
"Kenapa kamu berkeringat gitu?" tanya Mentari.
"Hehe.. gapapa.." jawab Bimo.
'Susah banget ternyata mau ngomong'
Bimo pun mengurungkan niat dan mencoba untuk mencari momen yang pas suatu saat nanti. Mereka pun melanjutkan perjalanan dan tetap bersama sampai di apartemen masing-masing.
--
Esok harinya, seperti biasa Mentari datang ke cafe untuk bekerja. Walaupun dia pemilik cafe tersebut, namun Mentari tetap ikut ambil alih melayani customernya secara langsung. Dan memang racikan minuman ala tangan Mentari mempunyai khas dan rasa tersendiri yang mampu melekat di lidah customer.
Jam makan siang, seorang laki-laki datang menemui Mentari, yaitu Eri. Eri datang untuk mengajak Mentari makan siang di luar, alias tempat makan langganan mereka dulu saat masa kuliah.
"Lama juga aku ga kesini" ujar Mentari ketika sudah tiba di tempat makan dan langsung duduk.
"Kemarin-kemarin aku ke cafe, tapi kamu ga ada. Katanya ke Palembang, ngapain emang?" tanya Eri.
"Kondangan..." jawab Mentari tersenyum.
"Perasaan Reyhan juga ke Palembang dan ke acara nikahan juga, apa kalian bareng?" Eri.
'Aduh.. gimana jelasinnya' Mentari.
"Aku kondangan di acara keluarga.. ah sudahlah ga penting. Gimana, kamu sampai kapan di sini?" Mentari mengalihkan pembicaraan.
"Besok juga udah balik lagi"
"Seriusss??? cepet bangettttt" Mentari sedih.
"Iya, kan selesaiin study yang tinggal dikit lagi. Dan... aku udah dapet panggilan kerja" ucap Eri dengan girang.
"Yang bener? keren! eh.. berarti bakal menetap di luar negeri dong?"
"Kayaknya sih gitu...."
"Yaaah... aku sama Reyhan doang dong disini. Ga asik" Mentari cemberut.
"Mangkannya.. ayok ikut" seru Eri.
"Ikut?" Mentari heran.
"Iyaa... jadi istri ku"
"Maksdunya??"
"Istri kedua maksudnya....." gurau Eri.
"S*alan kau!!!"
Mereka berdua tertawa.
"Yakin kamu ga lagi deket sama siapa-siapa?" tanya Eri tiba-tiba.
Mentari mengernyitkan kedua alisnya. "Kenapa tanya begitu?" lanjut Mentari.
__ADS_1
"Yaaaa... kamu selalu nolak ku seriusin, sapa tau lagi berusaha menjaga perasaan orang lain kan" ledek Eri.
"Issshhh.. orang macam kau mana bisa serius? bule mu aja gonta-ganti mulu" Mentari tak mau kalah meledek.
"Inget umur.. perempuan loh, jangan kelamaan sendiri, ntar jadi.."
"Jadi apa?!!!" sambung Mentari memotong pembicaraan Eri.
"Jadi apa prok prok prok!!!" gurau Eri.
--
1 Minggu kemudian.
Pagi hari, Reyhan di dalam kamar sedang berpakaian setelah selesai mandi, sementara Rara sibuk dengan mempersiapkan koper Reyhan untuk di bawa ke Jepang.
"Ga usah bawa pakaian banyak sayang.." ujar Reyhan.
"Katanya satu Minggu di sana..." balas Rara.
"Iya tapi ga usah banyak-banyak, berat bawanya. Gampang beli di sana nanti kalau kurang" jelas Reyhan.
"Issshhh... dari pada beli mending bawa sendiri. Boros. Mending buat aku uangnya" gumam Rara.
Reyhan tertawa kecil lalu mendekati istrinya, dan memeluk Rara dari belakang.
"Bukannya uangmu udah banyak? uang dari aku, uang dari toko, masih saja kurang?" gurau Reyhan di telinga Rara sambil menikmati wanginya leher Rara.
"Ya dari pada kamu membuang-buang uang buat belanja ga jelas kan" balas Rara masih merapihkan isi koper yang tergeletak di atas tempat tidur.
"Kamu itu terlalu ngirit"
"Hmmmmmmm" Reyhan mengeratkan pelukannya.
'Bawel banget dah nih istri'
"Mas... lepaskan! apaan sih kamu ini" Rara berusaha melepaskan lengan Reyhan yang melingkar di tubuhnya, bahkan salah satu tangannya sudah mulai meremas bagian dada.
