
Jalanan yang masih sepi karena waktu yang masih begitu pagi, membuat udara yang terhirup terasa sangat segar di pernapasan. Apalagi daerah tempat tinggal Mas Rud berdekatan dengan hutan kota yang terjaga penghijauannya.
"Om, kita mau ke mana?" tanya Di-junior yang duduk di depan Mas Rud.
"Mama, enaknya kita ke mana?" tanya Mas Rud dengan panggilan menggelitik.
"Om, ini Mamaku. Kenapa Om ikut manggil mama?" Di-junior tidak terima miliknya di klaim lelaki lain.
Gadis ayu menahan senyum. Ia membiarkan Mas Rud menghadapi pertanyaan putranya yang kepo akut. Bibirnya diam akan tetapi tangannya mengusap bahu belakang sang kekasih. Itu adalah sebuah perwakilan kata sabar yang tidak ia ucapkan.
Mas Rud memutar pikiran. Ada beberapa pilihan ganda yang tinggal dipilihnya.
A. Karena aku adalah papamu, Boy. Sebentar lagi. Ya, beberapa waktu lagi. Oleh karena itu Om Rud mulai belajar memanggilnya sama denganmu--mama.
B. Ingin kupanggil sweetheart tapi rasanya menyaingi Tuan Alex, my baby justru mengingatkan pada sapaan Zeno sama ayam bar-barnya--zainudin. Ah, memangnya my boy kenal mereka?
Setelah menghitung jumlah kancing, maksudnya mempertimbangkan usia putranya, Mas Rud akhirnya bisa menentukan jawaban.
Dengan melirihkan suara tetapi dengan nada menggoda gadisnya, Mas Rud berkata, "Karena kalau Om Rud panggil yangti nanti mama marah, Boy. Apakah kamu berpikiran yang sama dengan Om?"
Sesuai prediksi, sang kekasih terpantik emosi. Ia memukul paha Mas Rud dengan mulut yang mengerucut serta mengeluarkan kata-kata ketus. "Maksud kamu aku udah tua 'gitu, Mas?"
Di-junior memilih menunda memberikan buah pikiran. Rupanya bocah kecil itu mulai memahami kebiasaan Om dan sang mama. Jadi, lebih baik ia diam sebentar.
Mas Rud sedikit menoleh. Ia melepaskan senyuman nakal. "Semakin tua semakin ..."
Lagi-lagi gadis ayu menepuk paha Mas Rud. Tidak hanya itu, ia juga mencubit perut. "Mas, jaga bicaramu! Apa perlu aku daftarkan kelas kepribadian?"
"Kalau gurunya kamu, aku mau," timpal Mas Rud.
"Ikut kelas Di-junior 'aja, Om! Kita belajar sama uncle Aryan," sela bocah kecil.
Gadis ayu menimpali saran brilian sang putra. "Kamu betul, Sayang. Nanti mama bakal bilang sama uncle kalau dia punya murid baru."
Mereka bertiga terus saja bercanda di sepanjang perjalanan. Hingga sampai di sebuah jalan, Di-junior berseru riuh.
__ADS_1
"Ma, belikan balon!"
"Susah bawanya, Sayang. Kita naik motor bukan mobil," tolak gadis ayu dengan alasan yang meyakinkan.
Berbeda dengan gadis ayu, Mas Rud justru membelokkan motor pada penjual balon. Segera ia matikan mesin dan meminta Di-junior untuk memilih. "Ayo, pilih salah satu! Mau bentuk apa? Pesawat? Bebek? ? Ikan?"
Di-junior berjalan memutar. Sepertinya ia tengah bingung menentukan pilihan. Hati ingin memilih lebih dari satu, akan tetapi ia ingat ucapan sang mama tentang kesulitan untuk membawanya pulang. Akhirnya ia bisa menjatuhkan pilihan setelah beberapa kali berganti keputusan. "Doraemon 'aja, Ma."
"Di-junior suka Doraemon?" tanya sang mama karena biasanya sang putra lebih memilih karakter hewan.
"Suka, Ma. Biar Di-junior bisa ngambil apa 'aja dari kantongnya Doraemon."
Mama tersenyum melihat sang anak menampakkan ekspresi lucu. "Memangnya pengen keluarin apa dari kantong Doraemon, Sayang?"
Di-junior memandang Om Rud dan sang mama bergantian. Senyum terlahir kemudian. "Uncle bilang mama harus selalu senang. Di-junior lihat kalau ada Om Rud, Mama nggak pernah bersedih. Jadi, kira-kira Doraemon punya alat buat Om Rud lupa pulang nggak ya, Ma?"
Mas Rud spontan mengalihkan pandang dari sang putra pada sang mama. Ia menemukan ekspresi keterkejutan yang sama dengan yang ia rasakan. Seketika ia menggendong Di-junior. Rasa gemasnya tidak tertahan.
