Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 116 Jogja Penuh Kenangan


__ADS_3

"Kenapa melihati ku seperti itu?" tanya Rara heran karena sedari tadi dia terus di pandangi menjadi pusat perhatian.


"Tidak apa-apa" jawabnya sambil tersenyum lalu sedikit tertawa dan menyenderkan dirinya.


"Sekarang kenapa malah ketawa?"


"Tidak apa-apa sayaaaang" balasnya masih dengan tertawa kecil.


"Cepat bilang!!"


"Tidak mau..."


"Menyebalkan!" gumam Rara dengan wajah kesal.


"Hahahahah... aku sedang membayangkan mu menjadi istriku"


"Apa?!!!" Rara terkejut dan semakin heran.


"Kenapa? Kamu pasti tidak mau menikah dengan ku ya?" serunya sambil memajukan wajahnya hingga tepat di depan wajah Rara.


"Bukan... bukan begitu.. tumben saja kamu memikirkan nikah. Kuliah saja belum selesai sudah memikirkan nikah, dasar..." balas Rara.


"Berarti.. mau dong nikah sama aku?" ledeknya dengan memasang senyum licik di wajahnya.


"Ih apaan sih.." Rara tersenyum menahan malu.


"Idih malu-maluuuu...." ledeknya lagi sambil berusaha menggelitiki.


"Ah! diam kamu..." Rara berusaha menghindar namun dengan wajahnya yang tertawa.


"Memangnya harus menunggu sampai selesai kuliah? bagaimana kalau aku menikahimu sekarang saja?" ujarnya.


"Hah? gila ya kamu? apa kata ayahku nanti?!" teriak Rara.


"Yaa.... paling nanti ayahmu akan berkata Mau di kasih makan apa nanti anakku?!! " serunya sambil mencontohkan bapak-bapak yang sedang kesal.


"Terus kamu jawab apa?"


"Nasi lah, masa batu" balasnya.


"Hahahaha.. memangnya berani jawab begitu di depan ayah ku?" Rara bertanya sambil meledek.


"Tidaklah" jawabnya dengan tegas.

__ADS_1


Hahahahahah! mereka tertawa bersama.


"Kenapa melihat ku seperti itu lagi?" tanya Rara lagi menyadari ia menjadi pusat perhatian lagi.


"Tidak apa-apa" jawabnya sambil tersenyum.


"Ih kenapa ga?! ayo bilang!" Rara menantang sambil menarik baju orang yang berada di sebelahnya.


"Berani sama aku?" balasnya lalu menarik Rara seakan tangannya melingkar di bagian belakang tubuh Rara.


"Ih Obie apaan sih lepasin.. malu tauuuuuu" Rara berteriak berusaha melepaskan diri.


Obie malah tertawa sambil tangan kirinya terus memeluk Rara dan tangan kanannya sibuk mengacak-acak rambut Rara.


Segarnya udara pagi Jogja membuat Rara keluar untuk dapat menghirup dan menikmati embun pagi. Sedari tadi Rara duduk di kursi stadion sambil teringat masa-masa bersama Obie di tempat yang sama. Pagi hari Rara keluar dari hotel menuju stadion tempat biasa dimana dia menemani Obie latihan balapan atau sekedar untuk berolahraga.


Selain Rara melihat orang-orang sedang joging memutari stadion, rupanya dia juga sedang bernostalgia mengingat kenangannya bersama Alm.Obie, orang yang sangat menyayanginya.


'Benar katamu Bie, kenapa harus menunggu sampai selesai kuliah? kenapa saat itu kita tidak langsung menikah saja?' gumam Rara dalam hati.


Haha... tak sadar Rara tersenyum sendiri namun matanya tidak dapat berbohong, ia meneteskan air mata.


--


Gumam Reyhan di dalam hati, memandangi hijaunya sesawahan dan juga rumah-rumah yang berlalu cepat melalui balik jendela kereta api. Rupanya pagi hari, Reyhan sedang berada di dalam kereta api tujuan Yogyakarta.


Malam sebelumnya, Reyhan berniat akan menanyakan Rara kepada Bimo. Namun ia mengurungkannya karena ia tidak mau Bimo mengetahui permasalahannya dengan Rara. Dan syukurnya, saat subuh, Mora menghubungi Reyhan karena tahu semalam Reyhan menelponnya dan mengira ada urusan pekerjaan. Begitu Mora menghubungi Reyhan, Reyhan langsung berbicara kepada Galih. Dan Galih bercerita bahwa Rara sempat bilang akan ke Jogja menemui Mela dan memberitahu hotel tempatnya menginap.


--


"Kenapa?" tanya Bimo kepada Mentari yang sedang duduk di hadapannya.


