
Seperti biasa, Rara tidak pernah telat datang ke kantor. 06.30 Rara sudah tiba di parkiran. Ketika Rara sedang memarkirkan motornya, seseorang berjalan di depannya dan tertawa.
"Ra.. hebat hebat" ujarnya sambil mengacungkan dua jempol kepada Rara.
'apanya yang hebat? orang lagi markirin motor ko di bilang hebat, aneh' Rara.
Rara kemudian berjalan kedalam kantor dan menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai 2. Seseorang berjalan dari arah belakang bersama temannya dan mendahuluinya.
"Ra... kemaren kamu keren banget" ujarnya kemudian tertawa bersama temannya.
Rara hanya tersenyum meringis.
'Pagi ini, semua orang kenapa sih?' Rara heran.
Rara baru ingat bahwa kemarin dia menyiram seseorang saat makan di kantin dan saat itu juga banyak yang menyaksikan kejadian itu.
'Aduhhh maluuu bangeettt' Rara menciut malu.
--
Rara sedang bekerja di ruang kerjanya, dan telepon di atas mejanya berbunyi.
"Haloo??"
"Ra.. sedang sibuk?"
"Oh bu Septi, tidak terlalu bu, ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong ke ruangan saya, antar kan berkas ke lantai 5"
'Bukannya lantai 5 adalah ruangan pemilik perusahaan ya' Rara.
"Ok baik bu. Saya akan segera kesana"
--
"Semoga berhasil brooo" ujar seorang karyawan.
"Haha.. kali ini pasti dendamku terbayar" jawabnya.
--
Seorang laki-laki turun dari lantai 4 menuju lantai 2 sambil membawa sekotak hitam yang berpita di tangannya. Laki-laki menuju lantai 2 staff keuangan dan mencari ruang kerja Rara. Setelah menemukannya, terlihat ruang kerja Rara yang kosong tidak ada orang. Laki-laki itupun memasuki ruangan kerja Rara dan meletakkan kotak yang ia bawa diatas meja kerja Rara kemudian berjalan keluar ruangan.
"Reyhan???!" teriak Mora ketika hendak kembali keruang kerjanya karena habis ke kamar mandi tapi malah mendapati laki-laki itu keluar dari ruang kerja Rara.
Rupanya laki-laki itu bernama Reyhan.
"Oh hy Mor" jawabnya dengan salah tingkah karena kepergok.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Mora.
"Hah?? Mmmm ini.. Mmmm apa... Mmm.." Reyhan terbata.
"Am Em Am Em apaan sih" Mora.
"Habis ambil berkas keuangan, terus niatnya mau sekalian mampir ke ruanganmu, eh tapi kamu ga ada jadi yaudah mau balik lagi" ia beralasan.
__ADS_1
"Tumben ambil berkas sendiri, biasanya kan di anterin ke atas" jawab Mora.
Reyhan hanya tersenyum.
"Tadi aku habis dari ke toilet. Emang kenapa mau mampir ke ruanganku?" Mora.
"Hahh?!! gapapa hehe gajadi. Yaudah ku balik ke atas dulu ya, bye" Reyhan kemudian kabur.
'Apaan sih ga jelas' Mora.
--
Setelah Rara pergi ke ruang bu Septi dan mendapatkan berkas, Rara menaiki lift menuju lantai 5 dan mengantar berkas tersebut ke ruang sekretaris pemilik perusahaan. Setelah itu Rara kembali turun dan memasuki ruang kerjanya kembali.
Ketika sampai di dalam ruangannya, Rara melihat kotak hitam yang tidak terlalu besar dan di ikat pita putih yang cantik, sehingga terlihat seperti kotak kado.
'Siapa yang meletakkan ini di sini?' Rara memandangi kotak tersebut.
'Untuk Rara' sebuah tulisan di atas kertas kecil yang terselip di bawah kotak tersebut.
'Untuk aku? emangnya aku ulang tahun?' Rara.
Rara mencoba mengguncangkan kotak tersebut, menebak isi kotak tersebut dari suaranya. Namun tidak ada suara apapun tapi terasa sedikit berat karena Rara bisa merasakannya.
'Apaan ya' Rara.
Rara duduk di kursi kerjanya sambil berusaha membuka pita kotak tersebut dan perlahan membuka kotak tersebut.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" Rara benar-benar berteriak kencang bahkan mungkin satu kantor mendengarnya.
Kotak tersebut ternyata berisi 3 ekor cicak yang gemuk-gemuk dan menempel di sisi-sisi kotak. Maklhuk yang sangat di benci Rara. Dan ketika Rara membuka kotak tersebut salah satu cicak lompat ke arahnya dan menempel di kancing kemejanya. Sementara cicak yang lainnya kabur keluar kotak dan berlari ke kertas-kertas yang tergeletak di atas meja kerja Rara.
