Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 113 Pertengkaran


__ADS_3

"Mba Rara... biar bibi saja yang menyiapkan sarapan" ujar bi Ina ketika melihat Rara sedang memasak di dapur padahal matahari saja masih malu-malu untuk keluar.


"Tidak apa-apa bi..." jawab Rara sambil satu tangannya memegang perutnya dan satu tangannya lagi mengaduk sop yang sedang di masak.


"Mba Rara kan masih sakit perutnya, Mba Rara harus banyak istirahat"


"Sudah tidak begitu sakit bi, jahitannya juga sudah mulai kering. Kemarin Reyhan tidak mau sarapan mungkin karena aku telat bangun, karena itu hari ini biar aku yang memasak supaya Reyhan mau makan"


"Yasudah.. bibi cuci pakaian dulu ya"


"Iya bi"


Sekita jam 06.10, sop ayam dan telur dadar beserta sambal terasi sudah siap di atas meja makan. Rara naik ke lantai atas untuk melihat Reyhan. Sesampainya di kamar, Reyhan sedang berdiri di depan cermin memakai dasinya. Rupanya Reyhan bangun lebih awal dari biasanya bahkan sudah bersiap memakai pakaian kerja.


Rara berjalan mendekati Reyhan lalu berusaha membantu Reyhan memakaikan dasi.


"Tidak usah" seru Reyhan melangkahkan kakinya mundur dan menjauhkan tubuhnya.


Tak lama Reyhan mengambil tasnya lalu langsung keluar kamar dan turun.


Rara terdiam, ia syok hingga tubuhnya bersandar di lemari, dan tiba-tiba ingin menangis namun menahannya.


'Tidak biasanya Reyhan seperti ini'


Rara segera mengikuti Reyhan untuk turun kebawah, ia berharap menemui Reyhan di meja makan, namun ternyata meja makan kosong dan makanan masih utuh tak tersentuh sama sekali.


Rara berlari keluar rumah dengan sedikit menahan sakit sisa jahitan di perutnya. Rara melihat Reyhan sedang membuka pintu mobil dan gerbang sudah di buka oleh pak Udin.


"Mas...." Rara berseru memanggil suaminya. Namun Reyhan terburu masuk dalam mobil dan langsung mengeluarkan mobil.


'Kalau tidak ingin sarapan, setidaknya biarkan aku mencium tanganmu terlebih dahulu sebelum kamu berangkat Mas...'


'Mas.. kenapa kamu seperti ini'


--


Aaarrghhhhhh!!!!! BEGGG!!!


Di dalam mobil, Reyhan memukul setir dengan tangannya. Ia menangis.


Rupanya saat di panggil Rara tadi, Reyhan mendengar namun mengabaikannya, dan saat menjalankan mobil, dari balik kaca mobil Reyhan melihat Rara berdiri dengan wajah sedih dan masih pucat.


--


Jam 08.30 pagi, Rara sudah bersiap dengan memakai pakaian serba hitam. Ia keluar rumah menemui pak Udin yang sedang berjaga di depan.


"Mba Rara mau kemana?" tanya Pak Udin melihat Rara sudah rapih dan menghampirinya.


"Pak Udin tahu dimana anak aku di makamkan? bisa antar aku kesana?"


"Tentu saja bisa Mba.. tapi Mba Rara harus banyak istirahat di rumah"


"Aku sudah lebih baik pak. Antar aku kesana ya"


"Baik Mba"


--

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, akhirnya Rara tiba di sebuah pemakaman keluarga.


Kakinya terasa berat saat akan turun dari mobil, namun keinginan dalam jiwanya yang menguatkan dirinya untuk bisa menemui si buah hati yang sudah tiada.


Langkah demi langkah kaki Rara berjalan, dengan memeluk bunga yang ia beli di perjalanan tadi. Pak Udin berjalan di depan Rara untuk menuntun tempat. Sampailah di sebuah tanah kecil yang bertaburan bunga-bunga di atasnya, bahkan bunga itu terlihat masih segar seakan ada orang yang baru saja datang berziarah. Tertancap sebuah batu nisan bertulisan nama 'Raga Putra Juansar' .


Rara menunduk menangis membacanya. Pak Udin yang berdiri sedikit menjauh dari Rara hanya terdiam membiarkan istri tuan mudanya untuk menangis di hadapan makam anaknya.


