mentari sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Eh! aku kan belum pernah bertemu keluargamu.." lanjut Mentari.
'Oh iya.. walaupun aku sudah bilang sama ibu dan bapak, tapi aku kan belum pernah mempertemukan mereka secara langsung. Huft...' Bimo.
--
Jeglek... pintu kamar Rara perlahan terbuka. Suara kaki melangkah dengan pelan. Pintu tertutup kembali bahkan terkunci. Di dalam gelapnya kamar hanya ada sedikit cahaya dari lampu tidur di atas meja, terlihat Rara sedang berbaring di atas tempat tidur dengan posisi miring membelakangi.
Mmmummmmach... kecupan lembut dan lama mendarat di leher Rara.
Perlahan Rara berusaha menyadarkan dirinya dari kantuk.
"Reyhan?..." suara pelan Rara.
"Hm?" terdengar jelas suara Reyhan.
Rara merubah posisinya, menempatkan tubuhnya terlentang. Dan benar saja, wajah Reyhan begitu jelas di hadapan Rara.
"Apa aku mimpi?" gumam Rara lirih masih mengedipkan matanya dengan pelan.
__ADS_1
"Tidak.. aku memang sudah pulang" balas Reyhan.
Rara langsung sadar dan membelalakkan matanya.
"Mas?! kamu sudah pulang?! ini kan belum seminggu"
"Memangnya kenapa? aku sangat merindukanmu, bahkan sampai-sampai aku mengkhawatirkanmu seoalah-olah terjadi sesuatu. Untungnya kamu baik-baik saja kan?" tanya Reyhan.
"A-Apa??? Tentu saja aku tidak apa-apa.. hehe" Rara meringis.
"Syukurlah..." Mmmmccchhh... kecupan mesra di bibir. "Aku sangat merindukanmu" lanjutnya.
Reyhan menciumi leher Rara.
"Jam berapa sekarang?" Rara bertanya.
Reyhan tidak memperdulikan dan terus meleburkan rindunya dalam tubuh Rara.
"Mas... kamu pasti lelah, bersihkan dulu tubuhmu dan biar ku buatkan teh hangat. Apa kamu sudah makan?" tanya Rara.
"Belum" jawabnya.
"Ya sudah biar ku siapkan makan, kamu bersihkan dulu tubuhmu" Rara mendorong tubuh Reyhan dan lalu berusaha beranjak dari tempat tidur kemudian berdiri menyalakan lampu kamar.
'Jam 2 pagi?!' Rara terkejut ketika melihat jam di dinding.
"Mau ku buatkan nasi goreng atau mie instan?" tanya Rara.
"Sayang! wajahmu kenapa?" Reyhan terkejut melihat jelas wajah Rara ketika lampu sudah di nyalakan. Reyhan langsung berdiri mendekati Rara.
"Ini kenapa?!!" Reyhan mengibaskan rambut Rara kebelakang telinganya, menyadari dahi Rara memar dan sudah membiru ungu.
'Oh sial*n. Pasti ini bekas kejedot tembok!' Rara.
"Oh?.. I-ini... ini aku ke pentok lemari dapur Mas, aku lupa menutupnya jadi aku kebentur saat memasak" Rara beralasan.
"Sampai ungu begini????!" Reyhan tak percaya, masih memperhatikan dahi Rara.
"Iyaaa.. tidak apa-apa. Sudah sana bersih-bersih, biar ku siapkan makan" Rara mengalihkan pembicaraan dan berusaha melangkah.
Reyhan menahan lengan Rara dan menariknya sampai di hadapannya kembali.
"Kamu tidak bohongkan?" Reyhan benar-benar ragu.
"Kamu tidak percaya?" Rara memasang cemberut.
"Wajahmu juga pucat" Reyhan memperhatikan wajah Rara.
"Aku kan baru bangun tidur Mas.. wajar jika kelihatan lesu. Sudah ah sana pergi ke kamar mandi, aku turun siapkan makan ya" Rara langsung melepaskan diri dan kabur ke dapur.
'Apa benar dia hanya kebentur? kenapa sampai ungu lebar begitu? dan kenapa dia sangat pucat? tubuhnya juga sedikit panas, apa dia sedang berusaha berbohong?'
Reyhan benar-benar ragu dengan pernyataan Rara. Karena menurutnya, jika memang hanya terbentur lemari tidak sampai sememar itu, bahkan saat ia memeluk istrinya itu, ia merasa suhu tubuh Rara sedikit panas seakan demam.
'Hm... sudahlah, biar besok ku tanya bi Ina' Reyhan.
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote sebagai dukungan kakak-kakak terhadap karya iniππ
__ADS_1