Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Uwu ... Cie ... Baper ...! (Bonchap)


__ADS_3

Kehamilan Kristy dan gadis ayu sudah memasuki pertengahan semester dua. Meskipun berada pada fase yang sama, tetapi bawaan bayi mereka berbeda. Gadis ayu cenderung lebih manja. Bukan pada suaminya, justru abanglah yang menjadi targetnya. Hal ini yang memantik kecemburuan Mas Rud dan Kristy.


"PaRud, berapa lama kita di rumah Eyang?" Di-junior yang sedang asyik menonton kartun menyelisik waktu yang akan ia lalui tanpa keluarga besar Atmadja.


"Besok kita pulang, Sayang," sela cepat sang mama.


"Secepat itu, Ma?"


"Itu lama, Sayang." Gadis ayu menentang pertanyaan putra tersayang.


"Kita akan di sini selama yang kamu mau, Boy" timpal Mas Rud seraya tersenyum.


Gadis ayu tidak berhenti menyahut, "Mas, besok kita pulang. Titik!"


"Ini juga rumah kita. Mau pulang ke mana? Di sini atau di sana sama saja. Asalkan ada aku dan putra kita, bukankah semua tempat dan waktumu menjadi indah, Sayang?" ujar Mas Rud, seraya mengusap puncak rambut gadis ayu.


"Aku kangen abang," balas gadis ayu yang akhirnya memantik emosi.


Mas Rud mulai geram. Dia sengaja menginap di rumah sang bunda untuk sedikit menjauhkan sang istri dari abang. Namun, hal yang ia hindari justru diungkit lagi, maka amarahlah yang akhirnya keluar.


Tidak ada kata yang ia balaskan, karena pasti akan menyakitkan. Mas Rud memilih untuk mengajak Di-junior beranjak dari ruang tengah. Kedua lelaki yang mulai erat berkongsi itu memilih untuk pergi. Mereka meninggalkan wanita yang paling disayang.


"Boy ... PaRud ganteng nggak?" selidik Mas Rud ketika keduanya sudah berada di halaman depan.


Di-junior yang sedang memperhatikan ikan yang berkeliaran di kolam menjawab tanpa sedikit pun menoleh. "Ganteng."


"Ganteng mana sama uncle Aryan?" Mas Rud mulai menampakkan sisi tidak percaya diri.


Di-junior tergugah. Pandangannya beralih arah. Ikan menggemaskan ia biarkan, PaRud tersayang ia berikan tatapan. Sejenak, bocah cilik itu berpikir. Keningnya berkerut. "Bagi Di-junior sama ganteng, tapi ... buat mama kayaknya lebih ganteng uncle Aryan."


"Benarkah begitu?" Mas Rud memastikan. Ia tidak percaya jika sang putra menjawab dengan mengabaikan statusnya sebagai orang tua. Lelaki kecil yang ia ajak curhat itu memiliki sudut pandang berbeda. Dion sekali jawabnya.


"Mama nggak mau jauh dari uncle. Itu berarti uncle lebih membuat kangen, PaRud." Alasan itu bisa dibenarkan, tetapi Mas Rud tidak akan melakukan itu.


"Tapi 'kan PaRud yang berhasil memenangkan hati mama, Boy. Itu berarti ganteng Parud. Catat, Boy!"


Putra pintar hanya menggeleng, ia sudah hafal dengan kenarsisan sang papa. "Baiklah ... tapi PaRud juga harus catat kalau di antara kita bertiga yang paling ganteng adalah Di-junior."


"Boy ... kita sama ganteng. Kamu junior, PaRud senior. Setuju?" tawar Mas rud seraya mengangkat tangan untuk mengajak toss.


Tanpa berpikir panjang, Di-junior memberikan sambutan, "Kita adalah lelaki tampan tujuh turunan, PaRud."


"Tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh belokan, tujuh perempatan, dan bermuara sebagai bagian dari tujuh keajaiban dunia," Mas Rud menyempurnakan kenarsisan dua lelaki di KK Rud Dinata.


"PaRud, mama ngambek, ya?"


"Iya ... tapi PaRud suka. Mamamu kalau ngambek makin imut."


"Kayak marmut nggak, PaRud?"


"Masa kayak marmut? Kayak putri, dong."