"Nanti kita tanya Doraemon di rumah ya, Boy. Sekarang kita jalan lagi!" ajak Mas Rud setelah berkilah agar sang putra tidak terus bertanya. Bukan ia tidak mau menjawab akan tetapi ia takut keceplosan.
"Boy, kita main di sini dulu, ya!" Mas Rud membantu putra sang gadis ayu untuk turun.
Bocah cilik itu tidak berkomentar. Ia justru asyik dengan balon di tangan. Kebetulan tempat mereka berhenti adalah sebuah taman kota yang sepi pada hari kerja seperti pagi ini.
Setelah memarkirkan motor, Mas Rud kembali menggendong Di-junior. Tangan yang satu, ia gunakan untuk menggandeng gadis ayu. Mereka berjalan memasuki area taman.
"Mas," sapa gadis ayu bermaksud mencari tahu alasan Mas Rud mengajak masuk.
Tatapan teduh, Mas Rud sapukan pada netra gadis ayu. "Kita akan menemui seseorang."
Kernyitan dahi gadis ayu menampakkan tanya yang segera dijawab oleh Mas Rud. "Kamu mengenalnya."
Pernyataan Mas Rud semakin membuat gadis ayu terbelenggu tanya akut. Kalimat ingin kembali diucap akan tetapi kaki sudah berhenti. Di hadapan tampak seorang lelaki yang tengah duduk sendiri. Keringat yang meleleh di tubuhnya mengindikasikan jika ia telah selesai berolahraga.
"Apa kabar?" tanya Mas Rud seraya mengeratkan tautan jemarinya dengan gadis ayu. Ia tahu jika kekasihnya terkejut mengetahui seseorang yang harus ia temui.
__ADS_1
Keyakinan hati Mas Rud untuk menemui lelaki ini patut diacungi ibu jari. Walaupun harus menahan segala rasa, ia kuatkan jiwa raga untuk menemuinya.
Gadis ayu tidak menampik jika sesungguhnya ia tidak siap berjumpa. Hatinya masih menyimpan perih. Walaupun ia akui dengan semua yang dilakukan lelaki itu, ia bisa memiliki sang putra, buah cintanya dengan seorang Mas Dion Wijaya. Namun perpisahan dengan lelaki yang kini tengah menautkan jemari, masih terasa pedih.
Tatapan mata gadis ayu menunduk. Ia berdiri sedikit di belakang sang kekasih.
Lelaki yang disapa meluruskan pandangan pada tiga orang yang baru datang. Ada raut terkejut yang ia tepikan seketika. "Rud."
Sapaan tidak diberikan jawaban. Sosok yang duduk di bangku taman itu justru menyebut nama lelaki yang memanggilnya.
"Untunglah kalau kamu masih mengingat namaku," jawab Mas Rud seraya membawa dua orang yang dia rengkuh ikut duduk di bangku yang bersebelahan dengan tempat duduk lelaki itu.
"Aku masih mengingat semua dengan baik walaupun keadaanku menjadi tidak begitu baik karena kelakuanku waktu itu," jelas lelaki itu.
Saat semua terdiam, Di-junior memecah keheningan. "Ma, main ke sana, yuk!"
Gadis ayu mengikuti tarikan tangan sang putra tunggal. Ia justru merasa terbebas dari lingkaran kecanggungan yang sukar ia kendalikan.
Dua pasang mata mengekor langkah gadis ayu dan sang putra. Tawa ibu dan anak itu menjadi perhatian dua lelaki yang tengah terduduk.
"Kamu kembali pada wanitamu?"
Mas Rud menyunggingkan senyuman. Tatapannya masih lurus pada gadis ayu. "Seperti yang kamu bilang, dia adalah wanitaku. Jadi, seberapa keras kamu memisahkan dan sejauh apapun kami berjarak, jodoh itu akan mengembalikanku ke sisinya."
Tatapan Mas Rud dialihkan pada lelaki yang sedang diajaknya berbicara. "Terimakasih ... karenamu aku bukan hanya punya dia, tetapi juga punya putra."
"Itu putramu?"
Jawaban penuh keyakinan, Mas Rud lontarkan dengan melepaskan senyuman. "Tentu saja. Mereka adalah keluarga kecilku."
"Rud, maafkan aku!"
"Menurutmu, bisakah aku memberi maaf?" Mas Rud bertanya balik.
"Kesalahanku memang tak termaafkan, Rud. Aku sadar itu. Akan tetapi, setidaknya aku meringankan beban batinku sendiri. Tak apa kamu tidak memberiku maaf. Bisa melihat kalian kembali bersama, rasanya aku bisa lega. Setidaknya rasa bersalahku sedikit terobati."
__ADS_1
"Kamu benar, aku tidak bisa ..." jelas Mas Rud terjeda.