Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Lyca


__ADS_3

"Angkat teleponnya!" Perintah Mas Rud seraya menyodorkan gawainya. Rupanya ia tahu jika gadis ayu terganggu dengan telepon itu.


"Kenapa aku yang harus mengangkatnya?" tolak gadis ayu seraya memalingkan muka. Tangannya ia tumpukan pada paha untuk beranjak dari posisinya.


"Aku memintamu mengangkat telepon di sini. Kenapa malah mau lepas dari pelukanku?" ucap Mas Rud seraya mengeratkan pelukan.


"Angkatlah, Mas! Nanti keburu mati," pinta gadis ayu dengan tetap memberontak.


"Biarkan saja mati. Itu tidak akan berarti. Karena yang membuatku hidup adalah wanita ini," tunjuk Mas Rud sambil mencubit gemas pipi sang gadis.


"Mas, jangan seperti anak kecil!" omel gadis ayu.


"Denganmu, aku bisa seperti anak kecil dan juga bisa bikin anak kecil."


Ucapan nakal Mas Rud membuat gadis ayu melayangkan pukulan di perut sang mantan. Pekikan palsu Mas Rud membuat gadis ayu merasa takut. Khawatir jika apa yang dilakukannya menimbulkan rasa sakit, padahal itu hanya sebuah kebohongan semata.


"Mas, sakit banget, ya?" ucap gadis ayu was-was seraya mengusap-usap.


"Rasanya aku mau mati, Sayang," balas Mas rud yang justru membuat gadis ayu tahu sedang dijaili.


Sebuah pukulan kembali dilayangkan ditempat yang sama. "Bodyguard macam apa yang diginiin aja mau mati? Waktu itu tertembak aja nggak apa-apa."


"Karena kamu adalah nyawaku. Puncak prestasiku selama menjadi bodyguard adalah tertembak demi menyelamatkanmu," aku Mas rud yang membuat gadis ayu seperti diingatkan dengan kejadian paling menegangkan dalam kehidupannya.


"Bagaimana kalau waktu itu nyawamu tidak selamat, Mas?"


"Berarti yang sedang memangkumu sekarang bukan aku."


Seketika gadis ayu bangkit, melepaskan diri dari pelukan Mas Rud. "Jangan seperti ini lagi! Kita tak boleh melakukannya."


Mas Rud ikut berdiri. "Aku tidak bisa menahan diri kalau di dekatmu. Kurasa kamu pun begitu."


"Setelah ini jangan menemuiku lagi! Mana kunci mobil abang, kamu tidak perlu mengantarku pulang?" ucap gadis ayu seraya mencari-cari keberadaan kunci mobil.


"Bagaimana mungkin aku tidak menemuimu lagi? Aku buru-buru pulang setelah mendengar kabar jika kini kamu sendirian," aku Mas Rud.


"Sekarang kamu sudah tahu aku tidak sendiri lagi. Banyak yang menyayangiku. Jadi kamu bisa balik lagi."


"Kamu ikhlas aku kembali pada Lyca?"

__ADS_1


"Ikhlas, sangat ikhlas."


Sepasang mantan itu sama-sama menepikan perasaan. Mas Rud sok menantang dan gadis ayu sok melepaskan. Padahal dalam tubuh yang saling membelakangi, perasaan mereka sama-sama tercabik.


"Ya sudah, pulanglah!" perintah Mas Rud.


"Aku pulang! Kamu juga kembalilah ke London! Kejar kembali Lyca!" ucap gadis ayu menahan sesak di kalbu.


"Pulanglah!" balas Mas Rud seraya meninggalkan ruang keluarga dan menaiki tangga.


Gadis ayu memaku. Keputusan Mas Rud sepertinya membuatnya kecewa. Namun, gengsi terlalu tinggi. Perlahan, langkah diayunkan.


"Bun, Rosa pulang dulu," pamit gadis ayu saat menemui bunda Mas Rud yang tengah duduk di ruang tamu.


"Duduk dulu, Sayang!" pinta Bunda seraya menepuk sofa di sebelahnya.


Meskipun ada rasa canggung, tetapi gadis ayu menurut. Kedekatan mereka yang pernah terjalin dulu, sepertinya masih meninggalkan kesan mendalam, sehingga keakraban lekas kembali tertanam.


"Bunda mengizinkan kamu pulang, tetapi harus diantar Rud."


"Rosa bisa sendiri, Bun. Biarkan Mas rud istirahat," alasan gadis ayu agar bunda menyetujui kepulangannya seorang sendiri.


"Tidak, Nak. Bunda tidak akan mengizinkanmu pulang sendiri. Rud harus bertanggung jawab. Dia yang mengajakmu ke sini, dia juga yang harus mengantarmu pulang."


