Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 81 Pernikahan Impian?


__ADS_3

19.00 Rara bersama Reyhan tiba di rumah yang sangat luas dan besar. Rumah bernuansa putih dan berlantai 3. Rumah yang dapat di bilang sangat megah bagi Rara. Apalagi kalau bukan rumah orang tua Reyhan alias rumah pak Santoso, atasan sekaligus calon mertua Rara.


'Rumahku hanya seperempat halaman depannya saja? Aku benar-benar tidak menyangka pak Santoso semakmur ini' Rara.


Reyhan membawa Rara untuk bertemu dengan keluarganya dan makan malam bersama untuk pertama kalinya. Rara di sambut sangat ramah oleh para pelayan dan juga oleh pak Santoso dan istrinya.


Semua berjalan sangat lancar dan hikmat, pertemuan yang sebelumnya di bayangkan Rara akan sangat menegangkan, kenyataannya justru sangat hangat. Pak Santoso dan istrinya adalah orang yang sangat baik, bahkan selama makan malam dan berbincang-bincang, mereka sama sekali tidak menanyakan hal-hal yang aneh seperti di film-film yang menanyakan bibit dan bobot.


Justru, Reyhan dari awal sudah menceritakan keadaan kedua orang tua Rara kepada keluarganya, dan keluarganya tidak mempermasalahkan itu. Mereka tidak perduli bagaimana keadaan keluarga Rara. Kedua orang tua Reyhan justru menyuruh Rara untuk menganggapnya sebagai orang tuanya sendiri.


Ini adalah sebuah kebahagiaan baru bagi Rara, di sambut hangat oleh kedua orang tua Reyhan.


Tiba di penghujung obrolan setelah makan malam. Kedua orang tua Reyhan mengantar Rara ke depan sampai memasuki mobil. Pertemuan yang sungguh mengesankan dan hangat.


"Reyhan..." sapa Rara kepada laki-laki yang sedang menyetir di sampingnya.


"Ya?"


"Apakah setelah menikah kita akan tinggal di sana?" tanya Rara.


"Di sana dimana?"


"Di rumah barusan"


"Tentu saja" jawab Reyhan tegas.


"Bersama kedua orang tua mu??" tanya Rara lagi.


"Iya..."


Rara diam seolah sedih.


"Kenapa?" Reyhan heran.


"Reyhan.. apakah aku boleh mengajukan ide?"


"Maksudnya?" Reyhan bingung.


"Reyhan.. ketika kita memutuskan untuk menikah, kita akan membangun rumah tangga. Dan tentunya akan ada banyak cobaan di dalamnya. Dan aku, aku hanya ingin menjalani itu semua denganmu. Kalau kita tinggal bersama orang tua, tidak menutup kemungkinan mereka akan tahu jika nanti kita sedang ada masalah, atau berantem, atau apa gitu. Dan aku tidak mau merepotkan mereka"


"Terus?"


"Ya alangkah lebih baiknya kalau kita tinggal terpisah dengan mereka. Tapi bukan berarti kita harus membeli rumah sekarang. Kita bisa tinggal di kontrakan dulu sambil menunggu sampai kita bisa membeli rumah. Aku tidak apa-apa tinggal di kontrakan atau pun kos-kosan kecil"


Reyhan tersenyum.


"Kenapa tersenyum?" Rara heran.


'Dia memang gadis yang sederhana dan mandiri' Reyhan.


"Ya sudah.. urusan kontrakan, tidak perlu khawatir, nanti aku yang urus"


Rata tersenyum senang.


"Tidak harus besar dan mewah Rey.. yang penting kita bisa terlindungi dari hujan dan panas"


"Iya.. iya..." Reyhan mengerti.


"Oh iya.. idemu untuk menikah di hotel, aku tidak setuju" protes Rara.


"Kenapa?!!"


"Bukankan itu terlalu berlebihan?"

__ADS_1


"Berlebihan bagaimana? itu wajar Ra.."


"Kenapa tidak di rumah ku saja, atau di gedung biasa, bukan di hotel bintang lima begitu. Itu terlalu berlebihan untukku"


"Bukankan biasanya perempuan akan senang? mereka kan akan menjadi tuan putri dalam sehari?"


