
Pagi hari, di lantai bawah tepatnya di meja makan, Rara duduk memakan sarapan dan juga buah-buahan yang sudah di potong persegi menjadi satu dalam piring.
'Hmmm... ga biasanya begini'
Rupanya, Rara merasa kesepian sarapan pagi sendirian di meja makan. Padahal baru 2hr di tinggal Reyhan, Rara merasa rumahnya sangat sepi.
"Bi Inah..." panggil Rara ketika melihat bi Ina lewat di dekatnya.
"Iya mba Rara?"
"Sini Bi" perintah Rara.
Bi Ina pun mendekat kearah Rara dan berdiri di samping kursi Rara.
"Duduk bi...." lanjut Rara.
Bi Ina hanya bengong.
"Ayo bi duduk.. temani aku sarapan ya. Oh ya sebentar aku panggil pak Udin dulu di depan" Rara berdiri.
"Mba Rara...." terdengar suara sungkan bi Ina.
"Gapapa, biar rame. Sebentar ya...."
Rara berjalan menuju halaman depan rumah, hendak memanggil pak Udin yang sedang membersihkan mobil.
Setelah memanggil pak Udin, Rara masuk kembali dan duduk di meja makan bersama bi Ina dan pak Udin. Dan mereka sarapan bersama.
--
Karena merasa bosan di rumah, Rara memutuskan untuk pergi ke toko kuenya di antar oleh pak Udin. Sebenarnya semenjak hamil, tidak setiap hari Rara pergi ke toko, kadang hanya 2x seminggu karena Reyhan sudah membatasi waktu kerja Rara. Namun selama Reyhan di Jepang mungkin Rara akan setiap hari pergi ke toko untuk membuang rasa bosannya.
'Reyhan di Jepang, Galih dan Mora masih di Palembang, lalu aku harus mengajak makan siang siapa? masa Bimo? bisa-bisa aku di gantung Reyhan menemui Bimo di saat dia sedang tidak ada. Hm.. terpaksa makan siang sendiri deh, apa aku pesan makan online saja ya? atau membeli bakso di depan toko? kayaknya beli bakso enak deh'
Di dalam ruangannya, Rara bergumam merencanakan acara makan siangnya. Dan Rara memilih untuk makan bakso di seberang toko kuenya. Ketika Rara hendak keluar toko, tiba-tiba ada mobil datang dan parkir persis di depan toko kuenya.
"Bimo?!!" Rara terkejut ketika melihat yang keluar dari mobil tersebut rupanya si Bimo.
-
Karena kedatangan Bimo, akhirnya Rara meminta tolong salah satu pegawainya untuk membelikan 2 porsi bakso di sebrang toko dan membawanya masuk ke dalam ruangan Rara.
Sementara itu Rara duduk di ruangannya dengan semangkok bakso di hadapannya dan juga Bimo yang duduk di depannya.
"Eh nanti Reyhan kesini ya buat makan siang? kantornya deket sini kan" Bimo.
"Engga. Dia lagi di Jepang" Rara.
"Jepang???? Ngapain?" Bimo terkejut.
"Kepo deh, suka-suka dia dong" balas Rara bergurau dan memulai menyantap baksonya.
"Maksudnya... kenapa kamu ga ikut? kamu kan lagi hamil, masa di tinggal tinggal"
"Justru aku lagi hamil. Aku tidak mau pergi-pergi jauh apalagi sampai ke luar negeri. Btw.. tumben banget kesini? pertama dan terakhir kesini bukannya saat pembukaan toko? dan sekarang sekarang baru kesini lagi, ada apa? mau minta gratisan kue??" ledek Rara.
__ADS_1
"Issh... ya tapi kalo mau di kasih sih gapapa" Bimo meringis.
"Hm kan" Rara sinis.
"Aku bingung" ujar Bimo.
"Bingung kenapa?" tanya Rara sambil menyeruput kuah bakso.
"Aku bingung gimana caranya ngelamar Mentari" jelas Bimo.
Ohokkk!!! Ohokkkk!!!! tiba-tiba Rara tersedak dan batuk.
"Ih kenapa sih...." Bimo heran lalu mengambilkan secangkir air putih agar di minum Rara.
Rara pun meminumnya lalu menepak dadanya dengan pelan. Dan mencoba mengatur napas agar normal kembali.
"Haha.. kenapa? tidak rela jika aku melamar perempuan lain?" ledek Bimo terlihat tertawa.
Plak!!!!! Rara mendaratkan telapak tangannya di dahi Bimo, tidak keras namun tidak secara pelan juga, alias cukup kencang.
"Aku sudah hamil, bagaimana bisa aku tidak rela?! Aku hanya terkejut akhirnya seorang Bimo bisa serius dengan perempuan????" balas Rara.
