
Saat Reyhan hendak menghampiri Mentari, namun tiba-tiba terdengar nama Rara dipanggil untuk segera masuk ke dalam ruangan. Akhirnya Reyhan berbalik badan dan melangkah kembali ketempat awal lalu masuk ke dalam ruangan bersama Rara untuk melakukan pemeriksaan.
--
'Dari 2th yang lalu, aku sudah mencoba mengikuti program hamil dan sudah pindah dokter berapa kali, tapi kenapa aku belum hamil juga? Tuhaaann... Sudah 3th lebih aku menikah, aku ingin sekali memberi keturunan untuk Bimo'
Sedari tadi Mentari bergumam di dalam hati sambil menyetir mobil setelah dari rumah sakit menuju arah pulang ke apartemen.
--
"Saya lihat, perkembangan ibu Rara ini sangat bagus, kesehatannya juga sangat bagus, luka di rahim juga sudah hampir tak terlihat" ujar Dokter yang duduk berhadapan dengan Rara dan Reyhan.
Rara dan Reyhan pun saling memandang satu sama lain dan saling tersenyum dengan tangan yang juga saling menggenggam.
"Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, dokter hanya bisa memperkirakan, sedangkan untuk menentukan kehidupan hanyalah Tuhan. Sepertinya tidak butuh waktu 5 sampai 10th, 3th ibu Rara sudah hampir bisa di bilang sembuh ya, ibu Rara terus rajin olahraga dan minum obat dan juga vitaminnya, tentunya jaga pola makan juga. Insyaallah, beberapa bulan lagi luka di rahim ibu Rara akan hilang dan bersih, lalu bisa mengikuti program hamil" lanjut Dokter tersenyum.
'Alhamdulillah.. Terimakasih ya Allah..' Rara.
--
"Kenapa?" tanya Bimo.
Ketika Bimo pulang dari kantor dan saat sedang melepas pakaian kerjanya, ia melihat Mentari yang sedang mengambilkan handuk untuknya dengan wajah yang sedih.
"Hah? gapapa" jawab Mentari pelan lalu memberikan handuk kepada Bimo.
"Kenapa?" tanyanya mengulang. "Biasanya saat aku pulang dari kantor, kamu selalu menyambutku dengan ceria, kenapa sekarang lemas dan diam?" lanjut Bimo.
Mentari terdiam sesaat sambil memandang Bimo dengan tajam, lalu langsung memeluk Bimo.
Di dalam dekapannya, Bimo mendengar Mentari menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan bercampur suara sedikit bergetar, pertanda sebuah isak tangis kecil.
"Kamu menangis?" Bimo heran.
Mentari tetap diam dan mengeratkan pelukannya.
"Kenapa sih? ngomong.." bujuk Bimo.
Mentari melepas pelukannya lalu memandang Bimo.
"Bagaimana kalau kita pergi ke dokter bersama?" seru Mentari.
"Aku tidak sakit. Apa kamu ingin di temani ke dokter kandungan?" ujar Bimo.
__ADS_1
"Ba..bagaimana... ka-kalau kita tes kesuburan?" Mentari terbatah.
"Hah? kamu meragukan ku? atau kamu sedang meragukan dirimu sendiri?"
"Bukan seperti itu sayang.. Bim, sudah 3th lebih kita menikah"
"Lalu????" Bimo masih belum paham.
"Dan aku belum hamil Bim..." Mentari meneteskan air mata.
"Aku sudah 2th mengikuti program hamil, tapi tidak kunjung hamil juga. Hiiks... hiks... hiks..." Mentari terduduk di tepi tempat tidur dan menangis.
"Kamu terlalu memikirkan itu dengan keras. Kamu bisa stress, bukankah itu bisa mempengaruhi? apa selama ini aku memaksamu untuk hamil? sudahlah tidak usah di pikirkan" balas Bimo.
