
"Mengapa kamu membawa bunga forget-not-me untuk Dion?" telisik Mas Rud ketika mereka sedang berbincang di teras depan rumah gadis ayu.
"Itu bunga yang biasa Rosa bawakan untuk Dion," jelas si abang singkat.
Mas Rud terdiam. Abang merasakan sebuah kejanggalan. Ia ingin menelisik lebih jauh tetapi kehadiran sang adik membuat niatnya urung.
Apalagi ketika mendapati dua pasang mata itu beradu, rasanya ia harus segera menjauh.
Tanpa berkata-kata, abang melenggang. Meninggalkan dua sejoli yang sepertinya tidak menyadari jika ia pergi.
Gadis ayu hendak memutar badan tetapi sebuah pertanyaan membuatnya terpaksa bertahan.
"Bunga forget-not-me," ucap Mas Rud yang seketika membuat gadis ayu memaku.
Gadis ayu bergeming. Namun sebentar kemudian ia memilih untuk mulai berjalan. Akan tetapi kembali berhenti.
"Aku merindukanmu."
Kalimat Mas Rud membuat gadis ayu menunduk. "Ada wanita yang lebih pantas kamu rindukan seperti aku yang merindu suamiku."
Mas Rud tak ingin banyak berbicara. Ia memilih untuk menarik lembut pergelangan tangan gadis ayunya. Kunci mobil abang yang tergeletak di meja ia sambar dengan kilat.
Penolakan yang biasa gadis ayu lakukan entah mengapa kali ini menghilang. Ia menurut apapun yang dilakukan oleh Mas Rud. Bahkan saat ia didudukkan di bangku depan sebelah kiri, ia bergeming.
Mesin mobil yang mulai berderu tetap membuat gadis ayu memaku. Saat Mas Rud memasangkan seat belt, ia sama sekali tak bergerak. Meskipun dia mengakui bahwa jantungnya berdenyut meletup-letup, akan tetapi dia tak bereaksi.
"Aku sudah memintamu kembali pada Dion," aku Mas rud yang sepertinya mengusik hati sang gadis.
"Mas pikir aku barang yang bisa diserahterimakan semau kalian?" timpal gadis ayu bernada datar.
"Bukan kamu tetapi perasaanmu," jelas Mas Rud.
"Perasaanku berada dalam ragaku," ujar gadis ayu tak mau kalah.
"Ragamu sudah menodai mataku." Mas Rud pun terus berkilah.
Gadis ayu menatap Mas Rud dari samping. Hanya sebentar sebelum netranya kembali ia putar. "Sudah kubilang jangan mengingat hal itu!"
"Forget-not-me!Kamu ingat?"
"Itu hanyalah gombalan saat pacaran."
Mas Rud meraih jemari gadis ayu dengan tangan kiri. "Kita akan pacaran lagi."
__ADS_1
Sebuah tepisan, gadis ayu lakukan. Gagal. Genggaman erat yang dilembutkan ternyata tak bisa ia elakkan. Dengan tatapan penuh harapan dilepaskan, netra itu melesat tepat di manik hitam pekat.
Mas Rud kembali fokus pada stir bundar. Gadis ayu diabaikan dalam tatap tetapi masih digenggam erat. "Aku tidak akan melepaskanmu. Bukan hanya genggaman ini, terlebih lagi rasa yang kamu miliki."
Mobil menepi pada sebuah tempat makan yang dulu pernah mereka datangi. Mesin sudah dimatikan, tetapi kaki tak juga dilangkahkan. Bahkan beranjak pun tidak.
Mas Rud melepas kemeja yang ia pakai sebagai luaran kaos. "Pakailah, dress-mu terlalu seksi!"
"Tidak perlu," tepis gadis ayu menolak sesuatu yang disodorkan Mas Rud.
Lelaki pemilik tatapan teduh itu memutar tubuh. Badan gadis ayu ia pisahkan dari sandaran dan kemeja itu ia pakaikan meskipun mendapatkan penolakan. "Aku boleh melihatmu polos, tetapi tidak dengan orang lain."
Gadis ayu terpaksa menurut, walaupun dengan menggerutu. "Berhentilah bicara tentang itu!"
"Mana mungkin aku berhenti bicara jika ingatanku tentang itu tak bisa terhapus," timpal Mas Rud seraya mengeluarkan rambut gadis ayu yang berada di dalam kemeja.
"Hapuslah!" perintah gadis ayu saat tatap mereka hanya sedikit berjarak.
"Nanti kita hapus berdua," ucap Mas rud dengan senyum nakal.
Seketika gadis ayu membuang pandang. Ia merasa tidak kuat dengan pesona sang mantan. Meskipun bibir menolak mengakui, tetapi kedalaman hati tak memungkiri.
