
Senyum terkembang di bibir gadis ayu itu. Dari sorot matanya jelas terbaca jika ia tengah dirayu bahagia oleh kenangan manis dari novel yang baru dibacanya. Indahnya cinta diawal jumpa, kembali terpampang nyata diingatannya. Bagaimana deja vu yang dia kira hanya sekadar angin lalu, akhirnya menghadirkan lelaki itu di hadapannya. Hingga tanpa ia sadari, hatinya sudah dipenuhi bunga-bunga cinta yang entah kapan mulai bersemi.
"Cie ... yang pagi ini senyum-senyum. Lagi jatuh cinta?" goda seorang lelaki dengan setelan pakaian olahraga yang baru saja hadir di depannya.
Gadis ayu itu menatap lelaki yang masih melelehkan keringat di sekujur tubuhnya, khas hasil olahraga. "Mengenang saat jatuh cinta."
"Mengenang? Apa kamu rindu dicintai?" celetuk lelaki itu sambil membuka penutup botol air mineral yang ada di tangannya.
"Aku bahkan sudah tidak ingin berurusan dengan yang namanya cinta," jelas gadis itu sambil meletakkan novelnya di meja.
Lelaki itu meletakkan botol minumnya di meja. Melihat gadis di hadapannya dengan tatapan sendu yang sebentar kemudian dia usahakan untuk mengulum senyum dan matanya ia paksa untuk berbinar bahagia. "Semua yang terjadi padamu, bukan salah cinta. Perjalananmu masih panjang untuk menemukan cinta yang lain. Jangan tutup dirimu, bukalah hati!"
"Apakah ucapanmu modus, Pak?" sindir gadis itu pada lelaki yang baru saja menasihatinya.
"Masih perlu kujawab?" balas lelaki itu dengan santainya.
"Kakak yang mencintai adiknya itu dosa," seloroh gadis itu dengan enteng.
"Itu, tahu. Kenapa masih tanya? Lanjutin baca novelnya! Setidaknya aku bahagia bisa melihat senyummu ada lagi, meskipun hanya bisa sebatas mengenangnya," perintah lelaki itu sebelum meninggalkan gadis ayu itu, kembali seorang diri.
Gadis itu menghela napas panjang seraya membuang pandang pada sembarang arah. Kalimat lelaki itu menyisakan nyeri di hati. Bahagia dalam kenangan? Bukankah itu kalimat miris yang hanya akan mengiris-iris. Entahlah, tapi ada kebenaran yang lelaki itu ungkapkan. Ia bisa tersenyum dari hati, sesuatu yang sudah lama ia lupakan. Dan itu semua hanya karena sebuah tulisan dari kisah lalu yang bahkan berakhir menyedihkan.
Jatuh cinta ... cintanya indah tapi saat jatuhnya, itu menyakitkan. Dan saat kita kembali dihadirkan dalam kenangan indah apalagi yang terjadi jika bukan mengumbar senyuman. Meskipun pada akhirnya teringat akan luka yang membuat tangislah yang menggantikan semua tawa.
"Kamu menyakiti tapi kenapa ketika ingat kebahagiaan kita saat awal bersama, aku masih merasakan kebahagiaan itu, Mas?"
Dalamnya perasaan gadis ayu pada penulis novel itu, membuatnya tak ingin berhenti untuk terus jatuh dalam kenangan. Novel itu kembali dibukanya, walaupun awalnya ragu tapi pada akhirnya dia tak mampu untuk tidak melanjutkannya.
Bab. 6 : Awal Tebaran Rayuan
Obrolan kami yang mulai beranjak dari level dasar membuat tak sadar jika waktu sudah bergulir begitu cepat. Pesanan kami sudah terhidang di meja. Bukan sesuatu yang wah tapi cukup membuat selera makanku tergugah.
"S-O-T-O?" lafal gadis ayu di depanku, perlahan, saat mendapati menu itu yang terhidang di meja.
