
Setelah selai mandi, Reyhan terdiam saat membuka pintu kamar mandi.
"Loh kemana dia?" Reyhan menyadari Rara tidak ada di dalam kamar.
Reyhan mencoba keluar ke teras mencari Rara, namun tidak ada juga. Akhirnya Reyhan segera memakai pakaian dan turun ke lantai bawah. Terlihat mamah, bi Nana, dan bi Ina sedang memasak untuk persiapan acara makan malam nanti.
'Loh aku kira dia di dapur, kenapa tidak ada juga?'
"Mah.. Liat Rara ngga?" tanya Reyhan kepada ibunya.
"Duh Mas Reyhan ini.. baru beberapa menit tidak melihat Mba Rara seperti takut di tinggalkan saja.." ledek bi Ina.
"Iya dong bi.. aku kan tidak bisa jauh darinya" Reyhan tersenyum nakal.
"Rara keluar, katanya mau lihat-lihat kebun teh" jawab Mamah.
"Hah? sendirian?" Reyhan terkejut.
"Engga... di temani papah" lanjut mamah Reyhan.
Reyhan melihat ke arah jam dinding 'Sudah hampir jam setengah 5 sore, kenapa dia ingin melihat kebun teh, kan sudah aku bilang besok saja' gumam Reyhan.
"Sudahlah.. Rara hanya ingin melihat yang hijau-hijau, biarkan saja, lagian Rara juga pergi di temani papah" lanjut mamah Reyhan berusaha meyakinkan Reyhan.
--
Rara dan pak Santoso alias ayah mertuanya sedang berjalan di tengah jalan kecil yang di sebelah kanan dan kirinya di kelilingi dengan kebun teh yang hijau. Cahaya senja menambah kecantikan pemandangan. Saat itu rasanya benar-benar damai.
"Pah.. maafkan Rara ya pah" ucap Rara kepada mertuanya yang berjalan di sebelahnya.
"Maaf?" pak Santoso bingung.
"Iya...Rara belum bisa memberi cucu untuk papah" Rara mencoba tersenyum.
"Haha.. nak, pernikahan tidak hanya soal anak. Yang membuat papah sedih bukanlah soal cucu. Tapi papah sedih jika kalian berpisah hanya soal itu. Mangkannya waktu papah takut sekali kamu dan Reyhan berpisah saat kamu kembali ke Bandung"
"Haha..." Rara menunduk malu. "Itu aku hanya sedang merindukan ibuku saja pah..." lanjut Rara beralasan.
"Tidak apa-apa nak, papah mengerti. Wajar jika kamu bersikap seperti itu, karena memang Reyhan sudah keterlaluan. Dia pantas mendapat hukuman itu" papah tersenyum.
"Pah.. kasih Rara tips agar pernikahan Rara dan Reyhan langgeng dong. Rara selalu iri jika melihat mamah dan papah. Kalian terlihat seperti tidak pernah ada masalah" pinta Rara dengan sedikit bergurau.
"Nak.. apa yang terlihat di luar, bisa saja tidak sama dengan yang ada di dalam. Jika mengingat dari awal papah kenal mamah, sampai menikah, bahkan sampai saat ini, pasti ada dan banyak sekali rintangan. Bahkan, dulu hubungan kami sempat tidak di restui oleh kedua orang tua kami. Sampai-sampai papah sempat menyerah dan memilih di jodohkan saja oleh pilihan orang tua. Tapi.. mamah mertua kamu itu selalu maju paling depan, dia tidak pernah menyerah untuk selalu meyakinkan orang tua kami"
"Waahhh... seperti Yama*a yah pah.. selalu di depan" gurau Rara.
"Hahahahah.. itu mah semakin di depan atuh..." pak Santoso membalas dengan gurauan.
Keduanya tertawa.
"Mangkannya.. saat mamah di nyatakan tidak bisa mendapat keturunan, di situlah saat paling jatuh sejatuh jatuhnya. Kedua orang tua juga mulai kecewa lagi. Namun papah sadar, bahwa itu lah saatnya, giliran papah yang berjuang untuk rumah tangga, terutama untuk mamah. Walau mamah sempat meminta papah untuk menikah lagi, namun papah sama sekali tidak tertarik. Karena laki-laki yang sejati, ia akan bertanggung jawab sampai akhir ketika sudah menikahi anak orang lain" jelas papah.
Rara memandangi pak Santoso, terpaku dengan cerita yang disampaikan oleh pak Santoso.
