
Pagi harinya, Reyhan sudah selesai mandi dan berdiri di depan kaca memakai kemeja sambil melihat Rara yang masih terbaring di atas tempat tidur tanpa menggunakan busana apapun, hanya di tutupi selimut sampai bagian dada.
'Pakai nangis segala, apakah itu senjata wajib yang di pakai perempuan saat malam pertamanya? haha dasar...' Reyhan.
Karena Rara tak kunjung bangun, Reyhan memutuskan membuat sarapan sendiri di dapur, ia turun dan mencari roti dan selai coklat. Setelah roti sudah siap, Reyhan kembali naik ke kamarnya.
Terlihat Rara masih tertidur pulas. Reyhan duduk di sofa sambil memakan roti buatannya sendiri, dan tentunya sambil memandangi istrinya yang masih nyenyak di atas ranjang.
'Apakah peperangan semalam membuatnya begitu kelelahan? jam segini dia masih belum bergerak' Reyhan.
Kemudian Rara terlihat menggeliat sehingga membuat selimutnya tertarik hingga buah dadanya terlihat sebelah.
Reyhan memandanginya hanya berusaha menahan tawa.
'Ingin sekali aku mendaki gunung itu lagi, apa dia mencoba memancingku?' Reyhan.
Tak lama, Rara pun membuka matanya, mengedipkannya perlahan, lalu memandangi sekeliling berusaha mencari jam dinding. Namun yang ia lihat adalah Reyhan yang sedang memakan roti sambil duduk di atas sofa dan memperhatikannya.
Rara langsung menarik selimutnya lagi sampai ke dada, kemudian merubah posisinya menjadi duduk.
"Ngapain kamu di situ?" tanya Rara.
"Memandangi mu tidur" jawab Reyhan.
"Apa untungnya memandangiku tidur" gumam Rara pelan.
"Untungnya.. aku makin sayang sama kamu" jelas Reyhan.
Reyhan kemudian berjalan mendekati Rara dan duduk di tepi ranjang. Mengibas rambut Rara kebelakang yang panjang menutupi lehernya.
Rara langsung menghindar dengan menjauhkan badannya.
"Bentar aku mau lihat... " seru Reyhan kemudian melihat leher dan pundak Rara.
"Banyak juga bekas merahnya..." lanjut Reyhan.
"Iya ini kan ulah mu!" jawab Rara judes.
Reyhan tersenyum. "Apa mau mengulanginya pagi ini?" lanjutnya.
"Apa?!! tidak usah! lagian kamu harus berangkat kerja" tolak Rara.
'Gila apa, badanku saja masih terasa ngilu semua' Rara.
Rara menarik selimutnya dan melipatnya ke tubuhnya sendiri untuk melindungi diri dari terkaman Reyhan. Rara berdiri dan hendak melangkah menuju kamar mandi.
"Awwww!!!" namun tiba-tiba Rara kesakitan dan duduk kembali di tepi ranjang.
"Kenapa?" Reyhan yang di sebelahnya panik.
"Sakit Mas" Rara merintih.
"Mana yang sakit?!"
Rara hanya diam meringis menahan sakit.
Reyhan melihat di tempat tidur area Rara berbaring semalam, terlihat beberapa bekas darah sudah kering yang menempel di sprei.
"Apa masih berdarah?" tanya Reyhan sambil berusaha membuka selimut yang menutupi tubuh Rara.
"Jangan membukanya Mas, sudah tidak berdarah, cuma masih perih aja" Rara.
"Tidak usah malu, biar aku periksa. Lagian aku sudah melihat seluruh bagian tubuhmu semalam, kenapa masih saja malu?"
"Tidak perlu Mas.. aku tidak apa-apa..."
Reyhan menghembuskan nafas.
"Yasudah.. kuat jalan ga?"
__ADS_1
"Ku-kuat ko...."
"Kuat kok kesakitan" ujar Reyhan.
Akhirnya Reyhan membuka paksa selimut Rara lalu menggendongnya masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas.... turunin" Rara meronta.
