
Mas Rud tidak berusaha mengejar gadis ayu. Ia paham dengan benar bagaimana karakter kekasihnya yang tidak bisa menerima penjelasan ketika amarahnya sedang bar-bar. Waktu, itulah yang dibutuhkan untuk melenyapkan rasa yang angkuh.
"Ada apa, Mas?" Kristy yang baru saja masuk rumah dibuat penasaran dengan Mas Rud yang berdiri dengan menatap kosong pada kejauhan.
Spontan Mas Rud memutar badan. "Mbakmu marah, Kris."
"Ada apa lagi?" telisik Kristy yang berusaha menengahi masalah sepasang kekasih yang bertubi-tubi dihadapkan pada masalah yang tidak kecil.
"Ikuti aku!"
Mas Rud membimbing langkah Kristy menaiki tangga untuk mencapai kamar gadis ayunya. Mereka berjalan beriringan. Kediaman Mas Rud dan ekspresi serius, membuat Kristy tidak melontarkan pertanyaan lagi. Ia memilih untuk mengekor sang navigator.
Begitu melihat ada yang terbaring di ranjang, Kristy segera menghampiri. Ia letakkan tas dan jas putihnya begitu saja. Dengan hati-hati ia memeriksa denyut nadi. "Sudah berapa lama Mas Aryan pingsan, Ma?"
"Sepuluh menitan, Kris," jawab mama seraya membawa diri untuk minggir.
"Semoga segera sadar, Ma. Kalau tidak, maka kita harus membawanya kembali ke rumah sakit." Kristy berucap seraya melakukan hal yang bisa membangkitkan kesadaran.
Papa yang mendapatkan panggilan segera keluar kamar. Sepertinya itu ada kaitannya dengan masalah pekerjaan.
Sementara itu, mama juga meninggalkan ruangan untuk membuatkan teh manis yang bisa diminun abang begitu ia sadar. Itu bagus untuk mengembalikan tenaganya.
"Apa Mas Rud memukulnya?" Tiba-tiba Kristy bertanya pada lelaki yang sedari tadi berdiri tidak jauh darinya.
"Aku terbakar cemburu, Kris. Apakah itu fatal?" Ada nada kekhawatiran pada kalimat Mas Rud.
"Apakah Mas menghajarnya seperti seorang bodyguard melawan musuh?"
"Entahlah, aku membabi buta. Tidak lagi memakai jurus tetapi mengedepankan cemburu," aku Mas Rud yang membuat Kristy menghela napas berat.
Kristy mengamati tubuh lelaki yang ia cintai. Ada bekas pukulan dalam wujud samar. "Semoga tidak apa-apa. Yang Kristy tahu, Mas Aryan juga menguasai ilmu bela diri dan rajin nge-gym. Semoga badannya kuat dihantam tenaga besar."
Tepat ketika Kristy selesai memutar kata, netra abang perlahan terbuka. Ia tampak memegang kepala. Pikir seperti diajak melipir, mencari jawab atas rasa penasaran pada apa yang sedang ia saksikan.
"Mas," panggil Kristy lembut.
__ADS_1
Abang belum memberikan jawaban. Bahkan senyuman khasnya pun tidak tampak dalam bentuk lengkungan. Ia masih dikuasai oleh ingatan yang membingungkan.
"Aryan, kamu baik-baik saja?" Mas Rud ikut menuntut balas kalimat.
Mata yang terbuka itu kembali terpejam. Hanya beberapa saat, karena setelahnya kembali terbuka. "Memangnya aku kenapa?"
"Apa yang Mas Aryan rasakan?" tanya Kristy untuk menelisik jawaban agar tahu bagaimana kondisi abang, apakah mengkhawatirkan ataukah tidak.
Tidak ada jawaban yang abang berikan. Ia seperti larut dalam lamunan. Tatapannya kosong. Bengong.
Mas Rud dan Kristy saling mencari arti. Keadaan abang sepertinya mengkhawatirkan. Harus segera diberikan tindakan lanjutan agar bisa kembali baikan.
🍁🍁🍁
Menindaklanjuti rasa khawatir, akhirnya abang dibawa oleh papa dan Kristy ke rumah sakit. Mas Rud tidak diizinkan ikut agar bisa menyelesaikan kesalahpahaman dengan gadis ayu.
Mas Rud duduk di tepi ranjang di mana gadis ayu sedang terlelap di kamar yang biasa abang gunakan. Keberadaannya di sana tentu sudah atas restu mama sang gadis ayu.
"Maafkan aku yang selalu tidak bisa menahan cemburu jika itu berhubungan denganmu." Mas Rud membelai surai sang kekasih.
"Pulanglah, Mas! Aku sedang tidak ingin melihatmu" perintah gadis ayu bergeming.
Mas Rud menghela napas berat. Ia hafal dengan kata-kata gadis ayunya. Sekali bilang A maka itu akan tetap menjadi huruf A pada kesempatan yang sama. Perubahan menjadi huruf lain itu mustahil. Oleh karenanya, ia usap sekali lagi surai sang gadis sebelum ia beranjak pergi. "Baiklah kalau kamu memang menginginkan itu. Tapi ... sekali aku pergi, kuanggap ini sebagai pilihan terakhirmu."
Mas Rud mengecup lembut rambut gadis ayu. "Aku mundur jika kamu lebih mengutamakan Aryan. Sepertinya, kamu lebih siap kehilanganku daripada melihatnya terluka."