"Sebelum berangkat ke Jepang sayang..." Reyhan merengek.
"Apaan sih Mas.. kan semalam sudah. Sudah ah lepaskan.."
"Gamau!"
"Nanti kamu ketinggalan pesawat Mas, lepaskan aku mulai merasa mual" seru Rara.
Reyhan langsung melepaskan pelukannya, dan Rara langsung berlari ke dalam kamar mandi.
Huek... huekkk... terdengar suara Rara muntah.
Reyhan langsung berjalan menyusul Rara. Kemudian mengelus-elus punggung Rara.
Rara menghembuskan napas lalu membersihkan wajahnya.
"Aku tidak usah berangkat deh" seru Reyhan.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa Mas... kan sudah terbiasa"
"Tapi aku tidak tega meninggalkan kamu begini"
"Ada bi Ina, ada pak Udin juga. Sudah ah, sudah siap semua ko malah ga jadi, mamah dan papah sudah menunggu di bandara, cepat berangkat Mas.."
Reyhan diam menatap Rara.
'Keras kepala sekali anak ini' Reyhan.
Rara melingkarkan kedua tangannya di leher Reyhan. Lalu mengecup mesra bibir suaminya dengan cukup lama dan pelan.
"Aku tidak apa-apa Mas...." Rara tersenyum.
"Kalau ada apa-apa langsung kabarin aku!" perintah Reyhan.
"Iya suamiku....."
Rara terus bersikap manis, meyakinkan Reyhan bahwa dirinya akan baik-baik saja walau di tinggal Reyhan seminggu ke Jepang. Dan akhirnya Reyhan pun berangkat ke bandara di antar oleh pak Udin.
--
Esok harinya, Bimo sedang berada di ruang kerjanya dan kemudian ada yang mengetuk pintu ruangan yang tak lain adalah pak Jefri, atasannya sekaligus ayahnya Mentari.
"Eh, selamat pagi pak!" Bimo langsung berdiri dan membungkukkan badan untuk menyambut kedatangan pak Jefri.
"Pagi Bim.." tersenyum.
"Maaf pak berantakan, saya tidak tahu kalau pak Jefri akan ke kantor" Bimo menyadari bahwa meja kerjanya berantakan karena kertas-kertas dan makalah yang berceceran.
"Tidak apa-apa, justru aku senang. Berarti kamu bekerja dengan tekun. Saya yang meminta maaf, sudah mengganggu waktu bekerjamu"
"Oh tidak apa-apa pak.." balas Bimo tersenyum. "Silahkan duduk pak" lanjut Bimo kemudian berjalan menyiapkan kopi yang tersedia di dalam ruangan.
"Kemarin kamu pergi ke Palembang bersama anakku?" tanya pak Jefri.
'Waduh.. apa beliau datang untuk membahas ini? apa aku akan di marahi karena membawa anaknya keluar kota?'
"Iya pak.. kami pergi ke acara nikahan sahabat. Kami tidur di hotel dengan kamar terpisah pak"
"Hahaha... rupanya kamu cemas karna takut saya marah ya. Tidak apa-apa, saya hanya bertanya" balas pak Jefri.
Bimo berjalan dengan secangkir kopi di tangannya lalu meletakkannya di atas meja tepat di hadapan pak Jefri.
"Terimakasih.. lalu bagaimana hubungan kalian?" lanjut pak Jefri bertanya.
Bimo terdiam sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, namun karena reflek dari kebingungan.
'Apa aku harus jujur saja sekarang? biar lebih cepat lebih baik. Tapi kalau nanti beliau tidak suka justru malah memecatku bagaimana?'
"Jujur saja Bim.. saya suka jika kalian memiliki hubungan".
Pak Jefri mengingat bagaimana pertama kali saat mengetahui Bimo dan Mentari sudah lebih dulu saling mengenal, bahkan saat di mobil sepulang makan malam bersama waktu itu, Mentari terlihat senang membahas Bimo.
"Sebelumnya saya minta maaf pak kalau saya lancang, tapi sebenarnya... sa-saya.. ingin melamar Mentari pak" suara Bimo terdengar pelan karena malu namun tetap terdengar jelas di telinga pak Jefri.
__ADS_1
Pak Jefri tersenyum mendengar pernyataan tersebut.
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote sebagai dukungan kakak-kakak terhadap karya iniππ