Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 120 Jalani Saja


__ADS_3

"Hari ini aku mau ke rumah sakit lagi. Kamu tidak ingin menemaniku?" tanya Mentari kepada Bimo sambil memakaikan dasi.


"Kamu tahu kan.. pekerjaanku di kantor banyak sekali" jawab Bimo.


Mentari diam.


"Marah?" lanjut Bimo memandang Mentari yang hanya terdiam.


"Rasanya aku sedang berjuang sendirian" jawab Mentari lalu keluar kamar untuk menyiapkan sarapan.


'Berjuang sendiri? apa maksudnya?' Bimo.


---


"Mas.. bangun.." seru Rara sambil membukakan gorden kamarnya.


Reyhan tidak menjawab, dan tidak bergerak sama sekali, matanya masih terpejam. Rara pun mendekati Reyhan dan berusaha menarik selimut.


"Ayo bangun, sudah ku siapkan sarapan, dan cepat mandi sana". Rara.


"Hmmm" Reyhan hanya mengeram.


"Mandi sekarang atau mau aku siram?" lanjut Rara.


Perlahan Reyhan pun membuka matanya, dan langsung memeluk Rara.


"I love you. Mmcchh." ucap Reyhan dan memberikan sebuah kecupan mendarat di pipi Rara. Kemudian Reyhan langsung bergerak berjalan ke kamar mandi.


--


Setelah persiapan berangkat kerja selesai, Reyhan dan Rara makan bersama di ruang makan rumah mereka. Setahun yang lalu, bi Ina dan pak Udin sudah kembali ke rumah orang tua Reyhan, dan kini Reyhan tinggal berdua lagi bersama istrinya.


"Kamu mau ke toko hari ini?" tanya Reyhan sambil menggigit roti coklat buatan istri tercintanya.


"Iya Mas.." jawab Rara.


"Sekarang saja, biar sekalian aku bisa mengantarmu".


"Aku mau membersihkan rumah dulu. Kamu duluan saja ke kantor, nanti biar aku naik motor saja. Sayang ada motor tapi jarang di pakai"


"Tapi harus hati-hati ya, jangan ngebut. Kamu kalau naik motor suka ngebut kan".


"Iya suamikuuuuu.... tidak akan ngebut"


"Kecepatan 10km saja" seru Reyhan.


"Hah?! kapan sampainya kalau begitu? itu mah sama saja aku jalan kaki!" Rara cemberut.


Wkwkwkw. Reyhan tertawa.


--


Jam menunjukkan pukul 11.03 WIB. Di dalam ruangannya yang berada di toko kue miliknya, Rara terduduk diam memandangi jam di dinding.


"Hampir jam makan siang. Tapi Reyhan ada jadwal bertemu klien. Aku mulai lapar. Aku makan sendiri dong?" Rara berbicara dengan dirinya sendiri.


'Kemana ya enaknya?'


Rara berpikir dan tiba-tiba ia teringat dengan Mentari. Semenjak melihat Mentari di rumah sakit waktu itu, Rara memang sangat penasaran dengan keadaan Mentari, dan ingin menanyakan kehamilannya.


'Apa aku ke cafe Meriju saja ya? lama juga tidak ke sana, rindu minum matcha'

__ADS_1


--


"Silahkan Kak menunya" seorang pelayan mendekati meja dimana Rara sedang duduk.


"Terimakasih mas. Oh iya, Mentarinya ada?" tanya Rara.


"Tidak ada kak, belum kesini. Biasanya sih setelah dzuhur baru kesini kak" jawab pelayan itu.


"Oh begitu ya, yasudah saya pilih pesanan dulu ya"


"Baik kak, silahkan..."


Rara memutuskan datang ke cafe Meriju dan berharap bisa bertemu Mentari, namun ternyata saat ia sudah tiba di cafe Meriju, Mentari justru tidak ada di cafe.


Tak lama kemudian, pesanan Rara datang dan Rara langsung melahapnya.


"Bagaimana hari ini? rame?" Disaat Rara hampir menghabiskan makanannya, terdengar suara perempuan yang sedang bertanya kepada pelayan. Dan suara itu tidak asing bagi Rara.


"Mentari?" ujar Rara.


Mentari berbalik badan dan mendapati Rara sedang memandangnya sambil duduk di meja cafe yang tak jauh dari mesin kasir.


"Hey, Rara? apa kabar?" Mentari melangkah mendekati Rara.


Mereka berpelukan dan bercipika-cipiki lalu duduk saling berhadapan.


"Ya ampun sedang makan ya, sudah lama?" Mentari melihat piring Rara hampir habis.


"Hehe iye nih"


Drrttt drrrtt drrrttt... tiba-tiba ponsel Rara bergetar dan berdering. 'Suamiku' terlihat jelas tulisan itu muncul di layar ponsel Rara. Rupanya Reyhan menelpon.


"Sebentar ya" Rara meringis.


Rara : Halo??


Reyhan : Sudah makan?


Rara : Sudah. Kenapa?


