Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Sekarang Saatnya?


__ADS_3

Pengejaran yang akan dilakukan gadis ayu sudah terlebih dahulu terjadi pada abang Aryan. Dalam mobil berpenumpang tiga orang itu, Kristy yang menjadi pengemudi. Dia wanita yang sangat tangguh. Bukan sekadar fisik, akan tetapi juga hati yang kuat menahan perih. Dia adalah abang versi perempuan.


"Mas," panggil Kristy ketika mobil sudah memasuki area rumah sakit.


"Iya, Kris. Tenanglah, aku baik-baik saja. Seharusnya kamu tidak perlu membawaku ke sini. Cukup kamu obati luka luarku."


"Selama ada Kristy, Mas tidak akan bisa mengabaikan kesehatan. Semua harus dicek oleh dokter agar bisa tenang. Pokoknya, Mas dilarang ngeyel." Kristy sangat tegas seolah menjelma menjadi sosok ibu yang menasihati sang putra tercinta.


Papa yang duduk di sebelah Kristy tersenyum simpul. Beliau merasa senang, karena putri kecilnya sanggup membuat abang sulung menjadi penurut. Ini adalah hal langka.


"Akhirnya papa menemukan juga yang bisa menjinakkan Aryan," ucap papa seraya terkekeh.


"Ih, Papa. Memangnya Mas Aryan buas apa? Dia itu hanya terlalu jinak oleh cinta Mbak Rosa. Hidupnya kurang greget," timpal Kristy tanpa basa-basi.


"Gregetin dong, Kris! Masa laki-laki matang kurang pengalaman. Papa malu," balas papa tidak berhenti menyindir.


Abang belum juga membuka kata. Ia masih ingin mendengar obrolan mereka berdua. Itu seperti nasihat dewan juri yang akan ia gunakan sebagai bahan introspeksi diri. Pikirannya membenarkan jika apa yang dibilang papa adalah kenyataan yang ia rasakan. Ucapan Kristy pun terbukti.


Obrolan asyik itu terpaksa dijeda ketika mereka sudah keluar dari kendaraan. Langkah dibawa bersamaan menuju pintu kedua rumah sakit yang bisa langsung diakses dari tempat parkir mobil.


"Papa dan Mas Aryan tunggu saja di sini. Kristy akan mengurus pendaftaran dulu."


Ketika gadis yang selalu ceria itu meninggalkan papa dan abang, kembali terjadi obrolan ringan.


"Siapa istrimu, Nak?" tanya papa penasaran dengan ingatan sang anak.


"Rosa."


"Siapa Rosa?" papa kembali bertanya.


"Wanita yang kucintai, kuanggap adik, dan ... tentu saja dia cantik."


Jawaban abang belum bisa memuaskan hati sang papa. lelaki paruh baya itu kembali menelisik lebih jauh. "Siapa Dion?"


Abang menyulam senyuman. "Dia itu malaikat tidak bersayap, papanya Satya-ku, dan juga ... aku iri padanya karena dia bisa bertahan berjuang sepuluh tahun tanpa sedikitpun niat untuk menyerah."

__ADS_1


Papa menarik napas dan secepatnya mengembuskan. Tampak jika lelaki yang memilih sendiri itu menyimpan khawatir. Sepertinya, ia masih menarik kesimpulan jika sang putra masih amnesia.


"Pa, kenapa Rud memukulku?"


Pertanyaan abang semakin menguatkan keyakinan. Papa sedang menimbang jawaban. Setelah sekian waktu berlalu, barulah beliau memutuskan untuk memberikan jawaban.


"Rud cemburu, Nak."


"Pantaskah dia cemburu padaku?" tanya abang penasaran. Hal itu tampak dari kernyitan dahi.


Kristy datang bertepatan dengan pertanyaan itu selesai dilontarkan abang. Ia berdiri sambil menunjukkan sebuah nomor antrian. "Kita beruntung, Mas. Antreannya tidak banyak. Setelah pasien yang di dalam keluar, maka kita akan masuk."


"Enaknya ada Kristy. Sigap." Papa memuji.


"Calon istri idaman nggak, Pa?" tanya Kristy tanpa malu. Memang begitulah kepribadiannya, selalu berkata apa adanya. Tidak mengenal kata jaim tetapi attitude tetap yang terbaik.


Papa mengacungkan dua ibu jari. "Jempolan pokoknya."


"Sayangnya, nggak ada yang meminang ya, Pa?" Kristy menilai rendah pada diri sendiri. Bukan dengan nada kasihan, justru ia melemparkan senyuman. "Iya kan, Mas?"


