
Sekitar pukul 23.00 WIB, Rara dan Bimo tiba di stasiun Purwokerto. Rara dan Bimo di jemput seorang laki-laki membawa mobil, yang tak lain adalah sahabat Obie yang di temui di lapas saat itu.
"Ayok kita harus cepet" ujar laki-laki itu.
Rara dan Bimo segera memasuki mobil. Rara duduk bagian depan samping laki-laki itu, sementara Bimo duduk di bagian belakang.
"Maaf sebelumnya. Masa tahanan lo udah selesai?" tanya Rara kepada lelaki di sampingnya yang sedang menyetir.
"Belum. Nanti gue ceritain" jawab laki-laki itu. "Gue Efan" lanjutnya mengulurkan tangan.
"Rara" Rara membalas dengan berjabat tangan.
"Iya, gue tahu semua tentang lo, Obie banyak cerita".
Rara tidak berkata apa-apa lagi, dia diam duduk memandangi jendela mobil dan masih meneteskan air mata. Namun kepanikannya sedikit berkurang, mungkin karena sudah sampai di Purwokerto. Efan mengendarai mobil dengan kecepatan cukup kencang agar segera bisa sampai tujuan. Sementara Bimo duduk di belakang terlihat bingung memperhatikan percakapan Rara dan laki-laki itu.
'Siapa laki-laki ini kenapa Rara seolah sudah pernah bertemu? apa maksudnya masa tahanan' Bimo.
Sesampainya di rumah sakit. Efan, Rara dan Bimo berjalan cepat menuju ruang operasi. Terlihat seorang wanita dan laki-laki yang sudah berumur menangis, duduk di kursi depan ruangan, mereka adalah kedua orang tua Obie. Di sisi sebrang terdapat juga kursi dan terlihat seorang laki-laki dan perempuan yang terlihat sangat cemas, mereka adalah kakak kandung dan kakak ipar Obie. Sementara di depan pintu ruangan, berdiri seorang gadis yang berjalan mondar-mandir sambil menangis. Tubuhnya kurus, rambutnya panjang.
'Siapa gadis itu? apakah itu adiknya Obie?' Rara.
Rara dan Bimo berdiri beberapa meter dari perempuan itu. Sementara Efan menghampiri kedua orang tua Obie, memberitahu bahwa dia membawa Rara, orang terdekat Obie. Kemudian Efan mendekat ke arah Rara.
"Ra, operasi akan berlangsung selama 3 jam, dan operasi baru di mulai setengah jam yang lalu, masih ada 2,5jam lagi, mending Lo istirahat dulu. Lo udah makan? kalau belum biar gue cariin" Efan.
"Gausah Fan" jawab Rara singkat masih meneteskan air mata.
"Lo yang sabar, jangan panik, semua akan baik-baik saja" Efan mencoba menenangkan.
Efan duduk di lantai bersandar di tembok, bagaimanapun Efan terlihat khawatir juga. Tiba-tiba kaki Rara terasa lemas dia pun terduduk di lantai dan bersandar di tembok, matanya terus mengeluarkan air mata namun tak bersuara sedikitpun. Bimo duduk di samping Rara, memegang tangan Rara.
"Semua akan baik-baik aja, berdoalah" Bimo.
Rara bersandar di tembok, memejamkan mata, berdoa sangat khusuk di dalam hati.
'Lo orang baik Bie, lo orang hebat, lo udah melakukan yang terbaik untuk semua orang, termasuk diri lo sendiri, lo kuat Bie, lo kuat. Gue yakin lo bisa lewatin ini, Lo harus sembuh Bie. Gue ada di luar nungguin lo'.
'Ya Allah... selamatkan dia, aku mohon' Rara.
--
"Ra...."
'Suara itu... aku mengenal suara itu' Rara.
"Obiee?" Rara berdiri dan langsung memeluk Obie. Tak berbicara apapun. Menangis keras dalam pelukannya.
"Aku gapapa Ra" Obie membelai rambut Rara.
Rara terus menangis di dalam pelukan Obie.
"Ra..." Obie memegang kepala Rara dengan kedua tangannya, menempatkan wajah Rara persis di hadapannya. "Lihat aku. Ra... mengenalmu lebih dari ini, bagiku itu sudah lebih dari beruntung".
"Maksud kamu apa Bie..."
Obie mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi Rara.
__ADS_1
"Kamu harus bahagia Ra, kalau kamu masih mencintainya, perjuangkan dia Ra" lanjut Obie.
Rara meneteskan air mata.
"Aku sayang sama kamu Bie" Rara merengek.
Obie tersenyum.
--
"Ra.. Ra.. Rara, bangun" Bimo.
Rara membuka matanya perlahan, mendapati Bimo tepat di hadapannya.
"Obie.. Obie mana Bim" ucap Rara memperhatikan sekelilingnya, berusaha mencari Obie.
"Obie masih di dalam Ra, Obie masih di tangani dokter"
"Engga, tadi dia ada, dia udah sembuh" protes Rara.
"Tadi kamu tertidur dan mengigau Ra, mangkannya aku bangunin kamu" Bimo.
"Apa??!!"
'Jadi.. tadi hanya mimpi?' Rara.
Rara menangis terisak.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan operasi. Memanggil keluarga Obie. Kedua orang tua Obie, kedua kakak Obie, beserta gadis yang menangis di depan ruangan itu, langsung masuk ke dalam ruangan. Rara dan Bimo segera berdiri, di ikuti Efan.
Hanya selang beberapa detik, terdengar suara tangis kencang dari dalam ruangan operasi.
"Obieeeeeeeee"
Semua orang di dalam menangis dan berteriak. Efan langsung mengahampiri Rara.
