
Semua berjalan selayaknya. Reyhan dan Rara sibuk menjaga buah hati yang masih berada di dalam kandungan Rara dan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan si Reyhan junior. Galih dan Mora yang sudah berbahagia sebelumnya dan kini mereka memutuskan untuk menetap di Palembang. Begitu juga dengan Bimo dan Mentari yang masih menjalani masa-masa pengantin barunya, mereka memilih tinggal berdua di apartemen Bimo.
Waktu berjalan begitu saja dengan kebahagiaan yang menyelimuti rumah tangga masing-masing. Tanpa sadar waktu berputar 3 bulan kemudian.
"Mba Rara sedang apa?" suara bi Ina terlihat heran melihat Rara sedang sibuk sendiri di dapur.
"Sedang membuat kue bi" jawab Rara dengan girang.
"Mba Rara kan punya toko kue, kenapa bikin kue sendiri?"
"Ini khusus bi, besok kan Reyhan ulang tahun, kalau aku pesan di toko, nanti yang bikin karyawanku, bukan aku. Mas Reyhan pasti lebih suka kalau hasil dari tanganku sendiri" Rara meringis.
"Tapi kan Mba Rara sedang hamil besar, lebih baik Mba Rara istirahat saja.." bujuk bi Ina.
"Tidak apa-apa bi, lagian ini cuma membuat kue ko, tidak cape"
"Kalau begitu ada yang bisa bi Ina bantu Mba Rara?"
"Mmmm apa ya.... kalau pekerjaan bi Ina masih banyak, bi Ina selesaikan dulu saja, aku masih bisa mengerjakan ini sendiri ko"
"Yasudah, bibi jemur pakaian dulu ya Mba di belakang, nanti kalau ada apa-apa panggil bibi saja"
"Siap bi....."
Bi Ina berjalan ke arah belakang rumah untuk menjemur pakaian yang tadi sudah di cuci, sementara Rara melanjutkan kegiatan menyenangkannya yaitu membuat kue. Besok adalah hari ulang tahun Reyhan, dan Rara ingin membuatkan Reyhan kue kesukaannya dari hasil jari jemarinya sendiri.
Rara mengambil mixer dari dalam lemari dapur, dan mempersiapkan alat-alat lainnya seperti wadah, loyang kue, sendok, mangkok, dll . Menimbang gula, terigu, dan bahan lainnya sesuai dengan takaran yang pas. Rara menyadari bahwa ada yang lupa yaitu telur tak nampak di atas meja.
'Ya ampun, saking semangatnya lupa belum ambil telur'
Rara berjalan perlahan mendekati kulkas lalu membukanya, mengambil telur tersebut. Karena hanya akan membuat satu kue kecil, Rara hanya mengambil beberapa biji telur tersebut.
Kraakkkkk!!!! satu butir telur tergelincir dari genggaman Rara, terpecah di atas lantai dan menyebar berceceran.
'Haduuhhh pake jatuh segala'
Rara hendak melangkah untuk mengambil lap yang akan di gunakan untuk membersihkan pecahan telur tersebut, namun Rara menyadari bahwa ponselnya yang berada di atas meja dapur menyala. Akhirnya Rara memutuskan untuk melihat ponselnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Adik : kakak mentransferku uang?
Sebuah pesan yang dikirim melalui whatsapp yang ternyata adalah adik kandung Rara.
Rara : Iya, pakai sebaik mungkin untuk keperluanmu. Jaga diri jaga kesehatan ya jagoan!
Balasan pesan yang dikirim Rara. Beberapa jam yang lalu, sebelum Reyhan berangkat kerja, Rara dan Reyhan berunding untuk mengirim uang kepada adik Rara yang sudah mulai memasuki kuliah dan merantau di Malang. Rara memberi jajan kepada adiknya atas seizin Reyhan.
'Aku tahu bagaimana rasanya jadi anak kos dan tinggal di kota orang, dan kamu pasti sangat senang mendapat uang jajan, karena itu juga yang aku rasain ketika mendapat kiriman uang wkwk'
Rara tersenyum sendiri membayangkan kegembiraan di wajah adiknya.
'Eh mau ngapain ya aku tadi?'
Karena sibuk membayangkan adiknya Rara sampai lupa kalau dia sedang sibuk di dapur untuk membuat kue ulang tahun Reyhan.
Rara menaruh ponselnya di atas meja kembali, lalu berbalik badan dan melangkah hendak ingin mengambil margarin.
SLRRKKKKKK BUUGGGGGG!!!!!
Rara menginjak pecahan telur yang berceceran, ia lupa kalau tadi menjatuhkan telur dan belum sempat membersihkannya. Rara terjatuh ke lantai dalam keadaan tengkurap.
