
Sesampainya di rumah, Reyhan langsung berlari menuju kamarnya. Dan ketika membuka lemari baju, memang hampir semua baju Rara tidak ada di dalam lemari, hanya tersisa lingerie dan beberapa baju tidur lainnya.
Reyhan menarik napas lalu menghembuskannya dengan kasar. Tiba-tiba kaki terasa lemas. Reyhan mengeluarkan ponsel dari sakunya, dan mencari kontak istrinya. Namun saat mencoba menghubungi Rara, nomornya tidak aktif.
Reyhan langsung berlari lagi keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Reyhan akan menyusul Rara ke Bandung.
Selama perjalanan, di dalam mobil Reyhan terlihat gusar dan cemas sambil mengemudi. Ia mencengkram keras setir mobil.
'Maafkan aku Ra.. aku tidak tahu bagaimana caranya harus menunjukkan marah dan kecewaku karena kebohongan mu. Tapi aku tidak pernah mengharapkan kamu sampai pergi seperti ini'.
--
Malam hari Reyhan tiba di rumah orang tua Rara. Ketika Reyhan sampai di depan gerbang rumah, terlihat sebuah mobil akan keluar dari rumah. Reyhan pun langsung turun dari mobil.
"Loh nak Reyhan?" terdengar suara ibu Rara dari kaca mobil yang terbuka.
Ibu Rara pun langsung turun dari mobil dan menghampiri Reyhan.
"Bu" Reyhan langsung mencium punggung tangan mertuanya.
"Kamu pasti menyusul Rara ya..."
Reyhan hanya tersenyum.
"Sabar ya nak.. Rara memang agak keras anaknya" ibu Rara mengelus punggung menantunya.
"Ibu pasti sudah mengetahui semuanya. Aku yang salah bu, maafkan Reyhan ya bu..." Reyhan terlihat sedih.
"Gapapa.. sudah wajar permasalahan ada di dalam rumah tangga"
"Ibu mau kemana? Rara ada di dalam mobil?" Reyhan melirik ke arah mobil.
"Ibu mau ke rumah Kakaknya Rara, ibu mau menginap di sana"
"Apa Rara juga di rumah kakaknya bu?"
"Tidak. Reyhan.. tadi siang Rara memang pulang ke rumah, tapi sorenya langsung pergi lagi"
"Pergi? kemana bu?"
"Katanya ke Jogja, ingin bertemu temannya. Sebenarnya ibu sudah mencegah dia, karena ibu yakin malam ini kamu pasti datang. Tapi dia ngotot ingin ke Jogja. Rara memang seperti itu, tapi bukan berarti dia lari dari masalah, mungkin dia sedang butuh waktu untuk sendiri nak Reyhan..."
__ADS_1
'Jogja? kemana dia?' Reyhan sangat bingung.
"Lebih baik kamu istirahat saja dulu di rumah, tapi maaf ibu harus menginap di rumah kakak. Jika kamu ingin menyusul Rara, besok saja. Sekarang istirahatlah dulu" Ibu memberikan kunci Rumah.
"Iya bu tidak apa-apa.. maafkan Reyhan ya bu"
"Kamu anak baik" ibu tersenyum. "Ibu pergi dulu ya" lanjutnya.
Karena ayah Rara tinggal di Jakarta, kakak Rara sudah menikah, dan adik Rara mulai merantau karena kuliah, ibu Rara jadi tinggal sendiri di rumah, karena itu ibu Rara sering kali tinggal bersama kakak Rara yang rumahnya tidak terlalu jauh.
Reyhan pun akhirnya memutuskan untuk menginap dulu di rumah mertuanya.
Ketika Reyhan memasuki kamar Rara, terlihat koper masih tergeletak di samping tempat tidur. Rupanya Rara belum sempat membongkar pakaiannya dan pergi ke Jogja hanya membawa beberapa pakaian. Pertanda bahwa Rara tidak akan lama pergi ke Jogja.
'Dalam sehari, kamu sudah pergi jauh entah kemana. Tidak melihatmu sehari benar-benar menyiksaku. Kamu pasti sedang menghukum ku'
'Hatimu pasti sangat sakit, sampai-sampai kamu lari dariku dan menghilang. Dimana kamu Ra...'