"Ra, tunggu sebentar ya, gue masuk liat keadaan dulu" Efan berlari ke dalam ruangan.
Jantung Rara rasanya ingin lepas, darah yang mengalir dalam tubuhnya terasa panas, dadanya mulai terasa sesak sulit untuk mengatur nafas.
'Obie baik-baik aja, Obie baik-baik aja, Obie baik-baik aja' Rara menguatkan dirinya sendiri.
Bimo langsung memegang pundak Rara karena Rara yang mulai tidak bisa mengatur keseimbangan tubuhnya karena lemas. "Tenang Ra..." lanjut Bimo.
Efan kemudian keluar dari dalam ruangan, menghampiri Rara dan Bimo.
"Ra...." rasanya berat sekali Efan mengeluarkan kalimat.
"Kenapa Fan, Obie kenapa?!!!!" Rara berteriak, mengguncang-guncang lengan Efan.
"Benturan di kepalanya sangat keras Ra"
"Gue tau.. tapi operasinya berhasil kan Fan?!!, Obie udah gapapa kan Fan?!!!" Rara sangat panik, terus mengguncang-guncang lengan Efan.
Efan diam tak menjawab.
"Fan! Ko lo diem sih?!!!"
__ADS_1
Rara melangkah hendak memasuki ruangan, namun Efan langsung meraih lengan Rara dan menariknya.
"Dokter gagal menyelamatkan Obie, Obie udah ga ada Ra" Efan menangis.
DEG!!!!!!
Seketika bumi ini hening tanpa suara apapun, Kaki Rara terasa tak bertulang sehingga sulit untuk berdiri, darah yang mengalir terasa berhenti dalam sekejap, seketika jantung berhenti memompa, Rara terjatuh ke lantai begitu saja, mulutnya terasa bisu tak mampu mengeluarkan kata apapun, matanya menatap kosong meneteskan air mata.
"Aaaaaaaaaaaaa....." Rara berteriak sangat kencang, mencengkram kepalanya dengan kedua tangannya.
Rara memecahkan tangisannya, tak peduli dengan sekitar.
"Lo janji buat jagain gue!! lo janji bakal nemenin gue!! lo udah janji Bie!!!" Rara terus menangis.
Bimo merangkul Rara, menempatkan Rara di dadanya. "Tenang Ra.. tenang..." lanjut Bimo.
"Dia janji bakal nemenin gue... dia janji sama gue Bim"
Efan yang berada di depan Rara hanya bisa berdiri menangis dan tak berkata apapun.
Semua orang menangis berduka. Rara merasa hancur sehanjur-hanjurnya. Hari itu adalah hari yang gelap bagi Rara.
--
Sekencang apapun jeritan, sehebat apapun mengelak, selama apapun menangis, ketetapan Tuhan tidak bisa di rubah.
Hari itu rasanya seluruh air mata Rara sudah habis. Hatinya hancur, jiwanya pedih. Rara sudah tak sanggup mengeluarkan air mata. Wajahnya sangat sembab, kelopak matanya menyempit, matapun sudah tak sanggup mengeluarkan airnya. Keadaan mulai mereda, duka dan sedih mengalir berjalannya jam waktu, kedua orang tua beserta kerabat Obie sudah mulai berhenti menangis. Keluarga Obie memberekan administrasi rumah sakit agar segera bisa membawa jenazah Obie pulang untuk segera di kuburkan.
Rara, Bimo dan Efan, memasuki ruangan. Di atas ranjang rumah sakit terbaring seorang laki-laki muda nan tampan. Rara mendekati Obie, duduk di samping Obie di tepi ranjang. Efan berdiri di sisi lain sebelah Obie. Bimo berdiri di ujung kaki ranjang rumah sakit.
Rara menatap pilu wajah Obie. Memegang erat tangan Obie yang mulai dingin membiru. Terlukis senyum tipis di wajah tampan Obie.
Rara meneteskan air mata kembali.
'Sayang.. kau pasti sedang dalam pelukan Tuhan. Istirahatlah yang damai, kekasihku..' gumam Rara dalam hati terus memandangi wajah Obie.
Rara menjatuhkan tubuhnya di atas dada Obie, kedua tangannya merangkul tubuh Obie, memeluk Obie untuk terakhir kalinya.
"Aku sangat menyayangimu Bie.." Rara mengucapkan kalimat itu dengan jelas di hadapan Efan dan Bimo.
Mendengar apa yang di ucapkan Rara, tiba-tiba dada Bimo terasa sesak. Nafasnya mulai menipis seakan oksigen tak mau berbagi dengan dirinya.
'Jika aku yang berada di atas ranjang itu, apakah kamu akan terpukul seperti ini juga Ra? kamu begitu menyayanginya, apakah kini kamu juga mencintainya?' Bimo.
Terimakasih Obie❤️
Epilog
Rara.
Gue pernah di sakiti, gue pernah di tinggal pergi, gue pernah terluka, gue pernah hancur. Namun ternyata, ada yang hal yang lebih hancur dari itu semua, yaitu ketika kehilangan orang yang menyayangi kita dengan tulus, untuk selamanya.
Kini gue merasa miskin, Gue sudah belajar ikhlas melepas Bimo untuk perempuan lain, tapi gue bersyukur bertemu dengan Obie. Gue merasa sangat dicintai, sangat di sayangi, sangat di lindungi. Mungkin gue masih mencintai Bimo, namun jika di suruh memilih, gue ingin hidup bersama Obie. Sekarang gue kehilangan orang yang gue cinta (Bimo) dan orang yang mencintai gue (Obie) dalam waktu bersamaan. Gue benar-benar merasa miskin.
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di like dan klik vote di halaman depan novel samping nama author agar author semangat dan rajin untuk update ya🥰🙏