"Nak.. rumah tangga yang langgeng itu tidak ada trik dan tipsnya. Sama halnya dengan memasak, walau terkadang bahan-bahannya ada takaran yang pasti, namun saat di masak di tangan yang berbeda, rasanya tetap beda. Dan enak tidak enaknya hasil dari masakan itu tergantung siapa yang memakannya. Kuncinya adalah saling menerima. Enak tidak enaknya ya telan saja bersama. Terima.. dan nikmati".
Tak sadar Rara meneteskan air mata. Terharu dengan jawaban papah mertuanya.
"Kamu dan Reyhan baik-baik saja kan?" Pak Santoso bingung melihat Rara menangis.
"Haha..." Rara tertawa kecil lalu mengusap wajahnya. "Aku terharu pah" lanjut Rara.
'Hm... apa yang harus aku lakukan jika Reyhan benar selingkuh. Apakah aku tanyakan soal Gita sama papah? siapa tahu papah mengetahui siapa Gita. Tapi.. aku rasa ini bukan waktu yang tepat'.
Mendengar pak Santoso menanyakan Reyhan, Rara jadi teringat pesan rindu yang di sampaikan Gita di ponsel Reyhan.
"Yasudah nak ayok kita pulang, sudah hampir maghrib"
--
Pas sekali adzan maghrib berkumandang, Rara dan pak Santoso sampai di villa. Terlihat orang-orang mulai berkumpul dan sibuk, ada yang sedang menata meja dan kursi, ada yang menggelar tikar, ada yang sedang memanggang daging, dan ada yang sedang membakar ikan hasil tangkapan dari tambak. Saat Rara datang, Reyhan tidak menyadari kedatangan istrinya karena ia sedang berdiri di dekat pemanggangan daging namun mata dan tangannya sibuk memegang ponsel.
'Cih.. pasti dia sedang asik mengirim pesan dengan Gita sial*n itu' gumam Rara memandang dengan kesal lalu segera masuk dan naik ke kamar untuk segera mandi.
"Hey" Pak Santoso menghampiri Reyhan dan menepak punggung anaknya.
"Eh. Papah? kapan kembalinya? Rara mana?" Reyhan terkejut dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam sakunya lagi.
"Baru saja datang. Rara kayaknya tadi masuk ke dalam, sepertinya mandi dan berganti pakaian"
Dan Reyhan teringat bahwa tadi Rara memang belum sempat mandi sore.
"Baru segimana yang udah di panggang?" tanya pak Santoso sambil memperhatikan daging yang sudah matang di atas meja.
"Sudah hampir selesai pah, ini yang terakhir" jawab Reyhan.
Kemudian mereka melanjutkan untuk memanggang daging bersama.
--
'Apakah selama ini Reyhan selingkuh di belakangku? tapi setiap di rumah, dia tidak pernah mendapat telpon atau hal-hal yang mencurigakan lainnya'.
'Apakah Reyhan selingkuh ketika di kantor? apa Gita karyawan di kantor? tapi sepengetahuan aku, tidak ada karyawan bernama Gita. Apa mungkin dia pegawai baru?'.
'Aaaarrrggghhh... ingin sekali aku membanting sesuatu. Andai saja di rumah, sudah ku cincang kamu Reyhan. Aku mencoba sabar karena ada mamah dan papah di sini'.
Rara menggerutu kesal ketika selesai mandi dan berdiri di depan cermin sambil memandangi dirinya sendiri di dalam cermin.
Rara menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Rara terduduk dan terdiam sesaat.
'Astaghfirullah... kenapa aku seperti dendam begini? kenapa aku ragu dengan suamiku sendiri?' Rara menunduk sedih.
--
Setelah berganti pakaian dan sedikit berdandan, Rara kemudian turun ke lantai bawah untuk segera bersiap dalam acara makan malam bersama. Rara menghampiri mamah, bi Ina, dan Bi Nana yang sedang berada di dapur, dan di bantu oleh ibu-ibu pegawai lainnya.
"Bagaimana tadi, jalan-jalan di kebun tehnya seru?" tanya Mamah.
Rara mengangguk dan tersenyum.
"Maaf ya mah, aku jadi tidak membantu mamah dan lainnya di dapur" lanjut Rara.
"Haha.. tidak apa-apa nak. Mamah juga hanya sekedar membantu mengupas bawang ko wkwk" gurau mamah. Rara tertawa kecil.
