
Waktu sepertinya memang sudah membuat semuanya berjalan pada lintasan yang berbeda. Percabangan jalan yang membuat gadis ayu dan sang mantan terpaksa berpisah, kini sudah tidak mungkin lagi untuk diambil jalan putar balik.
Ada hati lain yang sama-sama menempati hati yang dulu hanya mereka miliki. Rosa dan Mas Rud kini sudah menjadi Rosa dan Dion serta Mas Rud dan Lyca. Berpisah untuk dipertemukan dengan lain orang.
Gadis ayu nampak menghela napas. Meskipun sang buah hati tak menyebutkan lagi nama sang mantan, akan tetapi dia masih menyimpan kekhawatiran. Untung ada abang yang menjadi penenang bagi putra semata wayang adik tersayang.
"Kita mau pulang atau jalan-jalan di sini, dulu?" tanya si abang setelah duduk di sebelah gadis ayu.
"Pulang."
Si abang mengacak puncak rambut sang adik. "Karena kamu ngajak pulang, maka aku putuskan kita bakalan jalan-jalan."
Pelototan yang dihadiahkan sang adik justru dibalas senyuman oleh si abang. "Kalau gak mau jalan-jalan ya sudah, pulang duluan aja. Kami liburan berdua gak masalah, kok.
Sekarang bukan hanya mata yang disetting terbuka lebar, bibir pun juga di kerucutkan maksimal. Si abang bukannya sebal dia malah semakin semangat membuat kesal. Dia dekatkan wajahnya dengan memicingkan mata.
"Atau mau ngejar Rud ke London?"
"Emang aku mau jadi pelakor, apa? Maaf ya," ketus gadis ayu dengan menampakkan raut wajah sebal.
"Masih tunangan, Sa. Bukankah sebelum janur kuning melengkung Rud masih bisa ditikung?"
"Bang, sekali lagi bahas dia, awas ya!" ancam gadis ayu tetap bergeming pada posisinya, ngemil makanan setoples berdua sambil memerhatikan Di-junior yang sedang main robot-robotan.
"Kenapa?" tanya santai si abang.
"Aku blacklist dari jabatan uncle-nya Di-junior, mau?"
Gadis ayu mengancam tanpa menukikkan pandangan tajam pada si abang. Dia tetap asyik mencomot camilan dan tak jarang saling berebutan dengan pak Aryannya yang juga melakukan hal yang sama.
"Aku lihat tadi kamu baper, kok sekarang jadi laper?" sindir si abang dengan sesekali mengulaskan senyuman pada sang keponakan yang melihatnya.
Gadis ayu seketika berhenti mengunyah. Kalimat abang membuat rasa perihnya kembali terkenang. Tentang lelaki masa lalu yang kini sedang menuju hari baru dengan wanita yang sempat membuat gadis ayu diseka cemburu.
"Mas Rud akan menemukan bahagia dengan cinta barunya, mengapa aku harus mempersulit perasaanku sendiri?" ujar gadis ayu mematahkan sakit yang menggigit.
"Sejak kapan kamu pandai mengendalikan perasaan? Menangislah kalau kamu memang merasa sudah tak kuat menahan beban di hati! Kamu lupa memiliku yang sudah menyiapkan bahu?"
Gadis ayu menatap lelaki matangnya dengan mata berkaca-kaca. Selalu saja, abangnya itu tahu sesuatu yang ia simpan di dasar sanubari. Hingga masalah besar akan terasa ringan jika ada abang tersayang.
__ADS_1
Tanpa menunggu, si abang sudah meraih gadis ayu dalam rangkulan. "Kamu gak malu menangis terus karena Rud? Keponakan cerdasku bisa menyatukan kalian jika ia tahu cerita sebenarnya."
Gadis ayu hanya diam. Mendengarkan celotehan yang sarat akan pesan untuk menepikan perasaan yang harus segera ia buang. Sekaligus melirik sang buah hati agar tak menyadari jika dirinya kini tengah menangis. Ia tak mau akan kembali dicerca dengan berbagai pertanyaan yang memojokkan.
"Bang, punya pulau pribadi, gak?"
Abang yang sadar jika adiknya mulai melantur segera mengacak puncak kepala lebih kasar daripada biasanya. "punya ... pulau kapuk. Tuh, tidur sana! Kebanyakan di alam nyata, bahaya."
"Katanya mau diajak jalan-jalan, kenapa di suruh tidur?" gerutu gadis ayu.
"Katanya mau nyusul Rud?" goda si abang lagi.
Tak ingin bertambah kesal, gadis ayu meloloskan diri dari rangkulan. Bangkit untuk mendekat pada Di-juniornya yang tengah bermain dengan asyik. Ikut bergabung dalam permainan, menenggelamkan sesak yang mengganggu perasaan.
