
Setelah itu mereka pun pergi dari kantor tersebut dan menuju ke mansion Vero.
Saat dalam perjalanan, Amanda pun melihat pinggiran jalan dan melihat pedagang kali lima yang menjual sate.
Vero yang melihat sang istri seperti sedang memperhatikan sesuatu pun bertanya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Vero membuat mama Ratna dan papa Hendra yang berada di kursi belakang pun melihat Amanda juga.
"Aku pingin itu mas," sahut Amanda sambil menunjuk pedagang sate pinggiran jalan tersebut.
"Ya udah kita beli di restoran aja ya," ujar Vero membuat Amanda menggelengkan kepalanya.
"Enggak mau, aku maunya di situ."
"Enggak sayang." tolak Vero karena itu di pinggir jalan, Vero takut jika nanti makanan di sana tidak steril.
"Udah kamu turutin aja Ver, kayaknya Amanda sedang ngidam itu." jawab mama Ratna.
Mau tidak mau Vero pun menuruti kemauan sang istri dan menepikan mobilnya di dekat penjual sate tersebut.
Amanda dengan sangat antusias pun segera keluar dari mobil.
"Yey," ucapnya.
"Sayang pelan-pelan," ucap Vero saat ia keluar dari mobil dan Amanda sudah pergi meninggalkannya menuju ke arah pedagang sate tersebut.
Mama Ratna dan papa Hendra memilih untuk menunggu anak dan mantunya tersebut membeli sate.
Saat sudah berada tempat yang dituju Amanda menunggu sang suami yang sedang berjalan menghampirinya.
"Kamu lama banget sih mas," ucap Amanda saat sang suami baru saja sampai.
"Kamu aja di suruh pelan-pelan aja malah lari," sahut Vero mendapat cengiran dari Amanda.
Mereka pun segera memesan sate tersebut, untungnya Amanda memilih untuk makan di rumah saja.
Amanda pun memesan sebanyak lima porsi dengan berbagai macan menu sate, Vero yang melihat istrinya memesan makanan sebanyak itu pun hanya bisa diam melihat sang istri.
"Sayang gak kebanyakan apa lima porsi?" tanya Vero.
"Enggak kok mas."
Sebenarnya bukan masalah uang yang membuat berkas diam dan syok, tetapi karena porsi makan sang istri yang sangat bertambah banyak saat hamil.
Setelah itu mereka pun kembali ke mobil sambil menunggu pesanan sate tersebut.
"Kok udah balik?" tanya mama Ratna.
"Iya, kita tunggu di mobil aja." sahut Vero.
Memang dia meminta kepada pedagang satenya untuk mengantarkan pesanannya nanti di mobil, karena di sana sangat ramai dengan pelanggan dan juga jalanan yang licin mungkin karena habis hujan sehingga Vero takut terjadi sesuatu kepada istri, sehingga dia meminta pedagangnya yang mengantarkan ke mobil karena Amanda juga sedang hamil.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pedagang tersebut datang dengan membawa pesanannya.
"Terima kasih pak." ucap Vero dengan memberi uang yang ia lebihkan untuk sang pedagang.
"Pak ini kebanyakan." ucap pedagang tersebut kaget dengan uang pecahan seratus ribu beberapa lembar itu.
"Gak papa, sisanya buat bapak aja." ucap Vero.
"Terima kasih pak," sahut tukang sate tersebut berterima kasih sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
"Iya pak." setelah itu tukang sate pun pergi meninggalkan mobil Vero
"Ini."
Vero pun memberikan sate tersebut kepada sang istri membuat wajah Amanda berseri indah.
"Wah,"
"Seneng?" tanya mama Ratna dan mendapat anggukan dari Amanda.
Setelah itu Vero pun melanjutkan perjalannya menuju ke mansionnya, setelah sampai pak Ilham pun membukakan gerbang dan mempersilakan mobil tersebut masuk.
Kemudian saat mobil sudah berhenti, Vero dan yang lainnya pun keluar dan menuju ke dalam mansion.
Amanda keluar dengan membawa sate yang sangat ia inginkan tersebut dengan gembira, saat sudah sampai dalam Amanda segera menuju ke arah dapur dan membuka semua sate yang ia pesan.
"Astaga sayang itu gak kebanyakan," ucap mama Ratna yang baru sadar bahwa pesanan sang menantu sangat banyak sekali.
"Enggak kok ma." jawab Amanda.
Amanda pun memakan makanannya di meja makan sedangkan mama Ratna, papa Hendra dan Vero hanya melihat Amanda yang sangat lahap memakan satenya.
"Sayang pelan-pelan," sahut Vero.
"Iya mas."
Saat sudah menghabiskan satu porsi penuh sate tersebut Amanda baru ingat bahwa di sana ada mami papi dan sang suami.
Karena perut Amanda sudah mulai kenyang dan tidak mungkin dia bisa menghabiskan ini dia pun membagikannya kepada yang lain.