"Apa perlu aku siapin air hangat untuk mu mandi?" Reyhan.
"Tidak perluuu..."
--
Tak lama Rara kemudian keluar dari kamar mandi, hanya berbalut handuk dan rambut yang basah setelah keramas. Terlihat Reyhan yang menunggu Rara di ujung ranjang. Rara berjalan pelan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.
"Kamu belum berangkat?" tanya Rara.
"Gimana, masih sakit? apa aku tidak usah berangkat ke kantor?" Reyhan.
"Aku tidak apa-apa Reyhan.." ujar Rara sambil membuka lemari mengambil pakaian.
Reyhan mendekat ke arah Rara dan memeluk Rara dari belakang.
"Sudah sana berangkat" suruh Rara.
"Kamu hari ini di rumah saja kan?" tanya Reyhan sambil menciumi pundak istrinya.
"Iya.. aku mau beres-beres rumah. Rumah mu kurang cantik, tata letak barang-barangnya tidak cocok. Tidak apa-apa kan aku rubah?" tanya Rara.
"Silahkan.. lakukan semau mu.. ini kan rumah untuk mu" ujar Reyhan masih menciumi Rara kini sudah merambat ke leher.
"Ya sudah... sana berangkat ini sudah hampir setengah 8, walau kamu bosnya, kamu jangan biasakan datang terlambat Mas" jelas Rara.
"Kamu yang membuatku terlambat" gurau Reyhan.
Reyhan akhirnya melepas pelukannya dan mebalik tubuh Rara untuk menghadap ke wajah nya.
"Iya...." Rara.
Reyhan mendaratkan bibirnya di bibir Rara, mengecup Rara sekejap lalu pamit berangkat kerja.
--
Sesampainya di kantor, hampir semua karyawan tersenyum melihat Reyhan. Mereka melihat wajah Reyhan yang benar-benar segar, jarang sekali melihat wajah Reyhan seperti itu, biasanya hanya terlihat wajah tampan namun judes dan nyebelin. Bagaimana tidak segar, Reyhan merasa sangat bahagia apalagi setelah melakukan malam pertamanya tadi malam.
Hampir seluruh karyawan mengucapkan selamat kepada Reyhan atas pernikahannya dengan Rara.
--
Siang hari menjelang jam istirahat, tiba-tiba Reyhan teringat Rara yang memakai Ringerie semalam, dia senyum-senyum sendiri membayangkan istrinya di dalam ruangannya. Dan kemudian Reyhan juga teringat Mentari, yang memberikan ringerie tersebut untuk istrinya.
'Dimana Mentari mendapatkan baju sekeren itu?' Reyhan.
Akhirnya Reyhan memutuskan menemui Mentari di cafe.
Mentari adalah salah satu teman seperjuangan Reyhan saat menempuh pendidikan S1. Reyhan bersahabat dengan Mentari dan Eri. Mereka bertiga mencoba merintis usaha bersama saat masih kuliah, yaitu membuka cafe di daerah Bekasi. Yang awalnya usaha itu di modali oleh Pak Santoso, ayah Reyhan. Tak menyangka, cafe itu berjalan lancar dan ramai sampai saat ini.
Namun karena setelah lulus kuliah Reyhan harus membantu ayahnya mengurus perusahaan, akhirnya Reyhan menjadi pasif dalam mengurus cafe tersebut. Eri juga harus melanjutkan sekolah bisnisnya di Singapura. Jadi hanya Mentari lah yang masih aktif mengurus cafe itu dan beberapa karyawan yang terpilih di pekerjakan oleh Mentari.
Namun sesekali Reyhan masih sering mengunjungi cafe itu, biasanya hanya seminggu sekali, atau dua minggu sekali, untuk melihat keadaan cafe dan membantu Mentari.
Siang hari Reyhan sudah tiba di cafe yang terletak di Bekasi tersebut. Cafe yang di berikan nama Meriju Cafe/Meriju Coffee. Meriju sendiri adalah sebuah gabungan antara nama Mentari, Eri, dan Juansar (nama bekalang Reyhan, Reyhan Putra Juansar).