Kumenoleh ke arahnya. Meninggalkan sementara kegiatanku menambah kecap dalam mangkuk berkuah itu. "Mau pesan yang lain?"
Dia menggeleng. "Mas, suka soto?" tanyanya kemudian.
"Hmmmm ...," jawabku seraya melihatnya lembut.
Ya ... soto adalah menu favorit keluargaku saat berkunjung ke restoran ini. Ayah adalah penggemar masakan berkuah kuning itu. Kuliner di manapun, tak ada pilihan lain yang di pesannya selain soto.
"Mas, tau gak?" tiba-tiba gadis incaranku mulai bertanya. Padahal sebelumnya selalu aku yang berinisiatif untuk membuatnya bicara.
Kumenoleh padanya dengan menghabiskan kunyahan dalam mulutku. "Apa?"
"Kalau makan soto begini, aku jadi inget sama Papa. Dulu kemana pun kami pergi, makannya soto lagi soto lagi," ceritanya dengan semangat dan diakhiri dengan senyuman.
"Benarkah?" yakinku sambil menghentikan makan dan memilih untuk menikmati senyumnya yang belum juga pudar.
__ADS_1
"Hmm ... makanya tadi pas makanan datang, aku bilang soto?"
Aku mengulas senyum balas untuknya. Soto, menjadi awal yang indah untuk keakraban yang kami rasakan. "Seleraku dan Papamu sama, apakah itu tanda ...," kujeda kalimatku untuk membuatnya penasaran.
"Tanda apa?" selidiknya tanpa melihatku dan fokus menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
"Selera kami soal soto kan sama, jadi sepertinya aku juga bisa memahami bagaimana Papamu menjaga dan menyayangimu," selorohku disertai kerlingan mata.
"Gak nyambung," timpalnya singkat.
Ketus, inikah yang dibilang Rendra? Namun aku suka. Dimataku, ketusmu adalah tantangan untuk semakin getol mendapatkan cinta.
"Loh, ini bener," aku semakin menambah senyuman nakal.
"Mas Rud sama kayak mas Rendra," vonisnya membandingkan.
"Apa?" aku penasaran.
"Sama-sama suka gombal. Tapi maaf aku dah kebal," jelasnya dengan senyum percaya diri.
Kalimatnya membuatku menatap manik matanya dengan lembut tapi mendalam. "Aku bahkan lebih gombal dari dia."
"Ohya ...? Aku berarti harus waspada," timpalnya seraya membalas tatapanku.
Kami kembali terjerat dalam lingkar pandang. Terbelenggu rasa yang semakin menderu. Menemukan cinta dalam sorot mata yang saling bicara dengan isyarat.
"Banyak berkeliaran tukang gombal di sekitarku," akunya masih menautkan indera penglihatan.
Kamu salah! Bukan banyak perayu di sampingmu, tapi banyak hati yang sudah terjatuh dalam pesonamu. Termasuk aku. Meskipun kamu tak sengaja menebar rayuan tapi justru itulah tipe hati yang harus dikejar.
"Kamu, betah banget menatapku. Jatuh cinta, ya?" PDku sengaja menggodanya.
"Ngarep banget kayaknya," tanyanya tetap menatap mataku.
"Mencintai itu gak dosa," kilahku menahan debaran yang tiba-tiba saja menjadi lebih kencang.
Dia sedikit memajukan wajahnya, semakin mendekatiku. "Sepertinya, kamu yang sudah jatuh cinta sama aku, Mas," ucapnya yakin sebelum menarik kembali dirinya menjauhkan dari tubuhku.
Tentu saja. Aku memang jatuh cinta padamu. Cinta yang tumbuh cepat, melaknat, dan ingin selalu dekat, melekat dan harus segera disatukan dalam jerat nikmat dari Sang Maha Pemikat. Ah ... konyol. Bagaimana bisa aku berpikir segila ini?