"Bantu aamiin-kan, Mas!" pinta Kristy sambil duduk di sisi kiri sang lelaki.


"Tuan Aryan Satya Dharma," panggil seorang suster yang baru saja keluar dari ruang praktik dokter.


Mereka bertiga masuk ke ruangan. Papa dan abang duduk di hadapan dokter, sementara Kristy berdiri di belakang. Kebetulan yang memeriksa adalah dr. Kresna.


Semua mendengarkan dialog antara dokter muda itu dan si abang. Berbagai pertanyaan yang diajukan dan jawaban yang terlontar akhirnya menghasilkan sebuah keputusan bahwa akan diadakan CT Scan ulang untuk mengetahui keadaan abang terkini.


"Haruskah CT Scan lagi, Dok?" Kristy memastikan.


"Iya." Jawab singkat dr. Kresna.


Tidak ada bantahan. Papa menyetujui. Kristy pun tidak bertanya lagi. Mereka kembali menunggu persiapan dan segala hal yang berkaitan dengan CT Scan.


Setelah sekitar satu jam, semuanya sudah selesai. Hasil bisa diketahui satu atau dua hari ke depan. Abang sudah nampak bugar. Hanya ada tanda pengobatan pada luka di kepala.

__ADS_1


"Kris, kamu bisa pulang. Biar papa dan Masmu naik taksi saja. Rumah kita kan tidak searah. Selain itu ini sudah menjelang malam. Tidak baik anak gadis masih di luar," jelas papa.


"Kristy akan mengantarkan Papa dan Mas Aryan pulang. Setelah itu baru Kristy juga pulang. Tenang saja, Pa! Anak bungsu Papa ini tahan segala medan." Kristy menyombongkan diri.


"Ckckckc ... sungguh menantu idaman!" puji Papa kedua kalinya.


Kristy tergelak. "Sayang belum ada yang meminang ya, Pa?"


Pertanyaan itu menjadi deja vu. Sayang, doa abang tidak terulang karena pembahasan terhenti sebelum sampai pada bagian abang. Namun, siapa tahu harapan pertama telah di-aamiin-kan oleh malaikat yang kebetulan lewat.


🍁🍁🍁


Seorang lelaki kecil tengah terbaring pulas di ranjang. Di tepi tempat tidur itu, ada lelaki dewasa yang duduk seraya membelai surai tebal milik putra dari gadis ayu. "Boy ... om Rud pergi. Bobok yang pulas, Sayang. Kamu harus selalu bahagia bersama mama, ya."


Sebuah kecupan kecil, melembut di dahi. "Semoga kita masih bisa berjumpa kembali, Sayang."


Mas Rud bangkit. Ada buncahan rasa yang sukar ditepikan. Namun, inilah keputusan. Mungkin memang Tuhan telah menggariskan demikian. Dipandangnya lagi lelaki kecil yang telah ia sayangi seperti putra sendiri.


Ketidakrelaan pergi, tetapi harus melangkahkan kaki, memantik bulir bening menetes di pipi. Ia tidak kuasa mengolah rasa. Jejak itu memutar. Ranjang semakin jauh ditinggalkan dan pintur kamar yang awalnya sedikit terbuka, kini tertutup rapat.


Mas Rud menyandarkan badan. Ia menunduk sebentar. Rasanya berat. Terlalu menyiksa, tetapi ia tidak ingin memaksa. Mungkin inilah saatnya.


"Kamu yakin, Nak?" tanya mama yang mendekati Mas Rud dengan ekspresi wajah sendu.


Wajah yang awalnya melihat ke bawah, perlahan diangkat sempurna. Senyum penuh paksaan disulam untuk mengkamuflasekan perasaan. "Ini demi kebahagiaan semua, Ma."


Punggung tangan wanita paruh baya itu dicium hormat oleh Mas Rud. Keduanya sedang menata rasa. Mereka tiada sanggup berkata. Hanya tatapan yang mengiringi kepergian.


🍁🍁🍁


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan ketika mereka sampai di kediaman abang. Papa meminta izin untuk ke kamar karena merasa lelah setelah seharian tidak sempat membaringkan badan. Kristy menarik selimut untuk menutup tubuh abang yang terbaring di ranjang.


"Selamat beristirahat, Mas! Aku pulang dulu." ucap Kristy sesaat sebelum beranjak dari duduk.


"Kris ..." panggil abang seraya menahan lengan wanita yang belum sempurna berdiri dari ranjang.

__ADS_1


__ADS_2