
3 bulan berlalu.
Seperti biasanya, Rara duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit, menunggu namanya di panggil untuk melakukan pemeriksaan di dokter kandungan. Luka di rahimnya sudah sembuh, namun luka tetaplah luka yang terkadang meninggalkan bekas. Walau Rara sudah di katakan sembuh dari luka bekas kegugurannya, kini Rara harus berjuang agar segera bisa hamil lagi. Setelah proses penyembuhan, sekarang Rara memasuki masa melakukan program hamil.
"Rara?" terdengar seseorang memanggil Rara.
"Eh. Mentari?" Rara terkejut dan langsung berdiri dan mendekati Mentari.
Mereka bersalaman dan saling menyapa dengan peluk satu sama lain.
"Sendirian? Reyhan mana?" tanya Mentari.
"Kebetulan aku sendirian, Reyhan lagi ada ketemu klien di Jakarta Barat. Kamu sendirian?" tanya Rara balik.
"Engga, aku sama Bimo. Tapi dia lagi di toilet. Mangkannya aku nunggu di sini, eh terus liat kamu duduk di sana" jawab Mentari.
"Eh ko muka kamu pucet?" Rara memperhatikan wajah Mentari.
"Iya, aku memang sedang kurang enak badan akhir-akhir ini. Terus Bimo mengajakku untuk periksa hari ini"
"Mau ke dokter Dewi juga? (dokter kandungan)"
"Engga Ra. Dokter umum biasa. Kayaknya sih ini aku cuma masuk angin dan kelelahan. Dari 3 bulan lalu aku sudah berhenti ikut program hamil Ra"
"Loh? kenapa??"
"Aku dan Bimo memutuskan untuk menjalani saja segalanya dengan apa adanya. Nanti kalau sudah rezeki juga pasti datang ko" Mentari tersenyum.
"Eh, Ra?" tiba-tiba Bimo datang.
"Eh hy Bim" Rara tersenyum.
"Sendirian?" tanya Bimo.
"Iya, Reyhan lagi ada kerjaan penting" jawab Rara.
"Ibu Rara" terdengar suster memanggil nama Rara pertanda giliran Rara untuk masuk ke dalam ruangan.
"Eh duluan ya" Rara berpamitan.
Kemudian Mentari dan Bimo pun melanjutkan untuk mendaftar ke dokter umum.
--
__ADS_1
Rara berada di dapur sedang mempersiapkan makan malam, menghidangkannya di atas meja makan, sedangkan Reyhan sedang mandi di kamar lantai atas. Tiba-tiba Rara teringat dengan Mentari.
'Bagaimana ya keadaannya? apa dia baik-baik saja? mukanya pucat sekali tadi'
Rara mengambil ponselnya lalu mengirim pesan melalui whatsapp.
Rara : Mentari.. bagaimana keadaanmu? apakah sudah lebih baik?
Tak lama kemudian Reyhan menuruni anak tangga.
"Sayang masak apa kali ini?" tanya Reyhan.
Rara langsung menaruh ponselnya lagi. "Capcay kesukaanmu. Ayo sini duduk makan" lanjut Rara mengajak suaminya.
"Mmmmcchhh... terimakasih" ujar Reyhan sambil mengecup lembut kepala istrinya, sebagai tanda terimakasihnya karena sudah di masakan makanan kesukaannya.
Rara segera mengambil air minum lalu duduk satu meja bersama Reyhan untuk makan malam bersama.
"Gimana tadi di rumah sakit, apa kata dokter?" tanya Reyhan sambil memulai makan.
"Seperti biasa Mas.. aku di suruh harus bersabar" Rara tersenyum.
"Tapi kesehatan kamu baik-baik aja kan?"
--
Setelah makan malam bersama, Rara dan Reyhan naik ke lantai atas, kembali ke kamar mereka. Setelah keduanya selesai bersih-bersih sebelum tidur, mereka memutuskan untuk menonton film bersama, tentu saja pilihan film yang di pilih Rara ada film bergenre action, dan Reyhan hanya bisa menuruti film pilihan istrinya.
Mereka mematikan lampu kamar utama dan hanya menyalakan lampu tidur, agar suasana nonton film serasa di bioskop. Keduanya sangat fokus menonton, apalagi Rara yang seakan tidak berkedip ketika pistol-pistol yang berada di dalam film di tembakan. Saat film sudah berjalan hampir 1 jam dan sedang seru-serunya, tiba-tiba ponsel Rara yang berada di sampingnya bergetar dan menyala.
