Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 73 Akhir Salah Paham


__ADS_3

Tok.. tok.. tok...


"Iya sebentar..." Rara berjalan menuju pintu apartemennya.


Jegrek. Pintu terbuka.


Rara terdiam mematung.


"Hy..." tersenyum.


Deg.. deg.. deg.. deg... detak jantung.


'Apa ini mimpi?' Rara masih terdiam dan mematung. Rara terkejut melihat siapa yang datang mengetuk pintu apartemennya.


"Ra?"


"Hah? h-h-hy Bim" Rara memaksa melengkungkan bibirnya.


Bimo tersenyum melihat Rara memakai celemek dan kemudian mengangkat tangannya dan mengusap pipi Rara dengan jarinya, "Ada coklatnya" lanjut Bimo.


Sedari tadi Rara memang sedang membuat kue coklat di dapur.


'Tuhan.. ternyata ini beneran?' Rara.


Rara hanya tersenyum, belum mampu berkata-kata karena masih syok dengan kedatangan Bimo yang tiba-tiba.


"Aku boleh masuk?" tanya Bimo.


"I-I-Iya silahkan" Rara membuka pintu lebar dan mempersilahkan Bimo masuk kemudian menutup pintu kembali.


"Kamu sedang memasak?" tanya Bimo melihat dapur yang cukup berantakan.


Dapur dan ruang tamu Rara memang bersebelahan dan hanya ada cela tembok pendek yang memisahkan sehingga ketika ada tamu, tamu pun bisa melihat ke arah dapur. (maklum apartemen kecil hehe).


"Hah? e-engga, aku lagi bikin kue" jawab Rara malu-malu.


"Wahhh sepertinya aku datang di waktu yang tepat" Bimo.


"Duduk bim" Rara mempersilahkan Bimo duduk dan Rara berjalan ke dapur.


'Kenapa dia bisa berada di sini?' Rara.


Rara kembali dari dapur membawa sepotong kue coklat dan segelas es coklat dan meletakkannya di atas meja di depan Bimo.


"Terimakasih Ra..."


Rara hanya tersenyum.


"Hmmm bener kata kamu Ra, kayaknya aku bakal ketagihan kue buatan kamu nih" ucap Bimo sambil memakan kue coklat buatan Rara.


Dan Rara hanya tersenyum lagi. Rara benar-benar merasa bingung, canggung, aneh, dan masih tak menyangka dengan kedatangan Bimo.


"Sudah lama tinggal di apartemen?"


"Mmm 2 bulan lebih, ayah yang menyuruhku tinggal di sini" jawab Rara dengan menunduk.


'Dia terlihat malu-malu namun menggemaskan' Bimo.


"Kerja dimana?"


"Di deket sini ko"


Bimo mengangguk dan kemudian menyeruput es coklat yang sudah di buatkan oleh Rara.


"Ternyata kamu masih inget kalo aku suka es coklat" gumam Bimo.


'Iyalah, apa sih yang aku ga inget dari kamu Bim' Rara.


Rara tersenyum dan menunduk.

__ADS_1


"Kenapa sih nunduk terus, ga kangen sama wajah mantanmu ini???" gurau Bimo meledek.


"Apaan sih!!!" Rara berdiri kemudian melepaskan celemeknya dan berjalan ke dapur lagi untuk membereskan dapur yang kotor dan berantakan, padahal sebenernya Rara salah tingkah, canggung, bingung, dan malu menatap wajah Bimo. Karena itu dia mengalihkannya dengan berpura-pura membereskan dapur. Sementara Bimo masih duduk di kursi.


Bimo tertawa kecil.


"Kamu ngapain di Jakarta? udah bulan madunya?" tanya Rara.


"Hah? bulan madu? siapa yang bulan madu?" Bimo pura-pura tidak mengerti.


"Kamulah, di sini kan cuma ada kamu, masa iya aku ngomong sama kulkas?!!" Rara kesal.


"Dimana? di hati kamu cuma ada aku?" gurau Bimo lagi.


"Jangan sampai aku lempar pisau!!!!" gumam Rara.


Bimo tertawa.


'Dia ini memang tidak pernah berubah' Bimo.


"Harus banget ya beres-beres dapur di saat ada tamu?" lanjut Bimo.


"Malu.. berantakan" jawab Rara masih merapihkan dapur.


"Sini dulu lah, aku bawa sesuatu buat kamu nih" perintah Bimo.


Rara berbalik badan dan memandang Bimo "Apa?!" lanjutnya.


"Haha.. ya sini mangkannya"


Akhirnya Rara mengurungkan untuk membereskan dapur dan berjalan kembali duduk di depan Bimo.


"Nih" Bimo menyerahkan bingkisan kepada Rara.


"Apa ini?" Rara bingung menerimanya.


'Jangan bilang oleh-oleh dari pulang bulan madu' Rara.


"Acaranya di majuin emang?"


"Acara apa?"


"Pernikahanmu"


"Hahaha.. Ra.. Ra.. aku ke Bali ada proyek kerjaan, bukan nikahan apalagi bulan madu"


"Terus kapan acara nikahannya?"


