
"Bapak harus memutuskan untuk menyelamatkan ibunya atau anaknya"
Reyhan benar-benar terperangkap dalam keadaan yang sangat berat.
"Selamatkan ibunya" kalimat yang langsung keluar begitu saja dari mulut Reyhan.
"Begini pak, benturan yang di alami istri bapak sangat keras, dan sepertinya benturan yang di alami sebelumnya, memberi bekas di tambah lagi dengan benturan kedua yang lebih keras. Rahim istri bapak mengalami infeksi dan luka. Kemungkinan untuk mengandung laginya sangat kecil, tapi...." dokter belum selesai melanjutkan penjelasannya.
"Saya bilang selamatkan ibunya, cepat!!!!" Reyhan memotong pembicaraan dan langsung berteriak membentak dokter tersebut.
Dokterpun langsung bergegas masuk ke dalam ruangan dan segera melakukan operasi.
Terlihat Reyhan mencengkram kepalanya dengan kedua tangannya, wajahnya terlihat sangat sedih dan tanpa sadar Reyhan meneteskan air matanya.
--
Setelah beberapa jam operasi berjalan dengan lancar namun Rara masih belum sadarkan diri. Malam harinya, perlahan Rara membuka kelopak matanya, memandangi langit-langit dan melihat sekeliling, terlihat bi Ina duduk di sampingnya dengan wajah yang sedih.
"Alhamdulillah.. Mba Rara sudah sadar?" terlihat sedikit kegembiraan di wajah bi Ina, melihat istri tuan mudanya sudah sadarkan diri.
"Bi.. anakku mana?" Rara memegang perutnya dan menyadari bahwa perutnya sudah tidak buncit, Rara mulai menangis mengingat kejadian terakhir yang membawanya sampai ke rumah sakit, Rara mulai khawatir hal buruk terjadi pada anaknya.
"Tenang Mba Rara, istirahatkan dulu tubuhnya agar segera pulih" Bi Ina berdiri dan mulai mengelus pelan tangan Rara berusaha menenangkan.
"Mana anak aku bi, mana??!!!!! dia gapapa kan bi??!!! baik-baik aja kan bi???!!! mana bi manaaa???!!!!" Rara mulai berteriak histeris dan berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
"Si kecil sudah berada di tempat yang tentram Mba Rara, Mas Reyhan sedang mengantarnya" jelas Bi Ina mengatakan sejujurnya.
Bayi dalam kandungan Rara yang berjenis kelamin laki-laki sempat terselamatkan, namun keadaannya sangat kritis dan selang 1 jam kemudian bayi itu meninggal. Rara belum sempat melihat bayinya sama sekali karena Rara pun harus melalui masa kritisnya juga. Tapi Reyhan sudah sempat melihat dan menggendongnya, dan bahkan sudah mengadzani anak laki-lakinya itu.
Namun rupanya, bayi itu tidak kuat bertahan dan tidak mampu melewati masa kritisnya. Setelah di nyatakan meninggal, bayi itu langsung di urus Reyhan untuk segera di kuburkan.
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
__ADS_1
HIKSS... HIKSSS.... HIKKSSS....
Rara berteriak dan menangis sejadinya, bagaimana bisa, anak yang sudah ia kandung 8 bulan berada di perutnya, menemani saat tidur, menemani saat mandi, menemani saat makan, merasakan pergerakannya, mengajaknya berbicara, di bawa kemanapun dia pergi, bagaimana bisa hilang begitu saja tanpa sempat terlihat sama sekali.
Entah apa yang Rara fikirkan dan rasakan, semuanya begitu menyakitkan dan seketika menghancurkan segala kebahagiaannya.
--
Setelah mengurus pemakaman anaknya, Reyhan pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian, sedari tadi ia masih menggunakan pakaian kerja. Reyhan berada di dalam kamar mandi kamarnya, mengguyur tubuhnya dengan air yang keluar dari shower. Air begitu terasa dingin padahal jelas-jelas air itu adalah air hangat, perasaannyalah yang membuat segalanya terasa dingin. Reyhan menjerit dalam bungkam, menelan pahit segalanya, dan tanpa sadar air mata pun ikut serta mengguyur tubuh Reyhan.
