
"Seharusnya, cincin itu dia sertakan dalam box bersama novel ini, Sa. Bukan hanya sekadar visual," celetuk si Abang untuk meredam gejolak rasa yang pernah mengendap dan kini kembali mengoyak.
Si gadis melirik si Abang. Lelaki yang merasa sedang diperhatikan dengan tajam itu justru mengulas sebuah senyuman. Membuat wanita ayu itu melengos kembali. Menjauhkan pandang dari sang lawan.
"Gak usah marah gitu, dong! Nanti aku beliin di tukang mainan," hibur si Abang dengan candaan.
Bibir yang mengerucut ketika mendengar celetukan Abang, tak cukup untuk menunjukkan amarah adik tersayang. Telapak tangan lembut itu menyasar paha lelaki yang baru saja menggodanya. Menepuk dengan keras hingga suara mengaduh terdengar sedang mewakilkan rasanya.
"Abang, kenapa menyebalkan sekali? Lihatlah, di jariku masih melingkar cincin ini!"
Gadis ayu memperlihatkan sebuah benda yang bertahta di jari manis tangan kirinya. Ada perubahan gurat ekspresi. Kesedihan yang merebak perlahan. Si Abang meraih jemari itu dan mengusapnya pelan.
"Apakah ini yang masih mengikat perasaanmu dengan masa lalu? Sehingga masa lalu yang datang lebih jauh, kehadirannya coba kau sangkal terus?"
Gadis ayu menundukkan pandangan. Menatap pengikat statusnya dengan lelaki yang kini telah pergi. Manik hitam itu perlahan berair dan menghamburlah perasaan yang coba ia tahan. Gadis itu terjebak dalam dua kisah yang membuat hatinya membuncah. Dua kenangan masa silam yang saling terhubung dan tak bisa ia tenggelamkan. Justru makin mengapung dan membawa cerita kelam yang entah akan berakhir seperti apa.
"Cinta dan status. Waktu membuatmu dihadapkan pada kegamangan. Mungkin kamu yang mempersulitnya sendiri, Sa. Bisa jadi di sana Rud juga merasakan hal yang sama denganmu. Cinta dan status. Ingin nekat tetapi dia memikirkan hatimu. Mengabaikan hatinya sendiri agar kamu bahagia. Padahal kalian hanya butuh saling mengakui bahwa perasaan itu masih sama."
"Bang, statusku dan pemilik cintaku masih sama. Bukan lagi penulis novel ini tetapi pemberi cincin ini."
Si Abang melepaskan sentuhan dari tangan gadisnya. Mengulur pada puncak kepala adik yang disayanginya itu. Mengusapnya lembut. "Aku mengerti perasaanmu. Biarlah rasamu mengalir. Tak perlu kamu arahkan, karena ia tahu kemana akan bermuara."
Gadis ayu hanya diam. Manik hitamnya bergantian mengarahkan pandang dari jari lentik ke novel berkisah cinta yang mulai pelik. Helaan napas menjedanya. Ada resah yang menggelayut manja di ruang hatinya. Memainkan rasa atas nama cinta dua pria yang sama-sama mengisi hatinya dengan cerita berbeda.
"Bang, baca lagi, ya?" tawar sang gadis yang ditawar balik lelaki yang selalu menjaganya itu.
"Kalau membuatmu bahagia, aku perbolehkan. Namun jika kamu semakin gamang, aku akan marah."
Sang gadis telah hafal dengan kalimat si Abang. Itu bukan ancaman tetapi sekadar gertakan kecil yang tak akan sanggup dia wujudkan dalam perbuatan. Seketika gadis itu kembali meraih novelnya. Meski ada sakit yang menggelitik tetapi rasa penasaran lebih menguasai. Tak apalah dia lara asal segala teka-teki masa lalu terkuak semuanya.
Bab 23 : Ingin Mengungkap Tapi Berat
__ADS_1
Acara lamaran, lebih tepatnya adalah silaturahmi untuk menyatakan maksud hendak melamar tinggal menunggu dua hari lagi. Tak sabar, rasanya hati ini sudah ingin berikrar. Menyatakan kepemilikan atas seseorang yang tak pernah bisa lepas dari pikiran.
"Mas, dari tadi kok senyum-senyum sendiri?" selidiknya seraya memiringkan posisi duduk, mengarah ke hadapku.
"Aku bahagia," akuku dengan mengeratkan genggaman jemarinya.
"Kamu bahagia apa rada-rada, Mas?" godanya sambil tersenyum manja.
