
Setelah pemeriksaan dokter Sari pun memberitahukan kabar bahagia.
"Bagaimana dok hasilnya?" tanya Vero setelah pemeriksaan sang istri.
Amanda pun sudah kembali ke tempat duduknya dan dokter sari pun berkata.
"Selamat Vero." ucap dokter Sari sambil menjabat tangan Vero.
"Maksudnya dok?" tanya Vero bingung karena dokter Sari memberinya selamat tanpa tahu maksudnya.
"Selamat kamu akan menjadi seorang ayah," ujar dokter Sari membuat Vero dan Amanda sama-sama tak percaya dan terdiam beberapa saat.
"Jadi maksud dokter?"
"Iya kamu akan jadi seorang ayah," ucap dokter Sari sekali lagi.
Vero tiba-tiba melihat sang istri yang sudah menangis bahagia.
"Terima kasih sayang." ucap Vero sambil memeluk sang istri.
"Iya mas."
"Untuk perkiraan umur ini sekitar lima minggu jadi kondisi bayi masih rentan," ucap dokter Sari.
"Baik dok." balas Amanda.
"Kondisi sang ibu dan janin sekarang sangat baik sekali tapi dikurangi makan pedasnya ya dan makanan yang kurang bergizi," sahut dokter Sari.
"Baik sok." jawab Feysa merasa tersindir.
"Tuh denger sayang."
"Iya mas."
Dokter sari pun memberi resep obat seperti vitamin dan lainnya untuk Amanda dan meminta agar menjaga kandungannya dan tidak terlalu capek.
"Baik dok." ucap Amanda.
"Terima kasih dok." sahut Amanda selanjutnya.
Kemudian Amanda dan Vero pun berpamitan untuk pulang.
"Kalau begitu kami permisi dulu dok," pamit Vero.
Mereka pun keluar dari ruangan tersebut dan segera ke klinik untuk membeli obat-obatan yang diresepkan dan membeli beberapa alat tes kehamilan untuk memastikan.
Setelah itu mereka pun kembali ke mansionnya, saat sudah sampai mansion ternyata mama Ratna masih ada di sana, Vero dan Amanda pun berencana untuk memberitahukan kabar bahagia itu kepada mama.
Vero tadi sudah memberitahukan kepada dokter Sari agar tidak memberitahu kabar ini kepada orang tuanya biar Amanda dan Vero sendiri yang memberitahukannya.
Dokter Sari pun mengiyakan keinginan tersebut dan merahasiakan dari sang mama.
"Kita kasih tahu mama aja sayang habis ini," ucap Vero.
"Iya mas."
"Ya udah yuk turun," ajak Vero.
Mereka pun turun dari mobil dan menuju ke dalam mansion, ternyata di sana sudah ada papa Hendra juga yang sudah selesai pertemuan.
"Papa di sini?" tanya Vero saat melihat sang papa.
"Iya, tadi habis bertemu sama temen terus mami telepon katanya kamu sama Amanda ke rumah sakit."
"Iya pa."
"Gimana sayang kata dokter?" tanya mama Ratna kepada sang menantu penasaran dan menghampirinya.
"Cuma maag aja kok ma." sahut Vero.
Amanda pun bingung harus jujur atau bagaimana karena dia tidak pandai berbohong.
Dari raut mama nya bisa pasti kecewa karena tidak sesuai harapan.
"Mama kenapa kok sedih gitu?" tanya Amanda kepada sang mama mertua.
"Enggak kok sayang."
"Ya udah Amanda biar istirahat aja dulu ya ma Pa." pamit Vero membawa sang istri pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Saat sudah sampai kamar Amanda segera mengomeli sang suami karena telah berbohong kepada sang mama.
"Kamu ya mas gak baik bohong apa lagi sama orang tua," marah Amanda.
"Iya maaf sayang."
Kemudian Vero pun meminta sang istri untuk tes kehamilan agar nanti bisa diperlihatkan ke mama dan papanya.
"Sayang gimana kalau kamu tes kehamilan nanti baru kasih tahu mama dan papa," ucap Vero dan di angguki oleh Amanda.
"Boleh tuh mas."
Kemudian Amanda pun melakukan tes kehamilan dengan alat yang sudah ia beli tadi di apotek.
Saat hasilnya sudah keluar Amanda pun memberitahukan kepada sang suami.
"Mas, ini udah keluar hasilnya."
"Udah?" tanya Vero dan di angguki oleh Amanda.
"Udah aku bersihin juga."
"Ya udah turun yuk," ajak Vero.
"Iya mas."
"Nanti kamu aja yang kasih ini ke mama biar seneng," ucap Vero dan mendapat persetujuan dari sang istri.
Amanda pun berjalan dibelakang sang suami dengan Vero menggandeng tangan Amanda
"Loh katanya mau istirahat," ujar mama Ratna saat melihat Amanda dan Vero turun kembali.
Amanda dan Vero pun duduk terlebih dahulu sebelum memberitahukan berita bahagia ini.
"Sebenarnya Amanda mau ngomong," ucap Amanda.
"Ada apa sayang?" tanya mama Ratna.