Tentu saja nama itu adalah salah satu dari beberapa nama yang pernah di bahas oleh Reyhan dan Rara untuk anaknya, rupanya Reyhan memilih nama itu untuk diberikan kepada anak mereka.


Rara berlutut dan menaruh bunga yang ia bawa. Mengelus lembut batu nisan dan sesekali menciumnya.


'Kamu pasti sudah bertemu dengan paman Obie di sana'


Rara menutup mulutnya dengan telapak tangannya, rupanya ia sudah tidak bisa menahan suara isak tangisnya.


'Maafkan ibu nak, maaf kan ibu yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Maaf kan ibu nak, maaf...'


'Aarrgghhhh... kenapa tidak aku saja yang kau ambil Tuhaaannn...'


Rara menangis sejadinya sambil memeluk nisan tersebut.


Entah sudah berapa puluh menit Rara menangis berlutut di makam putra tercintanya. Sampai-sampai rasanya air mata sudah habis hingga tidak mampu keluar lagi, suarapun menipis karena isak tangis yang tersedu sedu.


Melihat keadaan Rara yang semakin kacau di tambah lagi dengan Matahari yang mulai terik, pak Udin cemas akan kesehatan Rara lalu mendekati Rara, membujuk Rara untuk pulang dan Rara pun mengiyakan. Tak lupa sebelum mereka pergi, mereka berdoa bersama untuk si kecil dan juga Rara menyelipkan nama Obie di dalam doanya.


Setelah di dalam mobil dan Rara sudah cukup tenang. Pak Udin menawarkan Rara untuk makan, karena sedari pagi Rara belum makan. Namun Rara menolak.


"Pak Udin.. kenapa bunga yang bertaburan tadi terlihat masih segar?" tanya Rara dengan suara yang lemas karena hampir kehabisan tenaga akibat menangis.


"Setiap pagi, Pak Udin membeli bunga atas perintah Mas Reyhan, Mba. Sepertinya Mas Reyhan selalu menyempatkan ke makam sebelum Mas Reyhan berangkat ke kantor"


--


Sejak kepulangan Rara dari rumah sakit, hampir setiap hari Reyhan pulang kerja larut malam. Sehingga membuat Rara harus makan malam sendirian di meja makan. Pukul 21.05 Reyhan sampai di rumah, dan dia pun tidak makan, semenjak sering pulang telat, Reyhan pun hampir tidak pernah menyentuh masakan Rara, dia selalu jawab sudah makan setiap di tanya makan atau belum, dan ketika pagi pun Reyhan tidak menyempatkan sarapan, entah itu masakan bi Ina atau masakan Rara sekalipun.


Pulang kerja Reyhan masuk ke kamar juga tanpa berkata kata, dia lebih banyak diam. Bahkan masuk kamar hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah itu dia langsung turun ke lantai bawah, duduk di ruang tengah sambil berhadapan dengan laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya. Bahkan belakangan ini Reyhan sering tertidur di sofa ruang tengah, entah karena kelelahan karena pekerjaan hingga ketiduran atau memang sengaja untuk tidak tidur di kamar bersama Rara, entahlah. Yang jelas, Rara merasakan bahwa Reyhan menjauhi dirinya dan membuat jarak di antara mereka.


Di dalam kamar, lagi dan lagi, dada Rara terasa sakit, khususnya di bagian buah dadanya. Keadaan seperti itu cukup membuat Rara terbiasa karena bukan pertama kalinya, keadaan itu menandakan bahwa Asi Rara harus segera di pompa. Dan dengan segera Rara mengambil pompa asi yang di simpan di rak samping tempat tidurnya dan langsung memompa asinya. Asi Rara cukup terbilang bagus, dan Rara selalu menyimpannya ketika sudah selesai di pompa. Walau dia sendiri tidak tahu apa tujuannya di simpan, yang justru terkadang membuatnya selalu teringat dengan anaknya, yang ujungnya dia sendiri akan menangis ketika mengingatnya.


Hari semakin malam, Rara memandangi jam yang sudah menunjukkan pukul 23.14, namun Reyhan tak kunjung masuk ke kamar.


'Apakah dia tertidur lagi di bawah?'


Rara pun turun ke lantai bawah untuk mengecek suaminya. Terlihat lampu dapur dan ruang lainnya sudah gelap, hanya ada cahaya dari ruang tengah yang masih menyala. Dan terduduk seorang laki-laki di sofa yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Mas.. kamu masih bekerja?" tanya Rara ketika sampai di ujung anak tangga bawah dan berjalan menghampiri suaminya.