'Kenapa?! Kenapa anakku di ambil? kenapa Tuhan?!!!! Kenapa!!!!!!!!!!!'
Hati Reyhan terus menjerit tak terima dengan semua ini, ia merasa sangat marah dan juga sedih, entah harus kepada siapa ia meluapkannya, ia benar-benar tidak mengerti apa yang ia rasakan saat ini, rasanya Tuhan pun tidak akan mengerti.
Hampir setengah jam Reyhan menangis dalam kamar mandi, dan air yang membasuh tubuhnya sedikit membantu segala kepedihan hatinya dan mampu membuatnya sedikit merasa tenang.
Tok... tok... tok...
Reyhan yang sedang memakai baju lalu segera merapihkan pakaiannya dan melangkah untuk membuka pintu.
Jeglek
"Gimana pak?"
"Bi Ina bilang Mba Rara sudah siuman Mas.. lebih baik kita segera ke rumah sakit kembali" ujar pak Udin.
"Ya siapkan mobil, nanti aku menyusul kedepan"
"Baik Mas"
--
Reyhan dan Pak Udin memasuki kamar rumah sakit, terlihat Rara berbaring di tempat tidur menghadap lawan arah dan membelakangi mereka.
__ADS_1
"Bi Ina pulang saja sama Pak Udin, biar aku yang disini" perintah Reyhan kepada bi Ina.
"Baik Mas Reyhan, besok bibi kesini lagi. Mas Reyhan.. sedari tadi Mba Rara tidak mau makan dan terus menangis" lanjut Bi Ina berbisik.
Reyhan hanya terdiam tak menjawab apapun, namun matanya melihat kearah Rara.
Bi Ina dan Pak Udin kemudian pamit dan keluar dari ruangan.
Reyhan duduk di kursi samping tempat tidur rumah sakit. Terus memandangi Rara yang hanya terlihat bagian belakang tubuhnya, karena wajahnya menghadap lawan arah.
Rara diam tanpa berkata apapaun, begitu juga dengan Reyhan yang bingung harus berbicara apa. Mereka saling diam seketika. Keduanya masih sangat terpukul, sedih, dan berduka.
"Makananmu hampir dingin" hanya itu kalimat yang langsung terucap dari mulut Reyhan.
Rara diam tak bereaksi apapun.
"Ra...."
Rara masih terdiam.
"Rara!" Reyhan sedikit meninggikan nada suaranya.
Perlahan terdengar suara isak tangis, Rara berbalik badan dan memandang Reyhan. Terlihat air mata yang membanjiri pipinya, matanya sangat bengkak, bibirnya bergetar menahan tangis.
Reyhan hanya terdiam memandang, dan matanya berkaca-kaca.
"A, Aku.. belum melihatnya sama sekali, Reyhan" Rara mengeluarkan suaranya dan mengucapkan kalimat itu dengan bergetar lalu memecahkan tangisnya.
Rara menggigit bibirnya dan menutupi wajahnya dengan kedua talapak tangannya yang masih tertancap selang infus di salah satu tangannya, Rara menangis jelas di depan Reyhan.
Hati Reyhan semakin hancur, perasaannya berantakan, kecewa, sedih, marah dan tak tega, menjadi satu. Reyhan duduk di tepi tempat tidur rumah sakit, lalu memeluk Rara tanpa berkata apapun. Air mata mulai menetes pelan di pipi Reyhan namun ia langsung mengusapnya, tidak ingin menunjukkan kesedihannya. Malam itu, di dalam ruangan, hanya terdengar suara tangis di dalam pelukan penuh duka, Rara dan Reyhan berusaha menerima kenyataan.
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote ya kak🙏
__ADS_1