
Amanda cukup terkejut saat dia masuk ke ruangan sang suami, ternyata ada wanita lain yang sedang asyik memeluk sang suami.
Amanda pun keluar dari ruangan tersebut karena tidak ingin mengganggu mereka berdua.
Saat Amanda keluar mbk Ida dan juga Angga sudah melihatnya dengan ketar ketir karena ekspresi yang ditunjukkan Amanda sangat lah suram.
"Amanda, kamu gak papa kan?" tanya mbk Ida sok tidak tahu.
"Aku gak papa kok mbk," ucap Amanda kemudian pergi meninggalkan lantai tersebut.
Rasanya ingin sekali Amanda teriak dan marah kepada sang suami, bagaimana bisa dia dengan mudahnya berpelukan dengan seorang wanita dan dari tampangnya juga cantik dan seksi.
Sedangkan Vero yang melihat sang istri datang pun terkejut pasalnya Amanda melihat dia sedang berpelukan dengan Rebecca, dia berani bersumpah kalau dia tidak ada hubungan apapun dengan Rebecca.
"Sayang," panggil Vero saat melihat Amanda keluar dari ruangannya.
Vero terus saja mengejar Amanda, namun Amanda tetap saja menghindarinya dan masuk ke dalam mobil tanpa melihat sang suami sama sekali.
Rasanya Vero ingin sekali marah karena gara-gara hal seperti ini dia harus bermasalah dengan sang istri.
Vero pun mengendarai mobilnya dan mengejar mobilnya, sesekali ia menelepon pak Ilham yang menyetir mobil tersebut untuk berhenti, namun belum sempat berbicara dari sambungan sana sudah di putus pasti itu kelakuan Amanda.
Sedangkan Amanda yang berada di mobil merasa sangat kesal dengan kejadian tadi yang membuat matanya panas melihatnya.
Namun setelah ia pergi dengan mobil yang di kemudikan pak Ilham, tiba-tiba telepon pak Ilham berbunyi dan melihat di kontak itu adalah Vero sang suami, Amanda pun segera mengambil telepon tersebut dan mematikannya.
"Nyonya Amanda, itu tadi tuan Vero." sahut pak Ilham memberitahu.
"Iya, saya tahu pak."
Setelah Amanda mengucapkan hal itu dengan wajah datarnya, pak Ilham tahu kalau tuan dan nyonya ya ini sedang bertengkar, sehingga pak Ilham memilih untuk diam tidak melanjutkan ucapannya.
"Pak sekarang kita ke rumah saya ya," ucap Amanda memberikan perintah.
"Maksudnya?" tanya pak Ilham bingung.
"Sekarang kita ke rumah saya yang dulu, rumah orang tua saya." jawab Amanda.
"Ba.. baik nyonya."
Setelah itu pak Ilham pun mengantarkan Amanda ke rumahnya yang dulu ia tempati dengan orangtuanya.
"Pak, sekarang saya mau ke dalam dulu. Pak Ilham boleh pulang nanti kalau saya akan pulang saya kabari!" sahut Amanda.
"Tapi nyonya," ucap pak Ilham bimbang harus seperti apa.
"Pak saya mohon, saya ingin menenangkan pikiran saya terlebih dahulu dan saya mohon jangan beri tahu mas Vero kalau saya di sini!" perintah Amanda.
Akhirnya pak Ilham pun pasrah dan mengiyakan permintaan istri tuannya tersebut.
"Baik nyonya."
Kemudian Amanda segera keluar dari mobil tersebut dan masuk ke dalam rumah, sedangkan pak Ilham kembali ke mansion Vero.
Saat Vero pulang dia tidak melihat keberadaan sang istri di rumah, dengan wajah kesal dan marah dia segera memanggil mbok Yem untuk bertanya dimana keberadaan sang istri.
"Mbok Yem!" panggil Vero.
__ADS_1
Mbok Yem segera muncul saat di panggil, dia sangat ketakutan karena mbk Yem tahu kalau tuannya itu sedang marah besar.
"Iya tuan."
"Dimana Amanda?" tanya Vero tanpa basa basi.
Mbok Yem pun bingung seketika karena bukankah nyonya nya itu pergi ke perusahaannya.
"Bukankah nyonya Amanda pergi ke perusahaan tuan," jawab mbok Yem.
"Apa! Jadi Amanda belum pulang?" tanya Vero.
"Iya tuan."
Seketika Vero pun meledakkan emosinya dan membanting beberapa gelas kaca yang berada di dekatnya, mbok Yem serasa ngeri melihat kejadian tersebut tepat di depan matanya.
"Panggilkan pak Ilham!" perintah Vero.
Pak Ilham yang baru saja kembali dari mengantar Amanda ke rumahnya di buat ketar ketir saat dia di panggil oleh tuannya.
"Tuan panggil saya?" ucap pak Ilham dengan wajah ketakutan.
"Dimana istri saya?" tanya Vero to the point.
"Sa.. sa.. saya tidak tahu tuan." Jawab pak Ilham.