Obrolan dua lelaki yang mengaku sebagai pria tertampan di dunia itu, semakin menunjukkan ke-absurd-an. Mereka tidak seperti papa dan putra, melainkan kawan yang sebaya. Chemistry mereka begitu nyata. Mungkin pada kehidupan sebelumnya , mereka adalah belahan jiwa. Itu jika reinkarnasi itu benar-benar ada.


Bocah cilik merogoh saku baju. Ia mengambil sesuatu yang kemudian diberikan pada Mas Rud. "Berikan pada mama, PaRud."


Mas Rud mengamati benda kecil yang baru saja ia terima. "Permen Yuupii bentuk hati berwarna pink dan putih?"


"Yuhuu, PaRud. Mama pernah memberi permen ini pada Di-junior waktu ngambek. Sekarang PaRud coba juga ke mama!" Saran bocah cilik.

__ADS_1


"Sekarang?" tanya Mas Rud.


"Sekarang!" tegas Di-junior.


🍁🍁🍁


"Bagaimana kehamilanmu, Nak?" tanya bunda yang memilih mengobrol dengan gadis ayu.


Senyum tersulam indah di bibir yang merekah, "Alhamdulillah, Rosa beruntung memiliki Mas Rud Bun. Kehamilan ini membuat Rosa seakan menjadi ratu. Memang beda ya, Bun, punya suami mantan bodyguard? Semua dijaga dengan ekstra."


"Suamimu itu memang benar-benar mencintaimu, Nak. Mama dulu takut dia tidak memiliki ketertarikan dengan lawan jenis, karena setiap mau dikenalin dengan wanita selalu menolak. Ternyata dia adalah pria sejati. Cintanya tidak tertandingi hanya untuk satu wanita yang akan ia jadikan istri."


"Bun ... maafkan Rosa sudah mengambil putra Bunda yang luar biasa."


"Mengapa kamu minta maaf, Nak? Dia memang jodohmu. Kalian adalah tulang rusuk yang seharusnya memang menyatu. Bunda tahu kamu akan menyayanginya dengan sepenuh hati," ucap lembut bunda seraya membelai surai panjang sang gadis ayu.


"Tapi Mas Rud cemburu, Bun, kalau Rosa dekat sama abang." Gadis ayu memberikan penjelasan.


"Jelas aja Rud cemburu, Bun. Masa Rosa dekat-dekat sama abang. Bermanja, bermesraan, berpelukan, ber-" Kalimat laporan Mas Rud di-stop oleh gadis ayu.


"Itu tidak benar, Bun. Kapan aku begitu, Mas? Jangan fitnah, dong!" gerutu gadis ayu.


"Sekarang," jawab Mas Rud santai.


Gadis ayu merasa tidak terima, "Hei, Mas! Lihatlah! Mana ada abang di sampingku sekarang?"


"Ada, itu siapa?" ucap Mas Rud.


"Mana? Nggak ada, Mas." Gadis ayu terus menolak tuduhan Mas Rud.


Lebih dari dua kali, sepasang sejoli itu berdebat kusir. Yang satu tidak mau mengalah, satunya juga terus memantik amarah. Ya, begitulah. Mereka berdua memang selalu ramai. Itulah cinta, dalam debat ada rasa yang sangat lebat, terus menggeliat, semakin bergejolak hingga membuat semua yang bernapas memberikan pujian hebat.


"Nggak mau. Aku sudah bisa membaca modus Mas Rud," tolak gadis ayu.


"Sini, Sayang! Mau pahala, nggak?"


"Pahala mau, tapi ..."


"Bun, istriku malu," celetuk Mas Rud yang membuat bunda tanggap jika keberadaannya sedang tidak tepat waktu.


"Bunda, jangan pergi! Maksud Rosa bukan malu sama Bunda."


Bunda sudah membulatkan tekad, " Bunda mau bermain sama cucu dulu. Kalian carilah pahala!"


Gadis ayu membalas senyum bunda dengan ekspresi kecut. "Mas, nggak boleh begitu. Masa demi aku meminta bunda pergi. Durhaka nanti."


"Sayang ... kamu takut aku jadi anak durhaka. Lalu, apakah kamu tidak takut menjadi istri durhaka, Hm?"


Mas Rud memang juara membolak-balikkan kata. Ia yang diingatkan, justru gadis ayu yang diusik dengan bakti istri pada suami. Jika sudah begitu, siapa yang masih bisa berkutik.