Reyhan terduduk manis di kursi samping lemari baju, matanya mulai basah karena air mata, tangannya sambil memegang sebuah foto yang berada di atas meja, foto Rara memakai kebaya dan toga di kepalanya, rupanya Reyhan sedang memperhatikan foto Rara saat wisuda.
--
'Saat itu.. aku hanya ingin memberimu ruang agar kamu bisa berkumpul dengan keluargamu, agar kamu bisa menghadiri hari bahagia Reina saat itu. Agar dia bisa merasakan kasih sayang dari kakaknya. Tapi ternyata musibah itu datang, dan aku tidak tahu kalau akan berefek panjang seperti ini'
'Aku sadar aku salah, aku egois, aku keras kepala, tapi haruskah kamu menyalahkan ku dengan terang-terangan? kamu menunjukku seakan aku lah tersangka dalam pembunuhan anak kita'
'Dan kini aku susah hamil. Apakah itu alasan kamu bersikap seperti ini?'
'Dasar jahat. Tapi... tapi aku juga sadar kamu bersikap seperti ini karena kebohonganku. Maafkan aku Reyhan, pergi jauh seperti ini. Entah apa yang aku lakukan saat ini adalah salah atau benar, yang jelas aku sangat butuh ketenangan, namun aku juga sangat merindukan mu, Mas'.
Rara terus berbicara di dalam hati, memikirkan banyak hal. Sampai-sampai ia tertidur di dalam kereta.
--
Reyhan mengambil ponsel dari sakunya lagi, mencoba menghubungi Rara kembali, namun masih tetap tidak aktif.
'Apa aku harus menghubungi Galih?' Reyhan berfikir.
'Ah sial*n! aku kan tidak mempunyai nomornya Galih.'
Reyhan mencoba menghubungi Mora agar bisa berbicara dengan Galih, namun ternyata nomor Mora juga tidak dapat di hubungi.
__ADS_1
'Kenapa semua orang nomornya tidak aktif sih. Rara ke Jogja, kira-kira kemana tempat tujuannya? Aku tidak tahu bahkan aku tidak pernah ke Jogja. Harus kepada siapa aku bertanya?! sial*n!'.
Reyhan menggerutu dan terdiam. Namun tiba-tiba ia memikirkan sesuatu.
'Apa aku harus bertanya kepada Bimo?'
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote kak😊
Epilog
"Kenapa kamu pulang sendiri, kemana Reyhan?" tanya ibu Rara ketika menjemput Rara di stasiun. "Kenapa kamu membawa koper juga?" lanjut ibu Rara bertanya.
Rara tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam mobil. Rara di jemput oleh pak supir dan juga ibunya. Di dalam mobil, Rara duduk di bagian belakang bersama ibunya.
"Ada apa nak...." suara ibu begitu pelan seakan memancing Rara untuk bercerita.
Rara langsung memeluk ibunya dan menangis tersedu.
Hiks... hiks... hiks...
"Apakah Reyhan masih belum bisa merelakan kepergian anakmu?"
Rara tidak menjawab dan hanya mengangguk, terus menangis di dalam pelukan ibunya.
"Lalu kenapa kamu pergi seperti ini.. kenapa kamu sendiri? kamu pasti tidak hanya merindukan ibu, tapi juga sedang berantem sama Reyhan ya"
"Bu.... ini semua salahku. Aku hanya sedang berusaha merelakan, bukan hanya merelakan kepergian anakku, melainkan merelakan Reyhan juga. Dia sangat menginginkan anak bu, dan aku tidak bisa memberinya dalam waktu dekat, Reyhan berhak mendapat kebahagiaannya bu, sekalipun dengan perempuan lain. Aku harus belajar merelakan dia mulai dari sekarang bu" Rara menangis.
"Hus ah! ngomongnya ko gitu. Ibu yakin Reyhan tidak seperti ayahmu. Dia laki-laki baik, hanya saja dia masih sedih dan kecewa. Dia pasti nanti akan menyusulmu"
'Menyusul apanya, dia saja membiarkan ku pulang begitu saja'
"Nanti setelah maghrib, aku akan pergi ke Jogja bu"
"Hah ngapain? kamu baru sampai Bandung langsung pergi ke Jogja?"
Rara hanya terdiam menunduk.
"Nak.. Tunggulah sebentar, nanti malam Reyhan pasti datang. Jangan lari begitu saja..."
'Ah, ibu tidak mengerti gimana sikap Reyhan kepadaku sekarang'
__ADS_1