Reyhan tidak menjawab.


"Mas.. sudah malam.. ayo tidur" ajak Rara.


Reyhan masih tidak menjawab namun mendengakkan kepalanya untuk melihat sejenak Rara yang berdiri di dekat meja ruang tengah, lalu memandang laptopnya lagi.


"Mas.. lanjutkan lagi besok di kantor, kamu harus istirahat" ujar Rara sambil mencoba menutup layar laptop suaminya.


"Apaan sih kamu!" seru Reyhan sambil menangkis tangan Rara yang menyentuh laptopnya.

__ADS_1


Rara terkejut.


"Aku masih banyak kerjaan. Kalau mau istirahat tinggal istirahat saja duluan!" lanjut Reyhan dengan nada yang bisa di bilang membentak.


"Mas.. kamu kenapa sih?" suara Rara masih terdengar pelan dan berusaha tetap tenang walau matanya sudah berkaca-kaca.


Reyhan hanya memandang tajam lalu mengalihkan pandangan ke laptopnya lagi.


Rara menarik nafas lalu menghembuskannya dengan pelan.


"Kenapa kamu tidak pernah mengajakku ke makam anak kita?" Rara pun akhirnya menanyakan hal itu.


"Peduli apa kamu sama dia" celetuk Reyhan.


"Apa??? kenapa kamu bicara seperti itu?" Rara cukup syok mendengar jawaban Reyhan.


Reyhan diam.


"Mas.. aku ibunya"


"Ibu?? ibu mana yang membiarkan anaknya tersiksa di dalam kandungan?" Reyhan mendengakkan kepalanya dan menatap wajah Rara, terlihat kemarahan mulai muncul di wajah Reyhan.


"Tersiksa? membiarkan? apa maksud kamu?" Rara bingung.


Reyhan berdiri dan berhadapan dengan Rara.


"Masih mau berbohong? iya?! kamu terjatuh kan saat aku pergi di Jepang? memar di dahi kamu waktu itu bukan karena kebentur lemari dapur kan?!" Reyhan mulai meninggikan suaranya, rupanya dia sudah tidak bisa menahan kemarahannya.


Rada terdiam.


"Kenapa? kenapa diam? ayo jawab.. jawab!" Reyhan seakan menantang.


Dari kamar bawah dekat dapur, bi Ina dan pak Udin terbangun mendengar keributan. Rupanya pertengkaran Reyhan dan Rara cukup keras hingga membangunkan bi Ina dan pak Udin.


"Pak.. sepertinya Mas Reyhan dan Mba Rara bertengkar. Bagaiman ini pak" bi Ina cemas.


"Sudah lah bu, biarkan saja.. kita jangan keluar. Ini urusan mereka, kita tidak boleh ikut campur bu" balas pak Udin.


"Tapi Pak....."


Entah kenapa, tiba-tiba tubuh Rara terasa panas, dadanya mulai sesak.


"Mas.. maaf.. aku tidak maksud berbohong, hanya saja..."


"Hanya apa? hah? terus apa maksudnya? apa?!"


"Mas... setelah itu aku sudah memeriksakannya ke dokter dan aku tidak apa-apa.."


"Iya tidak apa-apa saat itu, tapi kamu tau efek panjang apa?! akibat kelanjutannya apa?! apa kamu memeriksanya dengan teliti dan rutin?! itu menjadi salah satu penyebab anak kita tidak selamat. Andai waktu itu kamu tidak berbohong, aku akan segera membawamu untuk diperiksa setiap hari ke dokter. Tapi kamu memilih membohongiku. Jadi begini akhirnya!" teriak Reyhan.


"Mas.. apa kamu sedang menyalahkanku?" Rara mulai meneteskan air mata.


"Menurutmu siapa lagi yang lebih layak untuk aku salahkan?!" Reyhan menatap tajam Rara.


Rara terdiam tidak menyangka.


"Reyhan.. andai aku bisa memilih.. Lebih baik aku saja yang mati. Tapi aku sadar, aku bukan Tuhan, Reyhan.." dihadapan Reyhan, Rara meneteskan air matanya dengan deras, lalu berbalik badan dan melangkah naik ke lantai atas, masuk ke dalam kamar, namun bukan kamarnya, melainkan kamar anaknya.

__ADS_1


Rara mengunci diri di dalam kamar, terduduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya, ia menangis tersedu.


Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote🙏


__ADS_2