
Hari sudah malam semua orang pun pamit untuk pulang, mama Ratna dan papa Hendra tadi sebenarnya ingin menunggu Amanda namun Vero menyuruh mereka untuk kembali ke rumah saja besok baru datang.
Karena Vero merasa kasihan dengan orangtuanya kalau harus menunggu sang istri di sini.
Mama Ratna dan papa Hendra pun mengiyakan ucapan Vero sehingga mereka pun balik ke rumah.
"Kalau gitu kamu jagain Amanda ya," ucap mama Ratna khawatir.
"Iya ma."
"Kalau ada apa-apa telepon kami Ver," sambung papa Hendra dan mendapat anggukan dari Vero.
"Iya pa."
Kemudian mama Ratna dan papa Hendra pun pergi setelah Sahabat-sahabatnya yang pergi terlebih dahulu.
Saat semua orang sudah pergi hanya ada Vero yang menemani sang istri sendirian, dia tidak tega untuk meninggalkan Amanda sendirian sehingga Vero memilih menemaninya saja.
"Sayang kamu bangun ya," ucap Vero lirih dan terus mengajak sang istri berkomunikasi namun tetap saja tidak ada respon dari sang istri.
Vero pun tanpa sadar tertidur di samping ranjang sang istri dengan tetap menggandeng tangan sang istri mesra berharap dia segera bangun.
Hingga pagi pun Vero sudah bangun namun yang dia lihat masih sama, sang istri belum juga bangun dari tidur panjangnya.
Namun saat Vero akan beranjak tiba-tiba tangannya digenggam oleh seseorang siapa lagi kalau bukan sang istri, Vero yang melihat itu pun sontak melihat ke arah sang istri yang matanya mulai terbuka.
"Sayang, kamu udah bangun?" tanya Vero kaget.
Vero tidak bisa menahan senangnya dia pun berencana memanggil dokter sari untuk memeriksa keadaan sang istri.
Namun saat Amanda bangun dia teringat kejadian terakhir kali dimana Mita menendang perutnya hingga terasa sakit dan mengeluarkan darah.
Dengan refleks memegang perutnya yang sedikit sakit dan meraba seperti ada sesuatu yang hilang.
"Mas, baby-nya gak papa kan?" tanya Amanda mencari jawaban, namun di dalam matanya memancarkan harapan bahwa baby-nya tidak apa-apa.
"Allah lebih sayang baby-nya sayang," ucap Vero dengan menahan tangisan nya.
Amanda masih belum sadar dengan apa yang di ucapkan sang suami, dia pun kembali bertanya kepada sang suami.
"Maksudnya apa mas?"
"Baby nya tidak bisa diselamatkan sayang, dia di panggil Allah lebih cepat." ucap Vero dengan menahan kesedihannya.
Amanda yang mendengar itu pun di buat syok dan seketika meraba perutnya kembali mencari baby-nya yang kemarin masih ada diperutnya.
"Enggak, enggak mungkin." bantah Amanda tidak percaya dan meyakin bahwa sang suami sedang bercanda.
"Maafin aku sayang," ucap Vero meminta maaf.
"Enggakkkk enggakkk mungkin, baby aku masih hidupkan mas, kamu cuma bercanda kan?" tanya Amanda dengan berharap suaminya mengatakan iya.
"Maaf, sayang." ucap Vero.
Namun hanya kata maaf yang terucap dari mulut Vero, Amanda sendiri sudah berlinang air mata, sudah menangis dan menjerit sejadi-jadinya.
Vero tak tega melihat keadaan sang istri dia pun segera memeluk sang istri mencoba menenangkannya.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya sayang, mari kita lalui bersama," ucap Vero mencoba menenangkan sang istri.
Amanda masih saja menangis dan meminta bayinya untuk kembali.
"Sayang kembali ke mama nak!" ucap Amanda memohon.
Vero sangat tidak tega melihat hal tersebut dan terus memeluk sang istri hingga dia lebih tenang.
Sedangkan mama Ratna dan papa Hendra paginya berkunjung ke rumah sakit, namun saat akan membuka pintu kamar terdengar suara tangisan dan jeritan dari dalam kamar.
Mendengar hal suara itu membuat mama Ratna dan papa Hendra memilih untuk duduk di ruang tunggu depan kamar pasien.
"Pa," ucap mama Ratna lirih dan meneteskan air mata.
"Udah mama yang tenang ya, papa yakin Vero bisa menenangkan sang istri." ucap papa Hendra.
Papa Hendra pun memeluk sang istri dan mencoba menenangkannya meski dia juga sedih melihat sang menantu sedih.
Untuk orang tua Amanda sendiri kemarin malam sudah diberitahu soal kejadian tersebut, membuat mama Delima dan papa Bram langsung tancap gas menuju Jakarta.