Rara mengambil ponselnya dan terlihat di layar ponsel nama Mentari. Rupanya Mentari baru membalas pesan yang di kirim Rara sebelum makan malam tadi.
Mentari : Alhamdulillah, sudah sangat membaik Ra. Aku baik-baik saja, justru aku sangat bahagia. Ternyata aku hamil Ra, sudah memasuki minggu ke 7.
DEG.
'Perasaan macam apa ini' suara hati Rara.
Rara terdiam sesaat. Dan tanpa sadar air matanya menetes.
Membaca balasan pesan dari Mentari, seketika membuat perasaan Rara campur aduk. Terkejut, bahagia, dan... sedih. Rara senang akhirnya penantian Mentari selama bertahun-tahun berbuah manis. Namun di satu sisi, Rara merasa sedih, teringat si kecil buah hatinya yang sudah tiada. Dan jauh di dalam lubuk hatinya, Rara merasa iri.
Reyhan yang berada di samping Rara melihat ke arah samping. Terlihat tangan Rara memegang ponsel, namun wajahnya tertuju ke depan, tapi matanya juga tidak menatap layar tv. Pandangan Rara kosong. Walau di dalam cahaya yang minim karena lampu yang mati, namun cahaya dari tv mampu membuat Reyhan melihat wajah Rara yang meneteskan air mata.
__ADS_1
"Sayang..." Reyhan menyadarkan lamunan Rara.
Rara langsung mengusap wajahnya dengan cepat.
"Em, ya?" Rara terkejut.
"Kenapa?" tanya Reyhan sambil menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Rara.
"Hah?! eng..engga papa. Fi-filmnya seru" jawab Rara.
"Seru kenapa menangis?" Reyhan bingung.
"Hah?? A-apa aku menangis? oh iya.. mu-mungkin aku terharu, saking kerennya.. hehe" Rara terbatah dan mencoba tetap menunjukkan senyum.
'Jelas sekali dia kalau sedang berbohong' gumam Reyhan.
Reyhan meraih ponsel Rara yang tergeletak dan masih menyala, Reyhan membaca isi pesan dari Mentari.
Reyhan menatap wajah Rara namun tidak berbicara apapun, hanya memandang. Begitu juga dengan Rara yang sudah tidak tahu harus beralasan dan berbicara apa lagi. Hanya bisa menatap suaminya dan berusaha menahan apa yang ada di dalam hatinya.
Hanya selang beberapa detik saling memandang, Rara tidak dapat menahannya lagi. Ia menutup wajahnya yang sedang di pandang Reyhan dengan kedua telapak tangannya.
Hiks.. hiks... hiks.... Rara menangis di balik kedua telapak tangannya.
Reyhan langsung meraih Rara, menempatkannya di dalam dadanya, melingkarkan kedua tangannya, memeluk Rara dengan kehangatan.
HIKS... HIKSSS.... HIKSSS..... Rara semakin menangis di dalam dekapan Reyhan, sesekali menarik nafas dan menghembuskannya dengan isak tangis sedih.
Reyhan diam tanpa berkata apapun, hanya membelai lembut Rambut Rara yang terurai, dan sesekali mencium ujung kepala istrinya.
'Menangislah... istriku'
Reyhan tidak berusaha mengehentikan Rara yang menangis, justru membiarkannya. Karena Reyhan berfikir, membujuknya untuk diam pun akan percuma. Sehingga Reyhan membiarkan Rara melepaskan kesedihannya. Dan berharap itu akan sedikit meringankan isi hatinya.
"A..Aku sangat merindukan anak kita Mas. A..Aku iri Mas, Aku iri dengan perempuan lain" ucap Rara dengan tangis yang masih berada di dalam pelukan Reyhan.
"Kenapa harus iri.. merekalah yang tidak akan bisa seperti kamu. Kamu wanita hebat" balas Reyhan.
Rara tidak mampu berkata-kata lagi, ia hanya bisa menangis di dalam pelukan suami tercintanya.
Tanpa sadar, justru perempuan lainlah yang mungkin akan iri jika melihat Rara, karena mempunyai suami yang begitu sangat mencintainya.
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote😊
__ADS_1