
Keesokannya Amanda bangun terlebih dahulu dan di susul oleh sang suami, Amanda dan Vero sudah rapi dan siap untuk berangkat bekerja.
Sebenarnya Vero tidak memperbolehkan Amanda untuk bekerja terlebih dahulu, tetapi Amanda menolak dengan keras dan juga tahu sendiri Amanda sangat keras kepala soal pekerjaan.
Karena baginya sangat melelahkan malah kalau harus berdiam diri terus di rumah, hal itu malah membuatnya tidak produktif dan malas-malasan.
"Sudah sayang?" tanya Vero dan mendapat anggukan dari Amanda.
"Udah mas."
Kemudian mereka pun turun dan berangkat menuju ke kantor.
Jangan lupa sekarang Amanda diantar oleh Vero dan tidak pak Ilham lagi, tapi Amanda tetap turun di pinggir jalan.
Saat sudah sampai Amanda segera turun dan menuju ke arah kantor, saat sampai di kantor dia melihat Risa yang menunggunya di depan kantor.
"Manda!" sapa Risa dengan teriak.
Amanda segera berlari ke arah Risa dan menghampirinya.
"Hai ris." sapa Amanda dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Hai, elo udah baikan Man kok masuk?" tanya Risa.
"Aku udah baikan kok tenang aja," jawab Amanda.
"Ya udah yuk masuk," ajak Risa.
"Yok."
Kemudian mereka pun masuk ke dalam kantor dan di ikuti Vero tak lama kemudian juga sampai di kantor, dia memelankan kendaraannya karena ingin melihat sang istri agar masuk ke kantor terlebih dahulu.
Saat Vero sampai kebetulan Angga juga sampai sehingga dia segera menyusul sang boss.
"Tuan Vero." sapa Angga.
"Iya ngga."
Kemudian mereka pun pergi menuju ke lantai presdir.
Saat akan masuk ke dam ruangannya Vero memerintahkan Angga untuk masuk ke dalam.
"Angga, habis ini kamu ke ruangan saya," sahut Vero.
"Baik tuan."
Saat itu Angga pun masuk setelah Vero masuk ke ruangannya.
"Kamu sudah mencari data yang saya suruh?" tanya Vero saat Angga baru saja masuk.
"Sudah tuan."
Kemudian Angga pun memberikan berkas tersebut kepada Vero, setelah itu Angga pun keluar dari ruangan tersebut dan Vero sedang membaca datanya.
"Jadi ini yang sudah mengeroyok istri seorang Vero Nahlu Pradikta dan melemparinya telur," sahut Vero sambil membuang kertas tersebut di tong sampah.
Vero sudah sangat marah sekali karena dia mempunyai karyawan yang sangat jelek dalam berperilaku.
^^^[Angga, segera panggil manajer operasional,] ucap Vero melalui telepon kantor.^^^
[Baik tuan.]
Tak lama kemudian manajer operasional yaitu pak vino pun datang dengan raut yang sangat takut.
__ADS_1
Saat pak vino menerima panggilan untuk ke ruang presdir, dia sangat gugup karena takut juga memiliki kesalahan.
Tok tok tok.
"Permisi pak." sapa pak vino.
"Duduk pak." kemudian pan vino pun duduk di sofa dan Vero menghampirinya.
"Ada apa ya pak?" tanya pak vino bingung karena dia di panggil.
"Pak vino, di divisi pak vino ada karyawan yang bernama Mita?" tanya Vero.
Pak vino pun bingung karena dia di panggil bukan karena masalah pekerjaan.
"I.... iya pak." jawab pak vino dengan gugup.
"Saya di sini cuma mau bilang untuk mengajarinya sopan santun dan menjaga sikap, saya dengar dia habis mengeroyok salah satu karyawan tim pemasaran."
"Apa!" sahut pak vino kaget dengan ucapan bos nya itu, dia tidak menyangka bahwa karyawannya ada yang seperti itu.
"Baik pak, akan saya nasehati."
Vero pun mengangguki nya dan menyuruhnya agar tepat janji.
"Saya minta pak vino untuk mengawasinya dan laporkan ke saya," ucap Vero.
"Baik pak."
Kemudian Vero pun memperbolehkan pak vino pergi.
"Kalau begitu bapak sudah boleh pergi," sahut Vero
Pak vino pun pergi dan kembali ke ruangannya, saat kembali ke ruangannya pak vino segera memanggil Mita untuk menemuinya.
"Mita, kamu segera ke ruangan saya!" sahut pak vino dengan nada kesal.
"Permisi pak."
"Masuk dan duduk!"