"Tidak semua Reyhan.. banyak juga perempuan yang hanya ingin menikah sederhana, mungkin termasuk aku. Banyak orang sibuk membuat hari pernikahan mereka mewah dan terlihat sempurna, tapi ujungnya banyak juga yang akhirnya berpisah. Kalau aku lebih memilih untuk mengadakan acara pernikahan sederhana saja yang penting setelah itu kehidupan rumah tangga ku tentram. Yang penting kan Ijab Kabulnya, bukan dekor pesta atau hidangan pestanya. Lagian bukankan lebih baik uang itu di simpan untuk kita menabung membeli rumah nantinya?"


Lagi-lagi Reyhan hanya tersenyum mendengarnya.


'Apa dia ini lupa kalau dia adalah calon menantu Pak Santoso? haha dasar.. sepertinya aku memang tidak salah memilih calon istri' Reyhan.


--


Beberapa hari setelah pertemuan Rara dengan pak Santoso dan istrinya, kini Giliran keluarga Reyhan yang datang berkunjung ke Bandung untuk menemui ibu Rara, ya hitung-hitung lamaran kecil-kecilan. Dan Ayah Rara pun pulang ke Bandung sampai hari pernikahan Rara selesai nanti.


Pertemuan kedua keluarga sangat hangat, kedua keluarga saling mendukung dan tentunya saling merestui. Mereka menentukan dan menyetujui hari pernikahan akan di laksanakan 2 minggu ke depan. Tentu saja Reyhan sudah tidak sabar menanti hari itu.


Setelah pertemuan kedua keluarga tersebut, Rara ikut Reyhan dan keluarganya kembali ke Jakarta, karena ada beberapa hal dan yang harus di urus, salah satunya membereskan apartemnnya, dan memberi undangan kepada teman-teman kerjanya, dan juga sahabatnya Rara, siapa lagi kalau bukan Galih, Bimo, Mora.


--


Malam hari, Rara, Bimo, dan Galih sedang berkumpul di sebuah cafe.


"Gimana Ra persiapan nikahmu?" tanya Galih.


"Udah 80%" jawab Rara tersenyum.


"Emangnya jadinya kapan?" tanya Bimo.


"2 Minggu lagi"


"Di Bandung kan?" Galih.


"Mela dateng bareng suaminya? Aldi juga bareng istrinya?" tanya Bimo.


"Mmm Mela sih sama suaminya, tapi kalo Aldi katanya sih sendiri, istrinya lagi hamil soalnya"


"Wahhhh.. Bim, gimana nih, tinggal kita berdua yang belum gas pol" ujar Galih.


Mela, Sasa, dan Aldi memang sudah menikah lebih dulu. Bahkan Sasa baru saja melahirkan sebulan yang lalu.


"Bukannya setelah aku, kau bakal nikah sama Mora kan?" tanya Rara kepada Galih.


"Insyaallah hihi" Galih meringis.


"Jangan kelamaan Gal. Ntar lepas" ujar Rara.


"Yayayayya... kaya Rara, lepas dari aku" gurau Bimo.


"Ih!!!!" Rara melempar sehelai kentang goreng kepada Bimo. "Salah sendiri dulu selingkuh, mangkannya jadi cowo jangan plinplan. wle" balas Rara.


"Hahahaha.. hantam.. hantam...." lanjut Galih bergurau.


"Kan ada Mia.. kenapa ga coba kasih dia kesempatan sih Bim? pastinya Mia punya alasan kan? ga mungkin dulu dia pergi gitu aja ga ada alasannya. Lagian kan kamu masih cinta katanya?" Rara.


"Gatau deh.. rasanya masih sakit" Bimo.


"Jangan egois.. setidaknya kasih Mia kesempatan Bim" Rara berusaha membujuk.


"Iya.. dulu aja Rara kasih kesempatan berkali-kali, tapi tetep di sia-siain. ******. Hahahahahah" gurau Galih.


"kampr*ttt!!!!" teriak Rara dan Bimo bebarengan.

__ADS_1


Kemudian mereka tertawa bersama.


'Aku tidak pernah salah memutuskan untuk tetap bersahabat dengan Bimo, walaupun awalnya aku tersiksa sendiri karena masih mencintainya, tapi aku bahagia bisa terus bersama Bimo, Galih, Mela, Aldi dan Sasa, walau terkadang saat berkumpul dan melihat Bimo, sakit ku masih terasa. Aku tahu, rasa ini akan selalu ada untuk Bimo, karena dia cinta pertama ku, tapi aku sadar, persahabatan adalah batas terbaik untuk aku dan Bimo' Rara.