"Ini buat kalian," ujar Amanda sambil memberikan sate tersebut.
"Amanda udah kenyang ma," ucap Amanda.
"Udah tahu gak bisa ngabisin semua kok beli banyak sayang?" tanya papa Hendra.
"Amanda cuma kepingin aja pa," jawabnya.
Mereka pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, mungkin saja karena keinginan sang bayi fikir semua orang.
Mereka pun menghabiskan sate yang diberi oleh Amanda, di sana juga ada mbok Yem, pak Ilham dan scurity mansion.
Saat semua orang sibuk makan Amanda izin untuk pergi menonton tv terlebih dahulu, Amanda pun mungkin karena capek dia pergi ke sofa depan tv dan tanpa tersadar tertidur di sana sambil menyalakan tv.
Saat semua orang sudah selesai makan mama Ratna, papa Hendra dan Vero pun menuju ke tempat sang istri berada, namun saat mereka menghampirinya ternyata Amanda sudah terlelap dengan tidur di sofa.
"Astaga Vero istri kamu itu ya," ucap mama Ratna sambil tertawa senang dan gemas sendiri.
"Iya ver," lanjut papa Hendra.
"Verk juga bingung ma, pa." ucap Vero sambil melihat sang istri.
"Ya udah kamu bawa ke kamar dulu gih istri kamu," ucap mama Ratna.
Vero pun membawa sang istri ke kamar dengan menggendongnya, untungnya saat akan di gendong Amanda tidak terganggu sekali mungkin karena dia tidur terlalu nyenyak.
Vero pun membawa Amanda ke kamar namun saat dalam gendong Amanda bergerak sedikit dan mencari posisinya enak untuknya tidur.
Vero hanya dibuat gemas oleh sang istri karena tingkahnya yang lucu saat mencari tempat yang nyaman.
Setelah sampai kamar, Vero pun segera menaruh sang istri di kasur dan menyelimutinya.
__ADS_1
"Selamat malam sayangku." ucap Vero sambil mencium kening sang istri dan menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya.
Setelah itu Vero pun kembali ke bawah dan menemui sang mama dan papa nya.
"Gimana udah tidur?" tanya mama Ratna penasaran.
"Udah ma," jawab Vero sambil duduk di sofa.
"Kamu harus ekstra sabar Ver kalau menghadapi istri yang lagi hamil," ujar papa Hendra memberikan wejangan wejangan untuk sang anak.
"Emang papa dulu kayak gimana?" tanya Vero kepada papa nya saat menghadapi sang mama waktu hamil dirinya dulu.
"Mama mu dulu ya saat hamil kamu sangat cerewet Ver," ucap papa Hendra langsung mendapat cubitan dari sang istri.
"Apa cerewet," sahut mama Ratna sambil melotot kan matanya.
"Sabar ma," ucap Vero.
"Papa mu tuh." sahut mama Ratna kesal.
"Kan Vero minta di ceritain ma, ya papa jawab sebenarnya," sahut papa Hendra mencari pembelaan.
"Lanjut pa."
"Mama dulu sering banget ngidam kan?" tanya papa Hendra kepada sang istri.
Kemudian mama Ratna pun berfikir sebentar karena sudah sangat lama sekali itu.
"Iya sih," jawab mama Ratna saat sudah ingat dengan peristiwa jaman dulu.
"Terus kamu inget gak ma kalau kamu pernah suruh papa bawain es krim kesukaan kamu yang ada di Singapura," ujar papa Hendra, sedangkan mama Ratna hanya tertawa karena mengingat ngidamnya waktu itu.
"Apa! Beneran ma?" tanya Vero dan mama Ratna pun mengangguk-anggukkan kepalanya karena memang benar.
"Astaga berati Vero harus bersyukur karena Manda hanya minta sate," sahut Vero lega.
"Kamu tunggu aja Ver, baru awal itu." sahut papa Hendra menakuti sang anak.
"Ih papa mah," ucapnya kesal Vero kepada sang papa.
"Udah yang penting kamu harus kontrol keadaanya terus ya jangan sampai dia stress Ver." ujar mama Ratna.
"Iya ma."
"Terus sekarang Amanda udah cuti kerja?" tanya papa Hendra.
"Belum pa." jawab Vero dengan menghela nafasnya berat.
"Kok belum?" tanya mama Ratna bergantian.
"Dianya masih ngotot gak mau berhenti ma soalnya baru beberapa bulan aja ma dia hamil belum waktunya untuk cuti," ucap Vero.
"Ya udah yang penting kamu selalu cek keadaan istrimu ya," ucap mama Ratna dan Vero pun menganggukkan kepalanya.
Setelah mengobrol banyak hal apa lagi soal kehamilan sang istri Vero pun kembali ke kamarnya dan menyusul sang istri berselancar di dunia mimpinya.
.
.
NEXT.............................>
__ADS_1