'Bod*h kenapa aku tanya ini, jelas-jelas pertanyaan ini membuatku mati nantinya, kalau dia menjawab acaranya besok bagaimana?! aku benar-benar tidak siap pingsan di hadapannya' Rara.


"Kamu maunya kapan?" Bimo tersenyum meledek


"Hahhh??!!!!" Rara terkejut mendengarnya.


"Gausah kaya gitu!!!! Udah punya Mia juga" lanjut Rara.


Bimo tersenyum. "Aku kan udah bilang, aku sama Mia ga ada apa-apa" jelas Bimo.


"Hah?!!" Rara semakin bingung.


"Mia memang sudah menikah, tapi bukan sama aku"


"Se-Serius???!"


Bimo mengangguk.


"Terus ngapain Mia ada di wisuda bareng ibumu? bukannya kamu yang mengundangnya?"


"Engga. Dia dateng buat nemuin sahabatnya yang wisuda juga ko"

__ADS_1


"Hah?!" Rara benar-benar bingung.


"Mangkannya, jangan asal marah terus kabur sampe blokir semua kontak"


Rara terdiam malu.


"Mia dateng bukan untuk ke wisudaan aku, kenapa bisa sama ibu? karena kebetulan aja Mia ketemu ibu di depan gedung. Aku emang sempet ngobrol pas aku nyamperin Mia dan ibu, tapi itu bukan ngobrolin apa-apa, melainkan Mia cuma ngucapin selamat dan ngasih kabar kalau dia mau nikah, aku di suruh dateng ke nikahannya"


Rara masih terdiam.


"Kamu salah paham selama ini Ra..." Bimo.


'Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar tak menentu?' Rara.


"Ra...." Bimo memegang tangan Rara di atas meja. "Aku datang untuk menjelaskan semua kesalahpahaman selama ini. Jangan pernah pergi meninggalkanku lagi" lanjut Bimo.


Rara langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan Bimo dan kemudian tersenyum terpaksa, berdiri dan berjalan ke dapur untuk mengambil air putih. "Eh btw kamu tau aku di sini dari mana?" Rara mengalihkan pembicaraan.


Bimo menarik tangannya lagi. "Aku habis ketemu Galih, dan dia memberitahu alamat kamu disini" lanjutnya.


"Kenapa Galih ga sekalian diajak kesini tadi?" tanya Rara sambil menuangkan air di gelasnya dan kemudian meminumnya, entah kenapa tiba-tiba rasanya sangat haus.


'Sepertinya dia sedang mencoba menghindar' Bimo.


"Ra...." Bimo berjalan mendekati Rara di dapur.


Setelah Bimo berdiri di samping Rara, benar saja, Rara langsung menghindar dan berusaha menjauh. Namun Bimo tidak kalah cepat, Bimo langsung meraih lengan Rara, dan menariknya hingga Rara berdiri persis di hadapannya.


Mulut Rara diam namun dia berusaha melepaskan tangan Bimo, tapi Bimo menggenggamnya dengan erat. Jantung Rara mulai berdetak tak seperti biasanya. Akhirnya Rara pasrah tanpa penolakan. Tangan Bimo yang satunya kemudian memegang dagu Rara, dan mengangkat kepala Rara seolah memerintahkan Rara untuk menatap Bimo.


"Maafkan aku, membuatmu tersiksa selama ini karena kesalahpahaman ini" ujar Bimo menatap tajam mata Rara.


Rara masih terdiam menatap wajah Bimo, tak mampu berkata apapun.


"Maafkan aku, yang baru sempat menemuimu sekarang" lanjut Bimo.


Tak sadar Rara meneteskan air matanya. Bimo langsung mengusap pipi Rara dengan jarinya, kemudian mencium kening Rara cukup lama.


Tok.. tok.. tok.. tiba-tiba pintu apartemen Rara di ketuk seseorang.


Rara langsung berjalan menuju pintu.


--


"Reyhan...."


"Iya mah?"


"Kamu mau kemana?" tanya ibu Reyhan melihat Reyhan sedang bercermin dan terlihat rapih.


"Aku mau ketemu seseorang mah, kenapa?"


"Hari ini kan papah pulang dari Jepang, ayok ke bandara"


"Bukannya pulangnya minggu depan?"


"Engga, di majuin, papah sudah di bandara. Ayok kita kesana, papahmu pasti senang kalau kamu ikut menjemputnya"


'Arrrghhh.. kenapa papah pake pulang sekarang sih, yasudahlah.. aku akan menemui Rara besok saja di kantor' Reyhan.


--


"Hy Ra?" seseorang di balik pintu ternyata Lusi, teman kantornya.


"Oh hy Lus? ambil oderan ya?, ayo masuk dulu"


"Iya, gausah Ra.. aku nunggu di sini aja soalnya abis ini mau langsung pulang.


"Oke sebentar ya" Rara masuk kedalam dan mengambil kue di kulkas.

__ADS_1


Sebelum Rara membuat kue coklat, Rara juga membuat kue ulang tahun pesanan Lusi untuk ulang tahun ibunya besok.


Terimakasih dan jangan lupa di like, share ke siapa aja untuk membaca karya ini, dan pastinya jangan lupa vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update🙏😊


__ADS_2