"Hapuslah dengan Lyca," ujar gadis ayu menyebut nama wanita yang masih diyakini sebagai tunangan Mas Rud yang ditinggalkan begitu saja, sama seperti dirinya kala itu.
"Tapi aku tidak menginginkanmu," jawab ketus gadis ayu.
"Hanya bibirmu yang berkata tidak, tetapi bahasa tubuhmu tidak menolak," ucap Mas Rud seraya menarik tubuhnya perlahan.
Gadis ayu melepas napas bebas. Rasanya lega ketika Mas Rud memberinya ruang. Tetapi itu hanya sekejap mata karena pada detik berikutnya, sebuah kecupan menyasar pipi kanan.
"Depe dulu, Sayang."
Mas Rud mengulaskan senyuman saat gadis ayu terpaku dan segera keluar saat mendengar celetukan nakal. Ia merasa bahagia karena Rosanya tak menggerutu atau bersikap ketus. Sesungguhnya, itu adalah sebuah trik agar mereka segera masuk.
Tak menunggu waktu berlalu, Mas rud mengikuti jejak gadis ayu. Menelusuri jalan menuju meja kosong yang sukar ditemukan. "Bukankah ini meja yang kita gunakan dulu?"
"Hm,"
"Kamu juga masih mengingatnya, Sayang?" selidik Mas Rud seraya menyematkan sapa yang membuat gadis ayu geram tetapi tak ia ungkapkan.
"Ingatanku cukup bagus untuk mengingat semuanya," timpal gadis ayu yang tak ia sadari jika akan memantik kalimat reaksi.
"Rupanya kamu masih menyimpan rapi kenangan kita. Tapi, ingatanmu tak ada apa-apanya dengan ingatanku."
__ADS_1
"Ingatanku lebih bagus," gadis ayu tak mau dianggap berdaya ingat kurang.
"Apa buktinya?" pancing Mas Rud agar gadis ayu mengakui perasaan yang masih tersimpan rapi.
"Mas pasti memesan soto dan lele goreng untuk kita makan kali ini, sama seperti apa yang kita santap dulu," yakin gadis ayu.
"Kamu salah, Sayang. Aku memesan cintamu."
Kegeraman gadis ayu sudah berada pada titik puncak. Lelaki di sampingnya dia arahkan untuk memutar tubuh hingga saling berhadapan. "Mas, sekali lagi kamu memanggilku sayang maka aku nggak mau lagi melihatmu!"
Tiba-tiba Mas Rud menempelkan telunjuk di bibir gadis ayu. "Kecilkan suaramu!"
Menyadari apa yang terjadi, gadis ayu menggeser tubuh. Ia memilih untuk menghadap meja dan segera bermain dengan makanan yang kebetulan datang. Hatinya sedang diserbu rasa yang tak bisa ia jelaskan. Oleh karena itu, ia memilih diam.
"Kalau hanya untuk kamu pandang, aku lebih tampan," celetuk Mas Rud membuyarkan khayalan wanita di sampingnya.
"Suamiku lebih tampan."
Mas Rud terdiam. Kata suami membuat hatinya sedikit tertampar. Ia memilih untuk bermain dengan sendok dan garpu sama seperti gadis ayu.
Dalam beberapa waktu, mereka memaku. Kejadian seakan berulang ketika dahulu mereka baru mengenal. Jika kini karena rasa canggung, maka waktu lampau karena sengaja tidak mau mengakrabkan diri.
"Aku tahu Dion tak tergantikan. Oleh karena itu, izinkan aku mengisi sisi hatimu yang dulu atas namaku." Akhirnya Mas Rud tak lagi dapat menahan kediaman.
"Hatiku yang dulu untukmu sudah kupasrahkan untuknya."
Mas Rud menautkan jemarinya dengan jemari gadis ayu. "Biarkan aku berjuang untuk mendapatkan hatimu lagi."
Gadis ayu tak menimpali. Ia juga tak menepis tautan jemari. "Aku tak berniat menyerahkan hatiku pada siapapun, termasuk kamu."
"Itulah yang akan aku perjuangkan, Sayang." Mas Rud tak menyerah dengan penolakan gadis ayu.
"Mas, berhentilah sebelum rasamu semakin menyakitkan! Aku hanya ingin membesarkan Di-junior sendirian."
"Izinkan aku menemanimu membesarkannya! Apakah kamu lupa dengan janji kita untuk menua bersama?"
"Sudah banyak yang menemaniku membesarkannya. Mas, berhentilah! Aku mohon!"
"Aku tidak akan berhenti."
"Mas!" Gadis ayu menekan panggilannya seraya memelototkan mata.
"Mengapa kekeh menolakku? Apakah ada lelaki lain yang sudah mencuri hatimu?"
__ADS_1