Reyhan masuk ke dalam cafe dan terlihat Mentari sedang meracik kopi khas jari jemarinya.
"Sibuk buuu?" ledek Reyhan.
Mentari terkejut dengan kedatangan Reyhan.
__ADS_1
"Heyyy pengantin baruuu tumben kesini, ini kan belum hari minggu" balas Mentari.
"Duduk dulu nanti ku bawakan kopi kesukaan mu" suruh Mentari.
Kemudian Reyhan duduk di pojok ruangan cafe.
Tak lama Mentari kemudian datang membawa secsngkir Vietnam Drip kesukaan Reyhan dan sepiring burger yang tentunya favorite Reyhan.
"Gimana... Udah malam pertama belum?" ledek Mentari kemudian meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa di atas meja depan Reyhan.
"Sialan kau!" balas Reyhan.
"Hahaha gimana rasanya nikah?" tanya Mentari.
"Mantap!" gurau Reyhan.
Mentari hanya mengangguk-angguk.
"Kamu sana cepetan nikah.. ga bosen apa nge jomblo mulu dari jaman kuliah?"
"Nikah sama siapaaaa... sama kucing?" Mentari bercanda.
"Ya mangkannya cari pasangan dong, jangan sibuk ngurus cafe terus. Lagian kan udah ada karyawan lain, masih aja turun tangan" Reyhan.
"Tanganku gregetan kalo cuma diem" seru Mentari.
"Eri kan masih jomblo juga.. Cobalah ajak Eri ngobrol, dia juga kayaknya masih naksir sama kamu"
"Apaan sih! berapa kali sudah ke peringatkan, kalian itu sahabat ku semua, aku ga mau nikah sama salah satu dari kalian" jelas Mentari.
Reyhan tertawa.
"Eh btw... kado yang kamu beli untuk Rara, beli dimana?" tanya Reyhan berbisik.
"Hahahhaha... Rara sudah memakainya? bagaimana? pilihanku sangat membakar gairah kan?!" gurau Mentari.
"Emang ya kau ini.. soal mesum pinter" balas Reyhan bergurau.
"Heh.. gimanapun aku ini sudah hampir 25th" protes Mentari.
"Kau harus membelikan istrimu lingerie yang banyak, kalau perlu semua warna kau punya" ujar Mentari.
"Eh sialan! jangan kenceng-kenceng dong ngomongnya" seru Reyhan sambil melihat sekeliling takut ada yang mendengar dan malu.
"Upssss sorry sudah kebiasaan mulut ku ini volumenya susah di kontrol" Mentari menutup mulutnya.
"Kamu harus membuat istrimu terlihat seksi setiap malam, agar kalian bisa cepat saling mencintai dan juga agar hubungan kalian terus harmonis" bisik Mentari.
"Yasudah.. mangkannya aku tanya belinya dimana?"
"Mau aku antar kesana?" ledek Mentari.
"Hah?!! tidak usah! berikan alamatnya saja"
"Hahaha kau pasti akan membeli yang lebih parah dari yang aku beli ya? hahaha" Mentari terus tertawa dan mengejek Reyhan.
'Sialan nih bocah!' Reyhan.
Akhirnya Mentari pun memberikan alamat toko, dan setelah Reyhan menghabiskan burger dan kopinya, Reyhan segera ke toko untuk membelikan baju idamannya untuk Rara.
--
Di dalam ruang kerja, Bimo duduk menghadap laptopnya. Namun dia terlihat seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
'Gadis yang ku temui di acara pernikahan Rara waktu itu, kenapa wajahnya terus terbayang di ingatanku? apakah dia teman kerjanya Rara? atau sahabat SMA nya Rara? arrghhh.. kenapa aku jadi memikirkannya seperti ini?!' Bimo.
Mentari
__ADS_1
Terimakasih jangan lupa di like, share ke siapapun, dan juga vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update😊🙏