Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Speechless


__ADS_3

"Pa, Di-junior datang," sapa pembuka di atas pusara yang nisannya menuliskan sebuah nama--Dion Wijaya.


Sekian detik, suasana hening. Tiada kata terangkai untuk berkomunikasi. Di-junior menaburkan warna-warni kembang beraroma, setelah meletakkan bunga forget-not-me.


"Pa, hari ini ada big match klub idola kita. Nonton bareng, yuk, Pa?" ajak Di-junior dengan senyum yang tersulam penuh makna. "Sepertinya akan seru saat kita bisa bersorak, berteriak, dan selebrasi gol dengan kompak."


Lengkungan indah itu kembali merekah. Senyum yang persis dimiliki oleh keduanya, terlukis sempurna di bibir Di-junior. Mungkin saja, di bawah sana Dion juga sedang berlaku yang sama. Ia menandingi ketampanan sang putra yang sempurna dengan wajah mempesona.


"Oh, ya, Pa ... coba tebak! Angka berapa yang Di pakai untuk nomor punggung Di di klub kampus?" Putra tampan itu terus mengobral obrolan. Ia seolah sedang berhadapan dengan sang papa yang bisa mendengar dan melihat semua yang ia katakan. "Di memilih nomor 1."


Sebuah tarikan napas ia tahan sebentar sebelum kembali ia embuskan. "Papa tahu kenapa?"


Di-junior sengaja menjeda kalimat, memberikan waktu bagi sang papa untuk memikirkan jawaban yang tepat. Ya, ia memang sedang memainkan peran. Seolah keduanya tengah berbincang hangat. Obrolan seorang anak laki-laki menjelang usia dewasa dengan seorang role model-nya.


"Papa salah," sangkal Di-junior setelah selang waktu beberapa menit. "Satu, bukan karena Di-junior ingin menjadi nomor satu. Namun, Di ingin selalu dikenang sebagai satu orang yang mempersatukan semua orang."


"Seperti Papa," tekan Di-junior setelah menghentikan kalimat tanpa menjeda napas. "Papa tahu, sampai saat ini Di masih terus penasaran. Bagaimana caranya bisa menjadi laki-laki yang bisa dicintai, disayangi, sekaligus dihormati oleh Mama, paRud, dan uncle Aryan. Itu keren sekali, Pa. Di ingin menjadi seperti Papa."


Jika, sekali lagi, jika Dion masih bernyawa pasti ia akan menyulam sebuah senyuman yang menampakkan ketampanan seorang malaikat dalam wujud manusia. Tangannya juga akan membelai surai sang putra dengan penuh kasih sayang.


"Nak, setiap orang terlahir dengan sifatnya sendiri-sendiri. Tak ubahnya dirimu yang membawa sifat istimewa yang tidak dimiliki oleh orang lain. Tidak perlu ingin menjadi seperti siapa, karena kamu harus hidup dengan kelebihan dan kekurangan yang kamu miliki. Tidak ada manusia yang sempurna. Pun, Papa yang kamu anggap luar biasa."

__ADS_1


Tatapan teduh itu menghanyutkan suasana. "Orang bilang, cintai dirimu sendiri sebelum mencintai orang lain. Itu tidak salah, tetapi kadang tidak tepat. Ketika kamu terlalu mencintai dirimu sendiri, bisa jadi kamu menjadi egois dan melukai hati seseorang tanpa kamu sadari. Jadi, bagaimana seharusnya?"


Dion kemudian menjawab pertanyaannya sendiri, "Semua punya porsi dan setiap orang memiliki ukuran yang berbeda, Nak. Mencintai dan bahagia itu tidak bisa saling melepaskan diri. Ada yang bahagia dengan memiliki orang yang dicintai, tetapi ada juga yang bahagia dengan menggadaikan kebahagiaannya sendiri demi orang yang ia cintai bahagia. Kuncinya adalah hati yang tulus. Apa pun yang kamu pilih, jika itu sebuah keikhlasan maka kebahagiaan itu akan datang."