"Jangan membantah! Ayo, temani bunda mengobrol! Tadi, kan belum jadi."


Gadis ayu mengikuti langkah sang bunda. Bukan ke ruang keluarga tetapi ke kamar Mas Rud.


"Masuk aja, Bun!" jawab Mas Rud saat sang bunda mengetuk pintu kamarnya.


Lelaki itu tengah menelungkupkan tubuhnya di ranjang saat sang bunda dan gadis ayu datang.


"Rud, kapan bunda mengajarimu untuk tidak bertanggung jawab? Bisa-bisanya Rosa kamu biarkan pulang sendirian. Kejar, sana!" perintah bunda seraya meminta gadis ayu untuk diam.


"Dia menyuruh Rud kembali ke London, Bun."


"Ya sudah, kembalilah ke London! Untuk apa kamu di sini kalau niatmu memperjuangkan Rosa hanya sebatas ini," tohok sang bunda.


Wanita paruh baya itu beranjak keluar. Seketika Mas Rud bangkit dari ranjang. Sebelum ia sempat mengejar sang bunda, ia menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Kedua netra Mas Rud dan gadis ayu saling menatap. Beberapa waktu mereka terdiam. Hening.


"Apa kamu mau ikut aku ke London?" tanya Mas Rud seraya memasukkan tangannya ke saku celana.


Gadis ayu masih terpaku. Ia tidak memperhatikan lelaki itu tetapi justru membuang pandangan ke sisi lain kamar. Tatapannya tertuju pada sebuah buku kecil yang tergeletak di meja.


Menyadari apa yang diperhatikan oleh gadis ayu, Mas Rud mengambil benda itu dan kembali ke hadapan gadis ayu. "Ini adalah novel yang aku tulis setelah novel yang kamu bawa itu aku serahkan padamu. Mau baca? Tidak perlu. Aku takut sesalmu terlambat."


Novel itu dilempar Mas Rud ke ranjang. "Ayo aku antar pulang!"


Mas Rud mulai menjejakkan kaki. Gadis ayu dia lewati. Hingga sampai di balik pintu, ia memutar tubuhnya karena tahu jika gadis ayu tak mengekor langkahnya. Dia perhatikan apa yang gadisnya lakukan dengan bersandar pada pintu.


Gadis ayu ikut mengayun kaki. Bukan mengikuti Mas Rud tetapi justru berusaha mengambil novel di ranjang. Namun, belum juga berhasil meraih, tangan Mas rud sudah menepis.


"Jangan sentuh novel itu!"


"Aku hanya ingin melihat," ujar gadis ayu.


"Untuk apa? Mau uji nyali?" selidik Mas Rud tanpa ada senyum.


"Sekedar tahu." Jawaban konyol itu yang terpental tanpa perhitungan.


"Tidak usah tahu kalau hanya akan membuatmu bimbang tak berkesudahan."


Mas Rud membawa novel itu pergi. "Ayo, aku antarkan pulang!"


Tanpa memperhatikan gadis ayu, Mas Rud terus melangkah maju. Meninggalkan wanita yang dicintainya itu dengan hati yang coba ia buat biasa. Padahal, sejujurnya perasaannya sedang membuncah.


Gadis ayu menjatuhkan diri di ranjang. Ia terduduk seraya merasakan aroma yang sangat ia hafal. Mata ia pejamkan, sengaja untuk menelusupkan buai aroma hingga menyebarkan kedamaian dalam hati dan pikirnya.


"Nggak jadi pulang?" tanya Mas Rud yang tiba-tiba saja sudah berdiri tepat di hadapannya.


Gadis ayu terkesiap. Ia segera membuka mata dan mengangkat pandangannya. "Ayo, pulang!"


Mas Rud kembali melangkah sebelum gadis ayu beranjak. Dua insan itu tak bicara bahkan sampai keluar rumah dan mendekat ke parkiran.


Gadis ayu sedikit berlari kecil untuk bisa menggapai tangan sang mantan kekasih. "Ini kunci mobilnya. "


Tanpa banyak bicara, Mas rud mengambil dan memencet tombol dengan gambar gembok terbuka. Setelah berbunyi dua kali, kunci itu diserahkan kembali pada telapan tangan kanan sang gadis. Dengan santai, Mas Rud membuka pintu mobil sebelah kiri.

__ADS_1


Gadis ayu tertegun. Ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Mas Rud. "Apakah aku yang harus menyetir?"


"Bukankah kamu tidak mau aku stir? Ya sudah sekarang kamu yang bawa mobil. Aku sedang mengendalikan hatiku."


__ADS_2