'Walau pada akhirnya Rara bukan jodohku, tapi aku selalu bersyukur dia masih menerimaku sebagai sahabat, dan aku masih bisa melihat dia tersenyum, dan bahagia, walau dengan yang lain. Dan aku percaya apa kata Rara, bahwa aku pun nantinya akan menemukan orang yang tepat' Bimo.


"Oh iya Bim.. kamu satu proyek sama Mia kan? aku minta tolong titip ini yah" Rara memberikan sebuah undangan untuk Mia. "Aku akan lebih seneng kalo kalian dateng bersama" lanjut Rara tersenyum.


'Aku tahu Bimo masih sangat mencintai Mia, walaupun hatinya terluka. Aku selalu berharap mereka bisa saling bersama lagi, karena bagaimanapun mereka masih saling mencintai' Rara.


"Iya udah.. dateng bareng aja, biar kalo nangis pas liat Rara sama Reyhan, ada Mia yang ngusapin air matamu, uluh... uluh.. sayang jangan menangis, ada aku hahahaha" gurau Galih.


"Sialan!!!!!" Bimo.


--


Siang hari, setelah Reyhan menemani Rara mengambil gaun pengantin, Reyhan mengajak Rara pergi ke suatu tempat sebelum besok Rara kembali ke Bandung.


"Kita mau kemana sih?" Rara bingung karena dia tidak tahu mau di bawa kemana.


Reyhan hanya tersenyum.


'Hisshh apakah dengan tersenyum dapat menjawab pertanyaan?' gumam Rara.


Tak lama, Reyhan memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah. Rumah berlantai 2 yang tidak terlalu besar, bahkan terlihat minimalis. Bagian depan terlihat halaman kecil seperti untuk tempat parkir mobil dan ada taman kecil di bagian depan samping.


"Ini rumah siapa?" tanya Rara.


"Sudah ayo masuk" Reyhan membuka gerbang.


Ketika memasuki kedalam rumah tersebut, lantai bawah terdapat ruang tamu, dapur, ruang tv, kamar mandi, dan satu kamar kecil dekat dapur. Ketika Rara naik ke lantai atas, terdapat 2 kamar, 1 kamar tidak terlalu besar dan 1 kamar lagi yang cukup besar karena ada kamar mandi dalamnya juga, dan di tengah kedua kamar itu terdapat ruang yang terlihat seperti ruang santai dan ada beberapa alat untuk olahraga.


"Ini rumahku" jelas Reyhan.


"Kamu mendadak membeli rumah?! aku kan cuma bilang cari kontrakan saja, Reyhan..."


"Haha.. engga, ini rumah aku bangun 2th yang lalu, saat aku kuliah di Jakarta, aku juga sambil mencoba berbisnis cafe dengan sahabat-sahabat ku, dan sesekali membantu papah di kantor, dari situ aku mulai dapet penghasilan dan aku mulai tabung buat bangun rumah ini. Selama ini aku tinggal di sini, pulang ke rumah mamah sesekali aja, biasanya kalo sabtu-minggu. Setelah kita nikah, nanti kita tinggal di sini" jawab Reyhan.


Rara hanya diam tersenyum. Dia merasa bangga dengan Reyhan.


"Senyum doang?" Reyhan.


"Hah??!" Rara bingung.


"Suka ga?" tanya Reyhan.


"Suka" Rara tersenyum.


"Nih!" Reyhan menunjuk pipinya, berharap dapat ciuman Rara walau hanya di pipi.


"Tunggu sampai nikah!" tegas Rara.


'Hadeeehhhh' Reyhan.


Reyhan berjalan mendekati Rara, berdiri di hadapan Rara.


"Besok balik ke Bandungnya hati-hati ya, sampai jumpa 2 minggu lagi, di hari bersejarah kita" Reyhan memegang tangan Rara.


"Semoga di lancarkan ya" Rara.


"Aamiin".


Terimakasih jangan lupa di like, share ke siapapun, dan juga vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update😊🙏

__ADS_1


__ADS_2