Belaian lembut itu seperti menerabas dimensi ruang. Di-junior seolah dapat merasakan sentuhan sang papa. Bahkan nasihat itu bisa mendamaikan hati, walaupun secara manusia ia tidak dapat mendengarnya. Namun, pikirannya seolah diarahkan untuk menemukan sebuah gambaran perasaan yang diceritakan sang papa.


Nisan yang sedikit pudar namanya itu, diusap oleh Di-junior. "Papa akan tetap menjadi idola Di-junior. Walaupun hanya mendengar dari cerita, tetapi sudah cukup membuat putra Papa ini jatuh cinta. Katanya, Papa itu adalah cinta pertama bagi putrinya. Bagi Di, ternyata itu berlaku juga. Bukankah itu luar biasa? Mencintai tanpa pernah melihat, hanya dengan rasa saja bisa menghadirkan cinta."


Sepasang lelaki dan wanita yang berdiri tidak jauh dari Di -junior, saling menautkan pandangan. Keduanya mengerti apa yang harus dilakukan terhadap pria muda yang ada di depannya.


Satu langkah maju, mendekat pada yang ia tuju. Lutut dilipat, tangan menepuk bahu Di-junior yang terduduk.


"Papa Dion adalah idola kita semua. Bahkan, PaRud saja ingin seperti dia. Tidak salah jika kamu mengidolakannya," tutur Mas Rud dengan lembut.


Di-junior menoleh. Matanya membiaskan binar senyum yang terlukis dari bibirnya yang memabukkan laksana anggur. "PaRud di sini?"


"Ehem," jawab Mas Rud tanpa kata. "Mendengar semua obrolanmu dengan Papa Dion. Maaf, bukan bermaksud mencuri dengar, hanya saja ... ternyata kita memiliki kerinduan yang sama padanya."


Kedua lelaki itu sama-sama menatap nisan bersamaan. Tak dapat dijelaskan bagaimana kedalaman rasa yang mereka simpan.


Di-junior menyemai rindu hebat yang tak akan bisa ditawarkan oleh dekap hangat. Hanya berbicara seorang diri, mengungkapkan isi hati, itulah penawar atas kasih yang terbentengi dunia lain.

__ADS_1


Sementara Mas Rud, mengubur semua kata cemburu. Ia menyuburkan sayang sebagai sesama lelaki yang menghalalkan wanita yang sama.


Dion, bagaimana dengan hatinya?


Jika dia bisa merasa dan juga berkata, pasti keindahan hati itu tergambar sempurna darinya. Yakin, jika ia akan melebarkan kedua lengan untuk memeluk kedua lelaki yang tengah terduduk di atas nisannya.


Sebuah pemandangan ilusi yang hanya bisa dirasakan oleh hati. Tak akan bisa dipahami oleh sembarang raga tanpa cinta yang sesungguhnya cinta.


"PaRud juga teladan buat, Di," aku Di-junior. Ia sungguh mewarisi sifat Dion, selalu membuat hati orang di sekelilingnya merasa berarti.


"Jangan!"


Kedua lelaki itu menoleh ke belakang. Rosa yang mendekat membuat Mas Rud dan Di-junior menyatukan tatap pada wanita ketus yang bisa berubah super lembut itu.


"Jangan meneladani PaRud! Mama tidak mau putra tampan ini menderita hanya karena wanita," omel Rosa seraya ikut duduk di dekat nisan Dion. Ia meletakkan bunga kesayangan sang mantan suami seraya mengusap papan nama itu. "Di, jangan juga mengejar wanita seperti apa yang dilakukan oleh Papa Dion. Kedua Papamu ini bukan panutan. Ingat, pesan Mama!"


"Hai, Sayang. Kamu tidak seharusnya berkata seperti itu pada putra kita. Kami adalah role model pencinta yang tulus dan pantang menyerah," ujar Dion dan Mas Rud bersamaan dari beda alam. Kompak sekali mereka, bukan?


🍁🍁🍁


Entah mengapa aku tergerak untuk menulis bab ini. Kabar jika Mas Rud (Ji Chang Wook) terpapar covid-19, membuatku merindunya sangat berat.

__ADS_1


Semoga segera sehat sekali, ya, Oppa.🤲🤲🥰


__ADS_2