
Bimo berdiri di depan pintu kamar Rara. Dari balik pintu terdengar jelas isak tangis gadis manis yang hatinya patah. Bimo memberanikan diri menemui Rara untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, sekalipun nanti ia akan di tampar, Bimo pun siap. Bimo membuka pintu kamar Rara dengan pelan. Terlihat gadis manis yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menunduk meneteskan air mata. Bimo mendekat dan mencoba memeluk gadisnya itu, namun Rara dengan sigap menolak dan menghindar. Rara tak berbicara apapun hanya menangis dan menangis.
"Sayang..." Bimo.
"Jangan katakan apapun Bim. Aku sedang tidak ingin mendengar ataupun berbicara apapun" balas Rara.
"Kalau begitu.. izinkan aku memelukmu" Bimo.
"Untuk apa? kehangatan pelukmu tidak akan membuat lukaku sembuh. Lebih baik kamu pulang dan biarkan aku sendiri dulu" ujar Rara terus menunduk dan menangis.
Tidak ada yang bisa dilakukan Bimo selain menuruti kemauan Rara saat ini. Rara benar, dia butuh waktu untuk menenangkan keadaan dan hatinya.
--
Sejak saat itu, Rara sulit untuk di temui, bahkan setiap Bimo menghubungi, Rara pun tidak merespon. Rara juga tidak pernah datang ketika sedang berkumpul bersama yang lainnya. Sampai akhirnya, seminggu kemudian, Bimo, Galih, Aldi, Mela, dan Sasa sedang berkumpul di sebuah cafe dan tiba-tiba Rara datang.
"Rara?" Sasa terkejut melihat Rara yang sedang berjalan menghampiri meja mereka.
"Haiiii" sapa Rara berjalan sambil melampaikan tangan dan tersenyum.
Semua senang menyambut kedatangan Rara. Dan merekapun akhirnya bisa berkumpul tanpa ada yang kurang. Sebenarnya sulit sekali bagi Rara harus berpura-pura baik-baik saja apalagi di depan Bimo, namun Rara berusaha menghilangkan sementara lukanya dan bersikap seperti biasa saat di depan sahabat-sahabatnya yang lain. Tak sadar hari sudah semakin malam, pipi merekapun sudah letih karna tertawa. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, ketika Rara sedang di parkiran dan sedang berusaha menyalakan mesin motornya, tiba-tiba Bimi datang menghampiri Rara.
"Ra.."
"Oh ya Bim, gimana?"
"Bisa ngobrol sebentar?"
'Sudah malam, tapi bagaimanapun urusanku dengan Bimo belum selesai' Rara.
"Bisa, mau ngobrol dimana?"
"Di cafe lagi aja, tapi di bagian lantai atas biar ga terlalu rame dan enak ngobrolnya"
__ADS_1
"Ok" akhirnya Rara beranjak lagi dari motornya dan berjalan bersama Bimo memasuki cafe kembali. Mereka duduk berhadapan di salah satu meja cafe lantai atas, tempatnya sejuk karena outdoor, lantai atas tidak terlalu ramai, namun masih terdengar sedikit musik live yang sedang berlangsung di cafe bagian lantai bawah.
"Sejuk ya ternyata di bagian atas" ujar Rara berusaha memulai obrolan agar tidak canggung.
'anak ini pandai sekali berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa' Bimo.
"Ra..." Bimo berusaha memegang tangan Rara yang berada di atas meja. Namun Rara langsung menghindar dan tersenyum.
"Bimo mau ngomongin apa?" tanya Rara dengan tersenyum.
"Aku minta maaf Ra, dan Aku..." Bimo tiba-tiba ragu untuk melanjutkan pembicaraannya.
"Bicaralah jika ingin bicara Bim, jangan diam. Aku siap mendengarkan apapun asalkan itu jujur dari hati kamu" Rara pasrah.
"Aku.. Aku rasa aku ga bisa ngelanjutin hubungan ini Ra" ungkap Bimo.
'Ya Tuhan, apakah ini akhir dari perjuanganku?' Rara.
"Alasannya?" Rara.
"Hahaha. Apakah pergi adalah caramu untuk menghilangkan jenuh Bim?"
Bimo hanya terdiam dan menunduk.
"Katakan kau mencintainya Bim"
"Iya" tegas Bimo.
'Tuhan mengapa bumi ini seolah kehabisan oksigen? apakah seperti ini rasanya kehilangan sesuatu yang berharga? rasanya sulit sekali untuk bernafas' Rara.
"Kalau kamu ingin marah, silahkan tampar aku Ra" lanjut Bimo.
"Beberapa hari yang lalu, Yessi datang menemuiku. Dia menceritakan semuanya. Kalau kamu tanya apakah aku ingin marah, jelas iya. Tapi dengan menamparmu hanya membuat pipimu sakit dan membuatku semakin terluka. Aku rela Bim jika ini keputusan kamu. Bagaimanapun kamu dan Yessi adalah teman ku" Rara.
__ADS_1
Bimo hanya terdiam dan memandang wajah Rara.
--
Beberapa hari yang lalu, Yessi datang ke tempat kerjanya Rara. Dan Rara mempersilahkan Yessi untuk masuk ruang kerjanya dan mengobrol bersama.
"Ada perlu apa datang kesini Yes?" Rara.
"Gapapa. Main aja" Yessi.
"Apa kamu sudah tidak bisa membedakan antara kantor dengan taman bermain? Main ko datengnya ke kantor. Pantes aja kamu ga bisa bedain mana Pria lajang dan mana Pria pasangan orang" Rara tersenyum.
"Haha.. Rara Rara.. Aku dan Bimo memang belum ada hubungan apa-apa. Tapi aku yakin sebentar lagi juga Bimo akan memutuskan kamu dan menjadi pacarku" Yessi.
"Terus?"
"Terus aku berhasil" Yessi tertawa.
"Apakah mendapatkan sesuatu dengan cara merampas milik orang lain kamu sebut itu berhasil? Yessi.. Yessi.. apakah kamu tidak merasa kasihan dengan dirimu sendiri?" Rara tersenyum senang.
'Kurang ajar kamu Ra' Yessi.
"Tapi tenang aja Yes, aku tidak akan memusuhimu, karena bagaimanapun kamu tetap temanku" lanjut Rara.
Di bawah ini adalah gambaran karakter Bimo, Rara, dan Yessi. gambar ini bukanlah gambar karangan penulis, melainkan hanya contoh sebagai gambaran yang pas/mirip/cocok. Terimakasih sudah membaca dan jangan lupa di like🥰🙏.
1. Rara
2. Bimo
__ADS_1
3. Yessi