Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Hati Yang Berbicara


__ADS_3

Riuh suasana pesta, seketika menjadi sunyi pada pendengaran dua insan yang pernah saling mencintai itu. Bibir yang kelu menuntut hati berceloteh sendiri. Memberi tanya dan harus menjawab dengan sendirinya.


Sorot mata tak dapat dibohongi bahwasanya cinta itu masih bersemi. Sekuat apa coba ditutupi, nyatanya hati bisa menilai. Mereka bukan canggung tetapi cinta itulah yang mengungkung.


"Mama, ini Om Lud. Kenalin!" ucap polos balita cerdas yang membuat gadis ayu itu terpaksa menampakkan senyum yang sedari tadi sembunyi dalam perih.


"Satya ..." panggil si Abang yang membuat anak kecil itu berpaling arah mencari asal suara pemanggilnya.


Dengan riang, dua lelaki bernama tengah Satya itu sudah bercengkerama. Lelaki kecil bermanja di gendongan lelaki dewasa.


"Om Lud, kenalan aja cama Mama cantikku. Satya mau main dulu cama uncle Alyan."


Sepasang mata dua manusia dewasa yang berhenti mengikuti segala tingkah bocah cilik itu kembali pada satu garis lurus. Ada keraguan untuk mulai berbicara meskipun barisan kata sudah berjejer di depan indra pengucapan.


"Dia anakmu?"


Pertanyaan yang keluar dari bibir sang lelaki yang bernama Mas Rud itu membuat gadis ayu mengukir senyum getir. Apa yang ia dengar tak seperti apa yang dia inginkan. Ada cemburu yang membelenggu.


"Iya," jawab singkat si gadis bergaun hitam itu.


"Mengapa datang bersama Aryan? Di mana suamimu?" tanya si lelaki yang mulai lancar memutar kata.


Si gadis nampak kelu. kalimat itu menohoknya. Ia merasa sangat berdosa. Rasanya pada lelaki di hadapannya ia rasa sudah mencederai kesetiaan yang ia pasrahkan pada sang suami yang kini telah kembali. Menghadap Pencipta yang lebih mencintainya.


Hening.


"Di--" jawab gadis ayu itu terpotong oleh kehadiran seorang wanita cantik yang tadi bersama dengan lelaki di hadapannya.

__ADS_1


"Mas Rud, bisa kita pulang sekarang?" pinta wanita itu dengan raut muka penuh pengharapan.


Sadar bukan lagi menjadi prioritas, gadis ayu itu menggeser langkahnya menjauh. Tanpa kata ia melangkah pergi dengan benturan cinta yang menimbulkan lara. Meniadakan rasa yang tak sanggup ia jabarkan apa artinya.


Ada butiran bening yang bersembunyi di sudut netranya. Perasaan yang terselip tiba-tiba saat cinta pertamanya itu mengakrabkan diri dengan wanita yang lain. Ada senyum kecil tersungging di bibir lelaki itu yang membuat hati sang gadis sedikit teriris, perih.


💔💔💔💔💔


"Lihatlah! Saat ini kamu gak bisa menjadikanku sandaran," terang si abang sambil mengusap rambut Satya kecilnya dengan penuh kasih sayang.


Balita lucu itu, pulas di pangkuan uncle-nya. Wajah polosnya yang begitu mirip dengan sang papa membuat gadis ayu melelehkan air mata. Ia usap lembut kaki kecil buah hati tercintanya itu.


"Bang, semoga ini pertemuan terakhirku dengannya."


Gadis itu menyeka air matanya sendiri. Menatap jalanan ramai yang ia rasa sangat sepi, sesunyi hati yang ia miliki. Ternyata dia salah, hati yang sudah ia kuatkan nyatanya goyah. Tatapan teduh itu masih sanggup membuatnya luluh.


Ah, mengapa dia berpikir sejauh itu? Percaya diri sekali jika sang mantan belum bisa melupakan cinta yang pernah mereka genggam? Bukankah lelaki itu gampang mengganti?


Dion dan Pak Aryan? Itu adalah pengecualian.