"Aaaaaa pergiii!!!!!" Rara terus berteriak dan menarik- narik kemejanya sendiri berusaha agar cicak yang menempel di tubuhnya lepas.
Bbrrrrrkkkkkkkkk!!!! ketika Rara mencoba berdiri kursi yang ia duduki terdorong sampai menabrak lemari.
"Jedugggggggg!!!!!" Rara terpeleset jatuh ke lantai dan kepalanya membentur tembok cukup keras.
Seketika semua terlihat hitam.
--
"Ra... Ra... Rara" Mora menepak lembut pipi Rara berharap Rara membuka matanya.
Rara perlahan membuka matanya, dan mendapati Mora duduk di sampingnya, Rara juga melihat beberapa karyawan berkumpul memperhatikannya yang sedang terbaring di atas sofa.
Tentu saja teriakan Rara yang kencang mengguncangkan isi kantor terutama lantai 2. Mora yang berada di samping ruangannya langsung melihat Rara dan ternyata Rara sudah tergeletak di lantai dengan keadaan pingsan. Karyawan lain pun langsung membantu menggendong Rara dan menempatkannya di sofa ruangan.
"Udah udah.. udah sadar, bubar bubar, kembali kerja lagi" ujar Mora membubarkan karyawan.
Ketika karyawan lain sidah kembali ke ruangan masing-masing, Mora berusaha membantu Rara untuk duduk.
"Kenapa bisa pingsan sih Ra...."
"Ayok Mor ke ruanganmu aja, malu aku di sini" jawab Rara.
Akhirnya Mora membantu Rara berjalan karena masih sedikit lemas dan mereka memasuki ruang kerja Mora. Mora duduk di kursi kerjanya sementara Rara duduk di depan Mora.
__ADS_1
"Kenapa sih Ra sebenernya ada apa kenapa sampe bisa pingsan?"
"Ada cicak di ruangan kerjaku Mor"
"Ya ampuuunnn... liat cicak sampe pingsan?"
"Bukan gitu, aku emang paling geli sama makhluk itu, tapi cicak itu ada kaya sengaja ada yang naruh deh"
"Raa... cicak itu bisa merambat kemana aja, mana ada orang kurang kerjaan naro cicak di ruanganmu"
"Tapi Mor... cicak itu ada di dalam kotak hitam yang di pitain, dan ada tulisannya buat aku, kotak itu ada di atas meja, pas aku buka isinya 3 ekor cicak terus lompat ke bajuku, mangkannya aku teriak, pas mau kabur malah kepeleset dan kebentur ke tembok" jelas Rara.
Mora hanya diam dan seolah sedang berfikir.
"Siapa ya Mor yang sengaja ngasih kotak itu?" lanjut Rara.
"Apa Reyhan ya?" ceplos Mora.
"Reyhan??" Rara bingung.
"Iya tadi pas kamu keruangan bu Septi, aku liat dia keluar dari ruanganmu. Tapi apa tujuan dia naruh kotak itu di mejamu" Mora masih berfikir.
"Reyhan itu siapa Mor?"
"Ra... jangan-jangan orang yang kamu siram waktu ituuu..." Mora terkejut dan tidak melanjutkan ucapannya, Mora mengambil hp kemudian mencari sesuatu di dalam hp nya.
"Ini bukan yang kamu siram?" Mora menjulurkan hp nya dan menunjukkan foto dirinya bersama seorang laki-laki di sampingnya.
"Iya Mor, dia orang yang ku siram"
"Raraaaaaaaaaa" Mora.
Epilog.
Setelah melihat Rara di parkiran bersama Mora waktu itu. Malamnya Reyhan pun menelfon Mora dan bertanya kepada Mora siapa gadis itu, dan Mora memberi tahu kalau dia adalah Rara, teman satu staff dan ruang kerjanya bersebelahan dengannya.
--
Reyhan menelfon bu Septi.
"Halo bu Setpi?"
"Halo Mas Reyhan, ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong antarkan berkas yang di minta pak Susanto (pemilik perusahaan) ke lantai atas dan kasih ke setretarisnya"
"Tapi pak Susanto kan masih belum kembali dari luar negeri? laporannya juga belum selesai mas"
"Sudah antar saja dulu seadanya, sekarang. Dan saya minta tolong yang mengantarkannya Rara saja"
"Harus Rara?"
"Iya".
Reyhan
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote sebagai dukungan untuk author agar author rajin untuk update🙏🥰