Kemudian Amanda pun memberikan sebuah kota kado yang isinya adalah hadiah untuk mama Ratna dan papa Hendra.
Mama Ratna dan papa Hendra sama-sama penasaran dengan isi kado tersebut, mama Ratna pun membuka kado tersebut dan menampakkan alat tes kehamilan.
"Apa ini?" tanya mama dan memegang kado tersebut.
"Iya ma."
"Aaaaa," teriak mama Ratna tak percaya dengan yang ia alami sekarang.
"Selamat sayang" ucap papa Hendra kepada Vero dan Amanda.
"Iya pa." jawab Vero dan Amanda bersamaan.
"Kan benar firasat mama tadi," ucap mama Ratna senang sekali.
"Iya ma." jawab Amanda.
"Apa kata dokter sayang?" tanya mama Ratna penasaran tentang pemeriksaan tadi.
"Berapa minggu?" lanjut mama Ratna lagi.
"Mama satu-satu tanyanya, kan Amanda bingung mau jawab yang mana," sahut Vero membuat sang mama diam dan cemberut.
"Kata dokter usia janin udah memasuki minggu ke lima ma dan kondisinya juga alhamdulillah baik," jawab Amanda.
"Wah udah lima minggu aja," ujar mama Ratna dengan muka antusias.
"Besok kita jalan-jalan cari baju bayi ya." ajak mama Ratna ke menantunya.
"Astaga ma ini masih baru lima minggu, kita juga belum tahu jenis kelaminnya," sahut Vero dan di angguki oleh Amanda dan papa Hendra.
"Iya ma." lanjut Vero.
"Bener kata Vero ma, pamali katanya." sahut papa Hendra.
Mama Ratna pun menuruti ucapan sang anak dan menantunya, setelah berbincang-bincang cukup lama dan waktu semakin sore mama Ratna dan papa Hendra pun berpamitan untuk pulang.
"Kalau gitu mama sama papa pamit dulu ya sayang," pamit mama Ratna.
"Iya ma." balas Amanda.
__ADS_1
"Jaga cucu mama ya sayang."
"Iya ma." balas Amanda.
Kemudian mama Ratna dan papa Hendra pun pergi meninggalkan mansion mereka, Vero dan Amanda pun masuk ke dalam dan duduk di sofa.
Vero pun mulai mengelus-elus perut sang istri dan sesekali berbicara dengan anaknya yang masih di dalam perut.
Karena dokter Sari menyuruhnya untuk aktif berbicara dengan anak yang masih dalam kandungan agar terjalin chemistry yang kuat antara orang tua dan anak nantinya.
"Mas geli tahu," ucap Amanda karena sang istri selalu memegang perutnya.
"Bentar sayang," ucap Vero dan mencium perut sang istri setelah itu bangkit dari tidurnya dan duduk di samping sang istri.
"Astaga mas aku harus kabarin mama sama papa," sahut Amanda lupa belum memberi kabar kepada mama Delima dan papa Bram di Bandung.
Amanda pun video call mama dan papanya.
^^^[Halo ma pa.]^^^
[Halo sayang.]
^^^[Lagi ngapain?]^^^
[Ini lagi di rumah.]
[Vero di mana?] tanya mama Delima.
^^^[Ini.] ^^^
Amanda pun mengarahkan kameranya agar sang mami bisa melihat menantunya.
^^^[Kok rame banget sih ma?] tanya Amanda karena sangat berisik di sana.^^^
[Iya, Ini ada kakakmu.]
^^^[Kak Dimas ma?]^^^
[Iya.]
[Halo dek, Ver.] sapa kak Dimas.
^^^[Halo, Kak.] jawab Vero dan Amanda bersamaan.^^^
^^^[Oh ya ma pa aku mau ngasih tahu sesuatu,]^^^
[Apa sayang?] tanya papa.
[Kak Dimas juga boleh gabung ma,]
[Ada apa sayang?] tanya mama Delima penasaran.
Amanda pun menunjukkan hasil tes kehamilannya kepada keluarganya, begitu terkejut mama hingga meneteskan air mata.
^^^[Mama jangan nangis dong,] sahut Amanda dari sebrang sana.^^^
[Mama bahagia sayang selamat ya,]
[Iya ma.]
[Selamat sayang.] ucap papa.
[Selamat dek.] ucap kak Dimas yang ikut bahagia.
Setelah berbincang-bincang sedikit Amanda pun mengakhiri video call tersebut.
Setelah itu Vero pun segera memeluk sang istri yang sudah menangis dari tadi karena ikut menangis dari sang mama tadi.
"Udah jangan nangis ya," ucap Vero menenangkan sang istri.
"Iya mas."
Amanda pun berusaha agar tidak menangis dan mencoba tenang, Amanda sangat bersyukur karena dia diberi kepercayaan oleh Allah untuk dititipkan sebuah nyawa di rahim.
Sebelumnya dia sangat khawatir tidak bisa memberi keturunan kepada sang suami karena sudah hampir 6 bulan tetapi dia belum juga hamil.
Ternyata tuhan memiliki rencana yang lebih indah dari yang hambanya inginkan.
.
__ADS_1
.
NEXT.............................>