Entah mengapa Mas Rud menjadi rapuh. Mungkin ini adalah serangkaian fakta yang akhirnya meyakinkan dirinya bahwa sang kekasih tidak bisa ia miliki. Aryan telah mencuri kedekatan tanpa gadis ayu sadari. "Maaf, aku tidak bisa berbagi milikku dengan lelaki lain."
Mas Rud segera menarik diri. Ia bangkit. Sang kekasih yang masih bergeming, ia tatap sesaat sebelum badan ia putar perlahan.
Kini, langkah itu benar-benar pergi. Gadis ayu tidak ingin memercayai indra pendengarannya, tetapi suara jejak kaki yang menghilang membuatnya yakin Mas Rud akan pulang.
Spontan ia terbangun dari ranjang. Ia abaikan penampilan acak-acakan untuk berlari mengejar sang kekasih. Mas Rudnya memang berbeda. Walaupun cintanya begitu besar, akan tetapi, ia bukan Mas Dionnya yang tetap ada walaupun diacuhkan sepuluh tahun lamanya. Kekasihnya itu juga bukan abang yang bisa menguasai hati dengan tetap di sisi walaupun sanubari mungkin tercabik. Mas Rud tipe yang bisa berkorban demi kebahagiaan dengan jalan meninggalkan. Bukan berarti tidak sayang akan tetapi itu adalah caranya untuk tidak membuat gamang seseorang yang ia sayang.
"Mengapa ia cepat sekali menghilang?" batin gadis ayu setelah menuruni tangga dan sama sekali tidak menemukan sosok Mas Rud dari kejauhan.
__ADS_1
Ia segera kembali ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya. Gawai ia lupakan, bahkan dompet pun ia tinggalkan. Yang ada di pikiran hanyalah mengejar Mas Rud buru-buru.
Langkah cepat yang diambil gadis ayu telah kembali membawanya ke mobil. Mesin ia nyalakan dan beberapa waktu kemudian kendaraan itu sudah melenggang di jalanan. Arus yang padat karena bertepatan dengan jam pulang kerja, membuat laju mobilnya tersendat. Jarak yang dekat, harus memakan waktu berlipat.
Gadis ayu memukul stir bundar bagian tengah. Bunyi bel pun beradu dengan amarah. "Ayo dong, jalan!"
"Maafkan aku, Bang! Ini bukan berarti aku tidak tahu balas budi. Tapi kamu tahu bahwa aku tidak boaleh kehilangan Mas Rud untuk kedua kali. Kamu membuatku hidup kembali, tetapi dia adalah nyawa dari hidup yang kamu bangkitkan lagi."
Gadis ayu terus berbicara seorang diri. Ia yang plin-plan sepertinya sedang berada pada jalan yang benar. Kegamangan tidak bisa ia terapkan pada hubungannya dengan Mas Rud. Lelaki satu itu menuntut milik penuh, bukan hati yang terbagi. Tidak ada kata toleransi, walaupun itu demi abang yang sangat berjasa untuk membuatnya hidup kembali. Berpura-pura sebagai istri bukan solusi, ada pilihan lain yang lebih arif.
"Mas Rud ..." panggil gadis ayu tanpa kelanjutan, tetapi seperti sebuah kalimat yang dijeda sementara.
Hati gadis ayu benar-benar tergolek. Untuk kesekian kali ia oleng, tetapi tidak boleh berpikiran cetek jika tidak ingin kesempatan kedua dengan Mas Rud kembali menjadi kisah manis yang pendek.
Pagar rumah yang kebetulan terbuka itu segera gadis ayu masuki dengan tergesa. Memarkir sembarang, dan kemudian segera menghampiri bunda yang sedang duduk di teras rumah sendirian.
"Ada apa, Nak?" tanya bunda seraya bangkit dari duduk untuk menyambut kedatangan gadis ayu.
"Rosa ingin berbicara dengan Mas Rud, Bun." Gadis ayu mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkan lelaki yang ia cari sambil menata agar napasnya normal kembali.
Bunda mengernyitkan dahi. Beliau tahu jika ada hal yang tidak semestinya terjadi di antara hubungan putranya dan gadis ayu. "Masuk dulu, Nak!"
Bunda dan gadis ayu kemudian menuju ruang tamu. Dalam satu sofa panjang, mereka duduk berhadapan.
"Mas Rudmu belum pulang. Coba kamu telepon, Nak!" jelas bunda memberikan saran setelah kalimat penjelasan.
"Rosa tidak membawa handphone, Bun," ucap gadis ayu ketika ingat meninggalkan benda pintar itu di rumah.
"Pakai punya bunda, saja. Sebentar, bunda ambil dulu, ya."
Sepeninggal bunda, gadis ayu didera rasa khawatir. Ia gelisah. "Mas Rud, kamu ke mana?"
Bunda menyodorkan benda pipih. "Teleponlah, Nak!"
Gadis ayu mengangguk. Tanpa ragu ia segera memilih nomor Mas Rud. Dengan sabar, ia menunggu panggilannya diangkat. Namun, hingga waktu habis, tiada tanda akan dijawab. Gadis ayu mulai resah dan semakin gelisah ketika panggilan kedua dan ketiga diabaikan juga. Bayangan kecelakan tiba-tiba saja berseliweran. "Ya Allah lindungi Mas Rud. Jangan sampai ia mengalami kejadian seperti abang."
__ADS_1
Lagi dan lagi nomor itu ditekan kembali. Sayangnya, semua berulang. "Mas, apa yang terjadi denganmu?"