'Allahuakbar sakit sekali'
Seketika, hanya selang beberapa detik, semua terlihat gelap di mata Rara, ia tak sadarkan diri.
Mendengar teriakan Rara yang sangat kencang, bi Ina langsung berlari ke arah dapur, begitu juga dengan pak Udin yang sedang berjaga di depan rumah sampai terdengar teriakan Rara dan langsung berlari masuk ke dalam rumah.
"Ya ampun Mba Rara!!!" bi Ina sangat terkejut mendapati Rara tergeletak di lantai dengan darah yang mulai keluar dari bagian bawah tubuh Rara. Begitu juga dengan pak Udin yang sama terkejutnya.
Dengan cepat pak Udin mengangkat Rara dan membawanya ke mobil bersama bi Ina, mereka bergegas menuju rumah sakit terdekat.
--
Semenjak Reyhan menikah dan pak Santoso sering ke Jepang untuk mengurus usahanya di sana dan tentu saja menjenguk Reina, Reyhan kerap kali menggantikan posisi pak Santoso alias ayah angkatnya. Reyhan bukan hanya kepala HRD, melainkan sebagai pemilik perusahaan juga. Karena itu sering kali Reyhan mengadakan meeting dan bertemu klien bisnis lainnya.
Reyhan sedang berada di ruang meeting bersama karyawan-karyawan dari berbagai devisi lain untuk membahas suatu proyek tertentu. Saat Reyhan sedang memperhatikan presentasi salah satu karyawannya, Reyhan menyadari ponsel yang berada di samping laptopnya bergetar dan layar menyala. Biasanya Reyhan mengabaikan siapapun yang menghubunginya disaat ia sedang meeting penting, kecuali telepon dari istrinya. Namun saat di lihat, ternyata nama Pak Udin yang muncul dari layar ponsel. Reyhan berfirasat ada hal penting yang terjadi karena jarang-jarang pak Udin menghubunginya.
__ADS_1
"Hallo Pak Udin?"
"APAAAAA???!!!!!" teriakan Reyhan mengejutkan semua orang yang berada di ruangan.
Tanpa berfikir panjang, Reyhan berlari keluar ruangan, mengambil kunci mobil lalu pergi dari kantor. Rupanya pak Udin menghubungi Reyhan dan memberitahu keadaan Rara.
Sesampainya di rumah sakit, terlihat bi Ina yang berdiri di depan pintu ruangan dengan wajah yang sangat khawatir, begitu juga dengan pak Udin yang sedari tadi berjalan mondar mandir kesana kemari.
"Apa yang terjadi?!!!!" Reyhan tak kalah khawatirnya dan masih sangat syok.
"Mba Rara terjatuh di dapur Mas" jawab pak Udin.
"Terus sekarang di mana istriku?"
"Di dalam Mas Reyhan, dokter tadi baru saja masuk untuk memeriksa mba Rara" bi Ina.
Jegleg! pintu ruangan terbuka dan keluar seorang dokter kandungan berjenis kelamin perempuan.
"Ada suaminya?" seru dokter tersebut dengan nada suara yang cemas.
"Saya. Gimana dok istri saya?" Reyhan tak kalah cemas.
"Benturannya sangat keras dan sepertinya ini bukan benturan untuk pertama kalinya, apakah sebelumnya istri bapak pernah terjatuh?" tanya dokter.
"Hah?" Reyhan bingung dan berusaha mengingat-ingat kalau selama ini istrinya selalu baik-baik saja, bagaimana bisa dokter menduga bahwa ini bukan kali pertamanya Rara terjatuh.
Mendengar apa yang di tanyakan dokter, bi Ina maju beberapa langkah dan mendekat, "Maaf Mas Reyhan.. sebenarnya Mba Rara pernah terjatuh di kamar mandi saat Mas Reyhan berada di Jepang" lanjut bi Ina.
Mendengar pengakuan bi Ina, Reyhan hanya terdiam, bengong tak menyangka.
'Jadi Rara berbohong kepadaku?'
"Pak, bisa kita berbicara sebentar?" ujar dokter lalu melangkah minggir sedikit menjauh dari bi Ina dan pak Udin. Lalu di ikuti dengan Reyhan. Mereka berbicara empat mata.
"Pak.. istri bapak masih belum sadar, keadaannya kritis, dan bayi dalam kandungannya juga kritis. Banyak kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi. Kami akan berusaha keras untuk istri dan anak bapak, tapi kesempatan untuk menyelamatkan keduanya sangat tipis. Bapak harus memberi keputusan untuk menyelamatkan ibunya atau anaknya" jelas Dokter.
"Apaaaa??!!!!" seketika Reyhan merasa seluruh tubuhnya lemas tak berdaya, pandangannya kosong entah memikirkan apa, ia berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi.
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote🙏