"Iya, aku tergila-gila karena mencintaimu."
Gadis ayuku tersenyum. Pipinya merona tak sejalan dengan bibirnya yang mengaku jika ucapanku gombalan semata. Kudekatkan punggung tangan yang kugenggam ke dalam rengkuhan kelembutan sentuhan dari bibir kenyalku. Menciumnya berkali-kali.
"Sayang, aku ingin kita menikah secepatnya. Terlalu lama seperti ini aku takut lupa diri."
"Kalau begitu, kurangi frekuensi pertemuan kita, Mas," ujar wanita yang akan segera kulamar itu menggoda.
"Berada di dekatmu saja membuatku gila, bagaimana jika harus jauh darimu. Kamu pikir aku mampu, hmm?" ucapku yang terdengar seperti bualan padahal ini adalah kenyataan.
"Mas," sebutnya lirih.
"Hmm," gumamku seraya menatap manik matanya yang melihatku manja. Ekspresi menggemaskan yang selalu ingin kulihat sepanjang mataku memandang. Ketika membuka mata saat pagi menyapa dan menutup netra kala malam mengajarkan raga tenggelam dalam kelelapan.
"Sudah sampai, Mas," ingatnya saat kami sudah berada di halaman rumahnya tetapi masih bergeming.
"Aku tahu," jawabku tak jua melepaskan genggaman tangan.
"Lalu, mengapa tak membiarkan aku turun?" tanyanya yang kubalas dengan menarik lembut tubuhnya ke tubuhku. Memberikan pelukan ketenangan, bukan padanya tetapi pada diri sendiri.
"Rasanya, aku tak ingin berpisah denganmu."
"Hanya semalam, Mas. Besok seharian kita juga bakalan bersama lagi," hiburnya yang tak sukses membuatku luluh.
__ADS_1
"Aku bahkan tak sabar menghabiskan malam denganmu," ucapku yang langsung dikejutkan dengan sebuah cubitan kecil di perutku.
Sekuat tenaga ia ingin melepaskan diri, tetapi aku tak sedikit pun memberinya ruang untuk meloloskan tubuhnya. Helaan napas menyerah ia keluarkan dengan lelah. Menatapku dengan tatapan yang berbinar cinta.
"Jika aku tak boleh turun, sekarang bawalah aku pulang. Maka aku akan menemani malammu."
Terpana aku mendengar kalimatnya. Gadisku ini memang selalu tak terduga. Aku yang menawar, di saat dia mengiyakan justru aku yang merasa tak sanggup jika itu dia lakukan. Kehabisan kata, kupilih untuk memberikan sebuah kecupan di rambutnya.
"Turunlah, Sayang! Aku akan bersabar sedikit lagi untuk bisa bersamamu menghabiskan malam," kuulaskan semangat nakal untuk menutupi gejolakku yang meliar.
"Sepertinya sabarmu sedikit lebih lama, Sayang," ucapnya seraya menyentuhkan bibirnya di pipi kiriku. Ciuman hangat yang membuatku terkesiap. Timbal-balik kemesraan seperti inilah yang membuatku tak kuat untuk menahan hasrat. Aku benar-benar sudah jatuh terlalu jauh dalam pelukan cinta yang membuatku bahagia.
Aku mengisyaratkan jariku untuk melukiskan kata sedikit. Dia mengulas lagi senyumnya yang manis. Tangannya mengusap pipiku yang baru saja di sentuhnya. Mengalirkan desir yang membuatku tak bisa lagi berpikir. Segera kudekap lagi hangat tubuhnya. Mendekatkan bibirku pada telinganya dan berbisik di sana.
"Tunggulah, sebentar lagi aku akan menghalalkanmu!"
Sekali lagi kucium sisi rambutnya sebelah kanan. Meraih jemarinya dan mencium punggung tangannya penuh cinta. "Masuklah! Nanti aku telepon ya kalau sudah sampai rumah. Maafkan aku gak mampir dulu. Salam buat Mama dan Kristy, ya."
Gadis ayuku melenggang keluar. Dengan senyum manis yang menghias wajah cantiknya, dia melambaikan tangan. Kubalas senyuman sebelun aku kembali memutar kemudi. Meninggalkan rumahnya menuju rumahku agar waktu cepat berlalu dan saat kita membina rumah tangga sendiri akan segera tiba.
🍂🍂🍂🍂🍂
Sambil nunggu Mas Rud up, mampir novel tamat karya Trio Somplak n The Gank yuk, kak!
__ADS_1