Rosa ... Rosa ... Rosa ... apa kamu sudah menghipnotisku? Membawa logikaku dan mengikat erat hatiku di dalam cintamu.
"Mau nambah?" tanyaku membuat pengalihan. Lebih memilih mengomentari kondisi piringnya yang sudah tak menyisakan sebutir nasi pun daripada menjawab pertanyaannya tentang kondisi hatiku.
"Mau ... nambah cintamu!" candanya yang sungguh di luar pemikiranku.
"Wah bisa gombal juga, tapi maaf aku dah kebal," tegasku mengembalikan kalimat yang tadi dia berikan.
"Hei ... itu tadi kata-kataku, kenapa kau curi?" celetuknya sebal.
__ADS_1
"Buat apa aku nyuri kata-katamu, mending aku nyuri hatimu," ucapku sambil mengulas senyum dan mengangkat kedua alis.
"Pulang aja, yuk! Kita dah mulai ngaco," ajaknya yang kurasa hanya pengalihan saja.
Tanpa persetujuanku, dia sudah berdiri dan melangkah dengan senyumnya. Aku pun segera meninggalkan meja, membayar dan kembali ke mobil. Mendapatinya sudah memasang seat bealt dan tengah asyik dengan senam jarinya. Mengabaikanku yang masuk mobil dan bersiap membawanya kembali pulang.
Waktu sudah menyentuh angka 9 malam. Tapi jalanan masih sangat ramai. Jarak yang seharusnya bisa ditempuh 25 menit, sepertinya akan menjadi 2x lipatnya. Aku fokus dengan jalanan di depan, sementara dia masih berkutat dengan benda pintar di tangan.
"Hai Yo, ada apa?" suaranya terdengar lirih.
" Benarkah? Kapan?"
"Aku pasti dateng, udah kangen banget,"
"OK! Di tempat biasa ya? Aku dah kangen makan sotonya cak blangkon."
"Da ...,"
Telepon singkatnya telah selesai. Namun dia masih asyik dengan smartphone-nya. Bukannya mengajakku mengobrol basa-basi tapi malah memasang benda kecil di kedua telinganya.
"Di mobilku dilarang main handphone lebih dari 10 menit!" ucapku sambil melepaskan earphone dari telinganya sebelah kanan.
"Apa 'an, sih?" gerutunya.
"Ada makhluk hidup di sini, ngapain asyik-asyikan sama makhluk gak hidup?" aku balik menggerutu.
"Sssstttt ... ini penting!" tegasnya sambil memasang earphone kembali.
Kuulaskan senyum penuh ambigu seraya kembali melepaskan earphone-nya. "Apa ada yang lebih penting dariku?"
"Banyak," jawabnya singkat.
Gadis ini, kenapa pandai sekali membuat hatiku terombang-ambing. Sebentar membuatku melayang karena godaannya, sebentar kemudian aku yang terhempas karena godaanku yang diabaikannya. Aarrgghh! Sungguh gadis yang penuh pesona.
"Pacar kamu banyak ya, Sa? Kemarin Dion sekarang Yo ...?" sindirku untuk menyembunyikan buncahan rasa.
"Kepo,"
Tuh kan, ketusnya kumat. Herannya bukan menjadikan khianat atas rasaku tapi malah semakin terjerat dalam pekat.
"Aku emang sengaja kepo," celetukku untuk memancing reaksinya.
Tapi diabaikan!
Dia malah memasang lagi earphone-nya. Kali ini kubiarkan dia asyik dengan benda pintarnya itu. Dan entah dapat keberanian dari mana kuacak pelan rambut di puncak kepalanya. Kupikir dia akan protes tapi nyatanya tidak. Gadisku, bagaimana hatimu?
__________________________________________________
Gadis ayu itu menutup novelnya dengan senyum bahagia. Rona merah menghias pipi putihnya. Seperti seseorang yang sedang jatuh cinta ia senyum-senyum menatap novel di tangannya.
__ADS_1