
Pagi hari Bimo keluar dari apartemen hendak berangkat kerja, langkahnya terhenti ketika melewati pintu apartemen Mentari.
'Sudah bangun belum ya dia'
Tok... tok.. tok... Bimo mencoba mengetuk.
Tidak ada jawaban.
'Mungkin dia masih tidur'
--
Sore hari, di cafe Meriju. Mentari sedang bersiap untuk pulang.
'Pulang apartemen apa pulang ke rumah ya'
Mentari diam sejenak untuk berfikir.
'Kenapa aku kesal jika inget Bimo ya, apalagi gara-gara kejadian kemarin. Ah sudahlah, aku pulang ke rumah saja'
--
Sepulang bekerja, Bimo lewat di depan apartemen Mentari dan mencoba mengetuk pintunya lagi, namun tidak ada jawaban.
Bahkan malam hari ketika Bimo hendak keluar untuk mencari makan, Bimo mencoba mengetuk pintu apartemen Mentari kembali, tapi masih tidak ada jawaban juga.
'Kemana dia, apa dia tidak pulang ke apartemen?'
Bimo mengeluarkan hp dari sakunya dan hendak mengirim pesan kepada Mentari untuk menanyakan keberadaan dia sekarang.
'Arrghh... kenapa rasanya sulit sekali mengirim pesan kepadanya'
Bimo mengurungkan niat, dan memasukkan hp nya kembali ke dalam saku lalu pergi mencari makan malam.
'Biar besok saja ku temui dia di cafe, sepulang aku bekerja'
--
Keesokan harinya.
Mentari sedang meracik kopi pesanan pelanggan.
"Mentari..." terdengar suara lelaki menyapa.
Mentari membalikkan badan ketika mendengar ada yang memanggilnya.
"Kamu?????" Mentari terkejut.
Mentari meninggalkan mesin kopinya dan berlari kecil menuju lelaki tersebut dengan wajah yang sangat bahagia.
"Eriiiiiii......." teriak Mentari.
Laki-laki yang datang tersebut adalah Eri, sahabat Mentari dan Reyhan.
Eri meregangkan kedua tangannya, bersiap menyambut kedatangan Mentari.
Mentari berlari kecil lalu memeluk Eri.
"Ah kangen bangeeetttttt" seru Mentari.
"Aku jugaaaa" balas Eri memeluk Mentari juga.
Sementara itu, di sisi parkiran mobil, tepatnya di luar cafe Meriju. Bimo berada di dalam mobilnya, dari balik kaca cafe, Bimo menyaksikan Mentari sedang berpelukan dengan Eri.
'Dasar bod*h, untuk apa aku kesini?! Lihat, dia sudah mempunyai kekasih. Bim.. Bim.. kenapa bisa sampai berfikir Mentari menyukaimu?' gumam Bimo berbicara dengan dirinya sendiri.
"Kapan pulang? ko ga ngabarin sih balik Indonesia?" tanya Mentari setelah melepas pelukan mereka.
__ADS_1
"Semalem, mangkannya hari ini aku kesini" balas Eri.
"Yaudah ayo duduk, ku buatkan Cappucino kesukaanmu" ajak Mentari.
Saat Mentari berbalik badan hendak mencari meja yang kosong untuk dia dan Eri duduk, Mentari melihat ke arah luar.
'Bukankah itu mobil Bimo? apakah benar itu dia? apa dia kesini untuk menemuiku?' guman Mentari memperhatikan mobil Bimo dari balik kaca cafe.
"Hey! ayo.. kenapa berdiri aja" Eri menyadarkan lamunan Mentari.
"Hah? oh.. iya iya... ayo..." Mentari berjalan bersama Eri namun matanya masih mengarah ke arah luar, tepat memandangi mobil Bimo.
--
'Harusnya dari awal, aku sadar kalau dia sudah mempunyai kekasih' Bimo.
Bimo menyalakan mesin mobilnya lagi lalu meninggalkan cafe Meriju dan pulang ke apartemen.
--
Setelah membuatkan secangkir cappucino untuk Eri, Mentari menyerahkannya kepada Eri lalu pamit sejenak.
"Mau kemana?" tanya Eri.
"Sebentar.." teriak Mentari.
Mentari berlari keluar cafe.
'Tidak ada.. mungkin hanya perasaan ku saja. Lagian untuk apa Bimo kesini menemuiku?'
Rupanya Mentari keluar cafe untuk mengecek apakah yang ia lihat benar Bimo atau bukan.
--
Mentari kembali menemui Eri kemudian duduk berhadapan dengan Eri di salah satu meja cafe Meriju.
"Kenapa sih?" tanya Eri.
"Gimana cafe?" tanya Eri.