"Pak Ilham, saya tanya sekali lagi dimana istri saya?" tanya Vero dengan nada menekan.
"Nyonya Amanda tidak memperbolehkan saya untuk memberitahukannya tuan," ujar pak Ilham dengan ketakutan.
"Di sini siapa bosnya?" tanya Vero.
"Kalau begitu segera beritahu saya di mana keberadaan Amanda kepada saya," ucap Vero penuh penegasan.
"Ba.. baik tuan."
Pak Ilham pun akhirnya takut juga dan mau memberitahukan keberadaan Amanda kepada sang majikan.
"Di mana dia?"
"Tadi nyonya Amanda menyuruh saya untuk mengantarnya ke rumahnya yang dulu tuan," ucap pak Ilham.
Setelah mendengar hal tersebut Vero segera mengambil kunci mobil dan melajukan kendaraannya ke rumah tersebut, namun Vero tidak tahu kalau sebenarnya Amanda sudah pergi dari rumah tersebut.
Sebenarnya saat pak Ilham baru saja pergi Amanda segera menelepon mama mertua nya untuk meminta bantuan.
Dreeettt Dreettt
[Halo, sayang ada apa?] tanya mama Ratna.
^^^[Mamaa,] sahut Amanda dengan tersedu-sedu.^^^
[Sayang kamu kenapa?] tanya mama Ratna khawatir dengan keadaan sang menantu.
^^^[Ma, Amanda mohon bantu amanah kali ini saja,] sahut Amanda.^^^
[Iya.. iya sayang pasti mama bantu! Sekarang kamu di mana?]
__ADS_1
^^^[Sekarang Amanda di rumah yang dulu ma.]^^^
[Iya, sekarang mami ke sana!]
Setelah mengucapkan kata itu telepon pun terputus dan mama Ratna segera menjemput sang menantunya.
Saat sampai mama Ratna pun segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, saat masuk mama Ratna melihat sang menantu sang sedang menangis di pojokan kamarnya.
"Astaga sayang kamu kenapa?" tanya mama Ratna dengan segera menghampiri sang menantu.
"Mama," saat tahu mama mertua nya sudah datang, Amanda pun memeluknya dengan erat.
"Sekarang kita pergi ya," ajak mama Ratna dan Amanda pun menganggukkan kepalanya.
Mama Ratna pun menuntun sang menantu untuk masuk ke mobil dan mami yang menyetir, mami memang menyetir sendiri ke sini karena sangat takut terjadi apa-apa dengan Amanda
Saat Amanda sudah mulai tenang mami pun bertanya dengan Amanda.
"Ada apa sayang?" tanya mama Ratna dengan tetap melajukan mobilnya.
"Ma, Amanda tadi ke kantor terus tadi lihat mas Vero sedang berpelukan mesra dengan seorang wanita seksi." Amanda berkata dengan matanya yang kembali memerah.
"Apa!" Mama Ratna pun syok dengan penuturan sang menantu.
"Kamu tidak salah lihat sayang?"
"Enggak ma, makanya Amanda ingin sekali pergi ma dari sini. Amanda rasanya sesak sekali berada di sini ma." Amanda berbicara lagi dengan air mata yang sudah tumpah keluar dengan memegang dadanya yang serasa sesak.
"Sayang kamu tenang ya, mama akan bawa kamu pergi sayang," sahut mama Ratna tak tega melihat sang menantu seperti ini.
"Sekarang mending kita ke rumah mama ya, kita bicara dengan papa juga."
Amanda pun menganggukkan kepalanya dan menyetujui ucapan sang mama.
Setelah sampai mama Ratna pun segera memanggil sang suami untuk berdiskusi lebar kali panjang tentang masalah Amanda dan Vero.
Setelah berdiskusi papa Hendra pun menyetujui untuk membawa Amanda pergi dari sini dan memberi pelajaran untuk Vero.
"Baik, kalau begitu papa setuju."
"Kamu yang sabar ya sayang, tapi mama mohon jangan pisah dengan Vero ya."
"Ma." sahut papa Hendra.
"Iya, iya pa."
Setelah itu mama Ratna dan papa Hendra pun membawa Amanda pergi jauh dari kota ini menuju ke kota yang sedikit terpencil, dan jangan tanya lagi mama Delima dan papa Bram juga tahu tentang kepergian sang anak dari rumah Vero.
Mbok Yem juga diberitahukan tentang kepergian Amanda, namun di suruh untuk tetap diam dan di suruh untuk menjaga Vero di saat Amanda tidak ada di sana.
Sedangkan Vero yang menuju ke rumah tersebut di buat hampa karena tidak menemukan satu sosok pun di sana, dia pun kembali ke rumahnya dengan langkah gontai dan pakaian berantakan seperti seorang pengemis.
"Tuan, makan malam sudah siap." sahut mbok Yem, namun Vero malah pergi ke atas dan tidak memperdulikan ucapan mbok Yem.
Mbok Yem pun merasa kasihan dengan tuannya, namun dia juga harus menjaga rahasia tersebut.
.
__ADS_1
.
NEXT.............................>