"Hah? tidak apa-apa" jawab Mentari lalu tertunduk dan melanjutkan sarapannya.


Bimo dan Mentari sedang sarapan bersama di meja makan tempat tinggal mereka.


"Kenapa??" tanya Bimo lagi, karena sedari tadi ia menyadari bahwa Mentari terlihat sedih.


"Aku kasihan sama Rara karena kehilangan anaknya. Dia pasti sangat sedih. Dan mengingat soal anak, aku... aku baru sadar kita menikah sudah hampir 5 bulan, tapi kenapa, aku.. masih saja belum hamil" jawab Mentari.


"Sudah sabar saja, memangnya untuk apa terburu-buru? lagian kan baru masih 5 bulan. Sudahlah.. tidak usah terlalu memikirkan itu, habiskan sarapanmu, setelah itu kita langsung berangkat ke cafe mengantarmu".


--

__ADS_1


Siangnya, Rara duduk di salah satu kursi di M*d Malioboro tepatnya di bagian samping dekat kaca, ia terduduk seakan sedang menunggu seseorang sambil matanya memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di jalan Malioboro. Rara jadi teringat masa-masa kuliahnya bersama sahabat-sahabatnya, dia benar-benar merindukan masa itu.


"Maaf ya lama" seru Mela menghampiri lalu bercipika cipiki dengan Rara.


Rupanya Rara sudah ada janji bertemu dengan Mela, sahabatnya.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Mela setelah mereka sudah duduk berhadapan.


Rara hanya tersenyum.


"Apakah kamu dan Reyhan bertengkar?" tanya Mela lagi.


"Yaa.. seperti itulah.. sudahlah, tidak usah membahas itu. Ayo kita pesan makanan" ajak Rara dengan girang.


Rara dan Mela memang tidak berubah, ketika mereka sedang bersama, makan adalah aktifitas utama yang menyenangkan.


--


Sekitar jam 3 sore, Reyhan sudah tiba di stasiun besar Yogyakarta. Ia memesan kendaraan online dan menuju hotel di mana Rara menginap yang sebelumnya sudah di beritahu oleh Galih.


Sesampainya di hotel tersebut, benar saja, penjaga hotel membenarkan ada tamu bernama Rara yang memesan kamar tepatnya di lantai 2 nomor 03. Hotel yang tidak terlalu ramai dan sederhana namun bersih dan sejuk.


'Kamu pasti sangat membutuhkan ketenangan sampai-sampai kamu memilih hotel ini'


Reyhan menyadari hotel dimana Rara menginap memang memberi kesan tenang dan damai, karena selain tempatnya bersih dan sejuk, kamarnya juga tidak terlalu banyak, hanya ada 3 lantai dan setiap lantai hanya memiliki 5 kamar.


Reyhan melangkah menuju lantai 2 kamar 03, yang ternyata kamar tersebut terkunci. Rupanya Rara sedang pergi ke suatu tempat yang Reyhan sendiri tidak tahu dimana.


--


Setelah makan siang bersama Mela, Rara dan Mela berkeliling Jogja menggunakan motor yang di kendarai Mela. Mereka mengelilingi tempat-tempat yang sering mereka kunjungi saat masih kuliah. Dalam seharian, Rara terlihat tertawa ceria bersama Mela seakan melupakan segala masalah yang sedang ia alami.


Tak terasa hari semakin gelap, Mela harus pulang karena belum menyiapkan makan malam untuk suaminya yang tentu saja sudah pulang dari kantor dari tadi sore. Menjelang maghrib, Mela mengantarkan Rara ke tempat dimana Rara menginap.


Ketika sudah berpamitan dengan Mela dan Mela pergi meninggalkan penginapan, Rara berjalan masuk ke dalam penginapannya, melangkah menuju lantai dua. Langkah demi langkah kaki Rara menginjak anak tangga. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat hampir sampai di kamarnya.


Di depan kamar 03 terdapat kursi kayu yang cukup panjang, dan Rara melihat ada seorang laki-laki yang sedang berbaring meringkuk di atas kursi tersebut, sambil menggunakan tas sebagai bantal untuk menopang kepalanya. Ia terlihat tertidur pulas. Tentu saja, laki-laki itu adalah suaminya.


'Reyhan?' Rara terkejut dan seketika hatinya terasa berdebar, sakit bercampur bahagia.


Karena pintu Rara yang terkunci, Reyhan tidak bisa masuk dan tidak berani meminta meminta kunci cadangan kepada pihak hotel. Dan ia pun memutuskan untuk menunggu di kursi depan kamar Rara. Karena perjalanan jauh yang baru saja ia tempuh, rupanya membuat Reyhan lelah hingga tertidur di kursi tersebut.


Terimakasih jangan lupa di like dan vote kak😊

__ADS_1


__ADS_2