Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 94 Mentari Cemburu?


__ADS_3

"Masuk duluan aja, nanti aku nyusul" ucap Bimo kepada Mentari.


Mentari tak menjawab apapun, dan langsung masuk ke dalam apartemennya. Sementara Bimo menghampiri Mia.


"Mia.. ada perlu apa sampai jauh-jauh ke sini?" tanya Bimo.


"Tidak apa-apa.. aku kebetulan habis ketemu klien deket sini, dan ingin mampir saja" jawab Mia.


Karena merasa tidak enakan, akhirnya Bimo mempersilahkan Mia masuk ke dalam apartemennya.


"Bagaimana pekerjaan mu sekarang Bim? apakah kamu nyaman di tempat baru?" tanya Mia yang duduk di ruang tv.


"Oh? baik, semuanya baik-baik saja dan sejauh ini aku masih merasa nyaman Mia" balas Bimo sambil membuatkan minum untuk Mia.


"Syukurlah kalau begitu"


Bimo datang dengan segelas minuman di tangannya kemudian memberikannya kepada Mia dan duduk berhadapan dengan Mia.


"Terimakasih.. sepertinya kamu baru balik dari kantor jam segini?" tanya Mia memperhatikan Bimo masih memakai kemeja dan dasi.


"Hah? i-iya.. ta-tadi habis ketemu Galih dulu" jawab Bimo asal nyeplos.


"Oh.... Mmm... tadi tetangga kamu ya?" yang di maksud Mia adalah Mentari.


"Hah??.. hehe" Bimo hanya tersenyum.


"Kamu udah makan Bim? kita keluar cari makan yuk" ajak Mia.


'Aduh... gimana nih? Mana mentari udah lagi masakain buat makan bareng' Bimo.


--


Setelah maghrib, Pak Santoso dan istrinya pamit untuk pulang, mereka di antar pak Udin dan nanti pak Udin kembali lagi ke rumah Reyhan. Papah dan Mamah menolak di ajak makan bersama karena mereka ada keperluan lain di luar.


"Bi Ina.. tolong siapkan makan malam ya" Reyhan.


"Baik Mas Reyhan.."


Reyhan pun naik ke kamar atas untuk mandi. Di susul Rara di belakangnya.


Reyhan sedang melepas pakaiannya dan hendak mandi, namun Rara duduk di tepi ranjang terlihat marah dan sedih.


"Kenapa sayang?" tanya Reyhan.


"Maksud kamu apa sih bawa pak Udin dan bi Ina tanpa sepengetahuan aku" ujar Rara kesal.


"Tadi pas kita lagi kontrol di rumah sakit aku memberi kabar sana Papah dan Mamah kalau kamu hamil. Terus papah langsung nawarin buat mindahin pak Udin dan bi Ina selama kamu hamil. Awalnya aku bilang nanti aku bahas dulu sama Rara, tapi tiba-tiba papah dan mamah langsung kesini" jelas Reyhan.


Rara tidak menjawab dan masih terlihat kesal.


Reyhan pun menghampiri Rara.


"Kenapa... kamu tidak suka?" tanya Reyhan.


"Kamu yang kenapa, kamu udah ga mau makan masakan aku lagi? kamu ga percaya aku bisa ngurus rumah?" Rara.


'Kenapa dia sekarang jadi sensitif banget sih' Reyhan.


"Bukan begitu Ra... aku selalu percaya kamu bisa mengurus semuanya. Hanya saja.. kamu kan sedang hamil. Bukan hanya aku, papah dan mamah tidak ingin kamu kecapean dan kenapa-kenapa karena itu pak Udin dan bi Ina membantu kita selama kamu hamil" Reyhan.


"Tapi kamu kan tahu.. aku tidak suka merepotkan orang lain Mas.."


"Tidak ada yang merasa di repotkan.. mereka pasti senang membantu kita di sini. Dari aku kecil, bi Ina yang bantu mamah ngurus aku di saat mamah dan papah ada pekerjaan di luar. Pak Udin dan Bi Ina juga sudah seperti orang tua kedua ku"


Rara mulai berkaca-kaca.


'Dia ini terlalu mandiri' Reyhan.


"Yasudah.. nanti aku bilang bi Ina, urusan dapur biar menjadi tugas khusus kamu, bi Ina hanya membantu membereskan rumah saja. Sudah dong jangan marah lagi" Reyhan mencium ujung kepala istrinya.

__ADS_1


Dan Rara pun mulai sedikit tenang.


Entah kenapa, semenjak hamil Rara memang sangat sensitif dan mudah marah.


Reyhan membuka kancing baju Rara satu-persatu.


"Apaan sih Mas.." Rara mencegah tangan Reyhan.


"Kamu belum mandi kan? ayok mandi bersama" ajak Reyhan lalu melanjutkan membuka kancing baju Rara.


Rara menghela napas dan hanya bisa pasrah menuruti keinginan suaminya.


--


'Kenapa wanita itu datang ke apartemen Bimo? apa mereka akan makan malam bersama?' Mentari.


BRAK!!! Mentari memukul meja dengan pisau yang sedang ia pegang.


'Kenapa aku jadi kesal begini!' gumam Mentari dengan napas yang mulai terengah.


Tok.. Tok.. Tok... Pintu apartemen Mentari berbunyi.


