
Karena khawatir Vero pun menyusul sang istri ke kamar mandi, namun karena Vero teringat akan ucapan sang istri dia pun segera kembali ke ruangannya.
Sedangkan Amanda setelah dari toilet dia segera kembali juga ke ruangannya, saat dia kembali keruangan Risa sudah menunggunya dengan penuh tanya.
Manda elo gak papa?" tanya Risa khawatir.
"Aku gak papa kok ris tenang aja," sahut Amanda .
"Muka elo pucet banget Manda," ucap Risa
.
"Gue gak papa kok ris."
"Elo dari tadi ke toilet terus man?" tanya Risa.
"Aku cuma sakit biasa aja kok karena telat makan," jawab Amanda.
Amanda belum siap memberitahu temannya satu ini karena di sini banyak orang, rencananya Amanda ingin memberitahu Risa saat sepi dari para karyawan.
Risa pun kembali ke mejanya dengan rasa khawatir karena melihat wajah Amanda sudah pucat.
Amanda melanjutkan pekerjaannya sampai tiba waktu istirahat, karena Amanda merasa tubuhnya sangat lemah dia tidak berniat beranjak dari tempat duduknya.
"Amanda ke kantin yuk," ajak Risa.
"Aku di sini aja ris," jawab Amanda
Risa pun memaklumi karena temannya ini seperti sedang sakit.
"Ya udah kalau gitu nanti kalau balik aku bawain makanan," sahut Risa dan di angguki oleh Amanda.
Tak berapa lama pak Ardi keluar dari kantornya dan melihat Amanda yang masih berada di ruangan sendirian.
"Kamu gak ke kantin Man?" tanya pak Ardi melihat Amanda hanya duduk saja.
"Enggak pak." jawab Amanda.
"Astaga Amanda muka kamu kok pucet banget sih," ucap pak Ardi.
"Saya enggak apa-apa kok pak," sahut Amanda.
"Beneran?"
"Iya pak."
Kemudian Ardi pun pergi meninggalkan Amanda dan menuju ke ruangan Vero karena sudah dipanggil.
Vero sedang berada di ruangannya dan sedang fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba pintu kantornya terbuka dan menampakkan Reza dan juga Haikal masuk ke dalam ruangannya.
Memang tadi pagi Vero menyuruh sahabat-sahabatnya untuk datang ke kantornya.
Tinggal Ardi yang belum sampai mungkin dia sedang sibuk.
"Hai Ver." sapa Haikal dan mendapat anggukan dari Vero.
"Ngapain elo panggil kita untuk ke sini?" tanya Reza.
"Tunggu Ardi aja dulu," ujar Vero.
Karena lama tak terlihat mungkin karena sekarang belum jam istirahat meski cuma 5 menitan lagi.
Vero pun menghubungi Ardi dan menyuruhnya untuk datang ke sini dan Ardi pun mengiyakannya.
Tak berapa lama Ardi pun sampai dan masuk ke ruangannya.
"Ada apa nih?" tanya Ardi juga karena Vero memanggilnya.
"Gue mau bicara sama kalian semua," ucap Vero.
__ADS_1
"Ada apaan?" tanya Reza penasaran.
"Soal Amanda," lanjut Vero membuat Ardi teringat bahwa istri sahabatnya tadi sangat pucat takutnya dia sakit.
"Oh Iya gue baru ingat, tadi gue lihat Amanda sangat pucat Ver." sahut Ardi membuat Vero berdiri seketika.
"Apa!"
"Iya, tadi gue lihat Manda lemes banget terus gue juga denger dari karyawan lainnya kalau Amanda dari tadi bolak balik toilet," sahut Ardi panjang lebar membuat Vero tidak tenang.
"Astaga ini yang mau gue sampaikan ke kalian semuanya, kalau Amanda sekarang itu lagi hamil," ucap Vero membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut diam seketika.
"Apa! Hamil." sahut Ardi dan mendapat anggukan dari Vero.
Vero kemudian mengambil handphonenya dan menghubungi sang istri.
Amanda yang sedang istirahat di mejanya pun sontak melihat handphonenya yang berdering dan menampakkan nama sang suami di layarnya.
^^^[Halo.] sapa Amanda.^^^
[Halo, Sayang.]
^^^[Kenapa? Mas.]^^^
[Kamu ke ruangan aku ya,] ucap Vero.
^^^[Gak usah mas.]^^^
[Enggak, Mbk Ida sebentar lagi akan jemput kamu.]
^^^[Iya.]^^^
Kemudian Amanda pun menutup teleponnya dan menunggu kedatangan mbk Ida, karena dia sendiri sudah merasa lemas untuk datang ke ruangan sang suami sendirian.
Vero kemudian meminta mbk Ida untuk menjemput sang istri di ruangannya, sementara Reza, Haikal dan Ardi sedang mengumpulkan nyawanya kembali akibat kabar sang sangat mengejutkan tersebut.