Dari sofa, si abang memerhatikan sepasang ibu dan anak itu dengan jeli. Ia sandarkan punggungnya sambil menghirup udara dalam-dalam. Melegakan juga perasaannya yang ikut tegang karena ulah adiknya tersayang.
Sa ... aku tahu apa yang sebenarnya mengganggu hatimu. Rasa itu jelas masih ada. Hanya saja kau selalu menyangkalnya. Demi kesetiaan yang kau agungkan, kebahagiaanmu sendiri kau abaikan.
Dion, lihatlah istrimu! Aku sudah menjaganya seperti apa yang kamu minta. Mengupayakan ia tetap tertawa apapun masalah yang sedang dihadapinya. Namun, dia sendiri yang menutup hati. Aku harus bagaimana?
Dion ... terlepas dari permintaanmu, aku juga pasti akan tetap menjaganya sepenuh jiwa. Ini kulakukan bukan semata karenamu tetapi karena diriku sendiri yang juga menginginkannya. Maafkan jika aku juga ingin membahagiakannya secara pribadi. Namun jangan takut ... aku tak akan egois.
Rosamu ... Rosaku ... akan bahagia dengan sempurna. Aku tahu ... hidupmu adalah untuk membahagiakannya. Namun lantaran kamu pergi, aku yang akan membuatnya bahagia dengan mempertemukan kebahagiaan sejatinya.
πΊπΊπΊπΊπΊ
"Uncle ... boleh main ail?" pinta Di-junior pada si abang.
Bocah kecil itu begitu bersemangat. Berlari-lari di sepanjang pantai dengan senyum yang tak berhenti mengukir. Ini adalah kali pertama ia memanjakan matanya dengan lingkungan laut yang penuh pesona.
"Katanya mau ke wahana bermain anak-anak. Kenapa jadinya ke sini?" gerutu gadis ayu seraya membenarkan rambutnya yang meliar diterpa angin yang lumayan besar.
"Karena kami sayang padamu," timpal lelaki yang kali ini memilih berpakaian santai. Hanya celana selutut warna krem dan kaos putih yang membalut tubuhnya. Sangat jauh dari kesehariannya yang selalu melekatkan kemeja dan celana bahan di badan.
"Maksudnya?" selidik gadis ayu seraya memilih duduk di pasir pantai.
"Pantai ini akan mengobati kerinduanmu pada seseorang."
Gadis ayu menoleh. Kalimat abangnya kali ini terlalu berbelit-belit hingga mencernanya menjadi satu hal yang sulit. Si abang yang dipandang, bersikap santai, seperti tidak merasa bersalah karena telah menghadirkan teka-teki.
__ADS_1
"Bang!"
"Jangan teriak-teriak! Pendengaranku masih sehat."
"Mengapa pantai ini mengobati kerinduanku pada seseorang?" perjelasku agar jawaban segera kudapatkan.
"Coba tebak!"
Permainan si abang membuat sang adik semakin geram. Bukannya menebak, ia malah beranjak. Meninggalkan lelaki menyebalkannya dan mendekati putra semata wayang. Bermain dengan air di pinggir yang paling aman dari deburan ombak yang datang.
Ibu dan anak itu asyik bermain basah-basahan. Mereka tertawa lepas. Uncle ikut mendekat. Bergabung dalam lingkaran bahagia yang sengaja ia ciptakan agar adiknya melupakan galau hatinya. Dan sang keponakan pun bisa bermain sepuasnya dengan alam bebas yang jarang dilakukannya.
Setelah merasa lelah, mereka menyewa tikar dan berbaring di atas hamparan pasir yang telah teralasi. Baju basah mereka dijemur di bawah redupnya matahari yang mulai menyapa senja. Lelah yang mendera, membuat Di-junior tertidur dengan pulasnya.
"Lihat, dia! Bahagia sekali wajahnya. Tak seperti sang mama," sindir abang yang dihadiahi pukulan oleh orang yang dia jadikan bahan ejekan.
"Abang gak lihat? Nih gigiku kering gara-gara kebanyakan tertawa," timpal gadis ayu sembari menampakkan gigi gingsungnya.
"Masa? Ah ... tentu saja kamu bahagia. Ada Mas di sini."
"Mas?" tanya gadis ayu.
"Golden Beach ... Pantai Emas. EMas ERud," jelas si abang yang diberikan tinjuan di pahanya.
Tawa abang meliar dalam gaduhnya kesakitan yang ia rasakan. Sang adik merasakan sebal. Lelaki itu selalu saja bisa mengait-ngaitkan.
"Tuh, kan! Kamu tersenyum mendengar kata Mas Rud. Baru namanya loh, belum ketemu orangnya."
"Tau ah, abang menyebalkan!"
πππππ
Jangan lupa selalu kunjungi novel Trio Somplak n The Gank, ya!
__ADS_1