Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Tak Bisa Jauh Darimu


__ADS_3

"Hatimu masih lemah 'tuh, kemakan gombalan Rud," celetuk lelaki yang masih merangkul bahu gadis di sampingnya.


"Kalau aku lemah, tak akan kubuka novel ini," timpal sang gadis sambil menutup novelnya dan menoleh sebentar pada lelaki di sampingnya.


"Baguslah, jadi aku tidak perlu khawatir bakal ada yang patah hati lagi," ejek lelaki itu dengan senyum simpul.


"Aku gak mau jatuh cinta lagi," tegas sang gadis penuh keyakinan.


Gadis itu pun kembali membuka novelnya. Sang lelaki pun masih setia menemaninya membaca.


Bab. 8 : Mulai Cemburu


Cinta ternyata membuat lelaki kuat menjadi lemah. Dua puluh lima tahun yang kuhabiskan sendiri, terasa lebih ringan daripada beberapa jam tak melihatnya di depan mata. Jam makan siang yang sudah kunantikan agar bisa mengobrol dengannya ternyata malah hanya menjadi mimpi belaka. Dia makan bersama temannya, begitu yang Maya bilang.


"Siapa temannya itu?" tanyaku dilanda penasaran.


Aarrgghh!


Otakku tak bisa fokus bekerja. Hanya bayangan wajahnya yang bermain di pikiranku. Kuhela napas panjang. Sengaja kupejamkan mata sesaat setelah aku senderkan punggung. Kegilaan ini semakin menguasai akal sehatku.


"Ternyata di sini ada yang kesepian!" ejek Rendra membuyarkan lamunanku dengan suara tawanya.


Sahabatku itu tiba-tiba masuk ruangan tanpa mengetuk pintu. Diikuti gadis yang diincarnya, mereka datang untuk mengejekku. Begitu yang kupikirkan dan begitu juga pasti yang ada di otak iseng mereka. Sengaja menggodaku dengan kelakuan mereka yang absurd.


"Kalau mau bikin rusuh, mending keluar aja!" tegasku yang sudah mencium akal busuk mereka.


"Kami mau pacaran di sini, Bos. Jangan iri, ya!"


Rendra mengambil satu slize pizza yang dibawanya dan menyuapi Maya dengan gaya berlebihan, sok mesra. "Sayang, enak gak?"


Maya mengangguk, mengiyakan pertanyaan lelaki gombalnya itu. Setelahnya, si bujang tukang gombal itu memakan di sisa gigitan gadisnya. Sungguh kebucinan yang membuat perutku mulai mual. Namun sebisa mungkin, kuredam kegerahan perasaan. Mengabaikan adegan terskenario mereka, menguatkan hati untuk tak masuk perangkap yang sengaja mereka buat.


"Sa, sini makan pizza sama kami!"


Ucapan Rendra dengan memanggil namanya membuyarkan pertahananku.


Spontan kuarahkan pandangankun ke pintu.


Rendra tertawa dengan begitu puasnya. "Masuk jebakan!"


"Keluar! Keluar!" usirku setelah dipermalukan secara tak terhormat.

__ADS_1


Bukannya marah karena kuusir, Rendra dan Maya justru semakin meningkatkan kemesraan. Saling suap pizza dengan tatapan lekat yang mengikat. Sebuah deheman kulontarkan. Tak merasa risih justru makin menjadi. Kegeramanku tinggal seinci menuju puncaknya. Lagi-lagi kutahan agar tak menjadikan mereka sebagai korban.


"Nih makan, jangan uring-uringan! Sebentar lagi Rosa juga balik kantor."


Tak sedikit pun kulirik makanan yang Rendra sodorkan. "Siapa yang nyariin dia?" kilahku tak ingin nampak terjangkit kebucinan yang sempurna.


Pertahananku sudah sangat tipis. Tak lebih dari ketebalan kaca tertipis yang mudah retak dan hancur berkeping-keping. Sebelum kemarahanku tak terarah, memilih pergi adalah solusi terbaik. Kusambar kunci mobilku yang tergeletak di meja. Tanpa pamit, kutinggalkan mereka yang tengah bersorak penuh kemenangan.


"Apa susahnya sih, ngaku kalau kangen Rosa? Pakai uring-uringan segala," sindir Rendra sebelum aku benar-benar keluar ruangan.


"Bodo," balasku sambil berlalu.


"Tuh kan, udah Rosa banget omongannya," sindir terakhir Maya yang bisa kudengar.


Langkahku melaju tapi otakku terpaku padanya, hanya dia. Sedang apa? Di mana? Dengan siapa? Apakah sedang dirayu kekasihnya? Bermanja di pangkuannya? Suap-suapan mesra ala Rendra Maya? Atau ...?


Aarrgghh!


Pikiranku benar-benar buntu. Untunglah, otakku berputar cepat saat kumelihat gawai yang tertinggal di mobil. Segera kuambil dan meneleponnya. Mau bicara apa? To the point menanyakan keberadaannya? Bilang aku merindukannya? Atau jujur jika sedang cemburu membabi buta?