Semua masakan sudah matang, dan sedang di tata untuk disajikan saat makan malam nanti. Rara membantu memotong kue-kue dan menyajikannya di piring.
"Eh" Rara terkejut tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutnya, memeluknya dari belakang, siapa lagi kalau bukan suaminya yang manja.
__ADS_1
"Kemana saja kamu baru kelihatan" bisik Reyhan di telinga Rara.
"Apaan sih. Lepaskan. Banyak orang" Rara menggerak-gerakkan tubuhnya berharap Reyhan melepas pelukannya.
"Memangnya kenapa kalau banyak orang? mereka juga tahu kamu istriku" ledek Reyhan.
"Malu!" Rara sedikit berteriak kesal.
Tak seperti biasanya Rara begitu, biasanya dia berteriak namun tersenyum malu. Kali ini wajahnya memang kesal. Akhirnya Reyhan melepas peluknya, berdiri di samping Rara, namun tangan kirinya masih melingkari pinggang Rara, sementara tangan kanannya memegang tepi meja.
"Wahh... kayaknya enak nih. Suapin dong sayang, A..." Reyhan membuka mulutnya berharap disuapi kue yang sedang Rara potong.
"Bisa makan sendiri kan?!" ucap Rara menatap Reyhan penuh kesal, lalu menyingkirkan tangan kiri Reyhan yang mendarat di pinggangnya. Lalu Rara berjalan keluar rumah, untuk melihat keadaan diluar rumah.
'Kenapa dia?'
Reyhan heran melihat tingkah Rara yang aneh, karena tidak biasanya Rara begitu.
Mamah Reyhan yang berada tidak jauh dari mereka hanya terdiam memperhatikan mereka. Setelah Rara keluar, mamah Reyhan langsung menghampiri anaknya.
"Berantem?" ujar mamah sambil melanjutkan memotong kue yang belum selesai di potong Rara.
"Hah? engga. Gatau, kenapa ya dia" Reyhan masih belum mengerti.
"Kamu pasti berbuat salah"
"Hah? salah? aku saja tidak tahu apa salahku"
"Reyhan.. Reyhan.. perempuan itu, apalagi istri, hampir tahu semua yang kamu lakukan tanpa kamu bilang kepadanya, bahkan sering kali kami tahu apa saja yang di sembunyikan oleh suami" ledek mamah.
"Sembunyikan? memangnya aku menyembunyikan apa?" Reyhan semakin bingung.
"Sudah, buka mulutmu, biar mamah yang nyuapin"
Reyhan membuka mulutnya lalu mengunyah kue tersebut.
'Kenapa ya tiba-tiba Rara begitu?'
--
Makan malam bersama tiba. Sekeluarga makan bersama dengan para pegawai tambak dan kebun teh, makan malam besar atau bahkan bisa di bilang pesta kecil-kecilan. Rara memilih duduk dekat bersama bi Ina, bi Nana, dan para pegawai perempuan lainnya. Sementara Reyhan duduk di sebelah ayahnya.
Saat makan, sesekali Reyhan memperhatikan Rara. Istrinya terlihat mengobrol asik dan senyum-senyum bersama para pegawai perempuan.
'Haha.. dia sedang marah dan menjauhiku? atau memang sedang berusaha akrab dengan para pegawai?' Reyhan tersenyum sendiri melihat tingkah Rara.
Setelah makan malam selesai, Para kaum lelaki berkumpul di depan dan bahkan mereka berkarauke dan berjoget bersama dengan alat-alat yang sudah di siapkan sebelumnya, semntara itu beberapa pegawai perempuan membersihkan piring dan merapihkan tempat-tempat yang kotor, sisanya ikut bersenang-senang di depan.
Beberapa kali Reyhan terlihat bernyanyi dan berjoget bersama pak Santoso dan pak Udin. Ia tertawa dan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
'Cih.. bahagia sekali dia' gumam Rara dalam hati memperhatikan suaminya.
"Lihatlah, anak dan bapak sama saja. Hahaha..." mamah yang berada di samping Rara tertawa.
"Mah.. aku masuk dulu ya"
"Kenapa?"
"Tiba-tiba kepalaku pusing Mah"
"Aku masuk dulu ya Mah.."
"Iya"
Rara masuk ke dalam rumah, dan menuju dapur untuk minum.
"Mba Rara baik-baik aja?" tanya bi Ina melihat wajah Rara sedikit pucat.