"Kalian kok diam aja?" tanya Vero melihat teman-temannya tersebut diam.
"Sialan elo."
"Selamat, bro." ucap Ardi dan yang lainnya memberi selamat.
"Thanks."
Sedangkan mbk Ida sedang menjemput Amanda yang berada di ruangannya, saat sampai mbk Ida melihat Amanda yang terduduk lemas di kursinya sambil menidurkan kepalanya.
"Manda." sapa mbk Ida membuat Amanda melihat ke arah mbk Ida.
"Mbk Ida."
"Astaga kamu pucet banget Manda."
"Amanda gak papa kok mbk,"
"Yuk Amanda kita ke ruangan pak Vero," ajak mbk Ida dan di angguki oleh Amanda.
Dengan susah payah Amanda pun berdiri sendiri karena tidak tega mbk Ida pun membantu Amanda untuk berjalan.
"Yuk mbk Ida bantu."
"Makasih, Mbk."
Kemudian mbk Ida dan Vero pun keluar dari ruangannya dan mbk Ida menuntun Amanda untuk memasuki lift khusus presdir
Semua orang yang memang sedang beristirahat sehingga loo lumayan penuh pun melihat Amanda yang digandeng oleh mbk Ida sekertaris pak Vero
menuju ke arah lift khusus dan tak lupa Mita juga melihat hal tersebut.
"Sialan awas aja elo Manda." ucap Mita sambil menggenggam tangannya seperti ingin menghancurkan semuanya.
__ADS_1
Mbk Ida dan Amanda tidak menghiraukan tatapan semua orang dan tetap menaiki lift khusus presdir saat pintu lift terbuka di sana menampakkan Vero yang sudah menunggu kedatangan sang istri.
"Astaga sayang." ucap Vero kemudian memegang tangan sang istri.
Amanda pun tersenyum manis saat melihat sang suami sudah menunggunya.
"Mas."
"Kamu pucet banget sayang," ujar Vero kemudian menggendong sang istri yang sudah tidak bertenaga ke ruangannya.
Saat berkendara masuk sahabatnya melihat Vero masuk dengan menggendong Amanda sayang sudah lemah sekali.
"Astaga Ber, Amanda kenapa?" tanya Haikal.
"Kayaknya dia sakit," ujar Amanda.
Kemudian Vero pun membawa Amanda ke ruang istirahatnya.
Dia pun menidurkan sang istri di kasurnya, Vero sangat tidak tega melihat sang istri yang sangat pucet.
"Mending elo telepon dokter deh," ucap Ardi dan di angguki oleh Vero.
Amanda pun menghubungi dokter sari dan menyuruhnya untuk datang ke kantor, tak butuh waktu lama dokter sari pun sampai di kantor dan menuju keruangan Vero .
"Dok."sapa Vero.
"Ada apa Ver?" tanya dokter Sari.
"Amanda sekarang badannya sangat lemah dok dan wajahnya sangat pucat," ujar Vero.
"Dimana dia?" tanya dokter Sari dan Vero membawa dokter Sari ke tempat istirahatnya.
Saat dokter Sari sampai dia menyuruh untuk semua orang keluar agar dia bisa memeriksa Amanda dengan cermat.
"Semuanya bisa keluar biar saya periksa sebentar," ucap dokter Sari.
Dokter Sari pun memeriksa keadaan Amanda dengan cermat, setelah selesai dokter sari memperbolehkan semuanya masuk.
"Bagaimana keadaan istri saya dok," ucap Vero khawatir.
"Amanda tidak apa-apa Ver, cuma pola makannya harus teratur kemudian dia juga harus teratur minum obatnya yang saya kasih kemarin dan dia juga sudah saya kasih infus kalau udah habis nanti ada suster yang datang," ucap dokter Sari.
"Baik dok."
"Kalau begitu saya permisi," pamit dokter Sari dan mendapat persetujuan dari yang lainnya.
"Terima kasih dok."
Dokter Sari pun keluar dari ruangan dengan diantar oleh Angga.
"Syukur Ver, Amanda gak terlalu serius," ucap Ardi.
"Iya Di."
Setelah beberapa lama akhirnya para sahabatnya pun berpamitan untuk kembali bekerja karena jam istirahat sudah selesai.
Amanda pun mengiyakan mereka dan mempersilahkan untuk kembali bekerja.
"Di gue izin untuk Amanda biar dia di sini aja dulu ya," ucap Vero dan di angguki oleh Ardi.
"Iya Ver."
Kemudian Ardi pun keluar paling terakhir setelah yang lainnya sudah keluar.
Kemudian Vero pun pun menuju ke ruang istirahatnya dan melihat sang istri yang begitu lemah dengan infus yang menancap.
.
.
__ADS_1
NEXT.............................>