"Share lokasi! Ada hal penting yang ingin kutanyakan sekarang juga," perintahku saat dia mengangkat telepon.


Dengan kecepatan diatas biasanya, kupangkas waktu tempuh setengah dari seharusnya. Lima belas menit kemudian aku sudah berada tepat di hadapannya. Duduk berdua di sebuah foodcourt dengan menu andalan daging giling dibulatkan.


"Kamu dari mana?" introgasiku begitu baru mendudukkan diri.


"Ketemu temen," jawabnya santai.


"Apakah temenmu itu Yo ... yang semalem?" tanyaku berkesinambungan.


Tak ada jawaban. Dia justru melihatku dengan penuh tanya. Merasa sedang diselidik ganti, aku memilih berdehem. Selain untuk menyadarkan tatapannya yang membuatku salah tingkah juga untuk menenangkan segala rasa yang bernaung di hatiku.


"Kenapa Bapak mengintrogasi, Saya?"


Mengabaikan pertanyaannya, aku justru bertanya lagi. "Dia pacarmu?"


"Haruskah saya menjawab pertanyaan Bapak?" tanyanya formal.


"Harus, karena kamu pacaran pada jam kantor," alasanku mengada-ada. Mungkin dia akan berpikiran yang sama. Ya sudahlah! Aku atasannya, bolehlah sewenang-wenang dengan kekuasaan sekali-kali.


Kulihat dia nampak santai meskipun terlihat raut kemalasan di wajahnya. Tangannya mengambil sebuah undangan dari dalam tas dan disodorkan padaku. Seketika pikiranku menjadi kacau. Pikiran terburuk bermain di otakku. Jangan sampai aku terlambat menemukan. Jangan bilang dia mengundangku ke pernikahannya.

__ADS_1


"Pacarmu bertunangan dengan orang lain?" tanyaku saat kubaca undangan itu mencantumkan nama lelaki bernama Rio dan wanita bernama Tria. Rio ... Yo ... bukankah itu satu nama? Ya, kurasa tebakanku begitu jitu.


"Pantas saja matamu memerah. Kamu baru putus? Baiklah, aku akan memaafkanmu kali ini."


Keyakinan yang begitu kuat tertanam di otakku tentang statusnya membuatku tersenyum penuh kemenangan. Kesempatan itu masih ada dan semakin terbuka lebar. Namun anehnya, dia justru menggelengkan kepala.


"Mereka sahabat saya, Pak," jelasnya kemudian.


"Kalau begitu, kamu harus menghadiri pertunangan mereka. Aku akan menemanimu," celetukku dengan memaksa.


Kebahagiaan membuatku sedang dilambungkan hingga tak sadar aku ingin selalu disampingnya. Meskipun kudapati dia sedang memutar matanya jengah, tapi aku tak mengambil hati.


"Terimakasih Pak, tapi saya bisa datang sendiri," tolaknya untuk keputusanku.


"Aku sudah meluangkan waktu, kamu tak bisa menolak. Sekarang, ikuti aku!" perintahku segera meraih tangannya dan membawanya ke parkiran.


"Bapak, kenapa suka sekali memaksa?" gerutunya seraya terpaksa mengikuti langkahku.


"Pacar Saya saja gak maksa."


"Paksa aja pacar Bapak."


Tak kutanggapi semua omelannya. Segera ku buka pintu mobil sebelah kiri dan mempersilakannya masuk. Aku pun duduk di balik kemudi. Melihat sebentar ke arahnya dan memutar tubuh. Sedikit mencondongkan badan, memupus jarak dan menatapnya lekat. Kulihat matanya membulat. Tertebak sekali jika pikirannya pasti bermain ke lahan kemesuman. Aku suka. Aku suka dia ingin itu. Namun nanti, tidak sekarang.


"Sengaja, ya? Gak mau pakai seat bealt sendiri? Pengen melihatku dari jarak dekat?" godaku penuh semangat.


Salah tingkah, ya gadis ayuku tak bisa lagi menatapku seperti biasanya. Ia memalingkan wajahnya, menahan degupan jantungnya yang menaikkan ritmenya. Kuulas senyum melihat ekspresinya yang nampak lucu. Bisa kubuktikan jika ia sedang menata perasannya.


"Sudah berpikiran mesum, ya?" godaku seraya mengerling nakal sebelum aku kembali pada posisiku semula.


Lagi-lagi tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Ia pun memilih membuang pandang pada kaca sebelah kirinya. Kubiarkan saja, hanya sesekali kumeliriknya. Mungkinkah ia malu? Sudah berpikiran tentang sebuah sentuhan di bibirnya tapi nyatanya ia salah paham. Tentu saja aku mau melakukan itu. Namun belum sekarang, Sayang.


"Kita mau ke mana, Pak?" tanyanya yang membuyarkan anganku tentang sebuah ciuman.


"Ke pelaminan," balasku sengaja menggodanya.


"KUA, dulu, Pak," celetuknya.


"Sebelum ke KUA, kita ke sini dulu!" ucapku membelokkan mobil ke sebuah bangunan yang membuatnya mengernyitkan dahi seketika.


"Ngapain ke sini?"

__ADS_1


__ADS_2