Bimo hanya diam memandang sinis.
"Syukur deh kalo gitu. Ya kenapa harus bingung? bilang saja Mentari maukah kau menikah denganku? gitu saja masa susah?"
"Ah terlihat umum itu"
"Terus mau yang seperti apa? Mentari maukah menua bersama ku? menjadi ibu dari anak-anakku? cih.. sok puitis"
"Ya udah sih.. kalo emang Mentarinya suka, gimana pun cara kamu ngomong, pasti di terima. Udah yakin belum kalau Mentarinya suka sama kamu??" ledek Rara tersenyum.
"Yakinlah.. mana ada perempuan yang ga mau sama aku, secara aku tampan begini" balas Bimo tidak mau kalah.
"Ada, aku gamau. Wle. Hahahah.."
Rara dan Bimo tertawa.
--
Sore hari, Rara di jemput pak Udin kembali ke rumah. Selama perjalanan, di dalam mobil Rara memandangi jendela mobil, memperhatikan jalanan berlalu.
'Syukurlah kalau Bimo sudah menemukan pasangan yang tepat. Bagaimanapun aku juga ingin melihat dia bahagia' Rara.
--
Malamnya, ketika Bimo hendak keluar untuk makan malam dan berniat akan mengajak Mentari makan malam bersamanya, namun Bimo tidak mendapati Mentari ada di apartemennya, karena berkali-kali mengetuk pintu apartemennya tapi tidak ada jawaban.
'Kemana dia?'
Bimo mengeluarkan ponsel dari sakunya.
'Telfon aja deh, kelamaan kalo cuma kirim pesan'
Tut.... tut.....
__ADS_1
Mentari : Hallo Bim?
Bimo : E... Hey.. kamu dimana?
Mentari : Di rumah ini, kenapa?
Bimo : Oh, ga pulang ke apartemen?
Mentari : Mmm.. engga deh kayaknya, ini lagi makan sama papah di rumah. Eh ini kata papah, katanya kamu di suruh kesini
Bimo : Hah?! (Tentu saja Bimo terkejut)
Mentari : Tapi kalo kamu ada keperluan gapapa.. gausah dengerin papah hehe..
'Aduh... bagaimana ini, kenapa jadi deg-degan'
--
Setelah makan malam bersama bi Ina dan pak Udin, Rara kembali ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Rara berganti pakaian tidur dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
Ketika kaki Rara menginjak lantai kamar mandi, tiba-tiba..
PLRAKKK!! DUGGGG!!! BUGGGG!!!
Kaki Rara tergelincir, kepalanya terbentur tembok, dan tubuhnya terjatuh ke lantai kamar mandi.
AAAAWWWW!!!!!! YA ALAH....
Hiks hiks hiks... Sssssshhhh "sakit banget" Rara merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Ya Allah sakit banget... hiks hiks hiks" menangis.
Rara mencoba berdiri namun tidak mampu.
"Bi Ina.... Bi Inaaa..." Rara berteriak sekuatnya. Namun bi Ina tak kunjung datang.
Rara mencoba berdiri kembali sambil menahan sakit di perutnya, namun tetap tidak bisa. Akhirnya Rara menyeret tubuhnya, centi demi centi sampai tiba di salah satu meja kecil yang di atasnya tergeletak ponselnya Rara. Rara menggapainya dan mencoba menelpon pak Udin, karena pak Udin selalu menaruh ponselnya di sakunya.
"Halo pak Udin, tolong pak.. hiks hiks hiks.. tolongin aku pak, sakit sekaliiii" Rara menangis dan terus merintih memegangi perutnya.
"Mba Rara??!!!" pak Udin langsung mematikan telpon dan berlari ke dalam rumah, karena sedari tadi pak Udin sedang berjaga di bagian depan rumah.
Tak lama terdengar suara kaki berlari dari tangga, dan pak Udin datang masuk ke dalam kamar Rara berdama bi Ina.
"Ya ampun mba Rara!!!!" teriak pak Udin menyaksikan Rara tergeletak di lantai sambil menangis memegangi perutnya dan ponselnya yang tercecer di lantai.
"Tolongin aku.. hiks hiks.. sakit sekali" Rara menangis.
Pak Udin langsung menggendong Rara dan membawanya ke rumah sakit bersama bi Ina.
"Maaf kan bi Ina Mba.. bi Ina sedang mencuci piring, dan tidak mendengar mba Rara kesakitan. Tahan ya Mba Rara.." terdengar suara bi Ina bergetar dan mulai menangis karena khawatir.
"Cepat bukakan gerbang!!!!" teriak pak Udin memerintahkan bi Ina, sementara pak Udin menggendong Rara sampai ke dalam mobil.
Mereka pun bergegas dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote sebagai dukungan kakak-kakak terhadap karya iniππ