Pagi hari mama Delima dan papa Bram sudah datang dan melihat besannya berada di depan kamar Amanda.
"Jeng Ratna," sapa mama Delima dengan wajah sedih dan ingin menangis.
"Jeng Delima," ucap mama Ratna.
Kemudian mereka pun berpelukan dan mami menumpahkan tangisannya di pelukan sang besan, begitu pula sang mama yang tak kuasa menahan tangisannya.
"Hen," sapa papa Bram.
"Bram," jawab papa Hendra.
Mereka samua ikut sedih dengan kondisi Amanda, dan mencoba menenangkan diri agar Amanda sendiri juga tidak drop.
Sedangkan di dalam Amanda sudah mulai tenang meski sesenggukan tapi dia cukup tenang.
Vero pun membaringkan sang istri agar beristirahat dengan baik.
Setelah memastikan sang istri sudah tenang Vero pun keluar, dia tahu bahwa orang tua mereka datang.
Saat Vero keluar semuanya pada berdiri dan menanyakan keadaan sang istri.
"Sayang bagaimana keadaan Amanda?" tanya mama Ratna tidak sabaran.
"Iya Ver, bagaimana keadaannya?" tanya mama Delima delima dengan khawatir.
"Amanda sudah cukup tenang, dia sekarang sedang istirahat dan Vero ini akan ke dokter Sari untuk menanyakan keadaan Amanda lebih lanjut." ucap Vero.
"Iya Ver." sahut papa Hendra.
"Buruan ke sana," balas papa Bram.
Vero pun segera menuju ke dokter Sari, dan untuknya dokter Sari memberikan respon yang positif dan memberitahukan kondisi Amanda yang sudah stabil meski ada sedikit trauma karena bayinya tidak ada.
Setelah mendapat jawaban Vero segera pergi dari ruangan dokter Sari dan memberitahukan keadaan sang istri kepada orang tuanya.
"Syukur kalau tidak terjadi apa-apa dengan Amanda, kamu harus bisa tenangin istri kamu ya Ver." sahut papa Hendra.
__ADS_1
"Iya pa."
Kemudian Vero pun masuk dan memberitahukan kepada sang istri bahwa orang tuanya datang menjenguk.
"Sayang, di depan ada orang tua aku sama kamu, kamu mau temuin mereka?" tanya Vero meminta izin kepada sang istri.
Amanda yang awalnya termenung pun tersadar dan melihat sang suami dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Amanda sangat ingin di peluk oleh sang mama, dia ingin menangis sejadi-jadinya kepada sang mama, karena mamanya sangat dekat dengannya sehingga saat seperti ini
Amanda sangat ingin di hibur oleh sang mama, Vero pun memanggil orang tuanya untuk masuk.
"Bagaimana Ver?" tanya mama Ratna.
"Boleh," jawab Vero singkat.
Mereka pun masuk dan melihat Amanda yang berbaring di ranjang dan melihat mereka, Amanda tidak bisa membendung air matanya saat melihat orang tuanya.
Mama Delima pun langsung menghampiri sang anak dan memeluknya.
"Ma," ucap Amanda lirih dengan tangisannya dan memeluk erat sang mama.
"Iya sayang mama di sini, kamu yang sabar ya tuhan sayang sama kamu dan bayi kamu." ucap mama Delima menguatkan sang anak.
"Iya ma."
Setelah cukup lama Amanda menangis di pelukan mama Delima dan mama Ratna, sedangkan para lelaki hanya melihatnya merasa sedikit lega karena Amanda sudah mulai tenang.
"Kamu udah makan?" tanya mama Delima.
Amanda hanya menggelengkan kepalanya karena dia belum makan sama sekali hari ini, mama Ratna yang mendengar hal itu pun langsung melihat ke arah Vero yang mengalihkan pandangannya.
Vero memang lupa untuk memberi sang istri makan karena dia khawatir dengan sang istri.
"Kamu ya, istri belum makan gak di kasih makan." protes mama Ratna kesal.
"Ya maaf ma, tadi Vero terlalu kalut."
Kemudian mereka pun tertawa, dan Amanda juga tertawa membuat semua yang di dalam ruangan merasa bahwa Amanda lebih tenang dan stabil.
Saat makanan sudah datang sang mama pun menyuapi Amanda dengan hati-hati, terkadang mama Ratna juga ingin menyuapi Amanda.
Amanda merasa senang karena dalam keadaan seperti ini orang tuanya selalu sayang padanya.
Dan Vero yang juga ingin menyuapi sang istri ditahan oleh maminya karena sudah lupa memberi makan kepada sang istri.
"Kamu di sana aja," sahut mama Ratna.
"Ih, mama mah gak seru." sahut Vero.
"Biarin."
Kemudian Amanda pun menghabiskan makanannya, dia harus segera sehat agar dia segera melihat makam sang bayi.
.
.
__ADS_1
NEXT.............................>