Mentari berjalan lalu membuka pintu tersebut.


"Eh Bim.."


Bimo hanya tersenyum melihat Mentari memakai celemek.


'Bagaimana ini, dia sudah memasak' Bimo.


"Kamu ke sini untuk bilang tidak jadi kan? tidak apa-apa aku bisa mengerti, lain kali kita bisa masak bersama, Ok?" ujar Mentari tetap ceria.


"Dia tamu ku jauh-jauh dari Jakarta kesini, aku akan mengantarnya pulang" balas Bimo.


"Oh ya tentu saja.. tidak baik perempuan pulang sendirian kan. Hati-hati ya...." Mentari masih mencoba tersenyum.


"Maaf..." suara Bimo pelan.


"Aku pergi dulu.."


"Ok"


Bimo melangkah pergi, Mentari menutup pintu.


'Hah! kenapa juga aku berfikir niat dia mengantar jemput ku hari ini dengan maksud untuk lebih, nyatanya dia memang baik ke semua orang. Kalau pun ada nenek-nenek di pinggir jalan, pasti dia juga ingin mengantar. Kenapa sih aku ini bisa-bisanya berfikir dia punya perasaan ke aku, dasar bod*h' gumam Mentari di balik pintu.


Mentari berjalan menuju dapur kembali.


'Aaarrggghhh... untuk apa aku masak sebanyak ini kalau cuma sendirian? menyebalkan! apa perlu aku bagikan semua ini ke seisi apartemen?!!! benar-benar menjengkelkan'


Mentari memandangi hasil masakannya yang sudah setengah jadi.


'huft... biar ku bungkus saja dan ku bawa pulang untuk papah' Mentari.


--


"Biar ku antar kamu pulang ya" ucap Bimo di dalam mobil.


"Tidak ingin makan dulu?" Mia.


"Mmm.. aku sudah makan Mia. Biar kita langsung pulang saja ya" Bimo menyalakan mesin mobil lalu pergi meninggalkan apartemen.


'Mentari marah tidak ya... kenapa aku takut dia marah?' Bimo.


--


Setelah makan malam, Reyhan dan Rara masuk ke kamar. Reyhan duduk bersandar di atas tempat tidur sambil memainkan laptopnya, sementara Rara duduk bersandar memperhatikan suaminya.


"Mas..."

__ADS_1


"Hm?"


"Apakah kamu sudah siap menjadi ayah?" tanya Rara.


Reyhan menghentikan mengetik dan memandang Rara.


"Memangnya kamu belum siap menjadi ibu?" tanya Reyhan kembali.


"Bukan belum siap.. aku hanya takut tidak becus mengurus anak" ujar Rara pelan.


"Jika kamu saja bisa menjadi istri yang baik, kenapa kamu tidak bisa menjadi ibu yang baik?" balas Reyhan.


Rara memandang wajah Reyhan.


"Aku yakin, setelah anak kita lahir, kamu lebih menyayanginya dari pada menyayangi ku" lanjut Reyhan.


"Reyhaaan.... sama anak sendiri kamu juga cemburu??"


"Haha.. bukan. Aku bisa mengerti itu, karena kamu seorang ibu. Daaann... sekalipun nanti kamu lebih menyayangi anak kita dari pada aku, aku tetap menyayangimu lebih dari diri aku sendiri" jelas Reyhan.


"iiisshhhh... gombal" Rara tersenyum.


Reyhan tertawa.


"Ayo tidur" ajak Rara.


"Tidurlah.. kamu harus banyak istirahat. Aku masih ada kerjaan" balas Reyhan.


"Maass..... ayok tidur" Rara mengulangi ajakannya.


"Kamu sedang menggoda ku? tadi kan udah pas mandi, mau lagi?" ejek Reyhan.


"Kamu juga harus istirahat. Di rumah itu waktu nya berkumpul dengan keluarga dan istirahat, bukan untuk bekerja. Matikan laptop mu, lanjutkan besok lagi di kantor" rayu Rara.


"Iya deh iyaaaa" Reyhan pasrah.


Reyhan mematikan laptopnya lalu meletakkannya di atas meja, sementara Rara mematikan lampu kamar.


"Selamat tidur sayang.."


"Mimpi yang indah Mas..."


Keduanya saling berpelukan, dan kemudian memejamkan mata.


--


"Kamu tidak ingin mampir ke rumah dulu?" tanya Mia ketika sudah sampai di depan rumahnya.


"Tidak Mia.. sudah malam, aku langsung pulang saja" jawab Bimo.


"Terimakasih ya Bim.. sudah mengantar ku pulang.." Mia.


"Terimakasih juga sudah mampir mengunjungi ku, Mia" Bimo.


--


Setelah mengantar Mia pulang, Bimo langsung kembali ke apartemen.


'Mentari sudah tidur belum ya' Bimo.


Tok.. tok.. tok...


Bimo mengetuk pintu apartemen Mentari. Namun tidak ada jawaban.


Tok.. tok... tok... Bimo mengulang. Masih tidak ada jawaban juga.


'Hmmm.. yasudah, mungkin dia sudah tidur' Bimo.


Akhirnya Bimo masuk ke dalam apartemennya sendiri. Dan memesan makanan secara online, karena ia merasa lapar dan memang belum makan malam sedari tadi.

__ADS_1


Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote🙏


__ADS_2