Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 74 Permintaan Maaf Reyhan


__ADS_3

Rara duduk di kursi kerjanya, namun tidak memandang ke laptop yang berada di atas mejanya. Melainkan Rara memandangi keadaan luar dari balik jendela ruangannya.


'Setiap aku berada di samping Bimo, kenapa aku sulit sekali berkutik?. Ternyata selama ini hanya salah paham, ini sebuah takdir atau hukuman dari Tuhan?' Rara.


--


Setelah meeting bersama, Mia menghampiri Bimo yang masih fokus ke layar laptopnya.


"Bim..." Mia berdiri di samping Bimo.


"Ya...." jawab Bimo namun tanpa melihat Mia dan masih memandangi layar laptopnya.


"Apa kamu tidak mau makan siang? ayo makan siang di kantin kantor" ajak Mia.


"Tidak Mia, aku sudah memesan makanan melalui gofood" balas Bimo.


"Kalau begitu, nanti malam kita makan mie Aceh mau? seperti waktu di Jogja, dekat sini ada mie Aceh yang rasanya enak dan mirip dengan yang ada di Jogja" lanjut Mia.


Bimo diam sejenak, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Kemudian berdiri dan merapihkan laptopnya.


"Mia.. lupakan semua yang terjadi di Jogja. Sekarang kita ada di Jakarta, bukan di Jogja. Mia.. sekarang kita hanya partner kerja, tidak lebih" ujar Bimo kemudian berjalan meninggalkan ruang meeting.


'Kenapa.. kenapa Bimo? kenapa sekarang dia seperti ini? padahal dulu dia begitu mencintaiku' Mia.


--


Reyhan turun dari lantai 4 menuju lantai 2 keruangan Rara. Terlihat Rara sedang duduk di kursi dan memandangi ke arah jendela. Reyhan mencoba mengetuk pintu namun Rara tidak mendengar. Reyhan mencoba memanggilnya, tetap tidak dengar juga.


'Apa yang sedang ia lamuni?' Reyhan.


Akhirnya Reyhan memberanikan masuk ke dalam reuangan Rara, menutup pintu ruangan Rara, berjalan dan kemudian bersandar di meja kerja Rara namun tetap berdiri.


'Dia benar-benar tidak menyadari kehadiranku?' Reyhan.


Tak lama, Rara membalikkan kursi kerjanya dan hendak kembali ke laptop yang berada di atas mejanya.


"Astaghfirullaha'adzim!!" Rara terkejut melihat Reyhan yang berdiri bersandar di mejanya, sambil menyilangkan kedua tangannya di bagian depan perut.


Reyhan hanya tersenyum melihat Rara terkejut.

__ADS_1


"Kamu sejak kapan di sini?" Rara.


"Sejak kamu melamun" jawab Reyhan. "Ngelamunin apa sih sampe ga sadar ada orang masuk?" lanjut Reyhan.


"Aku tidak melamun" protes Rara.


Rara melihat ke arah pintu lalu berdiri dan hendak berjalan membuka pintu.


"Mau kemana?" tanya Reyhan menggapai lengan Rara dan menahannya.


"Aku mau membuka pintu, tidak enak menutup pintu ruangan kerja rapat begitu, apa kata karyawan lain nanti" ujar Rara.


"Aku sengaja menutupnya, agar tidak ada yang bisa mendengarkan kita. Kemarilah" Reyhan menarik lengan Rara agar Rara tepat di hadapannya.


'apa katanya? agar tidak ada yang mendengar??!!' Rara.


"Kau mau apa??! jangan macam-macam!" tegas Rara.


"Hahahah... dasar mesum. GR banget!" Reyhan mencolek hidung Rara dengan jari telunjuknya.


Rara hanya terdiam kesal.


"Maafkan aku" lanjut Reyhan.


"Maaf?!"


"Iya. Maaf aku sudah menghancurkan Obie-mu".


'Apa katanya? dari mana dia tahu soal Obie?' Rara.


"Aku benar-benar bod*h karena rasa cemburuku. Aku benar-benar minta maaf"


Rara masih terdiam menatap wajah Reyhan.


"Kau mau memaafkanku?" tanya Reyhan.


Rara menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Sudahlah, lupakan. Sudah terjadi, biarkan. Jangan lagi melakukan hal yang sama" balas Rara.

__ADS_1


'Dia memang gadis yang baik hati' Reyhan.


"Siap komandan!!!" tegas Reyhan kemudian tersenyum.


Rara hanya diam melihat Reyhan.


'dasar gila' Rara.


"Kamu sudah memaafkanku, berarti kita pacaran lagi???!" Reyhan tersenyum menggoda.


"Tidak!!!" Rara langsung menjawab singkat dan cepat.


"Ih, kenapa?!!!" protes Reyhan.


"Jangan memaksaku lagi Reyhan.." Rara menatap kesal.


"Tapi kan kita baru pacaran 1 bulan lebih Ra, masa udah jadi mantan sih Raaaa?!!" ujar Reyhan seolah merengek.


"Bodoamat! Salah sendiri! Wle" ejek Rara.


"Kalau menikah, mau???" ucap Reyhan tiba-tiba.


"Apaa??!!! gila ya kamu?!" Rara terkejut.


"Aku serius" Reyhan menatap Rara.


"Ga lucu Reyhan....."


"Aku sedang tidak bercanda Ra... Aku memang berniat akan menikahimu"


Rara diam memaku.


"Papah sudah tiba dari Jepang, aku sudah berniat akan melamarmu ketika papah sudah kembali ke sini" lanjut Reyhan.


"Reyhan.. menikah itu bukan hal yang mudah. Kamu tidak bisa memaksa sama seperti saat kamu mengajak pacaran"


"Aku tahu.. karena itu aku tidak akan memaksakanmu untuk menjawabnya sekarang. Aku akan memberimu waktu Ra.. untuk berfikir matang. Yang jelas.. aku tidak pernah main-main soal perasaanku terhadapmu Ra" jelas Reyhan.


Reyhan dan Rara saling diam menatap.

__ADS_1


Terimakasih dan jangan lupa di like, share ke siapa aja untuk membaca karya ini, dan pastinya jangan lupa vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update🙏😊


__ADS_2