Dengan wajah cemberut, gadis ayu mendekat pada Mas Rud. Ia duduk agak menjauh. Namun, perlahan beringsut ketika Mas Rud menepuk sofa di sebelahnya yang empuk.


Mengabaikan muka kecut sang gadis ayu, Mas Rud meletakkan benda dari sang putra pada telapak tangan istri tercinta. "Untuk yang sedang ngambek."


Gadis ayu mengambil benda kecil dan mengernyit, "Memangnya aku Di-junior? Sogokan ini tidak akan meruntuhkan amarahku."


"Jangan lihat yang aku berikan dong, Sayang!"


"Lalu, apa yang harus aku lihat? Harganya? Ini juga tidak seberapa."

__ADS_1


"Lihatlah siapa yang memberikan!" terang Mas Rud seraya mengumbar senyum.


Seketika gadis ayu menatap Mas Rud. Jarak mereka tidaklah begitu jauh. Bahkan jika berniat untuk mengukur, mungkin hanya sebatas satu jengkal tangan Mas Rud.


Tiba-tiba saja, Mas Rud menyambar bibir sang gadis ayu. Sedikit bar-bar, tetapi hanya sebentar. Kecupan kecil yang sanggup membuat debar itu berdenyut. Antara kurang puas dan rasa malu jika harus meminta diulang.


"Mas Rud," gerutu gadis ayu dengan bibir mengerucut.


"Mau minta nambah tapi malu, ya? Sengaja 'kan bibir dimonyong-monyongin gitu?" Mas Rud menggoda dengan kerlingan mata.


"Mas 'tuh yang ngarep. Jangan memutarbalikkan fakta. Dosa."


"Kalau begitu aku memutarbalikkan bibirmu aja, biar berpahala."


"Mm-" belum sempat mencukupkan kalimat, Mas Rud sudah membuat gadis ayu tenggelam dalam kehangatan. Kali ini sentuhan itu benar-benar lembut.


"Maafkan aku, Sayang! Aku mencintaimu, maka nya aku cemburu. Hati ini takut untuk kehilanganmu lagi." Mas Rud membawa gadis ayu dalam pelukan tulus.


"Maafkan aku juga, Mas. Istri manjamu ini memang tidak seharusnya meminta perhatian pada lelaki lain. Aku salah, tapi ... jangan marah!" ucap manja sang gadis ayu dengan ekspresi yang membuat Mas Rud luluh.


"Aku bukan marah. Hanya saja, suamimu ini bisa memberikan semua yang abangmu itu lakukan. Pelukan lebih hangat, perhatianku tidak akan ada masa kedaluarsa, aku mencintaimu sepanjang waktu. Apakah itu tidak cukup?" jelas Mas Rud seraya mengecup kening gadis ayu dengan lembut. "Atau kamu mau menukarku dengan abangmu?"


Secepat kilat gadis ayu menggeleng, "Tentu saja tidak, Mas. Aku bisa gila kalau kehilanganmu lagi. Caramu mencintaiku tidak ada duanya. Hanya Mas yang aku mau."


"Tapi ... kamu tidak cukup bagiku. Aku perlu cinta yang lain," jelas Mas Rud sengaja menggoda gadis ayu.


"Mmaaaasss ... awas aja kalau Mas nakal," ucap gadis ayu memukul dada Mas Rud.


"Apa sih, Sayang?"


"Jangan berniat nakal!"


"Tapi ... aku mau nakal. Gimana, dong?"


"Mmas ... aku cium, 'nih!"


"Cium, aja!" tantang Mas Rud.


"Mmmmmaaaaaaassssss ...!"


🍁🍁🍁


Kalian nagih bonchap, Depe nagih up. Tuh, kan. 😂😂😂😂


Terima kasih yang masih dan selalu setia menanti.🥰🥰🥰


Alhamdulillah novel baru Depe udah launching.


Bukan Antara Jejaka dan Duda, ya. Ini novel sela. Judulnya Ranjang Beku.


Mampir, yuk! Ditunggu loh! Udah Depe gelar karpet merah dan juga disiapin camera ber-roll roll buat foto kalian, loh.😂😂😂😂


Yuk-yuk, kepoin!


Di mana, sih?


Di hatimu .... eaaaa 😂😂😂😂 Masih di NT, kok.


ig : Aldekha-depe

__ADS_1


fb : Aldekha depe


__ADS_2