Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Mengatur Rindu


__ADS_3

Bab. 14 : Keputusan MPR


Pernahkah kalian berpikir jika orang yang sedang jatuh cinta itu lebay? Waktu seakan tak pernah cukup untuk memikirkan orang yang dicintai. Dekat ingin mendekap, jauh rasanya membuat ingatan lumpuh. Cinta bisa membuat bahagia tetapi ada kalanya mampu menjadikan binasa.


Bangun tanpa menyapanya, seperti embun yang dilarang memanjakan dedaunan pada pagi buta. Kesegaran yang sia-sia. Waktu rasanya ingin kupercepat agar hati yang terpenjara ini segera lepas dari jeruji yang membelenggunya. Bebas untuk memuja.


Perjalanan ke kantor yang biasanya berteman bidadari tak bersayap, kali ini menjadi jomblo sekarat. Berat.


Sengaja tak membawa mobil, aku memilih untuk mengendarai kendaraan roda dua. Sendirian juga tak begitu terasa. Saat cinta itu melabuhkan pilihan, maka saat sendiri membuatmu serasa sedang tersesat. Tak tahu harus berbuat.


Memilih sampai kantor lebih pagi untuk menghindari pertemuan dini. Karena ruanganku akan tercapai dengan melewati lorong tepat di sisi gadis yang sedang aku ajak untuk menjelajah hati. Mata ini seperti sedang dirasuki kompas, arah pandangnya terus mengarah pada dia yang ingin kulepas beberapa saat.


Kuhempaskan kasar tubuhku di kursi kebesaran. Benda pipih pun kubiarkan di meja tanpa mendapatkan sentuhan. Segera kunyalakan laptop untuk mengusir rindu yang berdesir. mengusik hati yang sepi agar tak terperangah rasa yang kian menyakiti.


Pikir sebenarnya tak terparkir pada pekerjaan yang sedang ditatap dengan lekat. Khayal melanglang buana, menyasar keberadaan gadis yang sudah memanah cinta. Meninggalkan luka atas nama rasa yang membekas dan tak bisa disembuhkan. Racun yang telah menyebar membuat tubuh lunglai karena penawar itu hanyalah kehadiran gadis itu sendiri.


Makan siang yang biasanya menjadi ajang melampiaskan belenggu rindu, kini justru seperti jaring yang memerangkap mangsa dengan begitu bengisnya. Rasa bukan ditawarkan justru makin dibuat menggeliat. Alhasil, ingin menyerah tapi gengsi masih tinggi.


Hanya bisa mengumpat dalam hati.


"Rosa diapelin, tuh!" goda Rendra yang kembali dari makan siang.


"Hm."


"Gue yakin bentar lagi ada yang nyerah," celetuk Rendra lagi sambil menatapku dengan senyum smirknya.

__ADS_1


Kuabaikan celetukan Rendra yang sebenarnya berhasil membaca hatiku itu. Aku tak mau terlihat sangat lemah di matanya. Walaupun sebenarnya hatiku sudah sangat porak-poranda karena kerinduan yang menyiksa. Pura-pura kuat padahal rasanya sedang sekarat. "Keluar sana, Ren! Kamu hanya meraibkan semangat kerjaku, aja."


"Meraibkan? Asoy bener itu diksi?" goda Rendra dengan tawa menyebalkannya.


"Iyalah, kamu gak tahu aku pujangga cinta?" timpalku dengan santai.


"Tahulah, pujangga cinta yang sedang tersiksa oleh kerinduan yang mendalam."


Rendra semakin meningkatkan level godaannya. Aku berusaha untuk tetap tenang. Walaupun di dalam hati membenarkan semua yang kudengar. Aku ingin mengibarkan bendera tanda menyerah tapi rasanya masih terlalu dini. Masa aku yang mengajak tetapi aku juga yang membajak. Memaksa untuk berdamai karena tak bisa menahan diri.


"Kalau kangen, samperin! Gak usah sok kuat, gitu!" celetuk Rendra sambil melenggang pergi, kembali ke ruangannya untuk bekerja. Namun seperti biasanya, ia selalu saja berhenti sebelum menutup pintu, untuk menggoda kembali. "Mau nitip salam gak, Pak Manajer?"


Kubiarkan saja lelaki itu terus mengoceh. Lebih kupilih untuk memalingkan pikiran darinya dan kembali dengan pekerjaanku yang masih menumpuk. Setidaknya dengan ditinggal bekerja aku bisa melupakannya sejenak. Tidak terfokus pada rindu yang menggebu.