"Hehe badanku agak tidak enak bi. Aku ke atas dulu ya"
"Yaudah istirahatlah Mba..."
--
Sesampainya di kamar, Rara berbaring di atas tempat tidur, memiringkan badannya. Ia terdiam seakan memikirkan sesuatu.
'Jika di pikir kembali, wajar saja jika Reyhan selingkuh, aku kan tidak seperti perempuan lainnya. Aku belum bisa memberinya keturunan, aku juga sering egois. Dan banyak sekali perempuan cantik dan lebih mampu memberinya keturunan dengan cepat, tidak seperti aku' Rara meneteskan air mata, ia insecure dengan dirinya sendiri.
--
Setelah bersenang-senang berjoget ria dan bernyanyi, Reyhan duduk dan melihat sekeliling. Reyhan mulai menyadari Rara tidak terlihat di matanya. Reyhan menghampiri mamahnya.
"Mah, Rara mana?"
"Tadi masuk, katanya pusing"
Reyhan langsung masuk ke dalam rumah dan melihat bi Ina sedang bersih-bersih dapur.
"Bi.. liat Rara ngga?"
"Di kamar Mas Reyhan, katanya tadi tidak enak badan"
Reyhan langsung menaiki tangga dan menuju kamarnya. Ketika Reyhan membuka pintu kamar, terlihat Rara sedang berbaring di atas tempat tidur dengan posisi miring membelakangi. Reyhan menutup pintu dan naik ke atas tempat tidur mendekati Rara.
"Sayang.. kamu sakit?" Reyhan menempelkan tangannya di dahi Rara dari arah belakang.
Rara langsung menangkisnya.
Reyhan terkejut, dan berusaha membalikkan badan Rara agar bisa melihat wajah Rara.
"Pergi. Hiks... hiks..." Rara berdiri dan berjalan hendak menuju teras sambil menangis.
Reyhan langsung berdiri dan mengikuti Rara, menanrik tangan Rara, mencegahnya keluar kamar.
"Kenapa kamu menangis?" Reyhan heran.
"Lepaskan" Rara melepaskan tangan Reyhan dengan paksa.
"Kamu kenapa sih sayang?" dengan polosnya Reyhan bertanya.
"Aku tahu semuanya Reyhan!"
"Tahu soal apa?" Reyhan semakin bingung.
Rara memalingkan wajahnya.
"Rara..." panggil Reyhan.
__ADS_1
Rara tidak menengok.
"Coba ceritakan, aku tidak mengeri kamu kenapa. Jangan membuatku bingung" ujar Reyhan.
Rara masih memalingkan wajahnya.
"Rara lihat aku!" seru Reyhan.
Rara menengok dan memandang tajam wajah Reyhan dengan air mata sudah membanjiri pipinya, bahkan matanya sudah mulai membengkak, karena sedari tadi ia menangis di dalam kamar sendirian.
"Kalau kamu ingin menikah lagi. Bilang. Jangan menyimpan perempuan lain diam-diam" Rara mulai mengungkapkan.
"Hah?" Reyhan justru malah tambah bingung.
Rara hanya terdiam menatap wajah Reyhan tanpa berkedip, dengan mata yang berkaca-kaca.
Reyhan berusaha meraih tangan Rara, untuk menenangkannya, namun Rara langsung menghindar.
Reyhan terdiam, saling bertatapan dengan Rara.
'Matanya sangat menunjukkan kemarahan. Dia benar-benar sedang marah' gumam Reyhan dalam hati.
Rara memalingkan wajahnya lagi, berjalan dan berdiri sedikit menjauhi Reyhan. Memandangi ke arah luar dari jendela yang masih belum tertutup rapat gordennya. Rara menangis, dan langsung mengusap wajahnya lagi, menangis lagi, mengusap lagi, begitu terus.
Reyhan hanya terdiam, dan memperhatikannya dari jarak cukup jauh. Reyhan selalu membiarkan Rara menangis ketika dia sedang marah atau sedih, karena ia tahu Rara sulit di ajak berbicara ketika ia masih sangat marah, karena itu Reyhan diam dan membiarkan menangis, karena itu bisa membuatnya sedikit tenang.
Tak lama terdengar isak tangis Rara mulai menipis. Pertanda bahwa Rara mulai tenang.
"Sudah menangisnya?" Reyhan mulai mendekat.
Rara tidak menjawab.
"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba seperti ini" ujar Reyhan.
"Iya. Karena yang kamu mengerti hanya Gita!"