Kemudian Mita pun segera masuk dan di suruh duduk oleh pak vino, karyawan lainnya tadi juga melihat pak vino masuk dengan wajah yang menyeramkan seperi ingin membunuh orang ikut takut, karena tak biasanya pak vino marah.
Semua karyawan penasaran masalah apa yang membuat pak vino marah, karena semua karyawan tahu pak vino bisa marah kalau habis di marahi oleh pak Vero atau pak Hendra dulu.
"Mita, sebenarnya apa yang kamu lakuin?" tanya pak vino to the point.
"Maksud bapak?" tanya Mita balik karena tidak mengetahui permasalahannya.
"Asal kamu tahu ya, pak Vero tadi marahi saya karena kurang mengawasi kamu sebagai karyawan," ujar pak vino, Mita yang mendengar itu pun di buat tegang.
"Jangan-jangan pak Vero tahu kalau dia pernah menyakiti karyawannya" dalam hatinya.
"Kenapa pak?" tanya Mita pura-pura tidak tahu.
"Kamu masih tanya, itu semua karena sikap kamu."
"Maaf pak."
Mita hanya bisa menundukkan kepalanya tidak berani untuk mengangkat kepalanya.
"Saya harap kamu mengontrol sikap kamu," ucap pak vino.
"Baik pa akan saya renungkan segala tindakan saya."
__ADS_1
"Dan juga mungkin pak Vero juga akan memanggil kamu segera," tambah pak vino.
Mita seketika sangat tegang dan sekaligus takut dan bagaimana pak Vero bisa tahu, sedangkan Amanda yang sudah berada di mejanya pun segera mengerjakan tugasnya, meski banyak karyawan lain yang membantunya.
Untuk karyawan pemasaran sendiri mulai bisa menerima Amanda kembali, mereka menyerahkan semuanya kepada Amanda, jika dia ingin memberikan penjelasan ya silahkan, namun jika dia masih mau menutupinya juga silahkan.
Mereka berfikir semua orang punya privasi yang ahrus di tutup dan tidak bisa di umbar ke publik.
"Man, hari ini makan di luar yuk." ajak Risa dengan memohon.
"Kenapa gak ke kantin?" tanya Amanda dengan polos.
"Enggak, kemarin elo udah gak inget kejadian itu," sahut Risa mengingatkan kejadian di mana dia dilempar telur.
"Ya udah kita makan ke luar aja," balas Vero.
"Yey."
Kemudian mereka pun melanjutkan pekerjaannya hingga jam makan siang, Vero yang mendapat sang istri sepertinya tidak bisa makan bersama dia karena harus makan siang dengan sahabat-sahabatnya.
Vero pun merasa kesepian dan tidak bersemangat, namun dia pun menyuruh Ardi menemaninya makan lagi.
"Elo ya Ver, kalau butuh apa ke gue." ucap Ardi dengan melahap makanan yang di pesan Vero.
"Udah makan aja ngapa sih," sewot Vero.
"Huh." setelah itu mereka lanjut makan.
"Emang Amanda kemana sih?" tanya Ardi.
"Katanya sih dia sudah janji makan siang sama sahabat-sahabatnya," jawab Vero.
"Oh iya, Risa tadi juga izin gitu." ucap Ardi dengan wajah cemberutnya.
"Oh ya Ver, gimana soal Mita?" tanya Ardi.
"Gue udah peringatkan sama pak vino untuk lebih memperhatikan karyawannya," jawab Vero.
"Terus?" tanya Ardi penasaran.
"Gue mungkin bisa aja mecat dia, tapi Amanda terus menghalangi untuk mecat Mita," sambung Vero.
"Ya udah, semoga aja nanti pilihan elo baik." ucap Ardi dan mendapat anggukan dari Vero.
Sedangkan Amanda dan yang lainnya sedang asyik menyantap makanan yang mereka pesan.
"Eh, gue denger tadi pak vino marahi Mita," ucap Anggi.
"Kenapa?" tanya Risa dan Amanda bersamaan.
"Gue juga gak tahu sih, gue cuma denger dari karyawan operasional lainnya tadi waktu ke toilet."
"Jangan-jangan gara-gara kemarin waktu elo di keroyok Man," sahut Risa.
"Mungkin," balas Anggi.
"Udah gak usah gosip kenapa," sahut Amanda.
Kemudian mereka pun melanjutkan makan siangnya dan berbincang-bincang tipis sambil menunggu waktu makan siang habis dan kembali ke kantor.
Setelah sampai di kantor lagi, Amanda tetap fokus dengan berkasnya dan dia sesekali bolak balik ke toilet karena masih merasa mual, namun tidak separah awal kehamilannya.
.
__ADS_1
.
NEXT.............................>