Tak kusesali keputusan untuk melawan keadaan yang mungkin akan terasa sulit kemudian. Tanpanya setengah hari saja rasanya aku sudah menggila, bagaimana jika aku memaksakan diri untuk pergi? Bisakah aku melangkah dengan jiwa yang utuh?


"Berhentilah sebelum aku menunjukkan jalan bagaimana caranya berhenti!"


Peringatan singkat. Hanya bicara tanpa menunggu aku menjawabnya. Ditutup kembali bahkan tanpa niat mendengar penjelasanku yang akan kekeh tak mau berhenti. Dia sudah memberikan ancaman meskipun tak membuatku gentar. Mana mungkin aku cukupkan sampai di sini jika semakin hari rasa ini semakin kuat tertanam dalam sanubari.


Akan senekat apakah dia untuk menghentikanku? Mencelakaiku ataukah lebih dari itu? Mungkinkah dia akan menghancurkanku hanya untuk seorang wanita yang menolak cintanya?


Kusandarkan kepalaku di kursi. Mengatur napas agar bisa menguasai diri dengan cepat. Mencoba tak memikirkan apa yang baru telingaku dengar. Satu yang pasti, apa pun yang terjadi aku akan tetap memperjuangkannya. Cinta yang singgah ini istimewa. Akan kujaga meskipun nyawaku taruhannya.


Tak kubiarkan aku dikuasai galau. Segera kusingkirkan beban dan kembali ke pekerjaan. Hingga tak terasa pukul lima telah menunjukkan dirinya. Aku tahu jika dia akan pulang setelah ini makanya aku pun menunggu sampai dia berlalu. Menepati janji yang aku buat sendiri dan kita sepakati berdua.

__ADS_1


Selepas magrib adalah waktu yang kupilih untuk pulang. Kantor sepi, hanya tinggal beberapa karyawan laki-laki yang juga sudah bersiap pulang. Diantara mereka jangan berharap menemukan Rendra, karena pasti dia sudah mengantarkan Maya, gadis yang dibucininnya.


Tak ada yang luar biasa dari perjalanku. Sepi sendiri menjadi saksi bahwa laki-laki membutuhkan cinta dari seorang wanita. Tak berguna ketampanan jika tak punya pacar. Kupelankan laju motor saat melewati depan rumahnya. Bangunan dengan pagar setinggi dua meter dengan cat warna putih itu menyembunyikan putri yang sedang ingin kutemui. Lampu di sebuah kamar yang terletak di lantai dua, kuyakin sedang menerangi keberadaannya di sana. Ingin rasanya mengetuk pintu tetapi aku ragu.


Kujinakkan pikiran liarku. Segera kupacu lagi motor agar sampai di rumah tepat waktu. Ayah dan Bunda tak ada ketika aku tiba. Mereka sedang pergi ke rumah Om Dirga. Aku tak tahu itu untuk keperluan apa karena mereka juga tak mengatakannya. Tak ingin terlarut, aku buru-buru menuju kamar. Ingin menyegarkan badan dengan guyuran air keran. Meluruhkan rasa penat yang bersemayam salam benak.


Hanya dengan balutan celana pendek di bagian bawah tubuh, segera kuraih benda pintarku. Sudah kupikir matang-matang di sepanjang perjalanan bahwasanya aku ingin mengibarkan bendera putih. Aku tak bisa lagi untuk tak mendengar suaranya meskipun itu adalah keketusannya.


Segera kuketikkan pesan pertanda menyerah.


MPR atas nama Rud Dinata menyatakan pembatalan keputusan terhadap perjanjian untuk saling mendiamkan. Dengan ini mengakui kekalahan dari seorang wanita yang berkedudukan sebagai ibu negara atas nama Rosalia Citra Atmadja.


Terkirim.


Ah, lega. Sudahlah, tidak perlu sok kuat kalau nyatanya aku yang penat. Dia tercipta memang untuk kogoda.


💝💝💝💝💝


Pesan yang dikirim Mas Rud ini adalah nyata. Depe mendapatkan dari Mas Rud asli. Gombalan yang langka, karena hanya dia yang memilikinya. Kenangan usang yang masih terkenang.


Adakah yang pernah mendatkan pesan cinta seperti ini?


💗💗💗💗💗


Novel Baru Trio Somplak n The Gank, jangan lupa mampir ya!

__ADS_1



__ADS_2