"Hah?" Reyhan heran.
"Tidak usah berlaga seperti tidak mengerti apa-apa. Sejak kapan kamu berhubungan dengan perempuan itu? berapa lama tidak bertemu dengannya? sampai-sampai dia rindu kepadamu. Seharusnya bawa saja dia ke sini!" teriak Rara.
Reyhan terdiam dan memikirkan sesuatu. 'Gita? Rindu?'
"Hahahahahahhahahahahaha.... " Reyhan benar-benar tertawa sangat puas di depan Rara.
'Hah? dia tertawa? kurang ajar!'
"Hahahahahhaha....." Reyhan masih terus tertawa.
Rara semakin kesal dan berbalik badan hendak keluar dari kamar. Reyhan langsung menarik tangan Rara.
"Haduhhhh sayang.... hahahah... sini sini sini"
Reyhan menarik Rara hingga berhadapan dengannya. Lalu ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan membuka pesan whatsapp.
"Apa kamu membaca pesan ini di ponselku?" Reyhan membalik ponselnya dan menghadapkannya ke Rara.
Rara dapat melihat sebuah kontak bertulisan Gita dan beberapa baris berisi percakapan mereka.
"Baca deh"
"Tidak mau" Rara menolak.
"Bacaaa... biar kamu lihat sendiri dan percaya" Reyhan menyerahkan ponselnya dan meletakkannya di telapak tangan Rara.
Mau tidak mau, karena penasaran Rara pun akhirnya membaca isi percakapan tersebut.
"Kamu tahu kan, tadi sore saat aku ke teras kamar, aku membuat video memperlihatkan tambak dan perkebunan teh, lalu aku memasang itu di status whatsapp. Bukannya kamu juga sudah melihat statusku itu?"
Rara mulai membaca.
Gita : Reyhan, apakah itu villa yang waktu tahun baruan? (Rupanya Gita membalas status Reyhan dengan berkomentar itu)
Reyhan : yoi
Gita : Wah tambah bersih dan hijau ya. Lama juga ya tidak ke sana. Padahal itu tempat keren sekali.
Reyhan : Iyalah, terakhir kali kapan tahu. Sebelum wisuda sepertinya ya
Gita : Iya. ingat Ngga, pas Eri di cemplungin ke tambak terus Rizal mau niat nolongin malah di cium lele haha
Reyhan : Oh iya wkwk. Gila sudah lama juga ya itu, jadi kangen ngumpul
Gita : Aku benar-benar rindu.
Tiba-tiba Rara menunduk seakan malu.
"Hahaha... malu ya?" ledek Reyhan.
"Nih" Rara mengembalikan ponsel Reyhan.
"Hahaha..katanya tahu semuanya. Tahu apa? tahu bulat??" ledek Reyhan lagi.
"Ih" Rara hendak keluar kamar lagi, Reyhan langsung mencegah dan memeluknya dari belakang.
"Aduuhhhh sayangku ini ternyata cemburuannya lebih parah dari aku" Reyhan terus meledek sambil mengeratkan pelukannya.
Rara hanya diam karena saking malunya.
"Gita itu salah satu teman kuliahku. Dulu aku, Mentari, Eri, Gita, Rizal, Bunga, Akbar, siapa lagi ya lupa. Pokonya banyakan lah, aku pernah mengajak mereka untuk tahun baruan di sini, dan sekali kesini sebelum wisuda kalau tidak salah. Pokoknya ramai-ramai lah untuk berlibur, kalau kamu tidak percaya, tanyakan saja kepada bi Nana atau pak Ujang yang tinggal di sini" jelas Reyhan.
"Gita memang seperti itu, dia agak puitis anaknya" lanjut Reyhan.
Rara masih terdiam.
Reyhan melepas pelukannya dan berdiri tepat di hadapan Rara. Reyhan meraih dagu Rara dan mengangkatnya agar tidak menunduk.
"Sudah tidak marah lagi?" Reyhan.
Rara diam dan hanya memandang Reyhan.
"Eh tadi ada yang ngomong, kalau mau menikah lagi bilang! memangnya boleh?" lagi-lagi Reyhan meledek.
"Ih ih ih ih" Rara meninju-ninju pelan tubuh Reyhan. "Silahkan saja kalau berani! aku potong juniormu!" teriak Rara.
"Hahahahaha.... ampuuuuunnnnnn" Reyhan.
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote😊
__ADS_1