"Mengapa bicara seperti itu? Satya saja yang baru berkenalan sudah senang dengannya. Apa kamu yakin bisa membencinya?"


"Siapa yang bilang aku membencinya, Bang?" tanya gadis itu, menjelaskan jika sebenarnya ia masih menyimpan perasaan tetapi berusaha ia tepikan.


"Berarti kamu masih mencintainya. Hanya saja kamu tak ingin melukai suamimu, iya kan?" ucap abang mengerti sekali perasaan adik tersayang.


"Aku hanya ingin mencintai papanya saja," ungkap gadis ayu seraya memandang penuh kasih sayang, balita yang ada di pangkuan si abang.

__ADS_1


Si Abang mengulurkan tangan, mengusap bahu adiknya yang sedang membuncahkan perasaan. Ia tak lagi menanggapi kalimat yang terucap. Bukan saat yang tepat untuk memberikan nasehat. Biarkan dulu hatinya beristirahat, agar penatnya tak menjerat hingga urat syaraf.


Mereka akhirnya saling diam hingga sampai di hotel yang mereka jadikan tempat bermalam. Balita itu masih terlelap di gendongan lelaki manis berjas hitam itu. Sementara sang gadis yang dipanggilnya mama berdiri di sebelah uncle-nya yang sangat sabar.


Berjalan dengan beban, gadis ayu sampai tak sadar jika mereka sudah sampai di dalam kamar. Lelaki kecilnya telah di baringkan oleh abang tersayang. Sementara dia mematung di sisi ranjang. Menatap lekat Di-juniornya yang berparas mirip sekali dengan sang suami.


"Tidurlah! Jangan mendahului tulisan takdir," ucap si abang sambil mengusap puncak rambut adiknya.


🍃🍃🍃🍃🍃


Tubuh, telah gadis ayu itu baringkan. Mata berusaha keras dipejamkan. Namun bukan lelap yang ia dapatkan akan tetapi justru pikirannya melayang. Menangkap sosok lelaki masa lalu yang baru saja ia temui setelah sekian lama terpisah, membuatnya gelisah.


Ia pandangi sosok anak kecil yang terlelap di sampingnya. Wajah lucu dengan pipi chubby itu persis dengan sang suami. Dion Wijaya dan Diozza Satya Wijaya adalah kembar beda usia. Seperti reinkarnasi yang silih berganti untuk menjaga seorang Rosalia Citra Atmadja.


Sentuhan lembut tangan gadis ayu, menyasar rambut tebal lelaki kecilnya. Sebuah kecupan sayang ia sentuhkan di kening buah hati. "Nak, maafkan Mama."


Maaf yang terucap entah untuk apa. Rasanya gadis itu belum mampu menjadi orang tua terbaik bagi sang putra terkasih. Gadis ayu meringkuk, memeluk.


Pikirannya masih juga tak tenang. Kembali melayang pada seseorang yang tadi sempat ia temui meskipun hanya sekejap mata. Ingin menghapus tetapi otaknya tak mampu menembus. Ada kekuatan lain yang menuntunnya untuk kembali menyusuri kisah yang telah menjadi sejarah.


Embusan napas kasar menyapu ruang di sekitar. Membiaskan gusar yang berpendar dari hati yang sedang disusupi oleh cinta lelaki yang pernah menjadi kekasih. Kangen mantan, mungkin begitu yang dia rasakan meskipun ditolak oleh pikiran. Hati mencari arti dari apa yang yang menggelitik perasaan yang dulu pernah sakit.


Bayangan lelaki yang pernah melukai itu, berganti dengan gambar samar sang suami. Datang silih berganti membuat gadis ayu menjadi kelu. Merutuki hatinya yang tak terkendali.


"Mas Dion ... maafkan aku. Mas Rud datang lagi meskipun aku tak ingin seperti ini."


Air mata bergulir di pipi sang gadis. "Ya Tuhan ... jangan kau bolak-balikkan hati ini. Mas Rud biarlah jadi kisah yang telah larut. Jaga rasaku hanya untuk lelaki halalku. Meskipun dia telah pergi, tetapi biarkan dia selamanya ada di hati."

__ADS_1


__ADS_2