Reyhan : Tidak apa-apa, memastikan saja kalau kamu makan tepat waktu. Sekarang lagi dimana?


Rara : Di... cafe Meriju


Reyhan : Hah? itu kan jauh dari toko mu, kamu ke sana?


Rara : Iya.. aku tadi bingung mau makan di mana, terus aku kangen makan di sini. Mau mengajak kamu tapi kamu bilang sedang bertemu klien.


Reyhan : Yasudah.. pulangnya hati-hati. Jangan ngebut. Nanti sore aku pulang lebih cepat.


Rara : Siap Bos!


"Maaf ya" seru Rara lagi kepada Mentari, setelah menutup percakapannya dengan Reyhan melalui ponsel.


"Tidak apa-apa. Reyhan ya?" Mentari.


"Iya"


"Dia sangat menyayangimu, jadi dia pasti ingin tahu keberadaanmu"


"Ah, memang dasar dia itu suka berlebihan" gurau Rara.

__ADS_1


'Haha setidaknya tidak cuek seperti suamiku' gumam Mentari dalam hati.


"Oh iya, beberapa hari yang lalu, aku melihatmu di rumah sakit. Kamu hamil?" Rara langsung menanyakannya tanpa Ragu.


"Hah? tidak...." jawab Mentari dengan pelan dan tersenyum. Namun sedikit terlihat kesedihan di wajah Mentari.


'Loh tidak hamil? terus kenapa dia keluar dari ruangan dokter kandungan?' Rara.


"Aku sudah 2th lebih ikut program hamil di sana" lanjut Mentari.


Rara hanya mengangguk pelan. Rara merasa mulai tidak enakan, karena Rara baru teringat bahwa sudah bertahun-tahun setelah menikah dengan Bimo, Mentari belum kunjung hamil.


"Apa kamu sudah hamil lagi?" tanya Mentari.


"Belum..." Rara tersenyum.


"Sepertinya kita sedang merasa sedih berjamaah" gurau Mentari.


Hahahahah... mereka berdua pun tertawa.


"Oh iya, Reyhan apa kabar?"


"Baik. Waktu di rumah sakit, dia juga hendak menghampirimu saat kami melihat kamu. Tapi sayangnya aku keburu di panggil dokter"


"Apa Reyhan selalu menemani ke rumah sakit?"


"Tidak selalu sih, tapi cukup sering"


"Sepertinya Reyhan sangat mencintaimu, berbeda sekali dengan Bimo. Dia sama sekali tidak pernah menemaniku ke rumah sakit. Eh maaf jadi curhat begini" Mentari tersenyum lalu sedikit tertunduk.


"Apa kamu dan Bimo baik-baik saja?"


"Entah... aku merasa hanya berjuang sendiri selama ini" suara Mentari mulai pelan dan lembut.


"Jangan berbicara seperti itu..."


"Memang seperti itu kenyataannya Ra, dia selalu sibuk dengan pekerjaannya"


"Bimo kan memang seperti itu, dia pekerja keras dan cukup perfeksionis apalagi dalam hal pekerjaan"


"Dia aku ajak untuk cek kesehatan bersama (cek kesuburan) namun dia menolak. Dia terlihat sangat nyantai, tapi jujur aku begitu tertekan"


"Mungkin Bimo tidak ingin membuatmu terlalu cemas nantinya"


"Sepertinya kamu lebih memahami bagaimana suamiku"


"Haha bukan seperti itu Mentari.. sebagai manusia, bukankah kita harus berfikir positif? apalagi berprasangka buruk terhadap suami sendiri, terkadang hanya akan berujung dengan sebuah pertengkaran"


Mentari terdiam dan menatap Rara.


"Percayalah.. Bimo juga tidak ingin membuatmu terbebani sendiri. Oh iya, kamu kenal Reyhan cukup lama kan? kamu kenal dengan mamahnya?"


"I-Iya... " Mentari bingung.


"Kamu tahu kan, saat menikah dengan pak Santoso, mamah Reyhan baru hamil dan melahirkan Reina setelah belasan tahun kemudian. Bahkan beliau sudah di katakan tidak bisa hamil, namun kehendak Tuhan berkata lain. Rezeki itu pasti datang di waktu yang tepat. Bersabarlah. Dan rezeki bukan soal tentang anak. Kesehatan, waktu, suami, itu juga rezeki, dan masih banyak hal lainnya. Jangan hanya terfokus mengejar rezeki anak, sampai-sampai kamu mengabaikan rezeki lainnya. Jalani saja, habiskan waktu untuk saling menyayangi satu sama lain dengan suami. Itu akan membuat rasa bersyukur yang lebih di dalam pernikahan" jelas Rara.


Mentari terperangah dengan perkataan Rara. Ia sampai bingung harus berkata apa.


"Eh maaf, jadi banyak ngomong gini hehe" Rara meringis.


Mentari tersenyum.

__ADS_1


Terimakasih dan jangan lupa beri dukungan kakak-kakak terhadap tulisan ini dengan memberi like dan vote😊


__ADS_2