"Lancar dong.. berkat siapa dulu.. Mentari gitu loh" Mentari tersenyum bangga.
"Huh dasar...." Eri.
"Gimana sekolah bisnismu?" Mentari balik bertanya.
"Sebentar lagi lulus doakan ya"
"Bagus!!" Mentari mengacungkan jempol dan mengedipkan matanya sebelah dengan tersenyum lebar.
"iiiiiiihhhhh...." Eri mencubit hidung Mentari.
"Aaaa... lepaskan!!" Mentari merintih.
"Haha.. sudah ku bilang jangan banyak memasang wajah menggemaskan di depan ku, ku nikahi kau nanti!" gurau Eri lalu melepaskan cubitannya.
"Ogah nikah sama kamu" seru Mentari memegangi hidungnya yang merah karena ulah Eri.
"Memangnya kenapa? harusnya kamu bangga jika menikah denganku yang tampan ini" ledek Eri.
"Cih.. iyuh... cewe bule mu di mana-mana, ogah! lagian, kamu dan Reyhan adalah sahabatku, aku tidak mau menikah dengan salah satu dari kalian. Jika dua-duanya baru aku mau" gurau Mentari.
"Heyyyy!!! serakah juga ya kau!" Eri.
"Hahahhaha..." Mereka berdua tertawa dengan gurauan mereka.
"Apa itu?" tanya Mentari melihat sesuatu yang dibawa Eri dan di letakkan di dekat kakinya.
__ADS_1
"Itu oleh-oleh untukku ya?!!" Mentari kegirangan.
"Enak saja! ini untuk Reyhan" jawab Eri.
"Apaaa??!! 5 bulan tidak bertemu, kamu pulang dari luar negri tidak membawakan aku oleh-oleh? sahabat macam apa kau, pelit!!!" gurau Mentari menyodorkan garpu ke arah Eri.
"Hahaha.. iya iya.. ini untuk mu" Eri menyerahkan salah satu bingkisan yang ia bawa.
"Yeeeyyy... itu buat siapa?" Mentari menanyakan bingkisan satunya lagi.
"Sudah ku bilang.. buat Reyhan"
"Kenapa punya Reyhan lebih besar? cih.. tidak adil" gurau Mentari lagi.
"Heyyyy... bukannya makasih malah banyak protes. Ini untuk Reyhan dan istrinya mangkannya aku belikan yang lebih besar karena untuk berdua. Mangkannya kamu cepat menikah jika ingin ku berikan yang besar" lanjut Eri meledek.
"Cih.. ngaca. Situ juga belum nikah!" balas Mentari.
Eri tertawa.
"Ayo temui Reyhan..." ajak Mentari.
"Iya.. niatnya habis ini aku mau ke rumah Reyhan" ucap Eri.
"Ikuuuttt.... lama ga main game bareng kalian di rumah Reyhan" seru Mentari.
"Yasudah ayok sekarang aja, keburu malem, udah mau maghrib nih, sana ambil tas mu" perintah Eri.
"Okeee" Mentari senang.
--
Di teras apartemen, Bimo duduk memandangi senja.
'Kenapa aku kepikiran dan terbayang terus Mentari berpelukan dengan pria itu, dan kenapa aku merasa sangat kesal. Arrgghhh!'
--
Reyhan duduk di meja makan, sedangkan Rara sedang meyiapkan lauk untuk Reyhan. Bi Ina sedang membersihkan dapur yang kotor bekas memasak tadi.
Tiba-tiba terdengar ada yang mengetuk pintu depan. Bi Ina segera berjalan hendak membuka pintu tersebut.
"Tidak usah bi, biar aku saja" ucap Rara.
"Baik Mba Rara.." bi Ina.
"Sebentar ya Mas.." Rara berbicara kepada Reyhan.
Reyhan mengangguk dan melanjutkan makan.
Rada berjalan menuju delan rumah.
Jegleg... Rara membuka pintu.
Terlihat seorang perempuan berambut panjang dan seorang laki-laki cukup tinggi.
"Hy... Reyhan ada?" tanya perempuan itu.
"A..da..." Rara bingung memperhatikan mereka.
"Oh, aku Mentari, dan ini Eri. Kami berdua sahabatnya Reyhan... " jelas Mentari.
Dan Eri memberikan senyuman kepada Rara.
'Hah? jadi ini yang namanya Mentari. Perempuan si*lan yang memberiku lingerie waktu itu?! gara-gara dia sekarang aku hampir tiap malam memakai baju kurang bahan itu! benar-benar menjengkelkan. Awas saja kau!' Rara.
Rupanya Rara masih ingat dan masih merasa kesal atas kejadian malam pertama waktu itu.
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote๐๐