"Tapi aku ingin memberimu keturunan. Aku ingin memberikan cucu untuk papah, ibu dan bapak kamu. Aku ingin punya anak Bim" teriak Mentari sambil menangis.
"Aku lelah dengan semua ini, apalagi saat melihat teman-temanku yang lain anaknya sudah besar-besar, mulai sekolah, dll. Aku iri Bim, aku ingin seperti ibu-ibu lainnya" lanjut Mentari.
Bimo mendekati Mentari lalu memeluknya.
"Sudahlah.. jangan membuat beban pikiranmu sendiri. Itu sudah di atur oleh Tuhan. Jadi kalau sudah saatnya, Tuhan juga pasti akan memberikannya untuk kita".
Selama ini, Bimo memang tidak pernah menuntut apapun, termasuk soal keturunan. Karena baginya, itu adalah Rezeki dan titipan. Jika waktunya ia sudah di percayai oleh Tuhan, maka pasti akan di berikan. Namun berbeda dengan Mentari, sebagai wanita dan seorang istri, dia ingin sekali cepat memberikan anak untuk Bimo dan juga ia ingin merasakan menjadi seorang ibu.
--
Tak lama kemudian Reyhan keluar dari kamar mandi, menaruh handuknya lalu berjalan mendekati Rara.
"Mas ih.." Suara Rara terdengar sedikit kesal karena Reyhan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang dan menciumi lehernya.
Reyhan tidak menjawab dan tangannya mulai meremas bagian kesukaannya.
"Reyhan ih!" suara Rara mulai meninggi.
Reyhan masih tidak menjawab dan melanjutkan aktifitasnya.
"Reyhan!" Rara kesal.
"Apa sih... " suara Reyhan dengan nada menggoda.
"Kamu yang apaan. Tidak lihat aku sedang apa?" ujar Rara sambil memperlihat pakaian bersih yang sedang ia lipat.
"Suruh siapa kamu memakai baju seperti ini. Apalagi kalau bukan sedang menggodaku? jadi jangan salahkan aku kalau aku tergoda".
__ADS_1
Rupanya, Rara memakai lingerie, pakaian kesuakaan Reyhan.
"Gerah, mangkannya aku pakai ini" balas Rara.
"Heleh.. alasan." gerutu Reyhan lalu melingkarkan kedua tangannya lagi sampai ke perut Rara dan menjatuhkan dagunya di pundak Rara.
"Kamu kenapa sih?" lanjut Reyhan.
"Kenapa apanya?" Rara.
"Tanganmu sedang melipat baju, tapi matamu kosong. Apa yang sedang kamu pikirkan?" Reyhan.
"Mas"
"Hm?"
"Apa Mentari hamil ya?" Rara.
Rupanya Rara masih memikirkan saat bertemu Mentari di rumah sakit, dan melihatnya baru saja keluar dari ruang dokter kandungan.
"Mungkin. Memangnya kenapa kalau Mentari hamil? dia kan bersuami, wajar kalau hamil" jawab Reyhan.
"Tidak apa-apa sih.." balas Rara dengan suara pelan dan sedikit cemberut.
Reyhan langsung berdiri dan mengambil sisa pakaian yang sedang di pegang Rara, lalu memasukkannya ke dalam lemari dengan sembarangan.
Kemudian Reyhan mengangkat tubuh Rara hingga terlentang di tengah ranjang.
"Aku belum selesai merapihkan bajuuuu" teriak Rara.
"Bodoamat" balas Reyhan dan langsung menerkam Rara.
"Haha.... Reyhaaaaannn...." terdengar suara Rara bercampur tawa karena Reyhan yang mulai membuatnya merasa geli.
"Kamu ingin cepat hamil kan? ayo lakukan setiap malam dan pagi hari" seru Reyhan sambil terus menelusuri tiap lekuk tubuh istrinya.
"Apaaaa???!!! gila ya kamu???????"
"Bodoamat"
'Ah tidaaaaaaaakkkkkkk' Rara menjerit dalam hati.
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote kak😊
__ADS_1